
Jimmy Eat World
Sweet Seals For You, Always

izzy's playlists!
Lint Roller? I Barely Know Her

bliss lane

❣ Chile in a Photography ❣
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
The Stonewall Inn
Keni
No title available
No title available

titsay
I'd rather be in outer space 🛸
todays bird

Kiana Khansmith
Not today Justin
almost home

#extradirty

oozey mess
Phantogram Three

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from T1
seen from Kenya
seen from United States
seen from Brazil
seen from Germany
seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from Italy
seen from United Kingdom
seen from Venezuela

seen from Japan

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Tunisia
seen from United States

seen from Brazil

seen from Canada
@lusirokhmay
Menjadi YANG BIASA saja
Menjadi yang biasa itu mudah Biasa di depan mereka pada umumnya Hanya terlihat sepintas Bahkan tak nampak sekalipun bagi mereka
Tapi hanya ada DIA yang tahu Mengerti tentangnya Tapi hanya ada DIA yang memahami Menganggap hadirnya ada
Mereka hanya sesiapa baginya Ianya bukan siapa siapa mereka Tak mementingkan tentangnya Terlupa bagi mereka karna yang biasa saja
Karna kedudukan Karna perubahan Karna hanya yang nampak nyata Karna merekanya ingin akan pengakuan
Sudahlah biar yang biasa saja Dia pahami Hanya Dia yang dibutuhkan Bukan mereka karna sebuah kekaguman Melainkan keridhoan hakiki Yang menjadi biasa lebih tenang dalam diam.
Perubahan
Ternyata sudah lama aku tak membuka kembali
Apa yang dulu pernah ku mimpikan
Apa yang dulu menjadi harapan dan doa
Seakan akan sudah tertutup
Kini menunggu perubahan
Salahkah aku melangkah
Menyesali ???
Mungkin terbesit rasa itu
Dan tinggal kenangan
Lalu bagaimana ?
Mencoba bangkit
Demi mereka
Saat ini bukan diriku tapi untuk mereka
Ada saatnya semua kan bisa tercurahkan. Biarlah seperti ini untuk sekarang, karna ini lebih baik. Semua akan menjadi mudah dengan "sabar"
..
Hanya ingin berlari Berlari dari waktu yang terlewati Serasa ingin mengulang dan tak ingin melanjutkan Mencari kedamaian hati Marah, tangis ini tumpah jua Ada air mata yang mengiringi Pun ada kepasrahan jiwa yang menyertai Dalam setiap Keputusan akan masa depan itu Pasrah... pasrah.. pasrah padaMu Aku takut menghadapi semua Hati ini masih sering bergejolak utk diri Ada kebahagiaan utk mereka yg menguatkan Jiwaku ragaku hanya milikMu Ya Rabb Kau tuntun aku sampai pada langkah ini Kau beri aku hati untuk merasa Kau beri aku kesabaran untuk berpasrah Kau beri aku kekuatan untuk tetap melangkah Air mata ini akankah berubah jadi pelangi Ketika hati berkata tidak namun mulut tak sanggup mengucap Hanya ingin melihat bahagia untuk mereka Dan aku, meminta kekuatan utk lalui semuanya Tangerang, 9 Maret 2016
Tak ada yang sempurna Banyak noda disetiap diri Bahkan noktah hitam terpekat Berbalut wibawa diri masing2 Entah kebanggan entah kerisauan Terus berbuat ataukah berubah Pilihan itu ada pada anda sendiri Jaga sekitar agar tak ada yang tersakiti
Karna Allah gerakkan semuanya Hingga diri sampai pada saat ini Lillah... lillah.. lillah Hati pasrahkan hy padaNya Tiada perencana sebaik Engkau
Allah, aku yakin indah rencanaMu. Aku yakin Kau dengar setiap doa2 hambaMu Aku yakin yg terbaik datang dariMu. Jika ini jalanku maka indahkanlah Jika ini jalan perlintasanku maka ku yakin yg terbaik dariMu.
Belajar menghargai...
Banyak macam sifat manusia di dunia Tetapi yang baik pasti akan di damba Menjadi baik pun akan terus diusaha Karna yang baik membawa kebaikan Namun sudahkah sama hati dengan tabiat Hati selalu menginginkan kebaikan Tetapi tabiat, perilaku spontanitas yg masih minus Usaha hanya dihati tanpa wujud perilaku apa bisa ? Kamu bukan satu satunya yang perlu perhatian Pun bukan satu satunya orang yang harus dipatuhi Sadarilah wahai hati, takutlah kesedihan orang karna mu Sakit hati mereka karna mu hanya menghancurkan dirimu Masalahmu bukanlah masalah mereka Hatimu bisa kau bagi dengan mereka Mereka menaruh simpati padamu Tapi perilakumu sudahkah memerhati untuk mereka Egois sekali kamu .... Kamu menginginkan kebaikan pun memaksa sesukamu Jangan salahkan jika mereka menjauh Marilah sama2 belajar menghargai bukan menghakimi
