Universitas Indonesia

Origami Around
DEAR READER
he wasn't even looking at me and he found me

PR's Tumblrdome
I'd rather be in outer space 🛸
YOU ARE THE REASON

shark vs the universe

if i look back, i am lost
NASA
Claire Keane

No title available
taylor price
wallacepolsom
sheepfilms

blake kathryn

JVL
No title available
almost home

tannertan36
One Nice Bug Per Day
seen from Hong Kong SAR China

seen from Ireland

seen from United States
seen from Saudi Arabia

seen from United Kingdom
seen from Switzerland
seen from United States
seen from Italy

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from France
seen from Spain
seen from United States
seen from Singapore

seen from Netherlands
seen from Türkiye

seen from Poland

seen from Spain
seen from United States
@mamimumemoblog
Universitas Indonesia
Ga Selalu
Kalo kita nganggep sesuatu itu benar, ya gak mesti yang lain itu salah dong?
Kalo kita nganggep nih, jadi pengusaha itu jalan yang baik, ga selalu jadi PNS atau karyawan swasta itu hina. Pun sebaliknya. Kan setiap orang punya jalan hidup dan jalan berkontribusi? Yang salah itu kalo gak pake pekerjaan untuk kebaikan.
Kalo kita suka tulisan yang ceplas ceplos, ga selalu juga yang nulisnya berhati - hati itu munafik. Bisa jadi dia cuma hati - hati dan mencoba menjadi baik. Yang salah itu kalo kita nulis hal - hal yang tujuannya jelek dan ngajarin orang berbuat jelek.
Kalo kita milih capres 01, ga selalu juga yang milih 02 itu salah, dan sebaliknya. Yang salah itu kalo saling nyalahin, nyinyirin, bacotin.
Kalo kita milih pasangan yang lebih tua, ga selalu dong orang yang milih pasangan lebih muda itu keliru, dan sebaliknya. Yang salah itu kalo ambil pasangannya temen. #eh.
Hidup itu gak selalu hitam sama putih doang. Sering banget kudu ada Grey 20%, 21%, 45%, dan persentase - persentase warna yang gak bisa dilihat cuma dari satu sudut pandang. Boleh nganggep pilihan kita benar, tapi bukan berarti nyalahin yang lain.
Hal ini berlaku juga kalo menilai orang lain, jika seseorang nganggep pilihan A benar, ga mesti juga dia akan nyalahin pilihan B, jadi jangan nuduh.
Kita nih banyak gak tahunya. Siapa tahu eh pekerjaan yang kita hina itu ternyata mendatangkan duit dan manfaat yang lebih gede? Siapa tahu eh pasangan yang kita anggap salah itu lebih bahagia dari kita? Setiap keputusan datangnya dari pertimbangan akan ilmu dan pengalaman.
Yang penting mah, semoga setiap sudut pandang kita menentukan pilihan, adalah sudut pandang yang Allah sukai.
Karena yang kesukaanya sama, belum tentu hidup bersama :)
Jika hidup bersama, maka ada usaha untuk tetap bersama :)
Sandria, 28 Juli 2019.
Melatih Bercukup
Tiap tanggal 1 awal bulan biasa jadi rutinitas saya tuk mengatur pos-pos alokasi keuangan keluarga.
Prinsip keuangan kami sederhana, tiap pendapatan bulanan dibagi 4 : pengeluaran harian 25%; investasi dan tabungan 25%; infaq zakat hadiah 25%; dan pos campuran (cicilan, pendidikan anak, upgrade rumah) 25%.
Selebihnya jika ada pendapatan tambahan sekecil apapun itu, langsung dibagi dengan 1/3 kebutuhan harian/bulanan, 1/3 ziswaf, dan 1/3 investasi.
Alhamdulillah pola ini sudah konsisten diterapkan sejak 3-4 tahun lampau. Dan bekerja mengendalikan dan melatih kami belajar “mencukupkan diri”.
Porsi pengeluaran harian yang besarnya 25% itu bukan hanya belanja harian aja. Ia terdiri dari pos seabreg : belanja harian, peralatan&perlengkapan rumah tangga, jajan ayah, jajan bunda, jajan azima, transportasi, kesehatan, liburan, dan pendidikan (beli buku/ikut course).
Mekanisme ini memaksa saya harus pandai mengatur pengeluaran. Terutama pos jajan saya personal. Maklum pos ini biasanya yang kita sering khilaf kalau punya uang lebih. Beli hape, beli baju, barang-barang hobi, dll.
Contoh tahun 2018 saya beli banyak peralatan olah raga dan susu protein. Akhirnya terealisasi karena saya irit-irit pemakaian pos pribadi saya bulan-bulan sebelumnya. Sepertinya gak akan bisa beli kalau pos bernama jajan ayah ini ga dihemat dan ditabung.
Menjadi masalah kalau jatah pos tersebut sudah minus. Tanda peringatan bagi kami. Kalau tetap dipaksakan, minus akan semakin luber-luber. Minus juga akan terbawa berkelanjutan ke bulan-bulan selanjutnya. Tidak diputihkan sebelum memang bisa normal sendiri.
Akhirnya disitu kami belajar tuk mencukupkan diri. Cukup itu menurut saya bukan tindakan pasif, tapi ia aktif. Ia harus dilatih dan dibentuk. Selagi kita masih mampu mengendalikan diri terutama.
Mengendalikan diri bisa bercukup dalam materi selalu menantang. Di kala lapang maupun sempit. Mencukupkan diri kala sempit tantangannya bersabar, mencukupkan diri kala lapang tantangannya nafsu.
