"Waduh! Yang jualan tukang ketoprak yang enak, lagi!" nafsu makan gue yang baru saja makan Bakmi GM untuk kedua kalinya hari ini kembali memuncak seketika melihat gerobak ketoprak si bapak.
Bapak ini sudah berjualan ketoprak turun temurun dari bapak mertuanya, dia, sampai ketiga anaknya sukses lulus-kuliah semuanya. Dia dan iparnya sama-sama berjualan ketoprak di depan rumah oma dan kadang bergantian, tapi favorit oma, gue, dan almarhumah mama tetap si bapak.
Anyway, gue balik lagi ke daerah rumah oma di Jakarta Pusat setelah pulang dari Thamrin ke Pluit. Ntah kenapa gue kenyang, cuma kebayang ketoprak mulu. Jadi gue pikir ya udahlah liat yuk siapa tahu masih ada, sekalian ambil baju buat acara besok dan temui oma gue.
"Lah, itu oma!" kata pasangan gue sambil menunjuk seorang ibu muda berpakaian trendy yang sedang duduk di tempat duduk area jualan ketoprak, alias depan rumah oma sendiri.
"Cici!" sapa oma ketika melihat gue melongok dari kaca mobil.
"Cici" adalah panggilan gue yang artinya Cici...na. Yak! Cina. Artinya gue orang Cina.
"Mau ketoprak, gak? Oma pesenin!" tanya oma.
Sepersekian detik gue berpikir, "Gue kan lagi diet ya," jadi tentu saja gue jawab, "MAU OMA!"
Sepiring tahu, bihun, dengan campuran kecap dan sedikit bumbu kacang dan cabe limapun tersaji dengan cantik di piring. Oh iya, tanpa tauge.
Gue dan pasangan gue masuk ke ruang tamu, siap menyantap sepiring ketoprak yang dibagi dua. Dia bilang enggak mau makan ketoprak, tapi percayalah, lebih dari setengah piring dia yang makan, "Tahunya enak banget!" katanya.
Sambil berdebat dalam hati dengan diri sendiri karena tahu di setiap suapan gue akan menyesal makan ketoprak malam-malam, gue mendengarkan cerita oma, orang yang sangat gue sayang yang sudah sekitar dua minggu tidak gue temui karena sibuk.
Oma bercerita tentang betapa baik sahabat barunya, pelayanan karunia penyembuhan yang oma lakukan, dan tentangnya mengunjungi ipo Tutu, adik dari mamanya oma, di panti jompo.
"Oma gak tega ci, apalagi dia selalu bilang ke oma untuk sering dateng, karena dia ingat oma Eli," kesedihan terlihat jelas di mata oma. Memang, berapapun usia kita ketika orang yang kita cintai setengah mati berpulang dan berapapun usia kita saat ini, air mata akan selalu mampu jatuh begitu saja. Oma Eli adalah mamanya oma.
"Ipo Tutu jarang ada yang kunjungi, anak-anaknya gak care," lanjutnya, "Tidak seperti sahabat oma yang peduli sama anak-anaknya, dan sangat peduli terhadap oma, bahkan soal waktu makan."
Meski dengan bangga ia menceritakan kebaikan sahabatnya, sebagai anak yang peka, gue melihat dari sirat matanya, terdapat rasa sedih yang ia tahan—iya, gue peka! Jadi kalau ada orang yang nuduh gue gak peka, mungkin memang pesan yang mereka lempar aja yang gak jelas!
Dan sebagai orang yang hampir setiap saat menahan rasa sedih, gue tahu banget seberapa kerasnya seseorang bisa berusaha hanya untuk menyembunyikan itu. Dan oma cocok banget main dalam film Cats, karena actingnya jelek banget.
"Mata kamu udah sembuh dari lasik?" tanya oma.
Gue menjawab sudah, "Lebih jelas mata kiri dibanding kanan, cuma gapapa, tetep bisa lihat," jawab gue, "Cuma lagi sembab aja ini."
Tentunya dia bertanya kenapa, dan gue tidak mau berbohong sehingga gue menjawab apa adanya..
