Dear Perempuan Bermimpi Buruk
Hai kamu, perempuan yang diminta untuk mempercayai bahwa mimpi itu akan jadi nyata dan kamu bertanya, apakah mimpi buruk juga termasuk? Meskipun pada kenyataannya kamu sendiri yang mengalami hal yang kamu pertanyakan. Mimpi-mimpi buruk yang membawa kesedihan, tak jarang juga mereka membuahkan lidah yang terluka akibat tergigit, kepala yang berat saat terbangun, mata yang sembab karena tangis.
Dengarkan aku, tidak apa-apa, sekali lagi aku berkata, tidak apa-apa. Jangan sampai semua itu membuatmu malas bertemu kasur dan terlelap, biarkan mimpi itu ada, relakan jika mereka terjadi dalam kehidupan nyata, lepaskan saja kepadaku, ceritakan jika itu membuatmu menjadi lebih lega. Aku selalu berusaha menjadi telinga tanpa mulut yang menjadi juri. Buatmu, aku akan mencoba.
Perempuan bermimpi buruk kesayangan, setelah sesosok bentara mempertemukan kita di suatu akhir minggu, aku merasa memiliki seorang teman baru. Teman yang baik, ceria, dan pengertian. Kita tertawa di setiap cerita yang dibagikan, kita menangis saat kesedihan melanda. Entah apa yang terjadi di kehidupan kita sebelumnya yang membuat seolah kita kenalan lama di pertama jumpa, mungkin dahulu aku seorang adik, seorang kakak, seorang paman, seorang ayah, atau bisa jadi seorang kakek. Tidak, aku bukan pasanganmu. Jangan sejauh itu kamu berpikir. Baiklah, aku anak tetangga saja kalau begitu.
Pertama-tama, aku ingin berterima kasih. Berkatmu ada banyak yang aku pelajari, tentang diriku sendiri, tentang bagaimana aku harus bertindak, tentang apa yang menjadi sikap. Tak pernah ada bantahan atau sanggahan yang menyakitkan di telinga, yang ada hanyalah tawa saat aku bersikap konyol. Terima kasih juga telah menjadi orang yang selalu menanya kabar jika aku 'menghilang' di peredaran hingar bingarnya lini masa. Tak jarang kamu meminta maaf karena merasa kurang peduli. Tidak, sama sekali tidak. Kepedulianmu jauh lebih dari cukup. Aku bersyukur karena sudah mengenalmu.
Kita(?) mungkin adalah kumpulan manusia-manusia penuh amarah yang tak usai dilanda kecewa. Lelah berprasangka baik dan pusing melihat mereka yang berprasangka buruk. Banyak sekali manusia-manusia ular yang senang menebar bisa demi bisa bertahan hidup. Kebusukan dibalut keresahan semu, hasut sana sini seolah peduli, teriak keadilan penuh barbar sambil menghitung gaji bermata uang dolar. Pemikiran dengan logika sederhana dibuat rumit, berlomba memakai istilah asing agar terkesan suaranya nyaring, saat ditanya apa maksudnya, justru yang ada mereka besar kepala. Bohong dilapisi bohong, dusta disalut dusta, marah-marah menyelimuti kebodohan.
Lelah, rasanya salah jika satu pihak atau satu sosok dipercaya, sebisanya tak cinta buta, panca indra dan logika terus waspada. Capek sekali, sungguh ini semua buat tak berdaya. Ketulusan seperti benda langka, overrate yang cenderung over it.
Trust issue. Impact yang kita petik di setiap waktu. Aku pribadi sering kesal karena ini, begitu susah buatku untuk bisa kembali berprasangka baik lalu percaya dan melupakan semua kepedihan. Ingin rasanya berteriak kepada mereka yang dulu menyakiti tanpa berpikir panjang karena mereka yakin kita semudah itu memaafkan dan memaklumi. Hebat sekali mereka meramalkan emosi orang lain. Namun sulit, semua harus ditelan kembali. Hal yang tidak asing jika pribadi yang marah dalam kecewalah yang dituntut menjaga sikap.
"Menjijikkan, aku yang kesal, kenapa seolah aku yang dihukum?"
Huft, maafkan atas surat cinta yang penuh emosional ini.
Well, hari ini aku menyuratimu lewat tulisan ini. Sebenarnya aku ingin mengajakmu bersenang-senang sambil sesekali tersenyum girang. Aku ingin membantahmu. Kali ini aku tak hanya mendengarkan. Bersiaplah.
Jika mimpi burukmu sering terjadi, apakah selama beberapa tahun ini kamu juga terjebak dalam mimpi buruk bernama Uda berzodiak Pisces? Satu lagi, jika kamu sering mengalami trust issue terhadap seseorang, apakah aku juga di posisi orang itu? Iyaaaaa, aku sedang melakukan validasi. Mencoba menempatkan diri sebagai data pencilan sehingga aku dianggap anomali. Kesel dong. Biar aku dapat stok stiker ekspresi mara-mara.
Aku teringat akan tahun lalu, saat kita dihadapkan kondisi bahwa aku tiba-tiba saja jatuh cinta kepada seorang yang belum pernah aku temui. Setidakwajarnya aku kala itu dan kamu hanya berkata "Nikmati Uda, hidup adalah untuk hari ini. Hari esok belum tentu datang."
Kali ini, aku ingin mengembalikan kata-kata itu buatmu. Listen!!!
"Nikmati sisa waktumu bersama dia, hidup adalah untuk hari ini. Hari esok belum tentu datang."
Aku jahat sekali menuliskan ini. Sangat jahat. Sebab butuh setengah hari bagiku memikirkan pengantar yang pas untuk menuliskan kalimat-kalimat itu. Jika waktumu dengannya sangat terbatas, buatlah segudang kenangan indah yang akan kalian ingat bersama. Tak peduli jika beberapa bulan lagi dia akan angkat kaki dari negeri ini.
Buatlah memori demi memori yang manis, walaupun tentu saja memoria bisa saja membawa melankolia besertanya. Namun, kenapa tidak? Apakah kita memiliki pilihan lain? Bukanlah lebih enak mengenang kisah senang-senang dibanding sedih-sedih? Setidaknya kita(?) terus mencoba mencari bahagia. Jatuh bangun membuat hidup lebih bermakna. Jangan cemas akan kegagalan, sesekali kita ciptakan kegagalan spektakuler.
Hmmmm, sebentar, wait. Jangan terlalu spektakuler juga sih ya, aku tau bagaimana 'ngadi-ngadi'nya kamu. Nanti rumit.😂
Dear Perempuan yang sering dihantui mimpi buruk yang menjadi nyata. Pada akhirnya, kita akan sendiri kembali. Jika bukan menyoal jarak dan hati, dia tetap akan pergi sebab semua yang bernyawa akan mati. Yang kita butuhkan di masa mendatang adalah kisah-kisah lalu yang indah tak terlupakan dan semoga saja tidak kita sesali sebab kita yakin untuk memilih bahagia di hari ini.