Lengang
Apa Kau masih di sana?
Menunggu di sajadah lusuh
Pada sepertiga malam yang pernah kita peluk
Atau
Akulah yang terlalu jauh
Hingga jejak-Mu mengabur
Dari seluruh hariku
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
🪼

@theartofmadeline

PR's Tumblrdome
I'd rather be in outer space 🛸
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
taylor price

shark vs the universe
AnasAbdin
Misplaced Lens Cap
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
hello vonnie
NASA

titsay

Origami Around
Sade Olutola
Keni
Three Goblin Art

★

JVL
seen from Netherlands

seen from Netherlands
seen from United States
seen from Brazil

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from India
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States
seen from India

seen from Spain

seen from Spain
seen from United States
seen from United States
seen from India
@lluviaphile
Lengang
Apa Kau masih di sana?
Menunggu di sajadah lusuh
Pada sepertiga malam yang pernah kita peluk
Atau
Akulah yang terlalu jauh
Hingga jejak-Mu mengabur
Dari seluruh hariku
Jika Cintaku Membuat-Mu Cemburu
Aku terus menghempaskan diriku, kepada dunia— karena aku paham, ada jiwa yang harus kupeluk, ada tangan yang harus kugenggam, ada seseorang yang hidupnya kutopang dengan pundak rapuhku.
Ya Rabb… semoga Engkau tahu, aku tak sedang berpaling, aku hanya sedang mencintai seseorang, seperti Adam menjaga Hawa.
Namun jika benar, menurut-Mu… pandanganku telah teralih dari-Mu, dan cinta ini membuat-Mu cemburu, seolah Kau tersisih di relung terdalam hatiku…
Maka demi Engkau, hati akan kuserahkan, dan dunia akan kulepas satu per satu.
Karenanya, maafkan kami, Tuhan. Kami hanya hamba yang sedang belajar mencinta-Mu lewat makhluk-Mu.
Rumi pernah berkata,
Bahwa kebenaran seumpana sebuah cermin yang berada pada genggaman Tuhan. Cermin tersebut kemudian jatuh dan pecah berkeping-keping. Kita memunggut satu bagian kecil dari kepingan tersebut seraya berkata "aku telah menemukan kebenaran."
Aku hanya seorang pemungut kepingan. Sangat tidak berarti. Sangat tidak pantas untuk merasa benar.
Aku titip disini saja rasa rinduku. Sebab aku malu jika kau membacanya.
05 September 2021
Bagaimana Bisa?
Permintaanmu sungguh tak logis kasihku.
Macam mana aku bisa menulis puisi dengan ribuan tema, ketika hatiku bersyair jutaan kali mengenai dirimu.
*malasjawab* & *jawaban atas doa doamu*
Dialog Kepada Malam Aku menunggu malam berdialog. "Hai", ujarku. Satu menit... Diam ia meski kusapa. Lima menit... Tetap hening ia walau telah kupanggil. Sepuluh menit... Aih, sombongnya. "Selamat malam" Kucoba mengajak malam kembali berdialog. Masih sunyi. Tidak ada jawaban. Mungkin aku yang naif. Apa yang bisa kuharap dari sebuah malam bisu? Suara-suara? Bung! Malam itu terbungkus sepi. Hening menjadi pakaian tidurnya barangkali. Ting... Sebuah pesan singkat menyobek senyap malam. Oh, ini darimu. "Selamat malam kembali, have a good dream" Ah... Kau memang yang terbaik, tidak seperti malam yang begitu dingin kepadaku Maka kubiarkan malam dengan keangkuhannya sendiri. Toh, ia akan lenyap ditelan pagi. Iya... Sebentar lagi. #puisi #sajak #syair #malam #kamu (di Skyline Restaurant Ibis Hotel) https://www.instagram.com/p/B1MSs0xp-Mn/?igshid=bioik30kgca9
Aku ingin memberimu hadiah, namun bukan berbentuk benda-benda. Tidak ada hubungannya dengan tas, sepatu, perhiasan ataupun makan siang.
Aku ingin memberimu hadiah yang mahal;kejujuran dan kesetiaanku untukmu. Tanpa dibuat-dibuat. Aku berikan apa adanya aku padamu
Tak perlu ku ucapan terimakasihmu. Aku ingin kamu membayarnya kontan dengan kata-kata. "Aku sayang padamu."
17 Januari 2019
I'm your present ... ( and future )
Puisiku Bagus Sebab Dia Adalah Kamu