"HAH?! KENAPA?! GAK PERLU LAH KAYAK GITU! GAK SEHAT!" sontak oma panik.
Yak, gue mabok kemarin. Lebih tepatnya salah minum. Setelah ketagihan dua can San Miguel, lanjut satu botol 200ml Captain Morgan, dan semuanya habis dalam waktu cepat. Emang konyol.
"JANGAN PERNAH KAYAK GITU LAGI!" marah oma di depan pasangan gue.
Alcohol tolerance gue yang semakin jelek sebenernya sudah membuktikan bahwa sudah lama banget sejak terakhir kali gue sering minum. Sampai-sampai gue malu sendiri dan merasa lemah ketika terbangun di RSPP dengan muntahan coklat di tadahan suster, warna dan bau yang sama dengan muntahan yang ada di baju gue.
"Iya oma, janji. Kalau aku main-main mana mungkin aku berani cerita ke oma," jawab gue. Omapun kembali mengingatkan bahwa tubuh kita adalah bait Allah yang wajib dijaga.
"Apalagi kamu perempuan, harus punya sikap agar tidak diinjak laki-laki, harus jaga manner supaya orang respect kamu," kata oma. Wow. Oma gue emang cocok jadi pendeta atau motivator. Dan memang ada benarnya sih perkataan oma, apalagi gue tinggal di negara yang menjunjung tinggi adab, meski jujur gue pribadi tidak terlalu peduli. Yang penting enggak ngejahatin orang, itu aja cukup buat gue.
"Sebentar lagi jam sebelas malam, oma ada jadwal berdoa," kata oma, berbicara seakan waktunya kami kembali ke rumah, namun terlihat jelas raut harapan di wajahnya agar kami stay a little longer with her.
"Ya udah, oma siap-siap berdoa aja. Aku ambil baju sebentar, ya," lalu gue bergegas naik ke lantai atas, dan pasangan gue kembali ke mobil. Gue yang lupa membawa kunci kamar, harus balik ke mobil.
Ketika gue masuk lagi ke rumah, ntah apa yang 'merasuki' gue...
Sambil memeluknya, gue berkata...
"Oma, aku minta maaf," gue yang tadinya cool banget, seketika menjadi seperti es batu...cair.
"Maaf aku bikin oma sedih, bikin oma merasa sendiri.. Aku gak enak hati sama oma," dengan sesak gue menjelaskan bahwa belakangan gue takut menerima telpon oma. Gue sangat lelah mendengar keluh kesah berikut tuntutan yang tersirat dibaliknya, "Aku mau memberikan yang terbaik buat oma, dan di saat keadaan aku lagi terbatas untuk melakukan itu, aku merasa gak enak hati dan menghindar."
Sambil terus memeluk dan membasahi baju bagian pundak kanannya gue memberitahu oma bahwa, "Sumpah aku sayang banget sama oma dan sedih banget ternyata aku malah bikin oma merasa kesepian. Oma, kalau oma bisa bicara sama Tuhan, mungkin oma bisa tanya langsung apa yang aku doakan setiap malam."
Oma gue sangat religius sampai ke tahap bahasa roh. Gue pribadi lebih percaya bahwa gue bisa berkomunikasi dengan Titi DJ menggunakan bahasa kalbu, tapi ya udah lah ya, kan yang penting oma tidak berbuat jahat terhadap siapapun dengan apapun yang ia percayai.
Tapi siapa tahu oma beneran bisa berkomunikasi dengan Tuhan, Roh Kudus, atau apapun itu, ya seharusnya dia bisa tanya langsung kan gue tiap sebelum tidur ngomong apa dalam doa.
"Aku sayang banget sama oma. Oma sudah seperti orang tua aku, bahkan oma ada di dalam hidup aku lebih dari mama," Can't believe I'd ever said that but I did.
"Aku benar-benar minta maaf kalau aku bikin oma merasa sedih. Sumpah demi Tuhan aku sayang banget sama oma."
