Menulislah sebelum bisa menulis
cherry valley forever
Misplaced Lens Cap

No title available

PR's Tumblrdome
Sweet Seals For You, Always
YOU ARE THE REASON
TVSTRANGERTHINGS
hello vonnie
No title available

tannertan36

pixel skylines
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
official daine visual archive
Three Goblin Art
Not today Justin

oozey mess

Discoholic đȘ©
Stranger Things
đ©” avery cochrane đ©”

Product Placement
seen from Brazil
seen from Bolivia

seen from Bulgaria
seen from Costa Rica
seen from United States
seen from Mexico
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@masyhari
Menulislah sebelum bisa menulis
Aku Tersenyum, Maka Aku Ada
Oleh Masyhari
Pagi-pagi buka fb di hape, tetiba sebuah gambar bola dunia tersenyum. Katanya ini hari 07/10/2016 adalah "HARI SENYUM SEDUNIA. Sekilas, agak terasa lucu, tampaknya. Kok sampai-sampai senyum loh ada peringatan harinya. Sambil mesam-mesem, kutulis ini.
Seberapa pentingkah tersenyum itu? Tersenyum amat sangat penting bagi manusia. Tersenyum menandakan kesehatan prima psikologi seorang yang tersenyum. Bagi yang mendapatkan senyuman, pun akan ikut tertransfer energi positif yang mendamaikan. Di hari-hari dunia yang semakin panas dan garang, penduduknya. Di berbagai belahan dunia, yang katanya modern ini, perang masih saja berkecamuk dan makin memanas, bergejolak. Seakan tak ditahu, kapan perang kan berakhir. "Mama, kapan gejolak perang ini kan berakhir?" Tanya anak kecil di Palestina. Maka, senyum tulus amat dirindukan. Tetap tersenyum, walau kondisi tak begitu menyenangkan. Tetap tersenyum untuk menebar kebaikan. Senyum laksana butiran embun sejuk yang membasahi, meredam panas gejolak api amarah dalam diri.
Kalaulah tak punya harta, senyum pun sudah sedekah. Sang Nabi SAW menegaskan urgensi senyum ini. "Senyum yang kau tebarkan di hadapan saudaramu adalah sedekah." Sedekah harta tak mengurangi kekayaan, tapi ia investasi yang mengkayakan di masa depan. Sedekah senyuman, kan menebarkan kedamaian ke seluruh penjuru alam.
Banyak yang terlupa. Seakan agama hanya melulu soal ibadah vertikal kepada Tuhan yang menciptakannya. Mereka berlomba-lomba persembanyahkan sebanyak-banyaknya ritual agar disayang oleh-Nya. Shalat, ngaji, jihad, dan lain sebagainya. Padahal, hampir segala ibadah itu memiliki dimensi sosial, ibadah horizontal yang berimplikasi pada kehidupan manusia dengan sesamanya dan alam sekitarnya. Itulah akhlak dan budi pekerti. Dalam agama Islam misalanya, Al-Qur'an selalu menyandingkan keimanan dengan amal saleh. Bukan sekali, tapi banyak ayat berulang kali. Tak sempurna iman seseorang, tanpa adanya akhlak, tersiratnya. Pun berulang kali Nabi Muhammad SAW menegaskan pentingnya akhlak.
"Sungguh, aku diutus tiada lain hanya untuk menyempurnakan akhlak."
"Siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia harus memuliakan tamunya."
"Orang Islam (muslim) ialah yang membuat selamat orang lain dari lisan dan tangannya."
Kalaulah kita tak bisa berkata baik, maka diam adalah emas. "Siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, hendaklah berkata baik, atau diam (lebih baik)."
Oleh karena itu, akhlak budi pekerti adalah nomor SATU. Dan TERSENYUM adalah cerminan akhlak dan budi pekerti baik nan mulia. Tersenyumlah, kalaupun kau rasakan getirnya kehidupan. Menutup kalam ini, saya kutipkan satu penggal sajak Ahmad Syauqi: Ű„ÙÙ Ű§ ۧÙŰŁÙ Ù Ű§ÙŰŁŰźÙŰ§Ù Ù Ű§ ŰšÙÙŰȘ # ÙŰ„Ù ÙÙ Ű°ÙŰšŰȘ ŰŁŰźÙۧÙÙÙ Ű°ÙŰšÙۧ "Innamal umamu al-khlaqu ma baqiat. Fain humu dzahabat akhlaquhum dzahabu." (Sungguh, umat itu dianggap ada, karena ada akhlaknya. Bila budi pekertinya tiada, keberadaannya dianggap tiada."). SELAMAT HARI TERSENYUM SEDUNIA-AKHIRAT. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.[] Kesambi, 07/10/2016
Bagaimana cara menggali ide-ide untuk menulis kreatif? Bagaimana penulisan kreatif di media massa? Yuk temukan jawabannya di Webinar Penulisan Kreatif KOMPAS! . Hari ini, Jumat, 7 Oktober 2016 pukul 09.00-12.00 WIB. . Bersama: - Joko Pinurbo (Sastrawan, Penulis, Penyair) - Putu Fajar Arcana (Penulis, Wartawan, Redaktur Harian Kompas Minggu) . Disiarkan langsung dari Borobudur Writers and Cultural Festival 2016 di Yogyakarta. Kunjungi link cerpen.print.kompas.com/webinar untuk bergabung. Gratis!! . Sangat boleh disebarkan dan mengajak teman-temanmu sebanyak-banyaknya :) . #CerpenKompas #WebinarKompas #Info #Seminar #Workshop #Menulis #Webinar #Menggali #Ide #Penulisan #Kreatif #MediaMassa #Cerpen #Koran #Sastra #JokoPinurbo.#Jokpin #Sastrawan #Penyair #PutuFajarArcana #Novelis #Wartawan #Redaktur #Kompas #Borobudur #Writers #Cultural #Festival #Writivation #GIPH
Ketika Masa Lalu Menagih Janji
Resensi novel "Senja Terbelah di Bumi Surabayaâ Karya Eni Ratnawati
Oleh: Muhamad Zubair Hasan
Bayu Dirgantara, seorang direktur muda, motivator bisnis, dan penerus kerajaan bisnis Dirgantara, tersentak dengan datangnya sebuah surat misterius. Dilihat sekilas, surat itu mirip surat cinta; menggunakan kertas merah muda yang bergambar dua lilin dan setangkai mawar putih. Tetapi isi surat tanpa nama pengirim itu tidak lain berisi ancaman. Ancaman yang bisa menghancurkan perusahaan raksasa Dirgantara. Ancaman tentang sesuatu yang berhubungan dengan dosa masa lalu almarhum papa Bayu.
Setelah beberapa kali menerima surat misterius itu, Bayu memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya. Di kota itu, selain ingin mencari siapa sebenarnya pengirim surat itu, ia juga akan mengais informasi tentang masa lalunya, meski nyawa dan keselamatan keluarganya yang menjadi taruhan. Ia bertekad melaksanakan janji pada mendiang papanya yang ia buat menjelang papanya meninggal. Janji untuk mencari istri dan anak lain yang dimiliki papa Bayu.
Novel berjudul Senja Terbelah di Bumi Surabaya karya Eni Ratmawati ini menceritakan tentang usaha Bayu Dirgantara mencari Teguh Surya Dirgantara, saudaranya yang seayah tapi lain ibu. Dengan hanya berbekal sepotong nama saudaranya itu, tanpa mengetahui bagaimana rupa Teguh Surya dan siapa nama ibunya, ia menyusuri luasnya rimba Surabaya demi menuntaskan janjinya.
Ada banyak lika-liku kehidupan yang dialami Bayu dalam masa pencariannya. Diawali dengan pertemuannya dengan Sasha, mantan kekasih yang ingin dilupakannya, di resto Dâpaprika milik Sasha. Pertemuan itu menyebabkan dipecatnya seorang pramusaji  bernama Nayla, di hari pertamanya bekerja di resto itu. Gadis malang itu dipecat karena Bayu yang dengan sengaja menyilangkan kakinya di depan Nayla. Tindakan Bayu itu menyebabkan Nayla menumpahkan setumpuk makanan di atas kepala Joan, adik Sasha.