InsyaAllah kita selalu percaya rezeki dari Allah cukup. Nikmat Allah cukup, bahkan berlimpah. Yang buat suka ga cukup itu menggantungkan kepuasan pada nafsu kita.
Betapa indah doa dalam hadits ini : Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563)
Mengingatkan kembali pada kita tuk bergantung pada Allah semata, bukan yang lain. Apalagi jika hanya kepuasan pada pemenuhan nafsu.
Memohon kepada Allah tuk mampukan kita bercukup hanya dari yang halal. Hal yang sulit di tengah beragam sumber syubhat dan yang dilarang Allah berseliweran.
Melatih diri tuk bercukup dengan membatasi diri bukan berarti pelit dan menyusahkan diri. Tapi kita melatih nafsu tuk tidak selalu jadi panglima pengambil keputusan.
Dengan mencukupkan diri, kita bisa lapangkan yang dititipkan Allah tuk membantu melapangkan urusan orang lain. Tuk mempersiapkan masa depan seperti yang Allah perintahkan. Dan tuk lebih banyak beramal di jalan yang Allah muliakan.
Semoga kita semua dimudahkan Allah tuk mencukupkan diri dengan yang halal dan berkah. Juga dengan melatih kedisiplinan dan pengendalian diri kita atas nafsu kita sendiri.
Cara Hidup Hemat
Kalau bingung gimana caranya hidup hemat dan gak mubazir, cukup mikirin hisab aja. Semua yang kamu punya bakal dihisab sama Allah. Bakal ditanya dapet dari mana; dipake buat apa; kok bisa gak kepake; dan kenapa dibuang. Jadi kalau mau beli sesuatu atau mau ngebuang barang yang udah gak kepake, tanya dulu: ini pertanggung jawabannya gimana ya pas dihisab nanti?
Pernah kepikir gak, rezeki dari Allah itu prinsipnya hampir sama kayak hukum kekekalan energi? Bahwa rezeki datang dari Allah itu berubah dari bentuk satu ke bentuk yang lain, dan dari satu orang ke orang yang lain. Terus begitu dan tak terputus.
Kamu dapat gaji sekian juta, sebagiannya kamu kasih buat orang tua. Oleh orang tuamu digunakan untuk beli beras. Pedagang beras dapet uang dari orang tuamu, uangnya dipake buat beli bensin. Sama perusahaan yang jual bensin, uang dari pedagang beras dipake buat kebutuhan perusahaan kayak bayar gaji karyawan. Sama karyawan pom bensin gajinya dipake buat bayar sekolah anaknya. Sekolahnya bisa terus beroperasi dan anaknya bisa sekolah, kuliah, sampai dapet kerja. Gak berhenti tuh perputaran rezeki.
Nah, perilaku mubazir seperti gak ngabisin makanan atau membuang barang yang sebenernya masih bisa dipake, itu sama kayak 'memusnahkan' rezeki.
Sekalipun nominalnya kecil, rezeki tetaplah sesuatu yang besar. Seperti kamu membeli nasi goreng pinggir jalan. Nutrisinya bisa ngasih kamu energi untuk setengah hari. Seperti kamu membeli kaos seharga 50ribu rupiah. Kaos itu bahkan bisa kamu pakai lebih dari setahun. Seperti kamu membeli body lotion yang harganya 30ribu rupiah. Itu bisa kamu pakai dua bulan lebih.
Apa jadinya kalau rezeki berupa barang yang masih bisa dimanfaatkan itu kamu buang dengan alasan gak enak atau gak cocok? Kamu sudah memutus rantai dan nilai kebermanfaatan rezeki dari Allah. Padahal rezeki itu adalah wujud dari kasih sayangnya Allah.
Itu. Itu yang kelak akan dihisab. Jangan kira Allah pelit karena mengaudit semua pengeluaran kamu di dunia. Mau semubazir apapun kamu, itu gak bikin Allah kehilangan dan kekurangan apa-apa. Yang Allah gak suka adalah akhlakmu yang menyepelekan rezeki dari Dia Yang Maha Agung itu.
Gak lucu aja, di satu waktu kamu memuji-muji Allah Ar-Razzaq, Al-'Aziz, Al-Wahab, Ar-Rahman, Ar-Rahim, tapi di lain waktu kamu menyia-nyiakan kasih sayang yang Dia beri.
Kurang ajar sekali.
Mampang Prapatan | Taufik Aulia
Sweet
Apa kabar, Ramadhanku?
Masih ingat tidak seperti apa perasaan kita kala kita ditinggal bulan ramadhan pergi? Sedih, bahagia atau biasa aja?
Masih ingat juga tidak, perihal janji-janji untuk berbenah selepas ramadhan? Kala itu, barangkali diri kita pernah berjanji, akan berbenah dan menuju baik selepas ramadhan.
Kini, ramadhan tinggal menghitung beberapa hari. Bukan pada lama atau sebentar menunggunya. Tapi lebih kepada dalam masa menunggu itu persiapan seperti apa yang sudah kita persiapkan. Sesiapa saja yang sedang merindu pasti paham perasaan ini.
Dalam masa menunggu biasanya seseorang itu akan melakukan yang terbaik. Barangkali diri kitapun bisa melakukan yang demikian. Melatih diri yang biasanya lebih emosi, senggol bacok. Sekarang lebih melatih jiwa untuk lebih sabar. Apalagi dalam sholat, yang biasanya secepat kilat. Semoga dilakukan dengan thuma'ninah dan lebih khusyu. Lebih tenang, dengan perasaan bahagia tentunya.