Kamu kujelma menjadi puisi. Menjadi syair cinta yang menghidupkan hari. Kala malam menjadi sajak yang menari. Dalam sanubari, kamu adalah sumber inspirasi bagi penyair yang sedang jatuh hati.
Malam-Malam, 10 Agustus 2019 Lelaki yang kau cintai
Malam Ini Kita Tertawa Bersama
Sekarang manusia bersemangat menyusun resolusinya sedang Tuhan tersenyum melihat jutaan resolusi yang terangkai.
Manusia dengan resolusinya. Tuhan dengan takdir-Nya. Malam ini Sang Pencipta dan ciptaan-Nya sedang tertawa terbahak-bahak.
Malam Hari Awal Tahun, 01 Januari 2019
Lluviaphile
Pada akhirnya tak mampu menahan diri untuk mengetuk pintu biru tua ini lagi
Cih
Syair Pengantar Tidur
Sebab dua puluh empat jam tidak cukup bagi kita yang dimabuk asmara. Namun apa daya manusia, Tuhan yang punya kuasa.
Terpaksa aku syairkan ucapan selamat tidur untukmu dinda : "Denganmu, aku berulangkali jatuh cinta."
Malam hari, 31 Agustus 2018
Lluviaphile
P.S. Semoga kau lelap.
Itu Lagi Bercanda atau Nge-bully?
Jadi, semalam ketika raga saya telah tertidur, tetapi tidak dengan pikiran saya. Dia menerawang kemana-mana hingga saat saya terbangun dari tidur entah kenapa otak saya penuh bahan yang tidak penting untuk dituliskan. Pada kesempatan kali ini, formal banget saya ingin membahas mengenai bully herbal verbal dengan bercanda. Bully verbal ini adalah bully yang menitik beratkan kepada penghinaan ataupun merendahkan status seseorang melalui lisan ataupun tulisan.
Mengenai bully verbal, terdapat sebuah perbedaan yang teramat tipis dengan bercanda. Mungkin setipis kulit bawang, entah. Saya tidak tahu setipis apa kulit bawang, saya tidak bisa masak jarang masak. Makanya tipe istri idaman saya itu yang pinter masak. Eleh, back to topic.
Jadi, apa sih perbedaan antara bully verbal dan bercanda itu? Well, menurut saya hal itu terletak pada penerimanya. Apakah si penerima merasakan perkataan tersebut mengakibatkan sakit hati, rasa sedih dan tersinggung. Jika iya, mungkin itu bisa dikategorikan bully.
Dalam bercandapun, terdapat dua kemungkinan hasil yakni :
1. Semua pihak merasa senang, dan tertawa bersama.
2. Salah satu pihak merasa dilecehkan, dijatuhkan harkat dan martabatnya sebagai manusia, dan inilah yang dikategorikan bully tadi.
Bisa disimpulkan, bercanda yang berakhir dengan menyakiti itu bisa dikategorikan bully. Bercanda yang berlebihan itu berpotensi menyebabkan bully terhadap orang lain.
Nah, saya ada tips bagaimana bercanda ala Rasulullah. Tentunya, jika kita berpatokan dengan hal ini, InsyaAllah akan terhindar dari bercandaan yang jelek dan berpotensi bully terhadap orang lain. So, this is it :
1. Candaan seharusnya tidak menyimpang dari masalah iman. Jangan melecehkan syiar agama dalam bercanda.
2. Meluruskan tujuan untuk bercanda. Maksudnya bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa bosan dan lesu, serta menyegarkan suasana dengan canda. Sehingga kita bisa memperoleh gairah baru dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat.
3. Tidak meremehkan, melukai, dan menyakiti orang lain ketika bercanda. Ini berpotensi mengakibatkan bully.
4. Kebohongan dan kepalsuan tidak harus digunakan sebagai alat untuk membuat orang tertawa. Noh, termasuk memalsukan cinta, itu gak boleh.
5. Candaan itu seharusnya tidak menimbulkan rasa takut kepada siapa pun atau berupa intimidasi.
6. Bercanda tidak boleh dilakukan pada acara-acara serius atau pada saat orang menangis. Jangan bergurau untuk urusan yang serius dan jangan tertawa dalam urusan yang seharusnya menangis. Juga jangan tertawa sendiri, ntar disangka orang gila.
7. Jangan bercanda dengan orang yang memang tidak suka bercanda.
8. Bercandalah dalam batas yang wajar sesuai dengan etika dan akal. Hindari Bercanda Dengan Aksi Dan Kata-Kata Yang Buruk.
Jadi mulai sekarang sebelum anda bercanda dengan orang lain, pikirkan dahulu matang-matang apakah bercandaan kalian itu dikategorikan bully atau tidak.