Bayu, melalui Nouri, adiknya yang ikut bersamanya ke Surabaya, berusaha meminta maaf dengan menawarkan sejumlah uang kepada Nayla sebagai ganti rugi. Tetapi tidak seperti kebanyakan orang yang menggunakan kesempatan itu untuk mendapatkan keuntungan, gadis berjilbab itu menolak tawaran itu dan meninggalkan Nouri.
Pertemuan Kedua
Bayu mulai menemukan jalan dalam pencariannya atas Teguh Surya setelah mendapatkan informasi dari temannya yang bernama Mr. Shin. Ternyata saudaranya itu pernah tercatat sebagai mahasiswa di kampus biru, tempat di mana Mr. Shin mengajar. Dan ditengah kunjungannya di Kampus Biru, tiba-tiba Bayu melihat gadis Dâpaprika yang telah dipecat karena ulah Bayu. Ternyata, Nayla adalah mahasiswi semester akhir di kampus itu.
Bayu lantas menemui Nayla. Ia menawari Nayla untuk menjadi staf pribadi Bayu untuk membantunya mencari Teguh Surya, meski sebenarnya, itu adalah alasan yang sedikit dibuat-buat Bayu untuk membayar kesalahan Bayu sebelumnya. Bayu bersyukur Nayla mau menerima tawaran itu, meski sebelumnya Nayla sedikit ragu dalam menerima tawaran itu.
Benih yang Mulai Tumbuh
Bayu baru pertama kali ini bertemu makhluk seperti Nayla. Biasanya, ketika ada orang yang bertemu Bayu, orang itu pasti mengelukan Bayu, atau minimal menyalami dan meminta tanda tangannya. Itu karena Bayu yang memang sangat terkenal sebagai motivator dan orang yang sangat sukses di usianya yang masih muda. Belum lagi wajahnya yang lebih pantas menjadi artis daripada seorang pengusaha.
Tetapi Nayla tidak seperti itu. Ketika pertama kali bertemu dengan Bayu, Nayla bahkan tidak tahu kalau dia adalah Bayu sang motivator yang sering dibicarakan Wiwit, sahabatnya. Dan selama bekerja dengan Bayu, Nayla juga terlihat cuek dan tidak terlalu memikirkan penampilan untuk sekadar mencari perhatian bosnya yang super tampan itu.
Bayu sedikit demi sedikit mulai tertarik melihat karakter Nayla. Dari penampilannya yang sederhana, sandal dan sepatunya yang umurnya sudah selama masa kuliah Nayla, sampai Nayla yang tidak mempunyai ponsel di zaman seperti sekarang, semua itu sangat berbeda dengan karakter wanita yang pernah ia temui. Meski apabila dilihat, wajah Nayla sebenarnya biasa saja. Wajahnya bahkan sangat jauh apabila dibandingkan dengan paras Sasha. Tetapi semua hal itu tidak bisa menghalangi perasaan yang mulai mekar di hati bayu.
Alur Cerita yang Kompleks
Senja Terbelah di Bumi Surabaya termasuk novel yang sulit ditebak alur ceritanya. Di awal-awal cerita, pembaca pasti mengira kalau pelaku pengiriman surat ancaman pasti orang yang berhubungan dengan Teguh Surya. Tetapi di tengah cerita, muncul dugaan lain kalau pengirim ancaman itu Sasha karena ia pernah tiba-tiba menyinggung soal mawar kepada Bayu. Belum lagi pemikiran Marissa, Mama Bayu, yang menduga bahwa pengancam itu adalah orang dalam perusahaan Dirgantara sendiri.
Menjelang akhir novel, peresensi sempat merasa penasaran tentang bagaimana Eni akan mengakhiri novelnya itu. Rasa penasaran itu muncul karena meski ceritanya hampir selesai, Bayu belum menemukan Teguh Surya dan penyelidikan pengirim surat ancaman masih jauh dari titik temu. Tetapi pada akhirnya, semua rasa penasaran itu terjawab. Dan meski jawaban itu ada pada pada tiga bab terakhir novel ini, atau hanya pada 35 halaman dari novel yang tebalnya mencapai 400 halaman ini, tetapi Eni bisa mengakhirinya dengan cukup apik dan tidak terkesan tergesa-gesa.
Pembaca akan menemukan banyak kejutan ketika membaca Novel ini. Mulai dari terungkapnya Bayu yang ternyata bukan anak kandung keluarga Dirgantara, Marissa yang pernah menjadi sahabat istri simpanan Dirgantara dan pernah pula hampir mati karena ulah mereka berdua, Nayla yang ternyata mengenal Teguh Surya meski dengan nama yang berbeda, sampai siapa identitas pengirim surat ancaman.
Mengenai pengirim surat ancaman, penulis novel ini seperti ikut âbersekongkolâ dalam menyembunyikan identitas pengirim itu. Dalam menulis novelnya, Eni menggunakan cara bercerita âorang ketigaâ yang tahu segalanya. Biasanya, orang ketiga sangat jujur dalam menarasikan cerita dan mengetahui semua isi hati, pikiran, dan perasaan para tokoh yang diceritakannya. Tetapi Eni ternyata memilih untuk (seakan) âikut tertipuâ sandiwara yang dimainkan pengirim surat ancaman. Baru pada menjelang akhir cerita, Eni benar-benar jujur dalam mengungkakan pikiran pengirim surat ancaman ketika ia dengan sendirinya membuka kedoknya di depan mama Bayu.
Secara keseluruhan, novel ini sangat menarik dibaca. Tidak semua novel bisa membuat pembaca merasakan apa yang sedang dirasakan tokoh yang diceritakan. Dan Eni ini bisa membuat pembaca merasakan hampir semua perasaan yang dialami semua tokoh dalam novelSenja Terbelah di Bumi Surabaya ini.[]
Sumber: http://mengaisembun.blogspot.co.id/2016/09/ketika-masa-lalu-menagih-janji.html
Minat novel ini, hubungi No. 0896 5280 1331 atau inbox fb: Masyhari
Tentang Mitos
Seorang kawan, beberapa waktu lalu, sepulang kerja, malam-malam bersilaturrahim ke rumah. Masa kontrak rumahnya sudah habis, katanya. Ia sedang hunting cari kontrakan baru. Main ke rumah sekaligus survey rumah kontrakan yang akan kami tinggal. Kami keluar, dan dia masuk, rencananya awal bulan Okto-Muharram ini.Â
Pagi-pagi, ia kabarkan kalau ia cocok dengan rumah tsb. dan saya pun dimintanya tuk buat janji ketemuan dg yang punya rumah.
Siangnya, sekaligus pamitan, saya pun sampaikan berita tersebut ke yang punya rumah. Namun, tiba-tiba, hari ini ada kabar kalau kawan saya ini urungkan niat untuk nempati 'mantan' kami. âKenapa?â Tanya saya. "Gimana ya. Sebenarnya kami sudah cocok dg rumah tsb. Tapi, orang tua di kampung (Yogya) melarang kami pindahan rumah pada bulan Suro (Muharram) ini. Bahkan, kemarin akhir Dzul Hijjah pun sudah disuruh pulang ke kampung, krn tak boleh lakukan perjalanan pas bulan Suro.â Jawabnya. Nah loh.Â
Kami sendiri, rencananya akan pindahan awal bulan Oktober 2016 ini, karena memang sudah waktunya pindah dan sesuai sitkon. In sya-Allah segala bulan itu baik. Optimis (tafaul) saja, karena pu tusan nasib dan takdir Allah sesuai dengan persangkaan kita terhadap-Nya. Kalau pesimis (tasyaum), nahas pun terundang datang.
Memang, perhitungan penanggalan Jawa merupakan khazanah tradisi yang bisa jadi bahan pengetahuan. Itu mungkin hasil mujarrabat (uji coba), pengalaman lelaku para pendahulu nenek moyang selama bertahun-tahun dan turun temurun. Namun, namanya uji coba, ya ada tak tepatnya. Apalagi bila ini bersebrangan dengan sitkon dan iman-takdir.
