Barangkali, Shirath pun hadir dalam kehidupan dunia—menyelinap dalam ketidakpastian, mengaburkan batas antara sabar dan tergesa, serta menggelincirkan keyakinan kepada keraguan.

pixel skylines

JBB: An Artblog!

titsay
ojovivo

shark vs the universe
Claire Keane

No title available
we're not kids anymore.
Xuebing Du
NASA
noise dept.
No title available
cherry valley forever
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
🪼
Monterey Bay Aquarium
No title available

#extradirty
Jules of Nature

祝日 / Permanent Vacation

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Portugal

seen from Norway
seen from Poland

seen from United States
seen from United States

seen from Australia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Poland
seen from Saudi Arabia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from Belgium

seen from United Kingdom
@lukmanpriasmoro
Barangkali, Shirath pun hadir dalam kehidupan dunia—menyelinap dalam ketidakpastian, mengaburkan batas antara sabar dan tergesa, serta menggelincirkan keyakinan kepada keraguan.
Jika engkau sebuah deret, lantas kenapa padamu tak ku temukan pola?
Jika sorot matamu bak purnama, lalu mengapa tak kutemui di tengah bulan?
Jika lengkung senyummu serupa rona kemerahan, mengapa yang ku temui justru temaram?
Seorang masyhur pernah bersyair:
"Jika rembulan terus purnama, bagaimana bisa kita melihatnya dengan penuh rindu?"
Namun bagiku, kau tetap purnama—dan aku tetap memandangmu dengan penuh rindu.
Sunda Kelapa, 20 Rajab 1447H
Hati-hati dalam berucap, barangkali kita lebih sering tertampar oleh ucapan kita sendiri, tanpa kita sadari.
Maplu
Habiskanlah ego -apa saja- sebelum pernikahan. Sebab, bila ia tak habis, masing-masing ego akan saling berjumpa, terjebak pada perihal yang tak pernah tuntas.
Maplu
Beda
Nyatanya benar. Beda tingkatan, beda ujian, beda pula kemampuan. Kau yang tak berani melangkahkan kaki ke langkah berikutnya hanya akan bergulat pada sesuatu yang membosankan. Kemampuanmu pun tak pernah berkembang.
Maka, bersyukur lah engkau yang mau mengambil segala resiko untuk meningkatkan kemampuan dengan mengambil tingkatan dan ujian berbeda. Semoga, Allah senantiasa meridhoi segala langkah-langkah yang kita ambil.
Ku Harap Disini Aman
Dulu, sebelum langkahnya sampai pada jalanan ini, dikiranya bahwa semua sederhana saja. Tak perlu awan gemawan penuh kerlip bintang. Tak perlu Savana dengan pohon rindang. Kau pun demikian, tak perlulah pantai dengan jejeran nyiur kelapa.
Namun? Seiring berjalannya waktu, kau dan dia pun sadar ataukah mulai bergeser? Atau sebelumnya hanya pura-pura tidak tau?
Waktu
Ku sapa engkau di balik heningnya subuh. Kala matahari masih malu-malu membiaskan sinarnya, kala rumput dan dedaunan masih bercengkerama dengan beningnya embun. Tak peduli pada sapaanku yang mana yang akan kau balas. Yang jelas, kau masih tetap seperti sebelum ku kenal, dan kau pun masih tetap setelah ku kenal. Tak terbatas waktu, meski kau coba menutupi gerakmu.
Selamat meraih impian! Waktu akan tetap seperti itu, tak akan pernah menunggumu. Maka bergegaslah wahai perasaan.
Abai
Meskipun, kemungkinan dan ketidakmungkinan itu ada dan akan berhenti setelah peristiwa terjadi, aku tetap berusaha menepi. Mengabaikan segala prasangka yang muncul, mengabaikan segala insting yang mencuat, dan mengabaikan segala intuisi yang kau coba kirimkan. Nyatanya, segala perbedaan yang ada, usia, atau budaya, atau cara pandang, atau apapun yang lainnya adalah sebuah pilihan. Mengesampingkannya atau menjadikannya batas yang nyata. Selamat bermunajat, semoga kebaikan selalu mengiringi kita.