Barangkali bisa kita latih mulai sekarang, melatih untuk sholat sunnah setelah sholat wajib kita dirikan dengan tepat waktu. Sholat sunnah qobliah dan ba'diyah. 2 rokaat sebelum Shubuh. 4 rokaat sebelum Dzuhur. 2 rokaat setelah Dzuhur. 2 rokaat setelah Maghrib. Dan 2 rokaat setelah Isya…
Jangan lupa sholat witirnya juga. Ini yang cukup sulit ya biasanya. Gpp, dipaksa dulu. Nantinya akan terbiasa.
Dan mencoba melatih pula untuk membiasakan diri bangun disepertiga malam. Atau jika belum bisa setidaknya bangun sebelum adzan shubuh. Caranya? Pasang alarm dimana-mana ya.
Cara ini pula sesungguhnya ampuh bagi yang belum menikah, sebagai tips n trik melatih diri sebagai ibu yang baik yang mana nantinya akan bangun pagi dan mempersiapkan kebutuhan keluarga di pagi hari. Atau sebagai ayah yang bertanggungjawab dengan melaksanakan sholat berjamaah di masjid.
Paksa, dipaksa ya. Dan memang berat diawalnya. Bangun dengan kemampuan mata yang berat. Dan kalau sudah melek (buka mata), duduk sebentar, jangan lupa napas. Baca doa dulu, lalu ambil wudhu trus lanjut sholat.
Untuk diawal jangan ngoyo ya, santai dulu. Tidak perlu langsung dengan rokaat banyak. Dua rokaat cukup untuk permulaan. Dan niatkan untuk istiqoma. Caranya? Ya minta sama Allah supaya diberi keistiqomahan dalam menjalankannya.
Banyak banget yang harus dilatih. Katanya rindu, maka sebaik-baik rindu adalah temu. Dan sebaik-baik temu adalah pertemuan yang membaikkan.. masih rindukan? Masih ingin bertemu ramadhan dengan kualitas pribadi yang baikkan?
Nah kalau iya, mari kita lanjutkan.
Mulai saat ini, bisa dicoba juga. Membiasakan diri dekat dengan Al-Qur'an. Yang biasanya jauh-jauhan ni ya, kita coba untuk memperbaikinya kembali. Gak usah malu, apalagi malu-maluin.
Setiap habis sholat maghrib atau sholat shubuh. Coba untuk membaca 8 - 9 ayat atau 2 lembar Qur'an. Alhamdulillah kalau sudah terbiasa 1 juz per hari. Atau terbiasa pula membacanya setelah sholat wajib. Ini ampuh untuk melatih kepekaan dan kelembutan hati kita.
Ini semua semata buat apa sih? Buat persiapan diri dan jiwa kita untuk menyambut bulan ramadhan. Supaya Allah lihat kesungguhan kita, kecintaan kita. Dan semoga Allah ridha atas apa yang kita upayakan ini.
Jangan lupa juga belajar berbagi, punya kelebihan sedikit saja. Coba untuk belajar shodaqoh senyum, shodaqoh masakan, ilmu, atau apa saja yang bermanfaat . Supaya nanti terbiasa ketika di bulan yang semua amalan dilipat gandakan. Kita bisa berbagi sepenuh hati. Ikhlas karena-Nya.
Ah iya, satu lagi. Persiapkan semua keperluan di bulan ramadhan. Semisal baju baru, kebutuhan makanan, buat roti kering dan semacamnya. Agar nanti ketika sudah memasuki bulan ramadhan apalagi di 10 hari terakhir ramadhan kita bisa fokus tanpa di pusingkan lagi dengan persiapan lebaran semisal kue dam semacamnya. Dan ini lebih menguntungkan juga sih, lebih murah, hemat dan bisa santai nantinya. Biasanya untuk kaum wanita.
Ah ramadhan. Tinggal menghitung beberapa hari dari sekarang. Persiapkan dengan sebaik-baik persiapan ya. Semoga dalam penantian menyambutnya kita bisa berbenah mulai dari sekarang. Yang dirindu segera tiba.. semoga Allah memampukan kita untuk bertemu dengannya (bulan ramadhan)..
- Ibn Syams
“Tidak akan menjadi miskin seorang anak yang membelanjakan hartanya untuk kedua orangtuanya. Sebab salah satu pintu surga ada pada berbaktinya seorang anak kepada keduanya.”
—
Dan menjadi seorang yang berkomitmen untuk menghafal ataupun membersamai Al-Qur'an adalah salah satu upaya untuk berbakti terhadap keduanya.
Semangat wahai diri, Allah bersama jiwa-jiwa yang selalu membersamai Al-Qur'an.
- Ibn Syams
Yang (masih) Mencari Jawaban
“Sudahkah dalam sehalatmu, kau temukan ketenangan?” Tanya seseorang.
Maka aku terdiam. Tiba-tiba, tenggorokan rasanya tercekat, bahkan seolah kembali mengulang pertanyaan tersebut pada diri sendiri,
‘….sudahkah? sudahkah dalam shalat ku temukan kedamaian?’
‘….sudahkah shalat menjadi kekasih, menjadi yang tercinta, menjadi yang terutama, menjadi senyaman-nyamannya waktu untuk menuai pinta? Mengaduh asa, meluruhkan air mata?’
Seorang lelaki, yang dikenal begitu cemerlang ilmu dan ingatannya. Yang namanya menyejarah, berperan sebagai ahli fikih (termasuk yang utama) di zamannya. Ia sengaja menunggu seseorang selesai dari shalatnya,
“Wahai pemuda, putra saudaraku..” Begitu panggil Urwah bin az-Zubair kepadanya, “apakah engkau tidak memerlukan apapun dari Allah?” Barangkali kedua alisnya bertemu. Bukanlah pertanyaan yang salah, bisa jadi itu memang pertanyaan yang sangat tepat. Sebab, telah diperhatikannya seseorang shalat dengan gerakan yang cepat, seolah kehilangan ruh, begitu terburu-buru.