Dalam kepercayaan kejawen (dan ternyata juga sebagian orang tua di Jakarta. Di Betawi, pamali) seorang mengadakan hajatan/ acara besar, seperti resepsi dalam setahun lebih dari dua kali/ acara, dan mereka pantang nikahkan lebih dari 1 anaknya. Sehingga, kalau satu anak mereka nikah tahun ini, maka adiknya tidak boleh nikah sblm habis tahun. Kalau dilanggar, seakan akan jadi petaka dan timbulkan suatu buruk terjadi. Namun, ternyata, apa yang dilaku (dan bahkan seakan jadi tradisi) Almagfurlah Kiyai kami pengasuh pesantren tempatku sekolah dari TK hingga MA, berbeda. Kyai kami yang semasa hidupnya sangat NU dan pernah menjadi Rois Syuriyah NU Cabang ini punya 'tradisi' unik, menikahkan lebih dari satu putra-putrinya dalam satu resepsi, dlm wktu yg bersamaan sampai 3x. Jadi, 3x resepsi langsung 6 putra-putri. Apa hikmah yang bisa dipetik?
 Di Balik Mitos
Ada sejumlah mitos yang dipercaya oleh sebagian orang di (pulau) Jawa. Yang namanya mitos, ya bukan fakta dan biasanya tak bersandar pada dalil ilmiah ataupun merujuk pada nalar nash agama (Islam). Di antara mitos tersebut misalnya berupa "PANTANGAN": Pantang (pamali) duduk di atas bantal, nanti udunen (pantat bisulan besar). Pantang menyapu di malam hari, nanti jauh dari rejeki. Pantang beli jarum malam hari. Pantang bikin hajatan atau belanja besar di bulan Kapit (Dzul Qa'dah) atau Selo. Pantangan yang terakhir ini, kalau dilanggar, akan kena marabahaya atau petaka. Kapit disebut orang Jawa dengan Selo, singkatan dari Seselane olo (dipenuhi keburukan).
Mengapa ada mitos?
Motif munculnya mitos sangatlah bervarian. Ada yang berdasarkan pada mujarrabat (uji coba) atau pengalaman, lantas turun temurun dipercaya antar generasi. Ada pula dibuat dg tujuan edukatif. Misal, pantang duduk di atas bantal, nanti bisulan. Padahal, tak ada korelasi antara keduanya. Tampaknya, ini sekedar bumbu saja. Pantangan ini mungkin ortu ingin agar kita tidak zhalim, tempat kepala kok dipakai pantat. Lebih pada soal adab.Â
Wanita hamil pamali berdiri di pintu, nanti ini itu. Padahal, simpel saja, yaitu karena perutnya besar, menutup ekses keluar-masuk rumah. Pamali, nyapu malam hari. Karena zaman dulu, lampu jarang, jadinya gelap. Dan sebagainya. Misal lain, pamali buat hajatan lebih dari sekali dlm setahun. Kenapa? Mungkin krn tak mampu biaya. Kalau mampu dan sederhana, kenapa tidak? Kalau dua pasang bisa langsung dlm waktu bersamaan, malah hemat ekonomis.
 Dampak Mitos terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Suatu kepercayaan, terlepas benar tidaknya, tentu memiliki dampak bagi kehidupan, positif ataupun negatif. Dampak tersebut ternyata tidak hanya dirasakan oleh yang percaya dan melakukan mitos itu, tapi juga bagi lingkungan sekitar, sosial ekonomi.
Bisa dibayangkan seandainya seluruh atau kebanyakan rakyat di negeri ini percaya dan mentaati mitos pantangan tidak bepergian jauh pada bulan Suro (Muharram: Arab), tentu akan terhenti operasi moda tranportasi di negeri ini. Bus2 malam kehilangan penumpang, sebulan supir dan karyawan lain kan jadi pengangguran. PT KAI, Angkasa Pura, PELNI dan lain sebagainya akan mengalami kerugian besar, lantas gulung tikar, PHK besar2an dan tentu berdampak bagi pertumbuhan makro dan mikro ekonomi.Â
Saya memang bukan ahli ekonomi, namun boleh lah saya kisahkan satu cerita nyata dari seorang pelaku ekonomi kecil. Di Cirebon, ada satu 'tradisi' ekonomi yang cukup penting bagi rakyat kecil, yaitu pasar malam. Pasar malam ini, hampir tiap desa ada, sepekan sekali. Satu pedagang, bisa berkeliling dari satu lokasi pasar malam ke pasar malam lain yang masih terjangkau, satu kecamatan dan kadang lintas kecamatan. Biasanya, pasar beroperasi mulai pukul 5 sore hingga 8 malam, dan bulan Ramadhan bisa sampai pukul 9 malam. Pada bulan Kapit/ Selo (Arab: Dzulqa'dah), banyak pedagang kecil yang mengeluhkan sepinya pasar malam. Kalaupun ada pengunjung, tak seramai bulan-bulan lainnya. Memang, rejeki itu hak Tuhan dan menjadi rahasia-Nya. Namun ini ada jalan dan sabab-musababnya. Ternyata, menurut penuturan satu pedagang, ini karena masyarakat punya kepercayaan "pantang belanja besar di bulan Kapit". Pun, EO yg bergerak di bidang resepsi, di bulan ini menganggur, tak dapat orderan. Karena sangat jarang yang punya hajatan di bulan Kapit. Wallahu a'lam.[]
Cirebon, Oktober 2016
Ketika Masa Lalu Menagih Janji
Sebuah resensi novel âSenja Terelah di Bumi Surabayaâ (STBS) karya Eni Ratnawati
oleh: Muhamad Zubair Hasan
Judul        : Senja Terbelah di Bumi Surabaya
Penulis       : Eni Ratnawati
Tebal        : 400 halaman
Penerbit      : Writing Revolution, Yogyakarta
Cetakan      : I, April 2015
Bayu Dirgantara, seorang direktur muda, motivator bisnis, dan penerus kerajaan bisnis Dirgantara, tersentak dengan datangnya sebuah surat misterius. Dilihat sekilas, surat itu mirip surat cinta; menggunakan kertas merah muda yang bergambar dua lilin dan setangkai mawar putih. Tetapi isi surat tanpa nama pengirim itu tidak lain berisi ancaman. Ancaman yang bisa menghancurkan perusahaan raksasa Dirgantara. Ancaman tentang sesuatu yang berhubungan dengan dosa masa lalu almarhum papa Bayu.
Setelah beberapa kali menerima surat misterius itu, Bayu memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya. Di kota itu, selain ingin mencari siapa sebenarnya pengirim surat itu, ia juga akan mengais informasi tentang masa lalunya, meski nyawa dan keselamatan keluarganya yang menjadi taruhan. Ia bertekad melaksanakan janji pada mendiang papanya yang ia buat menjelang papanya meninggal. Janji untuk mencari istri dan anak lain yang dimiliki papa Bayu.
Novel berjudul Senja Terbelah di Bumi Surabaya karya Eni Ratmawati ini menceritakan tentang usaha Bayu Dirgantara mencari Teguh Surya Dirgantara, saudaranya yang seayah tapi lain ibu. Dengan hanya berbekal sepotong nama saudaranya itu, tanpa mengetahui bagaimana rupa Teguh Surya dan siapa nama ibunya, ia menyusuri luasnya rimba Surabaya demi menuntaskan janjinya.
Ada banyak lika-liku kehidupan yang dialami Bayu dalam masa pencariannya. Diawali dengan pertemuannya dengan Sasha, mantan kekasih yang ingin dilupakannya, di resto Dâpaprika milik Sasha. Pertemuan itu menyebabkan dipecatnya seorang pramusaji  bernama Nayla, di hari pertamanya bekerja di resto itu. Gadis malang itu dipecat karena Bayu yang dengan sengaja menyilangkan kakinya di depan Nayla. Tindakan Bayu itu menyebabkan Nayla menumpahkan setumpuk makanan di atas kepala Joan, adik Sasha.
