Kita selalu membayar mahal untuk satu pelajaran berharga.
Aku membayar mahal untuk pemahamanku soal berelasi, dengan kehilangan seorang teman yang sudah bersama selama 15 tahun.
Tentu aku menyayangkan betapa lambat aku memahami emosi manusia yang terlibat langsung denganku, tentu pula aku pernah menyesali kenapa aku tidak cukup baik untuk mempertahankan semua hubungan yang kumiliki di masa lalu. Namun aku sudah menerima, barangkali inilah harga yang harus kubayar.
Tiga tahun aku diam, menolak membicarakan apa yang membuat aku lebih berhati-hati, apa yang membuat aku pulang ke rumah dan apa yang membuatku lebih banyak belajar memaafkan luka batin yang dihadirkan relasi di masa lalu.
Bersamaan dengan segala upaya yang kubangun, belajar membina relasi yang sehat dan sesuai porsinya, aku tetap memiliki separuh rasa takut untuk kembali mengecewakan, untuk tak pernah cukup kepada seseorang. Sehingga secara perlahan aku menolak relasi yang lebih dalam dan terikat.
Kata orang-orang, memang pada akhirnya dewasa menyeleksi hubungan, teman yang tadinya ada di setiap kota kini tinggal satu seorang. Namun barangkali kita jarang melihat lebih dalam, porsi bagaimana hubungan itu berakhir. Kuantitas tak pernah lebih baik dari kualitas, itu benar. Hanya saja tanpa memperhatikan bagaimana kualitas dari setiap kuantitas, bukankah terdengar egois?
Kita tak bisa selalu mengambil fenomena umum sebagai penyelesaian untuk karakter kita sendiri. Bagaimanapun benarnya bahwa dewasa membuat kita menjadi lebih sunyi, aku rasa tetap perlu belajar dari setiap hal. Dan pelajaran paling berharga itu tetap yang nilainya paling mahal.