“Demi Allah,” sambungnya, “sesungguhnya aku meminta segala sesuatu kepada Allah dalam shalatku, bahkan sampai kepada urusan garam sekalipun.”
Maa syaa Allah… betapa, kisah-kisah yang diwariskan para ulama begitu menyentuh kalbu dan mengiris beberapa bagaiannya. Apa gerangan yang membuat diri ini menjauh dari mengenali tapak-tapak mereka? Bukankah, merekalah warisan para Nabi? Sebab bukan harta yang ditinggalkan Nabi kepada ummatnya, melainkan ilmu, yang mana takkan kita dapatkan, jika kita tidak mendatanginya.
Ah, mungkinkah, shalatku masih begitu jauh dari ilmu? Masihkah, hanya sebatas mengingat ‘ini rakaat pertama’, ‘setelahnya kedua’, dan ‘seusai ini salam’? Sebab tak jarang pula, lemah dan lengahnya diri membuat empunya terlupa, ‘sudah berapa rakaat shalatku tadi, ya?’
Subhaanallah…
Sungguh, hingga kini aku masih mencari jawaban. Bukan untuk kuberikan kepadanya yang bertanya, melainkan kepada diriku sendiri. Sebab, aku jauh lebih membutuhkannya, dari pada orang lain yang tidak akan ditanyai oleh Allah nantinya.
Duhai diriku, “sudahkah kau temukan ketenangan dalam shalatmu?”
***
Salam hangat dari mimin. Dan menyambungkan nasihat, kata seseorang kepada mimin, “Cah bagus, kalau kau ingin diperbaiki segala urusanmu, maka perbaikilah shalatmu.” demikian, memang sangat dalam. Semoga pesannya sampai kepada kita, yaa..
–Ibn Sabil
Sungguh, jika Allah mengambil satu; maka Allah sisakan yang lebih banyak.
Tersenyumlah, ada hikmah di dalamnya. Jangan sampai kau berputus asa..
…akan aku sematkan pada awal tulisan kali ini.
Jangan, kumohon jangan. Jangan menggerutu pada takdir dan ketetapan yang ditentukan oleh Ar-Rahman. Jangan menyimpan banyak pertanyaan, jangan membiarkan singkatnya kalimat tanya ‘kenapa?’ membuat imanmu goyah dan runtuh sebab merasa Allah memberikan ujian yang terlalu berat. Terlalu besar, dan terlalu rumit untuk akhirnya ditawakkal-kan.
Seberapapun kita akan dibuat berkali-kali jatuh, akan selalu ada kekuatan untuk bangkit jika Allah menjadi tempat yang dituju. Sebagaimanapun kita akan dibuat berurai-urai air mata, akan selalu ada setitik cahaya, untuk akhirnya menyapu dan menyirnakan badai kesedihan di dalam jiwa. Jika masih Allah, yang menjadi tempat kita memuarakan segala rasa.
Saudaraku, apapun yang sedang menimpamu hari ini.. kuyakin, kau kuat. Lebih kuat dari sekuat yang kau kira. Meski aku tak mengetahui, bagaimana kau sedang dibuat berdarah-darah, aku yakin, in syaa Allah, selagi iman itu masih terpancar dari balik dadamu, kau mampu. Dan kau akan berhasil melewatinya. Ingatlah, tentang apa yang Allah katakan,
“Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu” (QS. Ali ‘Imran 186)
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna illaaihi ra’jiun” (QS. Al baqarah 155-156)
Demikianlah..
“Seorang Mukmin pasti akan diuji pada harta, jiwa, anak dan keluarganya.”
Saudaraku, pernahkah kita mendengar kisah Urwah bin Az-Zubair dengan ujian yang Allah berikan kepadanya? Dan sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya”
Tersebutlah, pada suatu hari seorang Khalifah dari bani Umayyah, Al-Walid bin Abdul Malik, mengundang Urwah bin Az-Zubair untuk mengunjungi istananya di Damaskus. Adalah sebagai wujud sapaan cinta, untaian hormat dari sang Khalifah. Urwah memenuhi undangan tersebut dengan menggandeng anak sulungnya.
Disaat Urwah berbincang-bincang pada majelis sang Khalifah, anak sulungnya diantarkan oleh pengawal untuk mengunjungi tempat dibagian istana mana pun yang dia suka. Hati anak sulungnya terpikat untuk melihat kuda-kuda khalifah. Dan,
‘Bughh!’
Seorang pengawal lari tergopoh-gopoh menghadap Khalifah juga Urwah,
“Wahai Khalifah, sesungguhnya telah terjadi begini dan begini,” Pengawal tersebut menceritakan detailnya, “dan sekarang, sang anak telah berpulang menghadap Allah Subhaanahu wa Ta’ala.”
Siapa yang mampu menduga? Ternyata dalam suka ria nya sang anak, salah seekor kuda menendangnya hingga terpelanting jatuh ketanah dan terinjak-injak oleh kuda yang sedang berlari di atasnya, dan saat itu juga, ia meninggal dunia. Dialah sang anak sulung Urwah bin Az-Zubair. Seorang anak kesayangan yang Urwah harapkan mampu menjadi penerus ilmunya. Maka mampukah kita membayangkan bagaimana reaksinya kala itu?
‘Urwah tersenyum dan ia berkata “Innalillahi wa inna illaaihi ra’jiun”
Maka saat itu juga Urwah sendiri yang turun keliang lahat untuk menguburkan anaknya. Setelah usai pemakaman, dalam dzikir dan ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang ia jadikan permohonan agar Allah berikan kesabaran, tiba-tiba betisnya terasa begitu sakit yang luar biasa. Kakinya terserang penyakit langka yang memaksanya untuk harus diamputasi.
