So Worried about Marriage
Umurku saat ini 24 tahun. Usia yang seharusnya sudah mulai memasuki masa masa pernikahan. Satu persatu teman teman di SMA ku dan kuliah sudah mulai mengakhiri masa lajangnya dan memasuki babak pernikahan. Bulan ini setidaknya aku menerima 2 undangan pernikahan, dan setiap weekend isi story instagramku berisikan kabar pernikahan. Kalau aku? hh, aku rasa masih butuh waktu yang agak lama untuk akhirnya mencapai titik itu. Kalau calon, Alhamdulillah aku rasa aku sudah diberi petunjuk oleh Allah siapa orangnya, walau kami pun masih tahap saling mengenal dan saling mempersiapkan diri sih hehe
Di mataku pernikahan itu menakutkan...
Yap, bagi seorang anak pertama yang sering menerima curhatan ibunya tentang rumah tangga... tentunya pandanganku tentang pernikahan seketika berubah, dulu aku mengira menikah adalah sesuatu yang sesederhana menyatukan dua orang menjadi sebuah keluarga... namun ternyata lebih dari itu.
Jika aku boleh jujur, keluargaku bukan keluarga yang sempurna seperti gambaran keluarga bahagia yang ada di sinetron sinetron. Bapak ibuku memang bukan dari hasil perjodohan, mereka saling menemukan ketika ibuku adalah murid bapakku ketika di bangku kuliah dulu (namun bapakku seumuran ibuku)
Tapi, meskipun bukan dari hasil perjodohan, aku bisa bilang bahwa cinta tak selalu meliputi keduanya, ada kalanya ibu dan bapak bertengkar dari yang kecil sampai yang besar. Dulu ketika aku kecil, pertengkaran itu tak terlalu aku mengerti, namun seiring beranjak dewasa, aku mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi. Aku jadi lebih sering mendengarkan ibuku, menemaninya menangis, bahkan akupun jadi ikut merefleksikan diri, Apakah ketika aku menikah akan merasakan kesedihan yang sama?
Tapi aku berusaha tidak berat sebelah, akupun juga mendengarkan curhatan Bapak tentang Ibuku, lalu sedikit banyak tahu "Oh ternyata ini yang diinginkan oleh seorang suami" , walau sebenarnya sebagai perempuan, aku terkadang lebih memihak ibuku... mungkin karena aku jadi ikut membayangkan sulitnya posisi ibuku sebagai istri.
Tak jarang aku dan adikku sebagai anak-anak mereka, akhirnya berusaha jadi penengah diantara keduanya, kadang ketika orangtua bertengkar, suasana rumah menjadi super tidak nyaman. Saling diam diaman, dan setiap pembicaraan menjadi sensitif.
Jika sudah begini, aku dan Adik hanya pasrah menunggu keduanya berbaikan secara natural, yang bisa kami lakukan ya paling tetap membantu pekerjaan rumah seperti biasa dan berusaha tidak menambah kekesalan bapak dan ibu di Rumah.
Kadang aku tidak selalu ada di Rumah, kadang aku ada di Surabaya. Saat adekku di Rumah, dan kebetulan orangtuaku sedang bertengkar, adek hanya bisa chat aku dari kejauhan "Mbak, ibuk dan bapak tengkar lagi tuh"
Disitu aku sedih, karena aku tidak bisa melakukan apa apa, selain menyuruh adekku sabar,
kadang pula di tengah malam aku mendengar ibuku terisak menangis, atau memergoki ibuku menangis di akhir solatnya, atau pula menemukan ibuku bangun tidur dengan keadaan mata sembab.
kadang aku bertanya "ibu kenapa" namun seringnya tidak dijawab saat itu juga, ibuku tipikal yang bercerita ketika ibu sudah beres dengan perasaannya sendiri.
Lalu sebenarnya apa sih yang membuat mereka berselisih? sebenarnya kadang bukan hal yang besar, hanya komunikasi saja atau salah paham. Ibuku mungkin punya love language yang berbeda dengan bapak. Seiring mereka bertambah usia pernikahan, cinta cintaan yang super romantis seperti ucapan good night sebelum tidur atau hal hal yang manis saat kita masih muda, akan lambat laun pudar, namun rasa mencintai dan dicintai itu berubah menjadi bentuk lain... namun perubahan bentuk itu, terkadang membuat salah paham.