Barang siapa menyembah Allah dengan cinta saja Maka sungguh ia Zindiq. Barang siapa menyembah Allah dengan harap saja Maka ia adalah Murji'. Barang siapa menyembah Allah dengan takut saja Maka ia Haruri Mukmin bertauhid menyembah Allah dengan ketiganya TAKUT, HARAP, DAN CINTA (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)
Barakallahu Laka - Salim A. Fillah
Noted
Pada Hati ku bertanya....
Kembali dalam sebuah pilihan untuk masa yang tak seorangpun akan tahu ujungnya. Melalui hari bersama orang yang amat sangat asing menjadi sebuah keasingan diri. Entah dari mana tirai keasingan masing-masing akan menyingkap sebuah keakraban. Sulit dimengerti secara logika ataupun rumus matematika. Akh tak pernah ku sampai pada hal itu. Hanya sebuah kata "Yakin" semua akan terlaksana. Bukan soal menunggu melainkan kepastian. Yakin kepastian Allah adalah yang terbaik. Tangerang, 19 Des 2015
KarnaMu
Ya Allah, semoga ridhoMu menyertai BerkahMu mengiringi disetiap langkah PetunjukMu terwakili dalam setiap keputusan Hingga sampai kami pada jannahMu Ya Allah, karuniakan tebaran kebaikanMu Dalam balutan kasih sayang naungan cintaMu Beribu-ribu malaikat menghantarkan doa mustajab Wujudkan keluarga sakinah mawadah warahmah Ya Allah, penuhi manfaat disetiap waktu kami Bersama dalam bahagia mereguk iman islamMu Mendamba dan membangun generasi rabbani Menelusuri syahdunya masa bersama karnaMu Tangerang, 26 Desember 2015
"Buka lembaran baru atau tetap dengan lembaran yang lama, kembali untuk memilih yang terbaik"
Tulisan : Mainkan Peranmu
Saya senang menamai usia 20-29 sebagai fase pembuktian. Fase dimana paling tidak ada dua life-crisis yang harus dilewati oleh setiap orang. Krisis setelah lulus dan mulai masuk ke dunia profesional dan krisis memutuskan untuk menikah dengan siapa.
Ditengah ramainya dunia maya membahas kegalauan dan romantisme usia 20+, banyak yang lupa bahwa di tahap yang sama mereka harus berjuang membuktikan diri kepada dunia tentang siapa dia. Tentang peran apa yang dia ambil di masyarakat yang majemuk ini. Apakah dia menjadi sampah masyarakat, menjadi orang biasa, atau menjadi orang yang ahli.
Maka mainkanlah peran itu. Selepas kita selesai sekolah yang sangat panjang itu, kurang lebih 16 tahun sejak masuk TK. Kita akan menyadari bahwa kita harus mengambil satu peran yang kemudian akan kita mainkan seumur hidup. Peran itu mungkin dulu pernah mengema menjadi cita-cita kita semasa kecil.
Mainkanlah peran itu dengan sebaik-baiknya. Percayalah bahwa di dunia ini, tidak semua orang dilahirkan untuk menjadi seorang penulis, tidak semua dilahirkan untuk menjadi dokter, guru, dan aneka peran lainnya. Ada yang berperan menjadi penulis, pembuat film, pelukis, guru, dokter, tentara, dan aneka peran yang mungkin bisa mulai kita renungkan sejak saat ini. Sejak kita memahami bahwa urusan kegalauan kita tentang pasangan yang berlebihan itu banyak menyita pikiran kita ke hal-hal yang tidak penting dan tidak berdampak.
Jangan sampai kita salah memilih peran, sebab sekali kita memilih kita akan sulit keluar ditengah waktu yang begitu banyak kita habiskan dalam menjalani peran tersebut. Untuk mengatasi masalah-masalah ummat dan masyarakat yang begitu besar, kita lebih butuh banyak cendekia daripada selebgram, lebih banyak butuh banyak ahli matematika daripada ahli bikin model jilbab. Saya kadang sedih melihat bagaimana dunia hari ini berjalan di tengah orang-orang begitu sibuk memikirkan eksistensi dirinya sendiri. Berlomba mencari perhatian publik dengan sensasi yang meaningless-tidak ada makna dan nilai kebaikannya-dan ujung-ujungnya menjadi ujung tombak kapitalisme untuk jualan barang (endorsment) di medianya.
