Beberapa waktu yang lalu dan di waktu lainnya lagi, saya mendapatkan pesan serupa yang dikirim ke salah satu media komunikasi saya. Dikirim oleh orang yang tidak saya kenal dan bahkan tidak pernah ada rekam interaksi sebelumnya. Pesan yang tiba-tiba berisi pernyataan tentang rumah tangganya yang sedang bermasalah, kondisinya, dan bertanya apa solusinya.
Sering ngerasa pengen mengakhiri hidup. Aku didiagnosa memiliki gejala salah satu masalah kesehatan mental. Kemarin sempat kambuh.
Sekarang lagi hamil 8 bulan dan sebentar lagi lahiran tapi keuangan juga tidak memadai. Ditambah tinggal sama mertua dan suamiku tidak mau jauh dari keluarga. Aku bingung. Dia selalu marah-marah kalau kusarankan untuk berpisah rumah. Aku sedih dan putus asa.
Satu diantara begitu banyak pesan yang pernah kubaca. Tentu, saya tidak bisa menjawabnya. Selain karena tidak kenal sama sekali siapa orangnya. Permasalahn serupa itu tidak bisa seketika dijawab hanya dengan berdasarkan informasi yang sepanjang satu-dua paragraf, apalagi hanya dari satu sudut pandang informasi.
Dan, tidak hanya satu. Saya mendapatkan pesan serupa, cukup banyak meski dengan pokok permasalahan yang berbeda-beda. Beberapa akhirnya kulihat berakhir cerai, beberapa tetap terlihat manis di media sosial. Bertolak belakang dengan apa yang pernah diceritakan.
Ada yang saya balas, ada yang tidak. Tapi kebanyakan tidak. Selain saya bukanlah pakar dalam bidangnya, kebanyak selalu sarankan untuk melibatkan konsultan keluarga atau psikolog/psikiater. Saya juga sering melakukan riset di direktori putusan-putusan pengadilan senegeri ini. Di sana saya membaca laporan-laporan kasus yang pernah ditangani oleh pengadilan baik perdata maupun pidana, dan tentu saya tidak tahu orang-orangnya. Tapi, saya mendapatkan banyak sekali gambaran kejadian.
Mungkin, ada di antara teman-teman di sini yang sedang menjalani pernikahan dan sedang merasakan pahitnya keputusan yang saat ini diambil; menikah tapi jauh dari kebahagiaan. Hal-hal seperti itu memang jarang ditampilkan ke permukaan, ada yang pada akhirnya terjebak pada toxic-relationship. Alih-alih berumah tangga membuat dua individu menjadi sepasang suami istri yang saling support, justru saling menyakiti.
Perceraian juga dianggap menjadi hal yang tabu (silakan baca opini saya tentang cerai, klik di sini). Bisa jadi, keputusan itu menjadi sangat rumit ketika kehadiran anak. Kasihan anak. Meski, harus mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak ada rasa dan tujuan, tapi demi anak, orang tua bisa melakukan semuanya itu. Pura-pura menjadi keluarga yang utuh padahal sudah tercerai berai.
Apabila kamu sedang berada dalam fase ini, atau mungkin kamu sedang berada dalam sebuah rumah tangga dengan segala kondisinya. Dan ada nasihat yang ingin kamu sampaikan ke orang-orang yang membaca tulisan ini. Mungkin kamu bisa menuliskannya, reblog/reply.
Saya sendiri selalu mengulang ulang nasihat yang sama : lebih baik gagal di proses sebelum menikah daripada gagal di tengah pernikahan. Sebuah hal yang selalu kusampaikan ke teman-temanku yang hendak menikah. Kalau kamu mendapati ada sesuatu dari calon pasangan yang tidak bisa kamu terima, tidak perlu mengada-ada alasan untuk menerimanya.
Akhirnya, keputusan berumah tangga akan menghadirkan realita yang mungkin di luar ekspektasimu. Butuh banyak sekali energi untuk membangun sebuah rumah tangga, jangan sampai energi itu justru dihabiskan untuk berdebat dan berselisih. Dan semoga, untuk teman-teman yang mungkin saat ini sedang merasakan pahitnya keputusan menikah, semoga segera bisa beranjak dari masalah ini. Apapun keputusan nanti yang akan diambil, kudoakan itu yang terbaik.
22 April 2021 | ©kurniawangunadi