Kita makhluk Tuhan paling lucu.
Kita mampu memikul beban rindu yang teramat berat kepada orang lain namun merindu seadanya kepada Tuhan.
Kemudian kita menanti terbunuh oleh kerinduan itu sendiri hanya untuk kembali merintih kepada Tuhan yang telah dirindui dengan seadanya.
Tetapi, Tuhan tidak pernah membalas rindu kita yang seadanya dengan seadanya pula. Dia membalas dengan kasih sayang yang sempurna. Buktinya, Dia menyatukan kembali hatimu yang telah hancur berserakan bukan?
Simple rule of life :
Tersenyumlah.
Berbahagialah.
Tertawa.
Jika kamu menunjukkan wajah yang muram, orang disekitarmu juga akan ikut merasakannya. Namun apabila kamu berbahagia dan tersenyum, orang lainpun akan terbawa suasana bahagia.
Tanpa kamu sadari, senyum tulusmu mungkin telah mengubah hari seseorang menjadi lebih baik.
Memang benar, disaat terpuruk kamu akan menggangap seseorang yang mencoba menghibur dan menasehatimu sebagai pengganggu. “Kau tahu apa?” “Jangan sok mengerti aku.” “Kau tidak tahu rasanya menjadi aku.” “Jangan sok menasehati aku, seperti kau paham segalanya.” “Aku ingin sendirian.” Pikiran seperti itu berkecamuk di dalam akalmu. Kemudian hal itu akan berujung menyakiti dirimu sendiri. Kau menganggap kesendirian adalah obat bagi luka di hatimu. Tak ada satupun yang mampu memahami dirimu. Tetapi kamu lupa satu hal, bagaimana jika orang yang berusaha menghibur dan menasehatimu itu benar-benar khawatir tentangmu? Apa hanya karena seseorang tidak merasakan dan mengalami apa yang kau rasakan, berarti ia tidak berhak khawatir denganmu?
Berhentilah bersikap egois
Kita selalu bersembunyi dari diri sendiri, bukankah begitu?
Jadi kapan kita mampu untuk tidak menghindar?
Jadi kapan kita bisa menerima diri sendiri?
Kita sudah terlalu jauh.
Kenyataan Tentang Beban yang Kau Pikul Itu, Akupun Memilikinya
Mungkin, masing-masing kita berpikir bahwa sosok yang paling menderita itu adalah dirinya sendiri, sedangkan orang lain terlihat begitu bahagia. Masing-masing kita mungkin menganggap problema kita adalah sesuatu yang berat, sedangkan orang lain tidak mempunyai problema serumit apa yang dirasakan. Terkadang kita iri terhadap mudahnya kehidupan orang lain.
Namun, ada satu kebenaran yang sering sekali kita sangkal, Bahwa setiap manusia itu sama.
Setiap manusia sama-sama memiliki pengalaman, masa lalu dan problema yang berat bagi dirinya. Setiap manusia mempunyai beban dan deritanya masing-masing. Beban yang hanya sanggup dipikulnya sendiri. Derita yang tidak mungkin bisa ditanggung oleh orang lain selain dirinya. Setiap orang punya itu. Semua manusia merasakan dan menyadari hal itu.
Aku belum tentu mampu menanggung deritamu, dan kamu belum tentu kuat menanggung bebanku.
Setiap manusia mempunyai kapasitas diri masing-masing, dan Tuhan memberikan kita ujian berupa masalah, beban serta derita untuk menongkatkan potensi dari kapasitas diri tersebut. Hanya saja diri terkadang terlalu ego untuk menyadari akan kebenaran ini, setiap kita malah mengganggap dirinya adalah manusia yang paling menderita dan kehidupan orang lain bahagia. Entah untuk menunjukkan ketangguhan dan superiornya diri atau sekedar penghibur lara dalam hati.
saling membicarakan beban dan masalah mungkin mampu untuk mencari celah keluar dari problema atau sekedar mengurangi tekanan di dada. Bisa juga dengan berdiskusi dan merayu Tuhan agar diberikan kemudahan dalam ujian diri yang diberikan-Nya. Intinya, membicarakannya bukan malah membandingkannya! membandingkan derita diri dengan derita orang lain bukanlah jalan terbaik. Hal itu hanya akan semakin membuat diri terluka. Setiap masalah serta derita muncul untuk diselesaikan. Setiap beban tercipta untuk diringankan.
Bukan untuk dibandingkan.