Bayu, melalui Nouri, adiknya yang ikut bersamanya ke Surabaya, berusaha meminta maaf dengan menawarkan sejumlah uang kepada Nayla sebagai ganti rugi. Tetapi tidak seperti kebanyakan orang yang menggunakan kesempatan itu untuk mendapatkan keuntungan, gadis berjilbab itu menolak tawaran itu dan meninggalkan Nouri.
Pertemuan Kedua
Bayu mulai menemukan jalan dalam pencariannya atas Teguh Surya setelah mendapatkan informasi dari temannya yang bernama Mr. Shin. Ternyata saudaranya itu pernah tercatat sebagai mahasiswa di kampus biru, tempat di mana Mr. Shin mengajar. Dan ditengah kunjungannya di Kampus Biru, tiba-tiba Bayu melihat gadis Dâpaprika yang telah dipecat karena ulah Bayu. Ternyata, Nayla adalah mahasiswi semester akhir di kampus itu.
Bayu lantas menemui Nayla. Ia menawari Nayla untuk menjadi staf pribadi Bayu untuk membantunya mencari Teguh Surya, meski sebenarnya, itu adalah alasan yang sedikit dibuat-buat Bayu untuk membayar kesalahan Bayu sebelumnya. Bayu bersyukur Nayla mau menerima tawaran itu, meski sebelumnya Nayla sedikit ragu dalam menerima tawaran itu.
Benih yang Mulai Tumbuh
Bayu baru pertama kali ini bertemu makhluk seperti Nayla. Biasanya, ketika ada orang yang bertemu Bayu, orang itu pasti mengelukan Bayu, atau minimal menyalami dan meminta tanda tangannya. Itu karena Bayu yang memang sangat terkenal sebagai motivator dan orang yang sangat sukses di usianya yang masih muda. Belum lagi wajahnya yang lebih pantas menjadi artis daripada seorang pengusaha.
Tetapi Nayla tidak seperti itu. Ketika pertama kali bertemu dengan Bayu, Nayla bahkan tidak tahu kalau dia adalah Bayu sang motivator yang sering dibicarakan Wiwit, sahabatnya. Dan selama bekerja dengan Bayu, Nayla juga terlihat cuek dan tidak terlalu memikirkan penampilan untuk sekadar mencari perhatian bosnya yang super tampan itu.
Bayu sedikit demi sedikit mulai tertarik melihat karakter Nayla. Dari penampilannya yang sederhana, sandal dan sepatunya yang umurnya sudah selama masa kuliah Nayla, sampai Nayla yang tidak mempunyai ponsel di zaman seperti sekarang, semua itu sangat berbeda dengan karakter wanita yang pernah ia temui. Meski apabila dilihat, wajah Nayla sebenarnya biasa saja. Wajahnya bahkan sangat jauh apabila dibandingkan dengan paras Sasha. Tetapi semua hal itu tidak bisa menghalangi perasaan yang mulai mekar di hati bayu.
Alur Cerita yang Kompleks
Senja Terbelah di Bumi Surabaya termasuk novel yang sulit ditebak alur ceritanya. Di awal-awal cerita, pembaca pasti mengira kalau pelaku pengiriman surat ancaman pasti orang yang berhubungan dengan Teguh Surya. Tetapi di tengah cerita, muncul dugaan lain kalau pengirim ancaman itu Sasha karena ia pernah tiba-tiba menyinggung soal mawar kepada Bayu. Belum lagi pemikiran Marissa, Mama Bayu, yang menduga bahwa pengancam itu adalah orang dalam perusahaan Dirgantara sendiri.
Menjelang akhir novel, peresensi sempat merasa penasaran tentang bagaimana Eni akan mengakhiri novelnya itu. Rasa penasaran itu muncul karena meski ceritanya hampir selesai, Bayu belum menemukan Teguh Surya dan penyelidikan pengirim surat ancaman masih jauh dari titik temu. Tetapi pada akhirnya, semua rasa penasaran itu terjawab. Dan meski jawaban itu ada pada pada tiga bab terakhir novel ini, atau hanya pada 35 halaman dari novel yang tebalnya mencapai 400 halaman ini, tetapi Eni bisa mengakhirinya dengan cukup apik dan tidak terkesan tergesa-gesa.
Pembaca akan menemukan banyak kejutan ketika membaca Novel ini. Mulai dari terungkapnya Bayu yang ternyata bukan anak kandung keluarga Dirgantara, Marissa yang pernah menjadi sahabat istri simpanan Dirgantara dan pernah pula hampir mati karena ulah mereka berdua, Nayla yang ternyata mengenal Teguh Surya meski dengan nama yang berbeda, sampai siapa identitas pengirim surat ancaman.
Mengenai pengirim surat ancaman, penulis novel ini seperti ikut âbersekongkolâ dalam menyembunyikan identitas pengirim itu. Dalam menulis novelnya, Eni menggunakan cara bercerita âorang ketigaâ yang tahu segalanya. Biasanya, orang ketiga sangat jujur dalam menarasikan cerita dan mengetahui semua isi hati, pikiran, dan perasaan para tokoh yang diceritakannya. Tetapi Eni ternyata memilih untuk ikut âtertipuâ sandiwara yang dimainkan pengirim surat ancaman. Baru pada menjelang akhir cerita, Eni benar-benar jujur dalam mengungkakan pikiran pengirim surat ancaman ketika ia dengan sendirinya membuka kedoknya di depan mama Bayu.
Secara keseluruhan, novel ini sangat menarik dibaca. Tidak semua novel bisa membuat pembaca merasakan apa yang sedang dirasakan tokoh yang diceritakan. Dan Eni ini bisa membuat pembaca merasakan hampir semua perasaan yang dialami semua tokoh dalam novel Senja Terbelah di Bumi Surabaya ini. []
Novel yang Bikin Penasaran
Oleh:Â DWI SUWIKNYO
25 SEPTEMBER 2016
Ragu. Itulah yang kali pertama terpikir saat memegang novel setebal 400 halaman ini. Apakah tidak membosankan? Â Rupanya tidak. Prolognya mampu membuat saya berpikir ulang untuk meletakkan novel ini. Ada sesuatu yang harus saya cari. Apa itu?
Bermula dari prolog, menggambarkan tentang seorang perempuan yang terkapar, diduga mengalami kecelakaan lalu lintas. Rupanya penyelidik menaruh curiga, bahwa perempuan itu sengaja dicelakai oleh seseorang tetapi entah siapa yang berniat buruk tersebut.
Rupanya perempuan itu istri seorang pengusaha kaya raya. Dan benar dugaan awal, ia tidak mengalami kecelakaan biasa. Ada orang yang memang sengaja membuatnya celaka dan hendak membunuhnya. Siapa? Suaminya sendiri.Â
Sang suami tega mencelakai istrinya sendiri bersama selingkuhannyaâsekretarisnya di kantorâyang tak lain adalah sahabat istinya sendiri. Â Sang pengusaha kaya itu berselingkuh dengan alasan, istrinya tidak bisa memberinya momongan. Maka dengan selingkuhannya itu, lelaki kaya raya itu memiliki dua anak: cowok dan cewek.Â
Tetapi nasib malang berganti dialami si selingkuhan itu, sebab lelaki kaya itu kembali ke istri sahnya dan membina rumah tangga lagi. Mereka mengadopsi anak laki-laki sampai memiliki anak perempuan. Bagaimana nasib si perempuan selingkuhanya itu? Ia gila.Â
Kedua anaknya pun tidak terima dengan kondisi ibunya yang malang itu. Beberapa tahun kemudian. Â Sang pengusaha telah meninggal dunia. Perusahaan dipegang oleh anak pertamanya. Cerita pun berlangsung ketika pengusaha muda tersebut mendapatkan surat kaleng berkali-kali.Â
Baginya, itu teror. Apa yang ia pikirkan pun terjadi, bahwa ada saudaranyaâsatu ayah beda ibuâyang akan mengganggu kehidupannya. Sebab ayahnya pernah berpesan, kalau sang ayah memiliki anak dari ibu yang lain. Maka wajar ketika anak-anak itu sudah tumbuh besar, bisa jadi mereka ingin mendapatkan hak waris.Â
Maka pengusaha muda itu pun mencari siapakah sebenarnya yang sering mengirim surat kaleng itu? Benarkah âsaudaranyaâ yang melakukan teror itu? Ia pun pergi keluar kota, mencari jejak âsaudaranyaâ itu. Jika memang dia yang melakukan teror selama ini, maka pengusaha muda itu siap untuk berbagi warisan.Â
Pencarian itu mengantarkan ia pada seorang gadis dan ia terpikat dengannya. Melalui gadis itulah, akhirnya ia bisa melacak keberadaan âsaudaranyaâ itu. Tetapi diluar dugaan, rupanya yang mengirim surat kaleng itu bukanlah âsaudaranyaâ. Setelah bertemu dengannya, âsaudaranyaâ itu mengatakan tidak pernah mengirim surat apa pun. Sebab ia tak ingin mengganggu kehidupan keluarga pengusaha kaya itu. Lalu siapa sebenarnya yang sering mengirim surat teror itu?
