Sebuah senja di Art Jog Festival
Bara menarik tanganku dan turun dari kereta dengan sigap. Aku agak kaget karena tak biasanya ia begitu terburu-buru. Dua kakinya lincah menerobos gerombolan penumpang kereta Prameks yang membawa kami ke Jogja sore ini. Aku ikut berlari dengan napas tersengal-sengal menyusuri lorong-lorong Stasiun Tugu yang rumit bagai labirin. Mataku mengekor batang kaki kurus yang sore itu nampak jelas sebab ia hanya memakai celana jins pendek selutut yang memiliki aksen sedikit belel, kaos putih bersablon “National Geographic”, tas ransel butut bahan kanvas lengkap dengan kamera yang terkalung di lehernya.
“Bar, udah Bar. Capek…” seruku dengan napas yang hampir habis.
Bara memandangku iba. Aku mencelos. Kami telah sampai di pintu keluar stasiun. Aku mencoba memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya ke paru-paru kemudian mencari botol minum di dalam tote bag merah yang kucangklong di bahu kanan. Seketika aku merasa hidup kembali setelah merasa hampir pingsan.
“Muka kamu keliatan pucat banget tuh. Payah. Dasar gendut!” Ledek Bara.
“Dih, udah jahat, masih berani ngeledekin. Lagian kenapa mesti pakai lari-lari sih?” Sungutku.
“Antriannya panjang, Jan…Salah kita tadi ketinggalan kereta. Nggak seru banget lihat pameran terbesar se-Asia Tenggara tapi cuma sebentar doang.” Bara masih melangkah tak peduli. Ia mulai sibuk memotret beberapa delman dan becak yang memadati jalanan.
Siang tadi gara-gara aku datang terlambat ke stasiun Balapan, kami gagal mendapat tiket untuk berangkat lebih awal dan baru berangkat pukul empat sore setelah menunggu sekira satu jam.
“Oke. Alasan diterima. Tapi selanjutnya kita ke TBY naik apa? Ampun dah kalau harus lari lagi.”Aku merajuk sambil mengedarkan pandangan ke hiruk pikuk stasiun kota yang paling kucintai itu.
“Becak, Pak!”
Bara menarik tanganku kembali dengan tiba-tiba dan dengan sigap membantuku naik ke atas becak. Pria ini, memang penuh dengan kejutan.
Bara adalah teman akrabku. Emm, begini, aku tak cukup percaya diri menggunakan kata “teman dekat” sebab takut ia tak memberi feedback yang setara. Kedekatan adalah sebuah privilege yang harus dimiliki dua orang dan bersifat “saling”. Kalau hanya dimiliki salah seorang, pasti akan menyakitkan. Baiklah, lupakan tentang igauanku itu. Aku teruskan untuk bercerita tentang Bara.
Sebenarnya, kami belum lama saling mengenal. Walaupun kuliah di Fakultas yang sama dan melewatkan masa studi di bawah atap gedung yang sama, ternyata kami baru benar-benar terlibat obrolan perkenalan ketika aku sudah menempuh tahun ketiga di kampus. Bara sendiri sudah lulus dari Kampus dan saat itu sedang mengurus administrasi beasiswa studi lanjutnya. Kami mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya sebuah Universitas negeri tersohor di Kota Solo. Bara adalah mahasiswa Seni rupa. Aku sendiri kuliah di jurusan Sastra Inggris. Citra mahasiswa seni rupa bagi sebagian orang memang buruk, apalagi bagiku, seseorang yang mencitrakan diri sebagai “muslimah tulen” dengan jilbab dan rok panjang dalam keseharian. Berteman akrab dengan mahasiswa seni rupa yang berambut gimbal dan suka mabuk-mabukkan, tentu nampak sedikit mustahil. Toh, barangkali takdir, akhirnya aku tak hanya berteman dengan Bara, tapi juga mengakrabi sebagian besar teman-temannya. Mereka sangat baik dan ramah juga jujur dalam berteman. Menyenangkan sekali.
Senja di bulan Juni itu, kami menyusuri Jalan Malioboro yang lumayan padat sebelum kemudian becak berbelok ke arah kiri menuju Taman Budaya Yogyakarta. Langit masih berwarna biru cerah. Angin sore membelai pipi dan pelipisku yang basah oleh keringat. Ujung jilbab bermotif bunga aster bahan ceruti yang menempel di kepalaku kurasai bergerak-gerak lembut.