'Intuisi' yang kau coba tanggalkan sepuluh bulan silam, ternyata masih bekerja, hanya saja kau tak mengacuhkannya. Membiarkannya bekerja sekehendak Penciptanya, bahwa apa pun yang kau alami adalah garis hidup yang sedang kau telusuri.
- Kembali
Semoga, (nanti) kau mau, jika setiap sore kita melewati jalan ini. Berbagi kisah di penghujung hari, menuju tempat berteduhnya hati. Sambil bermunajat agar kita bisa kembali, kepada pulang yang selalu dinanti.
Kenapa disebut Sunda?
Sebab, dulu, pada tahun 661-750 M masa Khalifah Mu'awiyah --yang permeritahannya berpusat di Damaskus-- memiliki pengaruh niaga pada seluruh pantai lautan Nikobar, Andaman, Maladewa, Malaka, Madagaskar dan Guinea di Afrika Selatan. Wiraniagawan Muslim ini juga sampai di Pesisir Sindu (1), India. Wilayah-wilayah tersebut sudah tersebar Agama Islam.
(1) Berdasarkan keterangan Drs. H. Abdullah Yusuf, Dekan Fakultas Ushaluddin, Universiras Islam Bandung, pada Peta Bumi terdapat tiga tempat yang ditulis dengan huruf Arab Gundul yaitu Syin, Nun dan Dal. Pertama, wilayah Afrika Utara dekat Mesir yang di baca oleh Perancis menjadi Sudan. Kedua, wilayah India yang dibaca oleh Inggris menjadi Sindu. Ketiga, wilayah Indonesia, yang dibaca oleh Belanda menjadi Sunda. Ketiganya, dibaca Sanadun yang artinya tempat kembali memeroleh rempah-rempah. *** Disadur dari Buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara.
Kau tahu, apa yang dapat membuat nelayan pulang dari tengah lautan tanpa kehilangan arah? Ia gunakan intuisinya. Hei, mendayung dalam lautan perihal tidaklah mudah. Hei, menyelam dalam palung tanya pun tentu sukar. Jangan khawatir, terkaanmu tak mutlak salah juga belum tentu benar, sampai kau dapati aku --atau aku yang lain-- mengetuk pintu rumahmu.
Setelah
Sesaat setelah ia berhasil menaklukan satu lembar buku harianmu yang semula kau enkrsipsikan, lembar itu pun lenyap. Entah sengaja kau lenyapkan atau memang lembaran itu memiliki kemampuan untuk mengurai dengan sendirinya setelah ada yang berhasil menaklukanya. Kau si-ahli penyimpan rahasia, dengan segala enkripsi pada dirimu dan dia si-ahli pengambil rahasia, dengan segala chiper pada dirinya.
Dzul dalam Novel
Suatu pagi, Dzul bergegas dari rumah kecilnya setelah mendapat kabar dari teman-temannya bahwa Juma akan melangsungkan ijab qabul pernikahannya dengan Bestari. "Assalamu'alaikum Dzul, lu udah tau belum si Juma mau nikah?" suara telfon Pras menyambut Dzul pagi itu. "Wa'alaikumussalam, yang bener Pras?" Jawab Dzul dengan santai. "Iya bray, si Rama ga kasih tau lu?" "Mana ada, dia ga kasih tau gue." "Wah kebiasaan tuh, lupa pasti. Gue udh titipin undangan dr Juma ke elu lewat dia, hari ini acaranya. Lu dateng kan?" "Mmm bentar gue cek agenda dulu....." "Udah gausah banyak alesan, dateng aja, gue ama yang lain dateng kok. Lu pake kereta jam 6, ntar gue ama temen yang lain samper lu. Hubungi si Rama. Buru mandi acara jam 10an. Moga keburu." "Iye kalem aja, gue siap-siap dulu." Pukul 05.00 dengan suhu yang tak sedingin biasanya Dzul pun bergegas untuk bersiap. Sambil memanaskan air untuk mandi, Dzul menguhubungi Rama