Rupanya orang kepercayaannya sendiri yang melakukan, yang tak lain sekretarisnya sendiri. Ketika ibu si pengusaha muda ini tahu adanya surat kaleng itu, beliau pun sudah menduga-duga bahwa surat itu teror dari keluarga âistri keduaâ. Ternyata sekretaris pengusaha muda itu adalah âadiknyaâ sendiri. Adik satu ayah, beda ibu. Adik yang lahir dari selingkuhan ayah angkatnya.Â
Dan benar saja, âsi adikâ ini datang untuk membalas dendam. Ia mulai masuk ke dalam kehidupan si pengusaha muda dengan menjadi sekretarisnya. Dengan penuh amarah, ia menyerang si ibu pengusaha itu, dan berkata, âKarena kalianlah ibuku menjadi gila!âÂ
Setelah puas membalas dendam, ia pun berusaha bunuh diri. Dari sinilah, penyelidikan oleh pihak yang berwajib dimulai kembali. Â Â
***Â
Novel ini memiliki plot yang kuat, konflik lintas generasi, dan mengandalkan teknik bercerita yang apik agar tidak membosankan untuk dibaca. Itu berhasil. Terasa sekali kepandaian penulis dalam menanam benih-benih konflik, mengatur kecepatan cerita, dan terus-menerus mengajak pembaca berpikirâtepatnya mengajak pembaca untuk menduga-duga.Â
Tidak lempeng. Penulis seperti mengajak pembaca untuk bermain teka-teki: seberapa kuat insting pembaca dalam meramal akhir cerita? Nyatanya duga-dugaan itu selalu meleset, dan penulis berhasil mengecoh pembaca dengan sangat rapi. Pun disepanjang cerita, penulis bisa menyisipkan pesan-pesan moral yang halus. Termasuk kritiknya atas kondisi sosial, rusaknya moral, dan kehidupan sosial yang amburadul di sekitar tokoh. Â Â
Bagi pecinta novel, tentu saja novel ini layak untuk dibaca. Meski ada kekurangan soal editing, tetapi itu tidak mengurangi keasyikan membacanya. Terlebih bagi siapa saja yang mau belajar menulis naskah novel, bacalah novel ini. Akan banyak teknik menulis yang bisa didapat secara tidak langsung. Good job.Â
Suatu ketika seorang berkata kepadaku:
âRejeki akan tiba seiring datangnya kesiapan. Pun dengan jodoh, kan datang bersamaan dengan kesiapan. Begitu pula, guru kan kedatangan murid, bila ia telah siap, siap untuk memberikan waktunya untuk mengajar dan siap menerima murid. Pun dengan lembaga pendidikan. Bila telah punya kesiapan, pendaftar akan berdatangan.â #edisiintrospeksi
Cinta Dunia dan Takut Mati
oleh Masyhari, Lc, M.H.I
Suatu ketika, seseorang bertanya kepada saya, mengapa manusia lebih cinta dunia dan takut mati?
Ada apa dengan pertanyaan ini? Jangan-jangan pertanyaan ini untuk menyindir saya. Paling tidak, ini pantas untuk dijadikan bahan introspeksi, renungan pribadi, untuk terus belajar dan perbaiku diri. Bukan (hanya) penanya yang butuh jawaban, tapi yang ditanya sendiri juga jadi bertanya-tanya, mengapa manusia lebih cinta dunia?
Pertanyaan ini mengingatkan saya dengan sabda Rasulullah SAW yang diceritakan oleh Tsauban ra sebagai berikut:
âÙÙÙŰŽÙÙÙ Ű§ÙŰŁÙÙ ÙÙ Ù ŰŁÙÙÙ ŰȘÙŰŻÙۧŰčÙÙ ŰčÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù ÙÙ Ű§ ŰȘÙŰŻÙۧŰčÙÙ Ű§ÙŰŁÙÙÙÙÙŰ©Ù Ű„ÙÙ ÙÙŰ”ÙŰčÙŰȘÙÙÙۧâ. ÙÙŰ§Ù ÙÙۧۊÙÙÙ: ÙÙÙ ÙÙÙ ÙÙÙÙÙŰ©Ù ÙÙŰÙÙÙ ÙÙÙÙÙ ÙŰŠÙ۰ÙŰ ÙŰ§Ù Ű”ÙÙ Ű§ÙÙÙ ŰčÙÙÙ ÙŰłÙÙ : âŰšÙÙÙ ŰŁÙÙÙŰȘÙÙ Ù ÙÙÙÙÙ ÙŰŠÙŰ°Ù ÙÙŰ«ÙÙ۱ÙŰ ÙÙÙÙÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù ŰșÙŰ«ÙŰ§ŰĄÙ ÙÙŰșÙŰ«ÙŰ§ŰĄÙ Ű§ÙŰłÙÙÙÙÙÙŰ ÙÙÙÙÙÙÙÙŰČÙŰčÙÙÙÙ Ű§ÙÙÙ Ù Ù Ű”ÙŰŻÙÙŰ±Ù ŰčÙŰŻÙÙÙÙÙÙÙ Ù Ű§ÙÙÙ ÙÙÙۧۚÙŰ©Ù Ù ÙÙÙÙÙÙ ÙŰ ÙÙÙÙÙÙÙÙ۰ÙÙÙÙÙÙ Ű§ÙÙÙ ÙÙ ÙÙÙÙÙŰšÙÙÙÙ Ù Ű§ÙÙÙÙÙÙÙÙâ. ÙÙŰ§Ù ÙÙۧۊÙÙÙ: Ùۧ ۱ÙŰłÙÙÙÙ Ű§ÙÙÙŰ ÙÙ Ű§ ۧÙÙÙÙÙÙÙÙŰ ÙŰ§Ù Ű”ÙÙ Ű§ÙÙÙ ŰčÙÙÙ ÙŰłÙÙ : âŰÙŰšÙÙ Ű§ÙŰŻÙÙÙÙÙÙۧ ÙÙÙÙ۱ÙۧÙÙÙÙŰ©Ù Ű§ÙÙÙ ÙÙÙŰȘÙâ
âNyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.â Seorang sahabat bertanya, âApakah karena sedikitnya kami waktu itu?â Beliau bersabda, âBahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.â Seseorang bertanya, âApakah wahn itu?â Beliau menjawab, âCinta dunia dan takut mati.â (HR. Ahmad, Al-Baihaqi dan Abu Dawud)
Demikian sabda tersebut terbukti kebenarannya. Fenomena ini telah jamak menjangkiti umat manusia abad modern. Pada zaman ini, meskipun secara kuantitas, jumlah umat Islam amat besar, namun tiadalah keislaman itu akan berarti bagi mereka, bila hati mereka jatuh hati dan tertunduk dengan dunia.