Ibuku merasa mencintai bapak dengan cara melayani suami, membuatkan teh tiap pagi, memasak untuk suami dan anak anak, mencucikan baju bapak tiap hari, merawat bapak ketika sakit. Aku sendiri merasa Ibuku adalah wonder woman yang bisa melakukan itu semua tanpa meninggalkan karirnya, bahkan tanpa bantuan ART
Sedangkan Bapakku merasa dicintai jika Ibuku punya waktu untuk mendengarkan ceritanya, menghargai pendapat pendapatnya ketika sedang bercerita, namun bagi bapak, ibuku itu terlalu cuek, dan di mata bapak, Ibuku orang terlalu mementingkan karir, atau terlalu peduli dengan pekerjaan rumah sehingga tak punya waktu untuk Suami. Seringkali bapakku marah kepada ibu "Udah gausah cucikan baju saya, gausah repot repot setrika, biarkan saja" namun disisi lain aku juga bingung mengapa bapak tidak membantu ibuku mengerjakan pekerjaan Rumah saja jika memang justru hal itu yang menyita waktu ibuku.
Lalu aku sedikit banyak membaca teori Love language, bahwa bahasa cinta tiap orang itu berbeda, Mungkin ibuku adalah orang dengan Love Language Service of Act, ibuku mencintai dengan cara melakukan sesuatu untuk orang yang dicintai, aku rasa ibuku akan merasa dicintai jika orang membantunya dalam melakukan pekerjaan. sedangkan Bapakku adalah orang dengan Love Language Word of Affirmation, aku tau karena bapakku memang lebih suka menghabiskan waktu dengan ngobrol santai, dan ketika bapak melakukan sesuatu selalu bertanya pada yang lain "Gimana? bagus kan?", namun sayangnya ibuku orang yang tidak terlalu ekspresif, sehingga selisih paham itu muncul dan terus berulang.
Namun hal itu tak lantas membuat pernikahan Ibuku dan Bapak berakhir, entah karena usia pernikahan yang lama, karena sudah ada anak, atau karena memang sudah benar benar cinta. Aku tak tahu.
Namun yang pasti, itu semua membuatku takut. Takut akan kehidupan pernikahan yang membuatku dan anak-anakku menjadi sedih, takut bila aku tak bisa memenuhi keinginan suami, takut bila aku tidak memenuhi keinginan keluarga suami. Aku takut.
Belum lagi takut akan dikhianati... Aku tahu ini tidak pantas untuk diceritakan di tempat yang bisa diakses oleh orang lain.
Tapi aku benar benar takut akan pengkhianatan. Dahulu aku hanya sekedar mendengar cerita orang orang saja tentang perselingkuhan, rasanya hanya sekedar berita saja dan merasa "ah tidak mungkin terjadi pada keluargaku"
Namun ternyata menjadi sangat mengerikan dan sedih ketika benar benar terjadi pada diri sendiri. Walau saat ini keluarga kami mungkin bisa dibilang baik baik saja , Namun tetap saja, hal itu tetap menjadi luka tersendiri bagi diriku sendiri, walau aku selalu berusaha baik baik saja. Aku jadi bertanya tanya akankah ada pria yang baik di dunia ini ?
pertanyaan yang tidak bisa aku jawab, yang bisa aku lakukan saat ini adalah belajar menerima orang lain, juga belajar bahwa tiada pernikahan yang sempurna, tapi sebagaimana menaiki perahu yang sama, ketika ada lubang, siapapun yang dalam kapal harus bersedia menambalnya, supaya tak tenggelam. Ketika ada badai, siapapun dalam kapal harus saling koordinasi supaya bisa keluar dari badai. Tujuan perahu itu adalah ibadah. Maka benar ketika agama bilang bahwa menikah adalah menyempurnakan sebagian agama. Karena isinya adalah ibadah. Bahkan jika ibadah itu harus dilewati dengan tangis seperti yang ibuku lakukan, maka nilainya tetap ibadah.
Yaahh aku berharap, orang yang aku yakini sebagai calon pendamping hidupku kelak bisa menerimaku dan mencintaiku, dan akupun bisa menerimanya dan mencintainya. Kalaupun harus ada pertengkaran, aku harap segera berakhir dan tak perlu banyak banyak. Aku ingin memberikan kehidupan yang terbaik untuk Anak anak kelak, tak perlu menjadi penengah ayah bundanya ketika ada masalah, tak perlu pula memergokiku menangis.