Tenangkan hati dan jiwa.Berceritalah padaNya pada saat orang lain sedang terlelap-terlelapnya dari tidurnya.
Jangan lupa senyum.
noise dept.
Fai_Ryy
sheepfilms
Cosimo Galluzzi
d e v o n
Interview Vampire Daily
Sade Olutola
h

shark vs the universe
No title available
cherry valley forever
Not today Justin

No title available
𓃗
No title available

blake kathryn
★
ojovivo
Keni
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

seen from United States
seen from Philippines

seen from United States
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Philippines

seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from Canada

seen from Germany
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States

seen from Morocco
@maroondoe
Tenangkan hati dan jiwa.Berceritalah padaNya pada saat orang lain sedang terlelap-terlelapnya dari tidurnya.
Jangan lupa senyum.
Semoga bisa kesampaian buat pergi Umroh ya Allaah 😭
Haidnya udah mau selesai, tapi badanku berasa kayak orang sumeng mau flu tapi ngga melulu bersin, alias pada sakit dan mood rasanya aneh bangettttttt 😭😭
Ketika mulai ovt dan ngerasa banyak hal yang mulai ingin aku keluhkan, aku menulis ini di buku catatan ku. Sebagai rem, supaya apa yang ada di benakku bisa difilter lebih dulu sebelum ku berucap.
Karena sabar dan syukur adalah sepaket obat ketika sedang menghadapi sesuatu yang fana ini-dunia.
Beruntunglah bagi mereka yang bisa shalat tepat waktu dengan berjamaah dalam 5 waktu. Mereka yang sungguh-sungguh mengejar keutamaan itu dan secara sadar berani meninggalkan sejenak kesibukan lainnya.
Apapun keadaannya.
Apapun kondisinya.
Dan mereka sabar dalam menunaikannya.
Sebab, tidak semua diberi kesempatan itu. Dan sungguh hidayah itu amat mahal harganya.
@azurazie
Utas ini lewat di timeline threads ku.
Ikut terharu karena kadang hal yang "biasa" menurut kita bisa jadi hal yang "istimewa" buat orang lain.
Mungkin ini jadi salah satu alasan ku sewaktu single era & kerja, kalau ada rezeki berlebih yang aku utamain selain diri sendiri adalah orang terdekat ku-keponakan, mamah, dan iparku.
Padahal cuma sekadar ngajakin makan bakso dan mie ayam, makan ayam geprek, atau pergi ke mall terus pulangnya beli donat. Mereka sehappy itu, tidak lupa dengan segala doa-doa baiknya dari mereka. Pada era itu, ponakan ku masih pada bocil sekolah SMP dan SD. Sekarang, mereka sudah besar dan punya penghasilan sendiri (alhamdulillah). Malah gantian, sekarang mereka yang suka traktir hihi
Berbuat baik ke orang-orang terdekat dulu (keluarga) setelah itu baru ke orang lain.
Waktu zaman ngekos, kalau lagi sakit bisa seharian rebahan diem di kamar tanpa merasa bersalah. Setelah menikah ikut tinggal bareng suami, ketika lagi sakit atau ngerasa kurang enak badan, mau rebahan atau tidur seharian merasa bersalah, ovt 😭 Apalagi kami nggak cuma tinggal berdua. Hm aku ngga bisa mendeskripsikan how my feeling.
Cuma berharap doi segera pulang dari kerjanya supaya bisa sedikit bikin feeling ku lebih legaaaa🥹
Semoga bisa punya rumah sendiri ya Allah 🥺😭
Semenjak kejadian itu, rasanya jadi canggung mau ngapa-ngapain, berasa takut salah lagi 😔
Semenjak resign aku merasa ngga berdaya sebenernya. Full di rumah, belum ada anak, ngga banyak yang dikerjain, ngga berpenghasilan. Terlihat ngga berguna.
Mungkin orang-orang sekitar bakal beranggapan-enak banget ya di rumah ngga ngapa2in, kerjaannya cuman rebahan, tidur, main hp.
Padahal kerjaan rumah, nyapu, nyuci baju, nyuci piring, masak, itu kerjaan ku setiap hari. Terkadang ikut bantu suami kerja saat dia ada produksian konten di coffee shop.
Ketika ada satu kerjaan rumah yang ke skip, agaknya aku ini terlihat seperti wanita pemalas, ngga guna, maunya cuman leyeh2 di kamar sembari scrolling.
Hari ini dadaku rasanya sesak menahan amarah, menahan rasa kesal, menahan supaya aku tdk membalas dgn respon yang menyebalkan ketika mendengar ucapannya. Ingin sekali rasanya ku jawab dengan argumen yg ku punya. Tapi ku rasa tidak perlu. Karena, wanita ngga guna seperti ku akan tetap salah.
Padahal belakangan ini aku cukup enjoy jalanin hari. Pikiranku jauh lebih bersih, mulai semangat buat cari-cari ide konten ku lagi.