"Oma juga sayang banget sama cici dan dedek. Hidup oma buat siapa lagi kalau bukan cici sama dedek. Oma juga paham cici capek kerja, oma tahu hati cici seperti apa, cuma oma kadang sedih aja kenapa cici seperti menjauh dari oma," lanjut oma sambil memeluk, "Oma enggak minta apa-apa dari cici, oma cuma minta cici WhatsApp oma."
Gue semakin nangis mendengar ucapan itu. Betapa gue seemed to always put everything on the quantity, not the value, in regards to family relationships. Oma mau jajan apa, mau sepatu apa.. Padahal that's not always what she needs.
Seketika sambil menggenggam tangan gue, dia mendoakan gue, kesehatan gue, kehidupan gue, pekerjaan gue..
Di saat itu gue semakin lupa kalau 2,5 jam dari sekarang gue mesti bangun pagi karena ada acara di BSD, dan mata gue tidak boleh sembab. Gue tidak peduli sama sekali soal muka gue yang udah kayak kanebo basah lengkap dengan eyeliner luntur.
Air mata gue membasahi bumi, seperti langit setelah gue cuci mobil. Bukan karena Roh Kudus atau apapun itu, namun karena gue merasa bersyukur—gila ya, oma gue sayang banget sama gue. Bayangin.. Gue tadinya hanya ingin mengungkapkan rasa sayang gue dan meminta maaf, namun yang oma lakukan HANYALAH terus-terusan mendoakan kebaikan untuk GUE.
Gue tidak selalu percaya apa yang oma gue percaya, namun oma gue menggunakan seluruh kepercayaannya untuk manifesting hal baik untuk GUE dengan segenap hati dan imannya.
Lantunan doa oma menggetarkan hati dan tangan gue, seketika segala bentuk ego, gengsi, dan malu guepun luntur. Kedua kaki gue yang lagi cedera hamstring karena ntah-apakah-gue-kepleyot-waktu-gue-mabora-kemarin, seketika melemas..
Gue bertekuk lutut memohon ampun mencium kakinya yang masih bersepatu. Take it from me orang yang pernah kehilangan seseorang dalam hidup untuk selamanya: Bukan cuma ego, gengsi, dan malu, rasa geli buat cium kakipun gak akan bisa jadi an excuse good enough not to express love once we have no more opportunity to. So ALWAYS show and tell our loved ones how much we love them while we're still given the chance to.
Dan yang oma lakukan ketika gue bersimpuh, adalah menyelesaikan doanya lalu berkata, "Bangunlah, nak, kamu sudah diampuni."
Air mata gue berhenti, lalu gue bilang, "Oma, aku bukan mau oma mendoakan hal-hal baik untuk aku, aku cuma mau bilang aku sayang banget sama oma dan aku minta maaf kalau aku bikin oma sedih. Aku gak mau oma sedih dan pikir bahwa aku gak sayang oma. Aku sayang banget sama oma."
"Iya oma tau. Puji Tuhan, hari ini siapa yang sangka tumben-tumbenan oma nongkrong di tempat ketoprak, ternyata untuk dipakai Tuhan secara luar biasa untuk menjamah dan memberkati cici," lanjutnya, "Cici janji ya jangan minum lagi, bukan cuma itu enggak sehat, cici juga harus menjadi contoh baik untuk keluarga cici nanti."
Gue cuma bisa tersenyum dan menjawab "Iya", mengetahui bahwa benar bukan omongan orang lain yang gue pedulikan, tapi oma benar ketika ia bilang bahwa gue harus bertanggung jawab di dalam hidup dengan menjadi contoh yang baik untuk keluarga gue kelak.
"Bukan saya yang hebat, tapi kemuliaanMu yang bekerja ya Tuhan!" serunya, "Katakan Puji Tuhan, ci!" perintah oma kepada gue.
Gue pulang ke rumah dengan rasa syukur dicintai oma sebegitunya. Enggak pernah terpikir akan ada hari di mana gue bersyukur karena Tuhan menuntun gue ke arah yang lebih baik dan melegakan hati, menggunakan Ketoprak si bapak. Semoga Tuhan izinkan gue untuk mencintai oma... sebegitunya.