Antara cinta dunia dan takut mati berhubungan secara kausalitas. Maksudnya, mengapa takut mati? Ya, karena terlalu cinta terhadap dunia, takut kehilangan dunia yang amat dicintainya. Rasa takut yang cenderung negatif. Hal ini besar kemungkinan karena orang tersebut tidak memahami esensi (hakekat) kehidupan di dunia, dimana sejatinya kehidupan dunia ini fana. Kenikmatannya hanya sementara, tak abadi. Layaknya seorang yang mampir sebentar minum kopi atau ngeteh di warung, saat ia dalam perjalanan panjang. Ya, sebentar saja. Karena itulah, cinta dunia menjadi penyebab kehinaan dan keterpurukan umat manusia. Sifat ini merupakan karakter orang kafir, sebagaimana digambarkan oleh Allah dalam QS Ar Raâdu (26), dimana mereka berbangga dan bersuka ria dengan kehidupan dunia, sementara kehidupan dunia di(bandingkan) kehidupan akhirat hanyalah permainan kecil.
Sementara kehidupan akhirat adalah kekal abadi âwa lal-Akhiratu khairun laka minal ulaâ. Sementara nikmat yang dicairkan, harus ada LPJ-nya. Harta, waktu, kesehatan, anak, kesempatan dan segala kenikmatan akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
Dari mana ia dapatkan hartanya, dan ke mana dibelanjakannya. Adakah untuk dirinya sendiri saja? Untuk hal yang sia-sia? Ataukah dinafkahkan untuk perkuat iman dan ketaatan, berbakti kepada Allah, berbagi kepada yang miskin, saudara, kerabat, orang tua, keluarga, dst, berjuang di jalan Allah, bantu dakwah, pendidikan dsb? Semoga. Semua akan dipertanyakan.
Bila manusia tahu hakikat kehidupan, ia tak akan takut mati, kecuali dia takut mati karena merasa belum siap, karena belum cukup bekal untuk menuju kehidupan selanjutnya. Tapi, lagi pula, siapa sih yang merasa sudah siap dengan bekal yang cukup untuk mati?! Namun, meskipun demikian, tak harus ada ketakutan, karena datangnya ajal adalah satu keniscayaan, tak ada yang dapat mengelak. Di mana pun kita berada, kematian akan tetap bisa menyapa, meskipun kita berada di istana megah dikelilingi benteng kuat.
Bila usia masih di badan, masih ada kesempatan untuk bertobat, berubah dan perbaiki diri, perbanyak kebaikan dan ibadah. Karena kebaikan yg dilakukan akan hapus kesalahan yg lalu. Meski penyesalan selalu di akhir, namun tak ada penyesalan yg terlambat, selama ajal belum tiba. Semoga Allah tuntun kita pada jalan yang diridhai-Nya. Amiin. wallahu a'lam.
Cirebon, 31/03/2016
Ribetnya Prosedur Birokrasi di Negeri Ini
Baru saja menyaksikan Dialog Publik Ikatan Ahli Ekonomi dengan Presiden di Balai Kartini, yang disiarkan oleh MetroTV. Menyaksikan acara kenegaraan semacam ini saya teringat dengan zaman Presiden Soeharto dulu, semasih kecil dulu. Kita yang mengalami masa itu tentu ingat, dipastikan akan ada acara siaran langsung stasiun tv swasta bergabung dengan TVRI Nasional. Itu dulu. Tapi, bernostalgia boleh lah. Tapi masih untung, karena ada stasion tv swasta yang meliputnya, sehingga bisa menyaksikannya secara langsung. Bila tidak, bisa baca berita online atau koran. Di antara poin penting yang disampaikan RI-I Presiden Jokowi, yang menurut saya harus segera direalisasikan yaitu penyederhanaan proses pengurusan ijin usaha (SIUP) dan TDP. Selama ini yang terjadi, pengurusan segala administrasi di negeri ini ribetnya minta ampun. Harus ke RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, baru ke Dinas terkait. Ini kalau semua langsung bisa ketemu dengan yang bersangkutan, kalau tidak? misalnya RT/RW tidak di tempat, dipastikan proses yang lama itu akan lebih lama lagi. Dan ini tentu memperlambat perkembangan usaha dan perekonomian. Selain itu, akan menghabiskan banyak cost. Kata Pak Jokowi, orientasi kita jangan lagi pada prosedur, tapi pada tujuan. Jangan sampai, kerja kita terhambat oleh peraturan/undang-undang/regulasi. Terkait prosedur birokrasi, saya jadi teringat dengan pengurusan kependudukan yang prosesnya sedang saya jalani. Sedang, karena masih berlangsung dan belum juga rampung, padahal sudah beberapa bulan mulai ngurusnya. Yaitu mengurus surat pindah antar provinsi, dari DKI Jakarta (Jakarta Selatan) ke Jawa Barat (Kab. Cirebon). Capek? Siapa yang tidak capek. Bosan? Tentunya. Tapi, mau bagaimana lagi. Prosedurnya, harus ke RT dulu, lanjut ke RT, lantas ke Kelurahan, Kecamatan, kemudian ke Dinas Capil. Memang pengurusan surat-surat di kelurahan dan kecamatan di Jakarta sudah lebih cepat, sehari, istilahnya one day service. Bila ngebut ngurusnya dari pagi, dan tidak ada antrean, mungkin one day service itu bisa dilakukan. Sementara di dinas dukcapil, proses pengurusan masih harus melalui waktu 3 hari kerja, baru rampung. Padahal, Jakarta ngakunya sudah smart city, yang berbasis digital-internet, semua sudah online, tak perlu hilir-mudik ke sana kemari. Kalaupun diperlukan pengambilan berkas asli, cukup di satu pintu saja.Â
Terkait dengan "kebersihan" birokrasi, Jakarta kita patut acungi jempol. Di Jakarta, mengurus surat-surat (khususnya kependudukan) sudah free, dan tak sepeserpun uang diminta. Hanya kita harus hilir mudik sendiri, bolak-balik Kelurahan-dinas, yang selain menghabiskan banyak bensin, tentunya menghabiskan waktu yang tidak sebentar. Bagaimana tidak, bila kemacetan yang luar biasa di Jakarta, bila naik mobil pribadi atau kendaraan umum, (akan lebih cepat andai dengan motor atau ojek, tentunya). Ya, bisa rampung antara satu-dua pekan. Itu pun karena jarak antara kantor di Jakarta tidak terlalu jauh, bagaimana bila jauh? Dimana perjalanan harus habiskan satu dua jam untuk jalan ke dinas, seperti di Paciran, harus ke Kab. Lamongan. Lantas, bagaimana dengan pekerjaan pribadi kita? Bagaimana bila kita punya jadwal padat? Kita harus mengurus ijin dulu ke kantor, dan itu pun akan mengurangi produktifitas kerja kita. Kecuali bila kita pengangguran dan kagak punya kerjaan. Maka, akan selalu saja dibutuhkan "jalan pintas" dengan memanfaatkan jasa-jasa para "pekerja" yang siap "membantu" pengurusan administratis tersebut, yang tentunya tidak gratis, bisa 200rb atau bahkan lebih, harus dikeluarkan. Nah, bagaimana dengan Cirebon?Â
Tampaknya, harus banyak berdoa, bersabar dan pasang tampang "orang penting" dan berpendidikan, agar tidak dikadalin. Karena berdasarkan sas-sus tetangga, dimana KTP mereka sudah lama dibuat, tapi berbulan-bulan belum juga jadi. Cepat-lama proses pengurusan kependudukan terantung berapa rupiah yang disetorkan. "Kalau mau yang jalur cepat, bayar sekian-sekian." Padahal,kita tahu bukan, bahwa semua itu sudah free.Â
Ternyata, info ini bukan hanya isu, bukan hanya isapan jempol. Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mendapatkan pengakuan langsung dari Kuwu (Kades), bahwa ada warga yang KTPnya belum jadi padahal ngurusnya sudah setahun lalu. Ini karena ada oknum petugas (mau disebutkan namanya?) di Kecamatan yang bermain. Padahal oknum tersebut sudah dua kali masuk koran lokal, karena kenakalannya. Ya, semoga saja, nanti lancar dan mendapatkan kekuatan EKSTRA tuk menghadapi oknum yang dimaksud. Amiin.
Anak-Anak Masjid
Oleh: Cak Hari
Anak-Anak di Masjid
Seorang kawan dari Cirebon (Kang MMK) memosting sebuah tulisan seorang ustadz dari Jakarta (AS) tentang kegemasannya terhadap kelakuan anak-anak di masjid yang dibawa ibu-ibu mereka. Kesan yang ditangkap kawan itu dari tulisan sang ustadz cenderung negatif, karena yang terkesan disalahkan adalah ibu dan anaknya. Berikut tanggapan pribadi saya.