Berkatalah salah seorang ahli pengobatan kepercayaan Khalifah, “Ini harus diamputasi. Dan Wahai Imam, kami akan memberikanmu seteguk minuman yang memabukkan, agar sakit yang ditimbulkan takkan terasa olehmu.”
“Tidak” Jawab ‘Urwah, “Sungguh, aku tidak akan menggunakan sesuatu yang haram demi mendapatkan kesehatanku kembali. Dan aku tidak ingin salah satu bagian dari tubuhku hilang tanpa aku merasakan sakitnya. Ku serahkan semuanya kepada Allah.”
Maka setelah berapa tabib itu berunding, mereka memutuskan agar Khalifah memberikan beberapa orang untuk memegangi ‘Urwah ketika melakukan proses pemotongan kakinya yang manual.
Maa syaa Allah! Pemotongan kaki yang manual. Sekali lagi, manual.
Dengan cepat ‘Urwah berkata, “Aku tidak membutuhkannya, biarlah aku memalingkannya dengan dzikir dan tasbih ketika kalian memotongnya.”
Tak terbayang, bagaimana pedih dan perihnya daging yang dikupas tanpa bius sedikitpun. Tulang yang digergaji, dan darah yang terus mengucur darinya. Tak heran, beberapa kali ‘Urwah meringis kesakitan, “Hassi… Hassi..” katanya. Ia bermakna, suatu rasa sakit yang luar biasa terasa
Sesudah proses amputasi selesai, darah tak kunjung berhenti. Maka cara satu-satunya adalah dengan mencelupkannya pada minyak panas. ‘Urwah menyetujui. Saat kakinya dicelupkan kedalam minyak panas yang mendidih, ia menjerit, lalu pingsan, dan dikatakan bahwa ‘Urwah pingsan dalam waktu yang lama. Satu hari.
Hati ini rasanya mengerdil, sungguh.
Bagaimana, bagaimana jika kiranya ujian yang ‘Urwah hadapi menimpa seseorang diantara kita? Baru saja sesaat dia kehilangan anaknya, dia harus pula kehilangan kakinya dengan proses yang luarbiasa menyakitkannya. Disini, bukankah kita melihat, bagaimana kokoh jiwa haba yang beriman kepada-Nya? dan benarlah, bahwa Allah menguji hamba-hambaNya sesuai dengan kadar keimanannya. Cukuplah, ini sebagai bukti, betapa pancaran iman itu telah memenuhi seluruh penjuru ruang hati ‘Urwah bin Az-Zubair.
Sang Khalifah merasa kasihan dan ingin menghibur ‘Urwah. Namun ia bingung, ia tidak memiliki cara untuk menghiburnya. Namun cara Allah lebih menakjubkan, datanglah seorang lelaki buta kepada Khalifah, dan dia bercerita
“Wahai Amirul Mukminin!”, seru laki-laki buta tersebut, “dulu tidak ada seorang pun dari bani Abas yang lebih kaya dariku, lebih banyak anak-anak selain diriku. Aku tinggal disuatu lembah, dan banjir besar menerjang kaumku. Tak ada lagi hartaku, tak tersisa lagi anak-anakku kecuali hanya seorang bayi dan seekor unta.”
“Namun unta tersebut hendak melarikan diri, aku mengejarnya dan meninggalkan anakku. Maka kudengar teriakan bayi, ternyata anakku sudah berada di mulut serigala. Aku kembali hendak mengejarnya, namun sia-sia, serigala tersebut telah memakannya. Aku berbalik lagi, kukejar unta yang kabur, dan saat sudah dekat dengannya, salah satu kakinya menyepak wajahku. Hingga hancurlah keningku dan buta mataku.”
Sang Khalifah mendapatkan apa yang dia cari, Maha Baik Allah mengirim laki-laki untuk ‘Urwah. Sebab, ujiannya jauh lebih berat dari ‘Urwah. Diutuslah laki-laki tersebut kepada ‘Urwah untuk menceritakannya. Seusai ia bercerita, ‘Urwah berkata,
“Innalillahi wa inna illaaihi ra’jiun…”
Dalam do’anya, ‘Urwah berkata,
“Ya Allah, dulu aku memiliki empat anggota badan, dua tangan dan dua kaki. Lalu Engkau mengambil satu darinya dan Engkau menyisakan tiga darinya, maka segala puji bagi-Mu. Dulu aku memiliki empat orang putra, lalu Engkau mengambil salah satu darinya dan Engkau menyisakan tiga darinya, maka segala puji bagi-Mu.” isak ‘Urwah, “Demi Allah, seandainya Engkau mengambil, pasti Engkau menyisakan, dan seandainya Engkau memberi ujian pasti Engkau memberi kesembuhan.”
~
Inilah, ‘Urwah bin Az-Zubair. Inilah, kisah-kisah seorang hamba yang Allah berikan ujian hebat luarbiasa. Belum lagi, jika kita melihat ujian para Nabi.
Maka…. segala puji, hanya bagi Allah..
Inilah salah satu dari sekian rintik hujan yang Allah berikan, yang menyimpan berkah, menyimpan maksud dan tujuan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allah membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa.”
Dan cukuplah, segala ujian yang Allah berikan kepada kita menjadi sebaik-baiknya cara Allah membersihkan dosa-dosa kita. Sebab sungguh, apalah arti sakit di dunia jika dibandingkan dengan sakit di akhirat.. apalah arti tangis di dunia, jika dibandingkan dengan tangis karena siksa dan penyesalan di akhirat..
