Bapak : “halo..Assalamualaikum. Lagi ngapain Kak?”
Aku: “walaikumsalam, lagi ga ngapa-ngapain di kos aja Pak.”
Bapak: “ ohh.. udah makan belom?”
Bapak: “ohh.. ya udah. Dah ya, Assalamualaikum”
Seperti itulah biasa Bapak menanyakan kabar. Tidak pernah banyak kata terucap. Aku yang tidak biasa menerima telepon, juga menanggapi dengan lugas, tidak bisa bermanis menanyakan kabar kembali.
Bukan.. bukan karena kami bermusuhan, bukan juga karena aku tidak sayang. Aku sayang Bapak sebagaimana aku sayang Mama. Hanya saja kami tidak akrab selayaknya anak dan Bapak, entah sejak kapan. Melihat foto-foto kami dengan Bapak rasanya juga akrab saja. Aku sering digendong di pundaknya. Mungkin aku yang lupa atau seiring usia merentang jarak. Atau mungkin karena orangtua kami bekerja, interaksi kami terbatas di malam hari dan hari libur saja. Apalagi Bapak juga termasuk tipe orang yang pendiam di keluarga, jarang sekali berbicara. Tapi sekalinya marah, aku masih ingat betapa seramnya.
Mungkin ini juga yang membuat aku tidak tahu, kalau Bapak sakit parah. Waktu aku wisuda, Badan Bapak semakin kurus dan perutnya membuncit. Entah mengapa Bapak waktu itu memilih untuk pergi ke pengobatan herbal. Setelah beberapa lama, aku pun diterima PNS di Palembang. Jarak yang lumayan jauh dan pekerjaan membuatku seperti abai dengan keadaan Bapak. Aku pikir Bapak akan baik-baik saja, tapi bapak tak kunjung sembuh.
Sekitar awal 2010, Bapak drop dan Mama pun membawa Bapak ke dokter di sebuah RSU Tangerang dan setelah pemeriksaan Bapak didiagnosis menderita sirosis. Untuk itu bapak dirawat cukup lama untuk disedot cairannya perlahan-lahan. Aku pun sesekali pulang dari Palembang untuk menunggui Bapak dirawat. Tapi kondisi Bapak tidak kunjung membaik, bapak pun dirujuk ke RS kanker Dharmais. Setelah dilakukan pemeriksaan ulang, Bapak didiagnosa menderita kanker usus. Saat itu kondisi Bapak sudah semakin kurus dan hanya bisa terbaring. Kami memutuskan untuk operasi, namun setelah beberapa hari Bapak jatuh koma. Dokter bilang, kondisi Bapak menyebabkan luka tidak kunjung sembuh dan malah menyebabkan infeksi.
Waktu itu aku tidak disana, kebetulan aku harus mengikuti sebuah diklat di pekanbaru. Malam itu aku menerima telpon dari suaminya adikku yang menyuruhku untuk segera pulang. Well, siapa yang ga shock? Aku langsung menangis saat itu, teman-teman langsung membantuku menenangkan dan meminta ijin ke panitia diklat. Alhamdulillah aku dibolehkan pulang besok paginya. Sesampainya di jakarta, aku langsung ke rumah sakit. Waktu itu Bapak masih bertahan, sampai akhirnya aku kembali lagi ke Palembang. Baru sehari di Palembang, setelah upacara hari rimbawan, aku ditelepon lagi untuk pulang. Ternyata Bapak drop lagi, untungnya waktu itu masih ada pesawat dan aku segera bergegas ke Bandara. Masih teringat suasana di kamar itu, keluarga sudah berkumpul, dokter sudah memberhentikan alat bantu, aku menghampiri Bapak yang sudah tidak sadar dan membisikkan kata maaf dan terimakasih, seraya mempersilahkan beliau untuk pergi. Tidak lama setelahnya, Bapak pergi. Aku mencari mama, memeluknya dan tangisan kami pun pecah. Pertama kali dalam hidup, aku melihat mama menangis.