Bermain Waktu dengan Tuan Api
Ternyata sudah satu jam aku menunggu dan laki-laki itu belum juga tiba. Pesan terakhir yang dia kirim hanya berisi titik lokasi di aplikasi chatting. Lokasi di mana dia berada sekarang.
Aku menyeruput minumanku setengah tidak sabar, lalu membuka laptop dan mulai bekerja untuk mencari distraksi dari waktu yang terus berjalan.
âApa mungkin dia tidak jadi datang?â
âApa mungkin dia tidak tertarik denganku?â
âApa mungkin dia salah pilih jalan?â
Aku bergumul dengan isi kepalaku sendiri, sementara pekerjaan yang sudah kuselesaikan dari tadi siang melihat ke arahku kembali dengan rasa prihatin. Sudah tidak ada yang perlu dikerjakan. Proses menunggu ini jadi semakin membuatku cemas.
Sebuah pesan masuk berisi foto yang diambil depan lokasi janjian kami.Â
âSudah di bawah,â katanya, âmasuknya dari mana?â
âCoba tanya satpam saja,â balasku.Â
Isi kepalaku jadi makin tidak karuan. Dari yang tadinya aku kira dia tidak datang, sekarang justru penuh memikirkan aku harus memasang wajah seperti apa untuk bertemu dengannya.Â
âApa ini terlalu cepat ya?â ujarku pada diriku sendiri.
Aku baru berkenalan seminggu dengan laki-laki ini--aku memanggilnya Tuan Api atau Tuan Vulkan, mana saja yang lebih mudah untuk dibaca--dan kami berkenalan melalui dating apps yang sedang populer di kalangan anak muda sekarang. Menulis kalimat sebelumnya sungguh membuatku merasa malu karena sebetulnya aku tidaklah muda lagi.
Pintu restoran terbuka dan kamu muncul dari sana. Seseorang yang selama seminggu terakhir ini sering berbincang denganku melalui chat. Yang sering becanda gurau dan ikut meramaikan INTERNATIONAL CAPSLOCK DAY seharian bersamaku.Â
âTernyata kamu nyata,â pikirku sambil melihat tanganmu menarik bangku yang ada di depanku dan duduk di sana.
Ternyata kamu nyata dan ada. Bukan laki-laki fiksi dari game otome yang biasa kumaikan di waktu senggang.Â
âMacet banget ya?â aku membuka percakapan
âLumayan, tadi aku berhenti di halte Blok M lalu lanjut ke sini naik gojek. Padahal ternyata bisa pakai MRT ya.â
Dia membuka masker yang menutupi setengah wajahnya. Sementara itu aku dan perasaanku yang membuncah memilih untuk berpura-pura kerja dan menutupi wajaku sendiri dengan layar laptop.
Degup jantung ini tidak bisa bohong.Â
Degup jantung ini ada, dan kamu penyebabnya.                          Â
Hal yang selanjutnya terjadi adalah dia banyak bercerita tentang dirinya sendiri dan aku tentang diriku sembari menyantap makanan yang sudah disuguhkan. Tepat pukul 11 malam, aku mengajaknya pergi ke ruang kecil berbentuk kamar hotel untuk melanjutkan perbincangan.Â
Aku duduk diam di atas kasur sembari mengamatimu. Kamu si Tuan Api, si perancang banyak hal, dengan sibuk melihat bentuk kamar mandi yang ada di ruangan itu, menyentuh keramik-keramiknya dan kadang berkacak pinggang memikirkan hal-hal yang kemungkinan besar tidak akan pernah aku mengerti.Â
âIni kenapa ada sekatnya gak penting gini aku masih gak ngerti,â ujarnya sambil menunjuk hal yang ia pertanyakan. Aku hanya mengangkat bahuku sambil menggelengkan kepala. Kalau kamu saja tidak tahu, apalagi aku?
Satu-satunya hal yang aku tahu di sini adalah aku sedang berdua di dalam suatu ruang kecil dengan Si Tuan Api yang baru pertama aku jumpai. Rasa berdebar itu masih ada.Â
Seperti ditempa oleh pembuat senjata.
Ditempa saat dirimu masih terbakar dan berwarna merah panas.
Terus ditempa sampai akhirnya lelehannya terbentuk suatu hal yang menurutku tidak asing lagi.
Bagaimana bisa aku tidak mengenali bentuk hatiku sendiri?
Aku, jatuh hati pada Si Tuan Api bahkan sejak pertama kami bertemu.
Ini baru beberapa jam setelah kami bertemu. Tapi perasaanku tidak pernah bohong.Â
Sang Waktu pasti sedang menertawakanku saat ini.Â
âDasar bodoh,â ujar Sang Waktu, âbisa-bisanya perempuan ini langsung mengakui bahwa ia menaruh rasa pada Si Tuan Api, laki-laki pertama yang ia temui sejak ia mulai bermain aplikasi pencari pasangan itu sejak 2 minggu lalu.Â
âApakah rasa berdegup di dadaku ini sungguhan?â
âApakah benar ada percikan yang muncul saat pertama kali bibir kami saling bertemu?â
âAkankah ada waktu lain di mana kita bisa bertemu seperti ini lagi di masa mendatang?â
Sang Waktu kembali tertawa mendengar pertanyaan bodohku. Si Tuan Api juga tertawa karena ternyata dia juga mendengar apa yang kukatakan sedari tadi.Â
âNanti kita tentu bisa bertemu lagi. Masih ada banyak sekali waktu di dunia ini untuk kita nikmati bersama-sama. Tenaaaaaang sajaaaaâ
Aku menghela napas panjang sebelum akhirnya berusaha keluar dari isi kepalaku yang penuh dengna ketidakpastian dan proyeksi masa depan yang belum jelas.
âBaiklah. Nanti kita harus bertemu lagi. Aku masih ingin ditemani. Bolehkah?â
Kamu mengangguk dan menutupnya dengan peluk.
Si Tuan Api pasti tahu, bahwa degup jantungku masih berdebar dengan sangat cepat.Â
Mungkin jika benar akan ada waktu lain, aku akan bisa lebih belajar untuk mengedalikannya.Â
Teruntuk Abednego, terima kasih sudah datang.Â