Mari, bukan lagi memfokuskan kepada apa yang telah hilang dan pergi. Melainkan, kepada apa yang masih Allah sisakan dari segala yang sudah tidak dimiliki. Betapa, betaaapa Allah Maha Baik. Dari sekian sakit yang mungkin bisa dihitung dengan hitungan jari, mampukah kita menghitung nikmat sehat yang sudah Allah beri? Mampukah kita mengkalkulasi, berapa banyak biaya oksigen yang Allah beri dari kita terlahir di muka bumi ini? Yakinkah.. kita merasa aman, jika tiba-tiba jantung ini bermasalah?
Maka bacalah, apa yang sudah tertulis dikalimat awal yang dikutip pada tulisan kali ini.. :’)
–Ibn Sabil
Yang Tepat; Bukan Siapa Cepat Atau Lambat
“Katakanlah (Muhammad) kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman, ‘Hendaklah mereka melaksanakan shalat, menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan secara sembunyi atau terang-terangan sebelum datang hari, ketika tidak ada lagi jual beli dan persahabatan’.” (Qs. Ibrahim 31)
Sebuah Awal
Ada yang sedang merangkai mimpi, ada yang sedang memperjuangkan mimpi, dan atau.. ada juga yang sedang menyerah, karena merasa bermimpi terlalu tinggi. Ada.
Bagi mereka yang merangkai mimpi, layaknya seorang pelukis yang diberi kanvas, seperti penulis yang diberi pena dan lembar agar terisi. Gambar dan tulisannya adalah perjuangan, cat dan tintanya ialah fasilitas-fasilitas yang Allah berikan.
Akan tetapi, ada saat-saat dimana sebelum memulai semuanya menjadi begitu berat. Tentang kegagalan, tentang resiko yang sama besar dengan ‘sesuatu’ yang diimpikan. Tentang lelah, tentang cemas yang kehilangan penguat dan kepastian.
Bagi seorang muslim tentu tidak seharusnya demikian. Sebab kita meyakini,
“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Qs. An-Nisa 19)
Siapakah yang paling tahu tentang manusia dan dirinya sendiri jika bukan Allah?
Sebagaimana yang dinyatakan oleh penyair, “Seseorang seharusnya berusaha sekuat tenaganya mendapat kebaikan. Tetapi, ia tidak akan bisa menetapkan keberhasilannya.”
Tepat, tugas kita hanyalah berusaha dan berdo’a. Sedangkan perihal menetapkan, ia mutlak kekuasan Allah. Jadi, apakah yang masih membuatmu pesimis?
Mengayuh Sepeda
Wah, udah sering pasti ya, kita mendengar kalimat “Berdo’a itu seperti kayuhan sepeda, terus saja mengayuh, nanti akan sampai ke tujuannya.”
Jika dalam berdo’a saja kita harus terus ‘mengayuh’, maka bagaimana dengan wujud nyata ikhtiyar kita? Duh, udah sampai mana ya~
Dan pengayuh sepeda, selalu menggunakan kedua sisi kakinya. Beriringan. Sama-sama jumlah total kekuatannya. Kalau kita mendapati usaha kita sering gagal, harus menjadi bahan introspeksi. Jangan-jangan ada yang timpal, ada yang tidak seimbang.
Di awal tulisan ini, kami menyematkan surat Ibrahim ayat 31,
“Katakanlah (Muhammad) kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman, ‘Hendaklah mereka melaksanakan shalat, menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan secara sembunyi atau terang-terangan sebelum datang hari, ketika tidak ada lagi jual beli dan persahabatan’.”
Serta dalam potongan surat Al-Baqarah ayat 45, dengan jelas Allah berfirman;
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, ..”
Sebuah pertanyaan yang paling mendasar setelah ini, “Usahaku selalu gagal, adakah diriku sedang tersibukkan dengan satu sisi kayuhan dalam memperjuangkan, tetapi lupa dengan sisi lainnya tentang memohon pertolongan?”
Bisa jadi.. demikian~ :’
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dalam setiap harta itu ada hak orang lain selain dari zakat” (HR. Tirmidzi)
Nah, maka.. mulai saat ini, ikhtiyarkan mimpi-mimpi kita dengan menyertakan kehadiran Allah, yuk! Iringi perjuangan dengan sabar dan sholat, serta menyedekahkan harta kita yang memang didalamnya itu ada hak milik orang lain! In syaa Allah, berkah. :))
Selamat Berjuang!
Menjadilah Musa bin Nushair yang belajar dari kesalahan pendahulunya dalam menaklukan wilayah Maghribi, Afrika Utara. Jika Uqbah bin Nafi’ membutuhkan waktu hanya beberapa bulan untuk membuat penduduknya menjadi muslim -yang kembali murtad- maka Musa bin Nushair membutuhkan waktu 6 sampai 7 tahun untuk memperbaikinya menjadi masyarakat muslim yang taat.
Tidak mudah, tentu. Apalagi menghadapi masyarakatnya yang waktu itu adalah suku barbar. Namun Musa bin Nushair menjadikan Allah selalu disisinya. menjadikan sabar dan shalat sebagai penolongnya.
Ini soal kualitas, bukan kuantitas. Mau cepat atau lambat, yang terpenting adalah ‘sukses’ dengan hasil yang tepat.
Selamat Berjuang!
2 Ramadhan 1439 H, Ibn Sabil: Quraners Team.
Beberapa orang yang tampak pendiam untukmu, adalah orang-orang yang sebetulnya merasa bahwa kau bukanlah orang yang tepat untuk mereka membuka suara dan menaruh dengar.
Ketika kamu merasa lelah…
Jangan menyerah.
Hati-hati Mengkritik Ibadah Orang Lain