via telfon. "Assalamu'alaikum bro, pesen tiket kereta ya, dua kursi yang jam 06.00, kita ke acaranya si Juma, booking pake uang lu dulu ntar gue ganti. Gue mau mandi mau siap-siap. Kita ketemu di Stasium, pintu Utara ya." Dzul langsung nerocos begitu saja. "Wa'alaikumsalam, eh belum juga dijawab udah panjang lebar. Iya siap. Sampai ketemu di stasiun ya Dzul." Jawab Rama pasrah, sebab ia tau kalau Dzul seperti itu artinya ga ada kata tidak. Sesampainya di Stasiun Dzul langsung menemui Rama yang datang 10 menit lebih dulu dibandingkannya di Pintu Utara. Hanya dengan bahasa tubuh keduanya bergegas mencari sarapan terlebih dahulu. Selama pergi dan kembali dari sarapan tak ada perbincangan mengenai Pernikahan Juma, yang ada hanya obrolan tentang perjuangan 2 tahun silam. "Dzul gue pesennya yang ekonomi ya. Kita sama-sama masih nabung kan?" Canda Rama "Iya gapapa asal lu nyaman aja naik ini." "Sorry ya, gue lupa kasih undangannya ke lu, ya gue tau..." "Ah kalem aja sih, kan udah di kasih tau ama si Pras, nanti dia disana bersedia jadi guide kita, jalan-jalan sekalian kumpul kecil-kecilan." "Tapi lu gapapa kan ini dateng?" "Dih, emang kenapa? Ada undangan dan ga berhalangan mah dateng aja." "Ya kirain, kan lu dulu punya niatan ke Juma." "Yaelah, simpel aja si Ram, berarti dia bukan takdir gue, seperti apa yg pernah gue bilang ke elu." "Tapi lu jangan macem-macem ya disana." Ledek si Rama "Yeuh, kalem. Gue laki Ram. Liat aja disana gua bakal jd tamu paling sopan." Dzul ketawa. "Ah bisa aja lu, awas aja ya lu." "Iya tenang aja, gue tidur yak semalem gua ga bisa tidur banyak kerjaan numpuk." "Iyaa semoga lu bisa tidur nyenyak." Dzul pun terlelap selama perjalanan. Bersambung...
Kesimpulan.
Belum ada penarikan kesimpulan pada setiap kita. Apalagi hanya sebatas ekspresi, pada setiap kata, nada, duka dan segala tawa. Bahkan sebuah keputusan yang dipilihpun belum menjadi sebuah kesimpulan, karena ia menjadi latar belakang pada setiap kalimat, suka, gundah dan segala gelisah di kemudian.
Kau tahu? Kesimpulan pada masing-masing kita akan didapati ketika skenario-Nya telah kita terima dan Takdir-Nya telah kita jalankan.
Aku tak munafik, bahwa pengharapanku akan skenario dan takdir-Nya akan sebuah kesimpulan masih tetap ada. Sebuah kesimpulan bahwa, kesimpulan kita adalah sama. Dan kita akan merajut setiap ekspresi, kata, kalimat, nada, duka, suka, gelisah dan segala tawa bersama.
Sebab, setapak ini masih penuh tanda tanya pada setiap baloknya.
(September 13, 2017)
Entah.
Ku tunaikan bagianku, kau tuntaskan bagianmu. Selebihnya, serahkan kepada Yang Maha Mengatur. Lalu Ia akan pastikan, antara kita tak ada yang merugi atau pun kecewa, sebab sudah sesuai dengan kapasitas masing-masing. Bahkan sepahit apapun yang kita terima, bila itu yang Ia kehendaki adalah semanis-manis pemberian.
Dan lagi, skenario Allah adalah skenario terbaik. Tidak bermaksud menyamakan Ia dengan makhluknya. Tapi, tengoklah! Sejarah selalu berkata demikian, dari kisah suka maupun duka, dari perdamaian hingga peperangan. Semuanya syarat makna dan pelajaran.
Bahwa keyakinan akan peristiwa yang belum terjadi itu berbatas pada takdir. Seluas apapun keyakinan kita pada jalan yang kita tempuh, perjumpaan belumlah pasti. Sebab, barangkali tidak berjumpanya kita adalah jawaban dari ikhtiar yang kita perjuangkan dan doa yang kita panjatkan.