Sejak dua pekan lalu, Bara berjanji mengajakku mengunjungi Art Jog Festival. Sebuah pameran seni rupa yang disebut-sebut sebagai salah satu gelaran paling bergengsi se Asia Tenggara karena melibatkan 103 seniman terbaik dari dalam negeri maupun manca Negara. Aku sendiri tidak terlalu mengerti seni, apalagi seni rupa. Berkomentar mengenai seni musik, seni tari atau pentas teater pasti akan lebih mudah bagiku daripada memberi penilaian pada sebuah lukisan. Bagiku, lukisan tak lebih sebagai benda mati. Kadang-kadang ia menyampaikan pesan. Tapi, tetap saja aku tak mengerti perihal teknik, kritik ataupun apresiasi seni.
Tapi, aku hanya selalu berbunga-bunga menunggu datangnya hari ketika jalan berdua dengan Bara. Ini akan menjadi kencan pertama kami. Oh, tidak. Maksudku perjalanan kami yang berdua saja, walaupun Yogyakarta juga dapat ditempuh dalam waktu satu jam saja dari Solo. Aku ingin mengenal teman baruku ini. Momentum berkunjung ke sebuah acara bergengsi seperti Art Jog Festival, pasti akan membuatnya berbicara banyak hal dengan begitu bersemangat. Selama ini, diam-diam aku suka memperhatikan gerak bibirnya ketika ia terlihat pintar sambil berceloteh tentang semua hal yang ada di kepalanya.
“Art Jog ingin memfasilitasi perkembangan potensi seni rupa yang ada, mulai dari seniman muda berbakat hingga perupa papan atas. Art Jog juga sekaligus menjadi semacam lokomotif pergerakan seni rupa, baik itu nasional hingga internasional. Tahun 2015 ini kali kedelapan penyelenggaraan Art Jog, setelah sebelumnya berlangsung sukses dan mendapat atensi tinggi dari publik. Akulturasi antara tradisi budaya Jawa yang kental, multikulturalisme, gerak seni rupa yang dinamis lengkap dengan destinasi pariwisata beragam kalangan itu yang bikin Yogyakarta jadi tempat yang tepat buat menghelat Art Jog. Lagian, udah sejak lama Yogyakarta dikenal sebagai dapurnya produksi seni rupa kontemporer di kawasan Asia Tenggara. Jan…Jani, kamu dengerin aku nggak sih?” Begitulah yang terjadi saat Bara berapi-api meyakinkanku untuk datang bersamanya ke tempat ini. Saat itu aku lebih serius menikmati semangkuk mi ayam di Kantin Yu Sri.
Di mataku, Bara memang selalu terlihat pintar, kecuali ketika sedang membicarakan mantan kekasihnya atau gadis-gadis yang ia incar untuk dipacarinya.
“Udah nyampe, Jan.”
Bara menepuk bahuku. Sedari tadi diatas becak ia sibuk membidik objek dengan kameranya hingga tak sadar aku asik melamun sendirian. Aku tersentak. Taman Budaya Yogyakarta benar-benar padat pengunjung. Ogah-ogahan aku kembali mengekor Bara.
“Loh, kok males-malesan gitu? Kenapa?” Nampaknya Bara tak sabar menunggu langkahku yang kian lamban.
“Rame.”
“Bukannya kamu biasanya suka keramaian?”
“Enggak buat festival seni semacam ini.”
Benar saja. Sejak mengantri tiket, perasaanku semakin buruk. Suasananya bising sekali. Banyak muda-mudi tertawa cekikikan sambil saling melontar candaan basa-basi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tema festival. Ketika masuk ke ruang pamer, situasinya lebih membuatku sebal. Kita butuh hening untuk menakar makna. Tapi jangankan bicara soal makna,tema The Legacies of Power yang menjadi daya tarik sore itu tak lebih dari sekadar objek-objek untuk berpoto.
Aku semakin tak mengerti tujuan orang-orang yang datang ke sebuah festival seni semacam ini hanya untuk berfoto. Foto yang diambil pun bukan secara khusus berobjek lukisan yang ia kagumi dari perupa tertentu, melainkan gambar wajahnya sendiri. Bayangkan saja, untuk ingin menikmati lukisan sore itu, kau harus mengantri dengan ekspresi tak jelas hanya karena menunggu satu persatu manusia yang sibuk berfoto bergantian di muka lukisan.