Ramadhan lalu seseorang bertanya ke gw, “sudah khatam Al Quran?” Gw jawab belum Bu, targetnya bukan itu untuk tahun ini. Alih - alih bertanya target gw apa, apa sudah tercapai, mengapa belum tercapai, lalu tausiyahin bahwa memenuhi target gw yang itu adalah penting, dia justru tausiyah betapa baiknya khatam Al Quran blablabla.
Kadang - kadang kita menggunakan standar diri sendiri untuk menilai orang lain sih ya. Misalnya kita rajin puasa Senin Kamis, lalu menilai orang lain yang tidak melakukannya berarti kurang salih/ah. Padahal bisa jadi dia memang tidak bisa melakukannya, dan mengganti dengan ibadah lain.
Mungkin kita sudah sanggup tilawah 2 juz sehari, lalu meremehkan orang yang bahkan 1 juz pun tak sempat. Kita lupa kepentingan orang lain berbeda, siapa tahu memang kesibukannya sedemikian rupa demi kemaslahatan umat yang lebih banyak. Sedangkan kita punya waktu yang cukup luang.
“Halah gak nyempetin aja.” Ya bisa jadi memang, tapi apa hak kita sebagai yang bukan ulama menilai yang demikian jika dia tidak minta dinilai?
Kita perlu memahami bahwa setiap manusia berproses. Mungkin si ini baru sanggup sholat 3x sehari karena baru hijrah, mungkin si itu baru bisa puasa wajib karena masih belajar memupuk iman. Ga perlu mengkritik dengan serta merta ibadah orang lain.
Memberikan nasihat, penting. Memberi semangat orang lain melakukan kewajiban agama dan meningkatkan ibadah, harus. Tapi menghakimi serta merta, jangan. Jangan - jangan penghakiman itu yang meruntuhkan semangat orang lain dalam berproses memperbaiki ibadahnya?
Di belahan dunia lain, mungkin ada yang sedang tak baik baik saja. Entah dirinya, hatinya, keluarganya, dll. Di belahan dunia lain, mungkin ada yang saat ini menangis terisak sedangkan siangnya ia harus kuat tersenyum di hadapan banyak orang, meski hati dan dirinya sedang tidak baik baik saja. Semoga mereka dikuatkan. Dunia begitu keras tapi semoga Allah selalu membantunya pada setiap liku kehidupannya.
Di belahan dunia lain.
Malam 11 Ramadan 1440 H
mas suami, customer utama bisnis saya.
“Siapa main customer dari bisnis yang bakalan lo bentuk?”
Hal tersebut biasa diungkapin di buku-buku bisnis, atau seminar-seminar bisnis buat pemula. Segmen pelanggan yang kamu tuju harus jelas ketika berbisnis. Mau ibu-ibu muda, ibu-ibu paruh baya, anak muda milenial, dan lain sebagainya. Sespesifik mungkin lebih baik jika merintis bisnis tahap awal.
Sebagai pebisnis pemula, pertanyaan itu kerap saya lontarkan kepada diri sendiri. Saya sendiri merintis bisnis sebelum menikah. Gonta-ganti karakter segmen pun udah dilakuin berkali-kali, hingga akhirnya menetapkan jika persona usia 20-35 tahun lah yang menjadi segmen bisnis saya.
Tapi, setelah menikah saya menemukan kebijaksanaan bahwa mereka bukan customer utama saya.
Setelah menikah itu lucu. Terjadi perubahan psikologis yang bisa dibilang hampir 180 derajat dalam diri saya. Hal ini terkait persepsi saya soal kebebasan perempuan dalam aktualisasi diri. Saya ingat ketika masa ta'aruf, saya minta agar segala aktivitas bisnis saya di-support oleh suami. Seolah-olah itu merupakan syarat sakti jika ia mau menikahi saya.
Bagi suami saya, syarat tersebut adalah syarat yang mudah. Suami saya dengan mantap bersedia untuk support saya.
Tapi setelah berumahtangga, ada penghalang mental dalam diri untuk menggenjot bisnis saya.
Rasanya batin ini memberontak. Saya perlahan terpapar rumah tangga-rumah tangga dimana istri terlalu sibuk dengan urusannya, berikut perceraian yang terjadi, suami yang malah seperti ‘bujang kembali’, kemudian anak yang tak terurus, dan lain sebagainya.
Saya nggak mau asyik sendiri. Saya nggak mau melejit sendiri, dan bikin ruang sendiri dimana suami saya bukan bagian dari itu. Saya.. pengen maju bareng-bareng, pengen kolaborasi dengan suami saya..
Sementara itu, suami tipikal yang membebaskan, selalu bilang “Silakan aja mau blabla..”; “Sayang potensi kamu..”, “Sok aja…”, dan sebagainya.
Sedangkan ia tidak meminta secara khusus, di bagian mana ia dapat dibantu oleh saya. Ia mempersilakan saya untuk berkreasi di 'ruang’ tersendiri. Dari kondisi ini, saya merasa seolah-olah menikah hanyalah mengesahkan 'bisa hidup berdua’, bukan 'hidup saling bersinergi untuk umat’.
Hal ini yang terus terang, bikin saya nangis. Saya berkali-kali berpikir, “Apa perlu saya meninggalkan bisnis saya? Supaya saya nggak kehilangan koneksi sama suami saya?” Ada masa-masa nggak ngerti, sebenernya saya bisnis buat apa sih? Padahal suami nggak edikit pun pernah komplain soal kesibukan saya.
