Selamanya Terekam di Bawah Lantai Dansa
Aku baru ingat betapa cokelat warna bola matamu ketika jarak terkikis di antara kita. Di suatu ruangan dengan lantai bergetar karena gegap gempita banyak manusia ibukota, kita bertemu kembali.
Di kepalaku hanya ada satu hal, aku ingin sekali mempertemukan kembali rindu yang ada di antara kita berdua setelah tiga tahun lamanya.
Air mata menggenang di sudut matamu ketika kita saling bertukar kecupan. Sementara gemuruh di dadaku bergetar sama kencangnya dengan bunyi musik di klub dansa lantai atas ruangan kita berpelukan.
Air matamu dan milikku bertemu. Saling bertukar kisah tentang apa saja yang terjadi selama kita saling melaju di dua jalan berbeda.
Momen ini jadi milik kita berdua. Terdengar klise tapi sungguh jika aku bisa menghentikan waktu, maka aku buat kita tidak akan pernah berpisah dari situasi ini.
Ketika masa kini dan momen ini memudar, yang kita miliki hanya memori dalam kepala yang terekam selamanya.
Desahmu dan desahku jadi satu.
Lagi.
Dan tak akan pernah kembali.
Lagi.
—
Again This couldn't happen again This is that once in a lifetime This is the thrill "divine"
What's more This never happened before Though I have prayed for a lifetime That such as you would suddenly be mine
Mine to hold as I'm holding you now And yet never so near Mine to have When the now and the here disappear What matters, dear, for when This doesn't happen again We'll have this moment forever But never, never again (never, never) We'll have this moment forever But never, never again (never, never)
#np Again, Doris Day