Sampai momen menyebalkan ini hadir, pikiranku kembali carut marut.
Mata ku mulai sedikit panas ketika menuliskan ini, tak bisa ku tahan air mata ku yang perlahan membasahi kedua pipi.
Baiknya aku segera menyelesaikan tulisan ini, dan berwudhu untuk meredakan amarah.
Apakah sudah saatnya aku balik kerja lagi ya?
Kalau diminta menghitung ketidakberuntungan, aku rasa manusia akan begitu cepat mendapatkan datanya. Karena pada dasarnya manusia lebih senang menakar kemalangan daripada kesenangan.
Agaknya benar, satu titik hitam lebih mudah terlihat dibanding luasnya warna putih di tepiannya. Padahal, manusia sangat mungkin menghitung keberuntungan selama hidup. Tapi karena mungkin hati yang terlalu keras, maka yang bertambah justru hitungan ketidakberuntungannya.
Kalkulator tentang kemalangan demi kemalangan kian bertambah, menjadikan rasa syukur menipis lantas enyah. Apakah dengan menghitung jumlah 'kesialan' lantas merasa jatah sialnya sudah habis? Bertukar dengan untung yang akan terus menerus datang?
Padahal hidup gak diukur dari itu semua. Padahal hitungan manusia dan pemilik keadilan itu berbeda. Kok bisa, manusia dengan percaya dirinya mengkalkulasi dengan caranya?
Alih-alih lelah menghitung setiap gagal, apa tidak lebih baik menghitung setiap kemudahan yang diberikan? Bukankah bangkitnya manusia setelah kalah itu tidak serta merta karena kemampuannya?
Kalau direnungkan lebih dalam lagi, selalu ada kuasa yang tidak datang dari dalam diri semata. Kuasa yang lebih besar, yang harusnya mampu menjadikan manusia bersyukur atas hidupnya.
Tarik nafas, tahan, lalu hembuskan perlahan sambil ucap "Sabarrrrrr...sabarrrrr...sabarrrrr" aku bisa kontrol pikiran ku, aku bisa kontrol emosi ku, aku bisa kontrol respon ku..
Belajar kasih udzur ke orang yang bikin kita kepikiran sama ucapannya. Se-simple "Mungkin maksudnya orang ini tuh begini.." atau "Oh mungkin dia belum tau.."
Dahlah, dunia udah rumit. Hal-hal remeh kayak gini kayaknya ngga perlu terlalu dipikirin.
Udahan yuk haidnya, aku kepengen bisa sholat. Orang orang udah pada mbatin, kok gue ngga sholat2.. 😏
Padahal emang haidnya yg belum beres.
Lebih kepikiran perihal naikkin berat badan, ketimbang ditanyain kapan punya anak 🧘
Soalnya perkara naikkin berat badan, aku udah sering banget mengusahakan buat bisa punya berat badan yg ideal. Tapi lagi lagi mentok di angka 44. Target ku di angka 55, dari sebelum nikah. Sampe sekarang masih stay di 44-45.
Bukan tanpa usaha, udah diusahain tapi memang susahhhhhhhhhh buat naikkin berat badan. Sampe pernah nyoba konsumsi obat penambah nafsu makan, tapi efeknya malah cuma nambahin gembul di area pipi doang 😔
"Cocok untuk orang lain, belum tentu cocok di aku."
Begitulah kira-kira aku menanggapi pergolakan batin ku ketika melihat trend Hijab Khiban (khimar bandana).
Dan berakhir ngga ku check out.
Dari dulu selalu mikir berulang kali, setiap kali tertarik sesuatu. Apalagi sekarang statusnya udah sebagai istri, semakin berusaha buat lebih bijak mengelola keinginan ku sendiri.
Banyak Orang Kehilangan Menariknya Setelah Bicara
Entah kenapa, sekarang aku lebih mudah tertarik pada cara seseorang berpikir daripada cara mereka terlihat.
Cara mereka memandang manusia. Cara mereka memperlakukan orang yang bahkan tidak punya apa-apa untuk ditawarkan. Cara mereka menyikapi perbedaan tanpa merasa paling benar.
Maybe that's why… beberapa orang terlihat begitu menarik di awal, lalu perlahan terasa biasa saja setelah kita mendengar isi kepalanya berbicara.
Karena pada akhirnya, being smart is common. Tapi tahu cara menjadi manusia… itu yang langka.
Dan semakin ke sini aku sadar, wajah yang indah mungkin bisa membuat seseorang dilirik sesaat… tapi cara berpikir yang dewasa, tenang, dan penuh empati... itulah yang membuat seseorang tetap tinggal di kepala orang lain lebih lama.
Sebab tidak ada yang lebih mengecewakan daripada menemukan seseorang yang terlihat menarik di luar… namun ternyata sempit saat berbicara tentang hidup dan manusia.
#TumblrIndonesia #YollaOlla #TentangManusia #RefleksiDiri #Thoughts #OpenMind #CatatanHati #HowToBeHuman