Sebatas pengalaman saya, bawa anak ke masjid itu hal yang relatif, dan subjektif. Bisa baik, bisa tidak, tergantung bagaimana kedua ORANG TUAnya, ayah dan ibunya.
Seberapa usia anak kecil ke masjid?
Sebenarnya, tak ada batasan usia berapa yang ideal anak boleh ke masjid. Yang pasti, idealnya, setelah orang tua bisa menjamin anaknya tidak menimbulkan najis. Artinya, anak bisa kontrol buang airnya, atau bisa ditahan dengan popok tahan bocor. Ini penting, sebab masjid merupakan tempat shalat yang meniscayakan keterjagahan dari najis.
Berapa usianya minimal? Bisa jadi, anak 3 tahun sudah bisa diajak ke masjid, dan sebaiknya, anak usia 7 tahun (hijriyah), sudah dianjurkan ke masjid, sebagaimana perintah Nabi saw, kalau melihat usia tersebut secara tekstual, tanpa melihat konteks dahulu dan kekinian. Pada intinya, saat anak sudah bisa mengontrol diri dan bisa dipasrahi tanggung jawab sederhana.
Peran orang tua
Seorang anak kecil, tak peduli usia berapa, tiga tahun hingga sepuluh tahun atau lebih, sebaiknya didampingi dan dipantau orang tua (ayah/ibu) saat ke masjid, sebelum dipastikan anak telah bisa mengetahui dan menjaga adab-adab di masjid. Sebelum itu, ortu wajib mengawal dan mendampingi anaknya. Sebaiknya, saat itu, anak jangan dilepaskan ke masjid bersama anak-anak seusianya atau sepermainannya. Sebab nanti bukannya shalat, tapi malah bercanda, mengganggu orang lain yang sedang shalat. Saya punya pengalaman buruk soal ini, kaca mata saya yang kutaruh di depan diinjak anak kecil yang berlarian (curcol). Semestinya, anak didampingi dan ditempatkan di samping orang tuanya. Dengan catatan, sebelum shalat, orang tua telah memberikan panduan dan perjanjian dengan anaknya, ikut shalat atau cukup duduk di tempat. Bila tidak, atau ortu telah tahu bagaimana kondisi anak, sebab ada yang tidak bisa tenang, maka ortu sebaiknya tidak membawanya.
Ayah atau Ibu?
Kita semua tahu, bahwa kewajiban mendidik dan membimbing anak bukan kewajiban salah satu ortu, bukan hanya ayah, bukan juga hanya ibu, tapi kedua ortu, ayah dan ibu. Karena anak adalah hasil "karya" berdua, dan amanah bagi keduanya dari Allah. Namun, kalau ditelusuri, yang paling bertanggung jawab adalah ayah. Apa pasal? Satu, ayah adalah direktur utama dalam rumah tangga. Kedua, yang diberi amanah untuk menjaga shalat di masjid adalah kaum pria, meski para hawa tidak dilarang ke masjid. Terlepas dari itu, semua tergantung kondisi dan komunikasi antara kedua orang tua. Misal, anak laki-laki didampingi ayah dan shalat di shaf para pria, sedangkan anak putri didampingi ibu dan shalat di shaf para wanita. Ini sekaligus mengajarkan positioning shaf dalam shalat berjamaah. Sebaiknya, ortu yang bawa anak kecil yang masih bawa najis (belum khitan) tidak berbaris di shaf depan, bahkan cukup di bagian belakang.
Masjid Para Manula
Di sebagian (besar) masjid, jamaah didominasi oleh para orang tua, pensiunan dan manula. Paling tidak, ini pengalaman pribadi saya. Ya, ada pemuda dan anak usia SD-SMA, tapi jarang dan tidak mendominasi, kecuali di masjid pesantren..hehehe
Apa pasal?
Kerap, di banyak masjid, para orang tua yang lupa pernah jadi anak kecil, suka marah dan risih dengan anak kecil. Alasannya, karena di masjid hanya ribut, bermain dan mengganggu orang shalat. Anak, memang sebagian anak, selayaknya ulat, yang tampak bikin geli dan gatal, tapi akan segera menjadi antung dan tak lama kan menjadi kupu-kupu nan indah terbang, ia bisa memakmurkan masjid, menjadi muadzin dan bahkan memimpin shalat. Akan tetapi, karena para ortunya tidak mendampingi, kesan ulat pun tetap melekat. Ia dimarahi, dibentak dan bahkan dijewer, -na'udzu billah- oleh orang tua yang bukan ortunya di masjid, sehingga ia enggan lagi ke masjid. Pada akhirnya, anak benci ke masjid, karena trauma dan takut dimarahi dan dijewer. La qadarallah. Akhirnya, masjid hanya dipenuhi para manula. Anak-anak lebih asyik main petasan di jalanan, dan para remaja asyik nongkrong di warung atau tempat hiburan.
Saat ini, beberapa masjid mengalami defisit bin krisis remaja. Ikatan remaja masjid pun jarang yang beroperasi. Bilapun ada, hanya formalitas dan insidensial kegiatannya. Bukankah ini problem besar?
Konon, ada yang bilang, para manula tinggal nenunggu ajal, bau tanah, sehingga wajar rajin ibadah. Kesibukan kerja sudah berkurang, karena pensiun. Apa lagi kalau bukan makin dengan Tuhannya.
Bisa jadi, para muda masih sibuk kerja, dengan asumsi bila tua akan sadar dan kembali ke masjid, dan tinggalkan dunianya. Benar begitu? Batas usia orang tiada ditahu. Pemilahan masa kerja dan ibadah, masa dunia dan masa akhirat jelas bukan sebuah kebaikan. Saat kita sibuk dengan dunia, akhirat pun berjalan seiringan dengannya. Saat sukses dunia di usia muda, sukses akhirat kenapa harus ditunda tua. Toh, kesuksesan dunia akan makin menanjak, melangit, bila didukung dengan spiritualitas dan moralitas yang tinggi. Jadi, ke masjid tak perlu dan jangan sampai menunggu tua. Padahal kematian tidak milik orang tua saja.
Sedini mungkin, anak diakrabkan ke masjid. Dengan mengikuti pengajian al-Quran di TPQ (usia TK/SD) dan Madrasah Diniyah, pengajian keagamaan (usia SD-SMA) di Masjid dengan bimbingan guru-guru yang alim dan shalih. Sehingga, kelak setelah lulus, bisa melanjutkan estafet kemakmuran masjid. Semua itu, tentunya harus dengan adanya teladan dan bimbingan dari orang tuanya, yang akan memotivasi dan menyemangatinya. Semoga bermanfaat. [] Wallahu a'lam
Ba'da Subuh Cirebon, 15 Ramadhan 1436 H
Tentang Rumah
oleh Cak Hari (Masyhari, Lc, M.H.I)
Berbicara tentang rumah, kita tinjau terlebih dulu dari makna leksikalnya. Karena penulis bukan pakar linguistik, maka penulis akan paparkan soal ini mengutip dari Kamus Indonesia-Inggris karya John M. Echols dan Hassan Shadily, Gramedia (2003: 468).
Dalam bahasa Inggris, kata rumah kerap diterjemahkan dengan âhouseâ. Kata house merujuk pada rumah secara fisik bangunannya (building). Rumah gadang diterjemahkan menjadi 'traditional Minangkabau house'. Rumah joglo diterjemahkan menjadi âtraditional Javanese houseâ. Rumah modern diterjemahkan dengan âmodern houseâ. Sewaktu lebaran, sejumlah pejabat mengadakan open house, dan seterusnya.
Selain itu, rumah juga diterjemahkan dengan âhomeâ. Kata ini merujuk pada rumah secara substansial, isi dari bangunannya (ruhi-maânawi), yaitu keluarga. Rumahku surgaku diterjemahkan dengan âhome sweet homeâ. Sekolah rumah diterjemahkan dengan âhome schooling (education)â.