“Tahu nggak Jan, dalam tiap Art Jog selalu ada program Commision Work. Seniman Commision Work terpilih pada tahun ini namanya Samsul Arifin, beliau ini seniman lulusan ISI Yogyakarta yang konsisten mengangkat karya bertema edukasi dalam karyanya. Tuh, lihat kan ada 150 boneka dari karung goni yang ada di teras berundak di halaman TBY itu. Secara hierarkis, pundek berundak itu menggambarkan struktur kekuasaan. Sekilas kalo kamu perhatiin, susunan boneka itu mirip dengan foto rutin presiden, wakil presiden, dan para menteri di depan istana Merdeka.” Syukurlah, aku datang bersama Bara yang mengerti kegelisahanku. Lebih baik mendengarkan penjelasannya yang mirip kuliah umum kritik sastra daripada kesal sendirian pada situasi.
“Judulnya kalau nggak salah Kabinet Goni ya Bar?”
“Iya. Kabinet Goni. Dengan berpose di depan istana mereka tampil sebagai sosok yang seolah-seolah cerdas dan bijaksana. Namun kenyataannya kan nggak semua seperti itu, bahkan banyak yang nggak merepresentasikan keinginan masyarakat. Nah, lewat media karung goni, para anggota kabinet diwujudkan dalam boneka-boneka penuh coretan, jahitan bahkan ada yang mengenakan topeng dan bom layaknya pembunuh. Wajah dan pose mereka ditampilkan beragam. Yang menggelitik adalah tampilnya wajah tikus di barisan terdepan Kabinet Goni. Tak banyak deskripsi yang disertakan dalam keterangan Kabinet Goni, masyarakat bebas untuk menerjemahkannya. Tapi siapapun yang melihat kabinet ini berdiri di depan Istana, lalu ada yang berwajah tikus di dalamnya, pasti bisa membaca pesan dan sindiran yang disampaikan oleh Kabinet Goni ini. Pedas layaknya satir, ya itulah Kabinet Goni.”
Bara mengakhiri penjelasannya yang sangat lengkap itu. Ia kemudian minta izin untuk masuk ke ruang video yang menampilkan karya visual dari Landung Simatupang. Aku tak tertarik karena tak mengerti topik wayang yang diangkatnya.
Aku mencoba berjalan di antara kerumunan manusia dan berdiri di hadapan karya yang tidak menarik untuk dijadikan objek berfoto. Karya berjudul “Igau” adalah salah satunya. Instalasi berupa 3 buah bantal yang satu di antaranya berisi layar kecil menampilkan video orang yang berbicara tanpa suara. Igau. Karya Theresia Agustina Sitompul ini adalah sindiran untuk para pembesar negeri yang gemar berbicara tapi tanpa makna seperti orang mengigau.
Ada juga yang tak kalah menggelitik. Karya berjudul Teather of Pain karya Aqid AW. Di atas panel aluminium berbingkai kayu karya ini mengkompilasi foto semua kandidat anggota DPR dalam pemilu 2014 yang berjumlah 6606 orang. Theater of Pain menjadi mozaik kemanusiaan tentang manusia yang memiliki harapan dan cita-cita namun tak sedikit di antara mereka yang akhirnya sedih, kecewa bahkan gila sementara yang lainnya gembira.
Aku mengajak Bara keluar dari TBY setelah merasa cukup memaksakan diri untuk menikmati pameran. Kira-kira pukul setengah delapan malam.
“Laper Bar. Udahan yuk.” kataku setengah merajuk. Kami berjalan kaki ke arah barat. Menyusuri trotoar yang menuju arah pasar beringharjo dan Jalan Malioboro.
“Baiklah. Yuk. Mau makan di mana?”
Bara menepuk bahuku. Aku merasa kikuk kali ini. Jujur saja, aku belum terbiasa dengan simbol-simbol persahabatan yang diberikan oleh Bara. Ia sering menepuk bahu, menarik tanganku dengan tiba-tiba atau mengelus rambut kepalaku. Barangkali hal semacam itu sangat biasa di kalangan mahasiswa seni rupa. Kulihat mereka sangat luwes dalam pergaulan lewat simbol-simbol seperti berpelukan bahkan mencium pipi lawan jenis. Semua dilakukan seperti tanpa rasa. Lewat begitu saja.
Tapi aku belum terbiasa. Hatiku deg-degan. Kutepis rasa-rasa yang tidak perlu agar semakin tak berkecamuk dalam dada.
“Apa aja deh. Angkringan juga boleh.” jawabku setenang mungkin.