Kereta
Kereta kupilih membawaku ke sana
Suatu tujuan yang tak dapat disimpulkan
Dari stasiun satu ke stasiun berikutnya
Hingga stasiun ujung yang ternyata
stasiun di mana aku berangkat
KIROKAZE
Xuebing Du
RMH
d e v o n
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Mike Driver
h
almost home
wallacepolsom
tumblr dot com

ellievsbear
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
sheepfilms
Not today Justin
Sade Olutola
Jules of Nature
One Nice Bug Per Day
Peter Solarz
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Sweet Seals For You, Always
seen from Denmark
seen from Greece
seen from United States
seen from Israel
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Netherlands
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Germany

seen from United States

seen from Argentina
@markemploo
Kereta
Kereta kupilih membawaku ke sana
Suatu tujuan yang tak dapat disimpulkan
Dari stasiun satu ke stasiun berikutnya
Hingga stasiun ujung yang ternyata
stasiun di mana aku berangkat
Murid Wifi
Setelah menumpahkan cerita kepada kawan yang tanpa ijin saya sebutkan di sini, Cak Ndemo, saya mendapatkan nasehat yang saya tidak meminta darinya, “Kalau ke warkop, carilah yang tak ada wifi-nya.” Maksudnya, agar saya ngobrol dengan sekitar, saya tertawa dalam hati seraya membatin “Sangat mudah, Cak.”
Saya termasuk terbiasa duduk melamun di warkop sendirian, tanpa terlibat dengan HP. Memang tak ngobrol, kalaupun iya, seperlunya. Saat itu memang saya belum menemukan warkop dengan wifi di kota ini, yang murah.
Begitu saya menemukan warkop tersebut, “Nggatheli, cok, ternyata iya, saya kecanduan di warkop itu.” Kira-kira begitu batin saya. Wah, tajam juga ternyata nasehat Cak Ndemo. Namun, suatu hari saya berkesempatan ke warkop, dini hari, yang tak ada wifi-nya. Saya tak membawa HP saat itu. Saya memesan teh panas dan tempe goreng.
Saya menerapkan nasehat guru-guru, yang hingga kini, masih belum sepenuhnya saya pahami, mindfulness, conciousness, awareness, bahkan dalam Bahasa Indonesia pun belum saya pahami, kesadaran. Namun, saya berusaha hadir saat itu. Saya hadir terhadap aroma teh, panasnya, termasuk tempe, begitu pun teksturnya. Dingin pagi itu, pun warnanya.
Saya merasa lulus melampaui nasehat Cak Ndemo. Hingga kemudian saya kembali ke warkop langganan saya, dengan wifinya. Kembali internetan di sana. Ternyata saya berada kembali pada level itu, murid wifi. Setidaknya saya masih sadar level saya, Cak. Heuheuheuheu.
Kisah Wajah
Kisah-kisah bisa-bisa habis.
Namun kosong tak bisa binasa.
Wajah-wajah bisa-bisa muram.
Namun pertolongan dalam pengiriman.
Kisah wajah-wajah berubah
dalam perjalanan menuju kegembiraan.
Tersesat
Supaya sampai ke tujuan, dalam perjalanan, biasanya perlu tersesat. Entah kemudian tahu mana jalan yang salah, atau kemudian menemukan jalan yang lain. Sebab tiada jalan, selain jalan yang dia sendiri membangunnya.
Panggilan
Ada orang yang dipanggil keras-keras, hadir. Ada orang yang dipanggil lembut, hadir. Ada orang yang dipanggil keras-keras, tak hadir. Ada orang yang dipanggil lembut, tak hadir. Ada pula yang tanpa mendengar panggilan pun bisa hadir.
Entah sejauh apa diri kita dengannya, hingga harus dipanggil keras-keras.
Menanam dalam Temaram
Jika berjalan kaki melewati jalanan yang dulunya terang karena cahaya dari entah toko maupun ruko, usaha, maupun tempat tinggal, lalu sekarang menjadi redup karena banyak yang tutup, rasanya bukan tak mungkin jadi berpikir bahwa ekonomi sekarang ini hancur ataukah di titik-titik masa tertentu yang terumumkan, ekonomi justru diselamatkan dan semakin berkembang namun hanya sebagian yang merasakan. Benarkah keadaan memang baik-baik saja ataukah digiring menganggap baik-baik saja dengan label-label akademis yang mungkin banyak orang di sudut-sudut serta pinggiran tidak memahaminya karena kata-kata begitu melangit.
Ah alinea di atas lebih baik tak ada demi keamanan dan kenyamanan, yang penting terus berkarya, bergerak, bekerja walau ada risiko tampak seperti tidak bekerja karena tidak menghasilkan sesuatu yang tampak dalam standar kesuksesan. Menjalankan terus prasangka baik, menanam sesuatu, dalam jangkauan target audience ialah Tuhan itu sendiri.
Antara Syukur dan Keinginan Ketiadaan
Adakah tempat di ruang seseorang jaman sekarang, yang menganjurkan dan mengajak bersyukur, bahwa ada keadaan seseorang lain di luar sana yang sudah tidak tertarik lagi dengan konsep bersyukur, karena yang ada di lautan pikirannya adalah lebih baik tiada. Bila awal tulisan ini membuatmu sebagai pembaca, menjadi marah, terpicu, ambillah jarak dulu.
