2016 menurutmu isu apa yang paling banyak diperbincangkan? masihkah orang-orang memperdebatkan permasalahan HAK untuk setiap warga negara termasuk LGBT? kurasa LGBT awareness akan selalu memunculkan pro dan kontra, sampai kapanpun Hm.. kalau begitu apakah bahasan mengurangi global warming dengan kebijakan kanton plastik Rp 200,00? Oh God! bukan ini yang mau saya tuliskan sebenarnya, tapi saya baru mengetahui bahwa kebijakan ini TIDAK diterapkan di seluruh indonesia. Ya, pada awalnya saya sangat suka dengan adanya kebijakan ini meskipun banyak orang yang berpikir "memangnya apa signifikansi uang 200 untuk plastik go green sementara banyak produk lain masih berkemasan plastik?". Coba kamu perhatikan orang-orang yang berbelanja di supermarket yang menerapkan kebijakan ini. Banyak pembeli yang membawa tas belanja, yang sebelumnya mereka tidak akan repot-repot melakukan itu karena otomatis akan mendapatkan kantong plastik. Bagus bukan? setidaknya meskipun ini tidak secara langsung menyelamatkan bumi, kebijakan ini menyadarkan orang-orang bahwa kita sedang berusaha menyelamatkan bumi salah satunya dengan diet kantong plastik. SAYANGNYA, saya rasa banyak pihak yang belum berani menerapkan kebijakan ini, sebut saja salah satu convenience store terkemuka yang ada di kota asal saya. mengecewakan. ...sebenarnya bukan permasalahan diet plastik yang ingin saya tuliskan kali ini. Jadi alangkah baiknya mari kita kembali ke jalur yang seharusnya. apa kau ingat kasus seorang pelajar SMP yang diperkosa oleh 14 orang sampai akhirnya meninggal secara tragis? ah.. siapa orang yang tinggal di negeri ini tetapi tidak mengetahui kasus itu? saya rasa tidak ada kecuali mereka tinggal di daerah yang tak terjangkau listrik, internet ataupun media informasi lain. I doubt there's such place though. apa kau sadar semenjak kasus tersebut mencuat, isu mengenai kekerasan dan pelecehan seksual menjadi semakin banyak dibicarakan? semua orang menjadi sangat aware dengan hal-hal tersebut. bukan hanya itu, para wanita menjadi sangat conscious bahkan insecure terhadap laki-laki asing usia remaja dan dewasa awal-tengah yang mereka temui di jalan ketika bepergian sendirian. Am I wrong? Atau mungkin ini hanya sesuatu yang saya pikirkan, sendiri. mungkin juga hanya perasaan saya. Jadi kalau boleh, izinkan saya menuliskan apa yang ada di pikiran saya saat ini. belakangan ini saya sering (sebenarnya hanya beberapa kali) membaca tulisan seseorang di sosial media yang mengatakan bahwa mereka baru saja mendapat pelecehan secara verbal sampai pada cerita mereka mendapat sexual harrassment oleh orang tak dikenal di jalan. Rata-rata wanita-wanita yang bercerita ini akan berdalih pakaian mereka sopan dan tentu saja mereka tidak mau disalahkan atas kejadian tersebut. Dan ya, tentu saja saya sebagai manusia berjenis kelamin sama akan setuju dengan mereka. Saya lantas bertanya dalam hati. Kenapa saya membaca cerita-cerita ini ketika isu terkait sedang banyak diperbincangkan? bukankah kampanye yang telah dilakukan seharusnya mereduksi kemunculan kejahatan seksual? sudah lebih dari 4 tahun saya tinggal di Jogja, tetapi rasanya baru tahun ini saya menemukan broadcast "berhati-hatilah di daerah X karena ada pervert" tahun-tahun sebelumnya semua broadcast serupa berisi peringatan untuk berhati-hati agar tidak dibacok, atau lebih populer dengan istilah 'klitih'. Apakah maraknya bahasan mengenai pelecehan seksual ini justru membangkitkan jiwa liar para pelaku? ataukah ini hanya para wanita yang terlalu aware sehingga melebih-lebihkan? . . . . Okay, from this point onward, I'll tell you some thought I had, based on my experience and contemplation. This evening, I drove my scooter alone at a busy street in Jogja. When I stuck on traffic light, a taxi stopped right beside me. The driver (a man in his mid thirty, I think) opened his window and looked at me. He smiled and I met his eyes for about 3 seconds. No no!! this isn't a love story or such. It became an awkward moment when it looks like he wanted to talk to me while smiling. I don't know but that time, I thought that he had a weird smile like the one you usually found on a perverted old man. Yeah sorry for my rush assumtion. I just can't imagine how the right smiling expression of that kind of face since it was the first time I saw him. Without a second thought, I looked away and tried hard to avoid him as much as I can. I was anticipating something like 'he might be trying to flirt' or 'he'll verbally harrassed me'. So, I felt insecure that time. . . later when I think about it. There's some possibility like, maybe he wanted to greet me like a normal citizen, though it's a bit uncommmon. or probably, he wanted to ask or tell me something? or he just happen to looked my way and because our eyes met he tried to smile. There's so much possibility, so why I had such a bad conclusion? Katanya orang Jogja itu ramah-ramah kan? kalau begitu bukankah kita perlu membiasakan diri menerima sapaan dari orang yang tidak kita kenal di jalan? Mungkin selama hal tersebut tidak berdampak jelek, kita tidak perlu menanggapi secara berlebihan. Ini akan aku ingat untuk diriku sendiri.