Ambilah peran dengan bijaksana. Peran yang memberikan kebaikan kepada diri sendiri dan sekitar. Peran yang sekiranya kita bisa mendapatkan pahala kebaikan dan keberkahan. Bukan tentang berapa banyak uang yang akan kita dapatkan dari peran tersebut, tapi tentang seberapa maksimal kita bisa memberikan yang terbaik melalui peran tersebut.
Semakin ke sini semakin kita memahami bahwa ini adalah masa bagi kita semua untuk kembali berpikir dan merenungkan. Dunia ini tidak baik-baik saja seperti kita lihat sehari-hari. Kita hanya beruntung lahir ditempat yang tidak ada konflik apalagi perang. Maka isilah dengan rasa syukur dengan menjalani peran dan memberikan kebaikan yang lebih banyak.
Rumah, 10 Desember 2015 | ©kurniawangunadi
Tulisan : Mainkan Peranmu
Saya senang menamai usia 20-29 sebagai fase pembuktian. Fase dimana paling tidak ada dua life-crisis yang harus dilewati oleh setiap orang. Krisis setelah lulus dan mulai masuk ke dunia profesional dan krisis memutuskan untuk menikah dengan siapa.
Ditengah ramainya dunia maya membahas kegalauan dan romantisme usia 20+, banyak yang lupa bahwa di tahap yang sama mereka harus berjuang membuktikan diri kepada dunia tentang siapa dia. Tentang peran apa yang dia ambil di masyarakat yang majemuk ini. Apakah dia menjadi sampah masyarakat, menjadi orang biasa, atau menjadi orang yang ahli.
Maka mainkanlah peran itu. Selepas kita selesai sekolah yang sangat panjang itu, kurang lebih 16 tahun sejak masuk TK. Kita akan menyadari bahwa kita harus mengambil satu peran yang kemudian akan kita mainkan seumur hidup. Peran itu mungkin dulu pernah mengema menjadi cita-cita kita semasa kecil.
Mainkanlah peran itu dengan sebaik-baiknya. Percayalah bahwa di dunia ini, tidak semua orang dilahirkan untuk menjadi seorang penulis, tidak semua dilahirkan untuk menjadi dokter, guru, dan aneka peran lainnya. Ada yang berperan menjadi penulis, pembuat film, pelukis, guru, dokter, tentara, dan aneka peran yang mungkin bisa mulai kita renungkan sejak saat ini. Sejak kita memahami bahwa urusan kegalauan kita tentang pasangan yang berlebihan itu banyak menyita pikiran kita ke hal-hal yang tidak penting dan tidak berdampak.
Jangan sampai kita salah memilih peran, sebab sekali kita memilih kita akan sulit keluar ditengah waktu yang begitu banyak kita habiskan dalam menjalani peran tersebut. Untuk mengatasi masalah-masalah ummat dan masyarakat yang begitu besar, kita lebih butuh banyak cendekia daripada selebgram, lebih banyak butuh banyak ahli matematika daripada ahli bikin model jilbab. Saya kadang sedih melihat bagaimana dunia hari ini berjalan di tengah orang-orang begitu sibuk memikirkan eksistensi dirinya sendiri. Berlomba mencari perhatian publik dengan sensasi yang meaningless-tidak ada makna dan nilai kebaikannya-dan ujung-ujungnya menjadi ujung tombak kapitalisme untuk jualan barang (endorsment) di medianya.
Ambilah peran dengan bijaksana. Peran yang memberikan kebaikan kepada diri sendiri dan sekitar. Peran yang sekiranya kita bisa mendapatkan pahala kebaikan dan keberkahan. Bukan tentang berapa banyak uang yang akan kita dapatkan dari peran tersebut, tapi tentang seberapa maksimal kita bisa memberikan yang terbaik melalui peran tersebut.
Semakin ke sini semakin kita memahami bahwa ini adalah masa bagi kita semua untuk kembali berpikir dan merenungkan. Dunia ini tidak baik-baik saja seperti kita lihat sehari-hari. Kita hanya beruntung lahir ditempat yang tidak ada konflik apalagi perang. Maka isilah dengan rasa syukur dengan menjalani peran dan memberikan kebaikan yang lebih banyak.
Rumah, 10 Desember 2015 | ©kurniawangunadi
Dilema
Tak pernah terbayangkan situasi seperti ini terjadi Terjebak dalam sebuah pilihan Dan entah diri ini ingini atau tidak Tak bisa mengelak pun tak sanggup menghindar Hanya satu yang harus diputuskan Satu untuk masa yang jauuh kedepan Tak sadar air mata ini menetes Mungkin hanya itu yang bisa ungkapkan rasa Bibir ingin bicara namun seolah tertahan Baik atau buruk Akupun tak tau Bahkan apa yang aku rasa sendiri tak mengerti Rabb sebaik-baik tempat ku menuju..... Jakarta selatan, 11 Des 2015