Gelap
"Masih memungkinkan nggak ya, anak kita nanti bekerja dan bertempat tinggal di sini?"
Kalimat pertanyaan yang, anehnya, selalu terbayang hampir setiap waktu. Setiap kali melihat hal-hal yang tak sepantasnya terjadi di negara yang sudah 80 tahun merdeka.
Sayangnya, 'di sini' yang dimaksud bukan lagi merujuk pada kota tempat kami saat ini tinggal. 'Di sini' bermakna secara luas: Indonesia.
Aku yakin, orang tuaku dulu tidak akan pernah berpikir seperti itu. Rerata orang tua dulu, pasti menginginkan anaknya dekat di sisinya saat dewasa nanti. Tapi, ternyata tidak begitu pada orangtua di zamanku saat ini. Aku dan teman-teman, sering berseloroh (yang juga setengah serius) akan mengizinkan anak-anak kami untuk tinggal di luar Indonesia, jika mereka menginginkannya.
Banyak sekali faktor yang membuatku dan orang tua milenial maupun gen Z lainnya berpikiran sampai sejauh itu. Mulai dari persoalan kebutuhan hidup yang mendasar saja, seperti sandang, pangan, dan papan. Kebutuhan hidup di negara ini terasa tidak lagi aman bagi kami. Gaji yang diberikan, tidak sesuai dengan standar, sementara harga kebutuhan terus meningkat. Pajak diobral di segala sektor yang terasa mencekik dan menyesakkan. Akses pendidikan dan kesehatan yang tidak jadi prioritas utama. Ketimpangan sosial dimana-mana. Banyak, banyak sekali.
Dan semua problematika ini berujung pada: pemerintahan yang tidak berpihak pada kesejahteraan warganya. Pemerintahan yang hanya melihat dan mendukung kepentingannya sendiri. Pemerintahan yang hanya peduli pada kebijakan yang populis tapi melupakan esensi. Pejabat sibuk merancang undang-undang yang keberpihakannya dipertanyakan. Pejabat yang memenuhi media dengan berita-berita absurd setiap harinya.
Sebetulnya, siapa juga sih, yang mau pergi dari tanah air sendiri? Aku pun, jelas lebih, lebih, dan lebih suka untuk tetap tinggal dan menua disini. Tapi, semua berita buruk yang menjejali media dari hari ke hari, menggodaku untuk melihat kesempatan lain: mencari ketenangan di bumi Allah yang lain.
Terlebih, untuk anakku nanti.
Aku ingin melihat anakku nanti tumbuh besar di tempat yang baik. Tempat dimana setiap individu merasa dihargai. Aku ingin anakku bisa belajar apapun yang ingin ia kuasai, tanpa terbentur kenyataan pahit seperti: penghasilan kecil, stigma di masyarakat, pemerintah yang tidak amanah.
Aku ingin anakku berkarya tanpa harus memikirkan banyaknya kebutuhan hidup yang harus ia tanggung, karena kesejahteraannya sudah dijamin oleh negaranya. Tidak seperti orangtuanya saat ini, yang dalam bekerja pun, masih harus melihat pahitnya realita pekerjaan kami, yang tidak mendapatkan haknya secara layak.
Aku ingin anakku menyaksikan, ada di bagian dunia lain, dimana guru sangat dihargai, petani sejahtera, tukang bersih-bersih tetap bisa menghidupi keluarganya dengan baik, tukang petik strawberry diupah dengan layak. Ada negara yang bahkan memberikan tunjangan buku bagi warganya. Ada negara yang bisa membentuk sistem, ketika kita terlupa meninggalkan barang di tempat umum, akan tetap aman terpelihara. Ada negara yang begitu menjunjung tinggi disiplin dan hidup bersih.
Aku ingin anakku merasakan, bahwa setiap manusia berharga. Tanpa melihat apa profesi yang dijalani, kompetensi apa yang kita pilih untuk kuasai, dedikasi apa yang ingin kita beri. Semua dipandang secara layak. Dan rasa-rasanya, kondisi seperti ini hanya akan terjadi secara merata di satu wilayah negara, jika pemimpin dan jajaran pemerintahannya amanah dengan kewajiban yang melekat pada posisinya.
Tapi, pemerintahan yang adil itu, bukankah muncul jika masyarakatnya adil pula. Kelamnya negara saat ini, mungkin karena Allah juga ingin mendorong kesadaran kolektif kita, untuk mendidik generasi berikutnya sebaik mungkin.
Masih ada sepercik harapan, sebetulnya.
Melihat lebih banyak orang yang ‘melek’ dengan teori parenting. Lebih banyak orang melek dengan kesehatan mental. Lebih banyak keluarga yang menyadari, bahwa pendidikan bermula dari keluarga. Lebih banyak ayah yang mau terlibat dalam pengasuhan. Kesemua itu bisa menjadi akar yang kokoh, untuk memperbaiki generasi anak-anak kita nanti. Menciptakan generasi yang adil sejak dalam pikiran dan perkataan, sehingga berwujud pada tindakan.
Masih ada harapan, yang sangat bisa diupayakan dari satuan masyarakat terkecil dan terdekat: keluarga.
Semoga, lelah yang bertubi-tubi ini kian menemukan ujung penantian. Semoga, gelapnya hari-hari ini menjadi pertanda lekas terbitnya matahari.
Pamekasan, 29 Agustus 2025
00.09 WIB