Saya tegaskan dulu, benar bahwa bersyukur itu menambah nikmat, jika tidak bersyukur maka tambah remek. Betul, saya setuju. Secara konsep dan realita, memang benar, tapi perlu melihat dulu kondisi seseorang lainnya, sedang bergejolakkah hatinya, pikirannya, bahkan tubuhnya yang tidak anteng. Jika yang disasar sedang tenang, apalagi sedang bahagia, okay-okay saja kebersyukuran itu disampaikan ke orang lain, tapi jika sedang goyah, hal itu bisa merusak, sebab bisa menambah-nambahi pikiran dan apa yang Anda sampaikan itu ruwet di pikirannya, sesuatu yang tidak jelas kepastiannya berdasarkan jangkauan pikirannya.
Mudah membayangkannya begini. Bersyukur itu menambah nikmat, iya, betul. Kapan? Nah menjawab "kapan" inilah yang susah. Siapa yang bisa tahu, karena tidak tahu inilah, lebih baik, menurut saya, tidak perlu digembor-gemborkan tentang bersyukur bahwa nanti jadinya begini atau begitu. Sudah, bersyukur saja, bukan karena apa-apa. Bahkan, maaf, tidak bersyukur pun okay, ini perlu dalam konteks untuk mencicipi bagaimana dampak dari tidak bersyukur. Ibaratnya nyacak dhewe, ngrasakno dhewe, mengalami sendiri. Sehingga dengan begitu seseorang, mungkin, bisa belajar sesuatu tentang syukur.
Lalu bagaimana dengan yang beranggapan lebih baik tiada dan sudah tidak tertarik dengan "imbalan" begini-begitu di depan nanti. Hal syukur ini kaitan sifatnya "ghaib", tidak kelihatan. Bagaimana bisa manusia menjelaskan sesuatu yang tidak dapat "dilihat", kepada seseorang yang bahkan ketika sedang waras pun, tahu akan mendapatkan apa pastinya setelah bersyukur. Kita sama-sama tidak tahu presisinya bakal mendapatkan apa. Terima sajalah, bahwa keadaan yang sulit yang dialami, tidak bisa diajak berpikir tentang syukur. Ada hal-hal nyata yang butuh dilakukan untuk mengangkat orang yang kesulitan, misalnya memberi modal, membeli dagangannya, mengajari sesuatu sebagai modal kerjanya, itu umumnya, ada satu hal lagi yang mungkin jarang dibicarakan, memberi ruang sendiri, lebih tepatnya ruang istirahat bagi pikirannya. Hal ini kurasa penting, sebab mungkin di luar sana banyak orang mau membantu tapi sebenarnnya tidak mengetahui esensi yang dibutuhkan sasaran yang dibantu, cocok atau tidak cocok. Kesulitan lainnya ialah, tidak semua orang berbakat menempatkan diri ketika di posisi orang lain, jelas sulit, karena latar belakang seseorang berbeda-beda, pengalaman, lingkungan, manusia di sekitarnya berbeda-beda.
Balik lagi ke bagaimana dengan seseorang yang merasa lebih baik tiada saja. Sudah akui saja, ini masalah nyata, ada. Konsep bersyukur jika tidak dapat diterima di jaman sekarang akui saja, karena memang nyata-nyata ada situasi begitu. Konsepnya benar, tapi kita sebagai manusia, jujur akui saja, mengejawantahkan atau mewujudkan konsep bersyukur itu benar-benar bisa bekerja atau enggak? Kalau enggak, ya heuheuheuheu...
Aku tak tahu kendaraan yang layak menujumu, Kekasih.
Kendaraan yang kumiliki bahan bakarnya sekadar ketidak tegaan memandang sekitar.
Markemploo
Hai, Raja Penebar Hujan, kulihat, hidup sekadar menduga dan ternyata. Dan kau, pendoa di kala hujan, tak lebih dari kolektor kata-kata, jika miskin dalam memaknai kata. Lalu...
Maukah kau, pendoa, melebur menjadi doa itu sendiri?
Markemploo
Wahai, Diri, tempatkanlah aku di kenikmatan.
Di sana ku menjalaninya nyaman.
Markemploo
Berhenti melakukan pembenaran, mulai akui kebodohan, ambil pelajaran, lanjut berjalan menuju kesejatian.
Markemploo
Untuk sadar, harus rela menaklukkan dugaan, Kekasih.
Berat, maka di hadapanMu aku rebah dan pasrah.
Markemploo
Kuberpuasa hampir seumur hidup, kuharap ketika kuberbuka, manusia lainnya tak marah padaku.
Markemploo
Selamat
Kelap-kelip cahaya itu dapat kulihat
Kuterus-teruskan lagi menujumu bertempat
Dinding-dinding remang dan beban yang berat
Kuharap-harap kau menggenggamku erat
Di manakah para malaikat
Kutunggu-tunggu aku diangkat
Melintasi langit demi langit dengan cepat
Menemuimu memelukku dengan erat
Yang penting di hadapanmu, aku selamat
Seringkali hambatan menulis bukanlah tentang kemampuan atau kecilnya ilmu menulis, tapi pertimbangan dampak bagi yang membaca tulisan itu, lalu kembalinya dampak bagi si penulis itu sendiri.
Markemploo
Betapa tipisnya suka dan duka, Kekasih.
Memencet tombol "s", terpencet "d".
Begitu pula sebaliknya.
Markemploo
Pada sebuah karya, ada amarah yang mungkin tak sanggup kau baca.
Markemploo