Saya berkali-kali curhat tentang ini pada kawan-kawan saya, dan secara berkala menangis pada suami, mengungkapkan hal yang sama. Terlintas pertanyaan, “Ini suami udah ngebebasin ini itu, kok kamunya malah senewen sendiri. Nggak bersyukur..” Tapi, ada ketakutan yang nggak sesederhana itu bisa dipatahkan.
Saya akhirnya ikhtiar rajin istikharah kembali, minta petunjuk.
Saya berdoa agar selalu dihubungkan dengan suami, minta agar potensi saya kebermanfaatannya dirasakan oleh suami terlebih dahulu, bukan yang lain. Apalagi setelah mendengar dari kajian rumah tangga, bahwa prioritas utama seorang istri adalah suaminya, kemudian anaknya, kemudian pribadi dirinya, baru masyarakat.
Dengan kata lain, saya meyakini : customer utama bisnis saya, adalah suami saya. Kemudian anak-anak saya kelak.
Saya mengamini, jika suami dan anak saya tidak mendapatkan kebermanfaatan yang lebih besar ketimbang customer segment di company profile bisnis saya– maka perlu bongkar ulang bisnis– atau bahkan mungkin akan tiba saatnya untuk mendelegasikan bisnis kepada orang lain.
Namun selama ini, rekan-rekan, termasuk suami saya tercinta menjadi perantaraan Allah– jika bisnis yang sedang saya jalani itu patut diperjuangkan, patut dioptimalkan. “Kan bisa kasih lapangan pekerjaan ke orang lain. Optimalkan aja,” begitu jawaban sederhana suami. “Teteh aku salut, Teteh kayak Khadijah ra (istri Nabi Muhammad SAW), berbisnis tapi nggak lupa fitrah,” ujar kawanku.
Apa-apa yang mendukung jalannya bisnis saya, seolah dipermudah. Dan you know what, karena prioritas kebermanfaatan saya adalah pada suami (kemudian anak)– saya bertekad agar sebisa mungkin jejaring bisnis, ilmu, strategi, ekosistem, hingga penghidupan yang dihasilkan oleh bisnis saya bermanfaat lebih banyak buat mereka.
Saya membuat ekosistem sinergi, dimulai dari lingkungan bisnis saya (jejaring, ilmu, pekerjaan), dimana suami dan anak-anak saya kelak dapat memanfaatkannya untuk memanen kebermanfaatan tiada henti.
Aamiin.
*Ilustrasi pertama dari sini. Foto kedua difoto oleh Pustaka (Atau Arini)
Better I Don’t Know
Seorang teman (iya, kamu Ni), nanya, Kak baca postingan si ini ga? Gak, gamau baca, gamau tahu. Gw tahu isinya soal emosi dan agak nyinyir soal sesuatu, makanya gw gak baca. Nanti bawaannya pingin mendebat, dan benci.
Seriously, gw punya sahabat (BFF forever), di Jogja. Sejak kuliah S1, gw sering sengaja ke Jogja HANYA untuk ketemu dia. Bahkan setelah dia bersuami, gw masih bisa bebas ke tempatnya, main sama keluarganya, pun sama orang tuanya gw dianggap anak. Bahkan sama kakak dan kakak iparnya, gw kenal baik. Gw nikah, itu sekeluarga gw kasih 4 undangan yang berbeda. Dan 2 rumah dateng, bahkan mertua dari kakaknya yang gak gw undang ikut dateng. Nenek kakek mereka, bersahabat dan sering nolong nenek kakek gw. Apa sih nih, ribet amat. The point is, dia sedekat itu sama gw.
Pada pemilu kemarin, gw dan sahabat gw ini berbeda pilihan 180 derajat. Gw gak peduli soal pilihannya, yang gw pedulikan adalah soal sudut pandangnya yang beda banget secara prinsipal. Kami bisa diskusi dengan baik kok, karena kami berupaya menjaga persahabatan. Ya masa gara - gara cebong kampret pesahabatan selama hampir 15 tahun kandas?
Tapi, pada akhirnya gw unfollow dia di FB karena beberapa postingannya yang membuat gw kurang nyaman, kemudian mengurangi intensitas bertemu atau chit chat. Karena di masa - masa panas kemarin, memang sedang tidak nyaman. Ya besok kalo sudah berlalu, akan kembali lagi pasti, toh gw dan dia udah kayak sodara kandung. Tapi tetep aja, sampai pemilu ini kelar, gw menjaga jarak.
Nah, kalo sama sahabat gw aja gw bisa ngerasa gak nyaman, apalagi sama sahabat atau teman baik biasa? Gw gak mempermasalahkan perbedaan kok. Gw bahkan tetep nge-likes postingan tentang kubu sebelah jika memang benar dan baik. Yang bikin gw emosi adalah kalo postingan mulai menyudutkan dengan cara yang tidak manusiawi, nyinyir, atau punya sudut pandang yang menurut gw timpang. Ini menurut gw ya. Gw gamau baca. Kenapa?
Gw takut jadi benci.
Dan gw gamau benci orang - orang yang udah terlanjur gw sayang sebagai teman. Jadi better gw gatau menahu kenyinyiran apa yang mereka lakukan. Mending skip. Mending istighfar karena begitu sulitnya diri menjaga emosi. Iman gw terlalu rendah untuk menahan diri.
Gw takut jadi makin nyinyir.
Gw takut jadi ngebales nulis dengan makin nyinyir dan gak terkontrol. Terus jadi sama - sama dosa. Mending baca quotes bijak yang banyak diketawain sama orang - orang yang ngerasa dirinya cool. Gapapah, gw emang alay, gw memang hina.
Dikatain hina boleh, menghina jangan.
Dikatain bego boleh, ngatain balik jangan.
Kalo belum bisa bersabar dengan makian, maka mendingan gw gak membaca dan mendengarkan.