Dalam bahasa Jawa tradisional, rumah sederhana diistilahkan dengan gubuk. Rumah tinggal disebut griya (griyo). Dalam istilah Sunda dikenal dengan saung. Di Enrekang-Sulsel, disebut rumah kayu (rumah panggung). Secara fisik, âbangunanâ ini tidak terkesan megah, kokoh, dan mewah. Namun, suasana nyaman dan damai amat terasa di sana, terlebih bila di sekitarnya ditumbuhi rerumputan dan pepohonan rindang, dengan suara gemericik aliran sungai. Bertambah damailah suasananya.
Pada zaman modern ini, kita manusia berlomba-lomba mengumpulkan sebanyak-banyak harta untuk membangun istana megah nan indah. Tidak heran bila saat ini parameter kesuksesan dilihat pada hal-hal yang fisik dan material, kekayaan. Beginilah realitanya. Segalanya diukur secara matrialistik.
Tidak sekali dua kali, dalam obrolan di kereta api, dalam perjalanan entah pulang atau pergi dari kampung halaman, aku kerap ditanya oleh penumpang yang duduk di samping atau di depanku, âKuliah di jurusan apa? Sesudah lulus kerja dimana?â Kalau sudah mendapatkan pertanyaan begini, aku suka bengong sendiri, alias bingung mau jawab apa. Sebab, sejak keluar SMA, cita-citaku menjadi guru. Terlebih bila dilanjut dengan komentar, âguru gajinya berapa?â Apalagi ternyata aku tidak ambil fakultas tarbiyah atau keguruan, tapi syariah alias hukum Islam. Pilihan yang tepat hanya sebagai honorer, dengan gaji sebulan untuk makan sepekan. Ini yang kerap dirasakan oleh sebagian besar guru saat ini. Solusinya adalah mengejar sertifikasi. Bukan untuk peningkatan kualitas diri, tapi agar mendapatkan tunjangan dan gaji yang lebih tinggi.
Jauh belasan abad silam, di dalam Al-Qurâan telah menyinggung ini. Adalah di dalam surah at-Takatsur. âAlhakumuttakatsur, hatta zurtum al-maqabirâ artinya, âKalian telah terlena oleh persaingan mengumpulkan harta kekayaan, (dan tidaklah pernah berhenti) hingga kalian masuk liang kubur.â Bahkan, dalam sebuah hadits 'Arbain An-Nawawi disebutkan bahwa di antara tanda hari kiamat, yaitu banyak manusia yang berlomba-lomba meninggikan gedung.
Bilamana Nabi Yaâqub 'alaihissalam sebelum ajal menjemputnya mengkhawatirkan keimanan putra-putrinya, âApa yang kalian sembah sepeningggalku?â, banyak dari kita yang hanya mengkhawatirkan anak kita makan apa sepeninggal kita. Sehingga, kita masukkan anak-anak kita ke dalam sekolah dengan tujuan sebatas selembar ijazah, dan kelak setelah lulus bisa bekerja atau membangun kerajaan bisnisnya. Masa bodoh dengan mental dan spiritual mereka.
Kondisi semacam ini kini melanda dunia pendidikan kita. Salah satu indikasinya, di sejumlah kampus Islam (PTIN/PTIS), fakultas agama Islam dan yang notabene berorientasi akhirat dan ilmiah, semisal ushuluddin, sastra, sejarah, bahasa Arab, filsafat, tafsir, hadits, hukum perdata, dan sebagainya, mengalami defisit mahasiswa, bahkan bisa dikatakan hampir punah. Sehingga pihak kampus pun terpaksa melakukan peleburan beberapa fakultas menjadi satu. Sebaliknya, beberapa jurusan semisal pendidikan bahasa Inggris, pendidikan ekonomi, ekonomi dan perbankan Islam, manajemen keuangan Islam, kedokteran, farmasi, broadcasting, informatika, komputer, dan sejenisnya dibanjiri oleh pendaftar. Karena dipandang lebih menjanjikan bagi masa depan mereka secara materiil. Selepas lulus jelas lapangan pekerjaannya. Ya, karena kita butuh makan.
Ini berbeda dengan yang terjadi pada guru-guru ngaji, dari dulu hingga saat ini (seperti yang terdapat dalam komunitas Qiraati, misalnya). Dalam banyak kesempatan, para koorditanor tidak bosan-bosan mengingatkan guru-guru ngaji tentang pentingnya keikhlasan dan kesabaran. Guru Al-Qurâan itu keluarga Allah. Sementara Allah maha kaya. Tengadahkan tangan kepada-Nya. Seakan-akan âharamâ hukumnya meminta bantuan dari pemerintah. Â Tak ada ceritanya guru ngaji mati karena tidak makan. Yang ada, banyak kisah guru ngaji berangkat umroh dan naik haji. Di dalam rumah, guru ngaji senantiasa shalat sunnah dan menghiasi rumahnya dengan lantunan tilawah Al-Qurâan. Siang hari penuh dengan santri-santri mengaji. Dan di sepanjang malam lantunan Kalam Ilahi tiada hentinya membumbung ke awan. Guru ngaji tidak memikirkan besok makan apa. Guru ngaji memikirkan bagaimana agar santrinya bisa senang mengaji dan lancar membacanya, saja.
Banyak orang sibuk memikirkan bangunan rumah secara fisik. Membuat pondasi dengan besi dan cor yang kuat, serta dinding dari semen dan bata yang tahan gempa. Namun lupa membangun pondasi mental-spiritual anak-anaknya, generasi masa depan keluarganya, dan juga bangsanya. Untuk pendidikan anaknya, ia cukup menyerahkannya kepada sekolah. Seakan ia percaya, bahwa sekolah telah mengajari anaknya segala hal.
Home Schooling
Beberapa tahun terakhir ini kita diâhebohâkan dengan kosa kata baru dalam dunia pendidikan kita. Makhluk yang dimaksud tiada lain adalah homeschooling. Kata homeschooling (disingkat HS) berarti sekolah rumah. Menurut sejumlah pakar parenting, istilah yang lebih tepat untuk menyebutnya yaitu home education, pendidikan rumah. HS ada sebagai model pendidikan alternatif. Sejatinya, model HS sudah ada sejak dahulu kala, setua usia kehidupan manusia itu sendiri. Agak dekat dengan zaman kita, di dunia Islam, para ulama klasik dididik dengan model HS. Bahkan, tradisi pendidikan di Nusantara, yaitu pesantren juga berbasis HS, dimana santri selain bertatap muka secara formal di ruang madrasah/ masjid, mereka juga dididik dan berada di bawah pembinaan kyai/guru secara intesif di dalam asrama.
Lantas, mengapa âhomeâ, bukan âhouseâ?
Di sinilah titik yang hendak ditekankan, bahwa pendidikan rumah lebih fokus pada kondisi dan iklim rumah yang menyejukkan dan kondusif bagi anak-anak. Pendidikan ini melibatkan seluruh anggota keluarga. Segalanya diatur dan difasilitasi oleh orang dalam keluarga, meskipun terkadang melibatkan orang luar, bila diperlukan. Orientasinya jelas bukan ijazah, tapi bagaimana anak mendapatkan pendidikan secara lebih bersahabat, bermain sambil belajar. Dalam HS, rumah adalah ruang kelas sekolahnya, tidak terbatas pada sekat fisik bangunan (house), namun ruang yang teramat luas, alam semesta dan segala isinya, laboratorium yang hidup. Sementara orang tua, adalah guru utamanya, bahkan bisa sekaligus menjadi sahabatnya. Selain itu, guru dan teman bisa berupa sanak famili, masyarakat sosial, tetangganya. Bahkan gurunya adalah Allah SWT.
Di dalam HS, anak belajar tentang kehidupan yang harmonis. Jadwal HS tidak dibatasi oleh waktu. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, anak-anak masih dan terus âbelajarâ. Setiap aktifitasnya sehari-hari dilakukan dengan tata adab yang dicontohkan dan dibimbing langsung oleh orang tuanya. Hal-hal lain yang berhubungan dengan keahlian dan kreatifitas, diserahkan sepenuhnya kepada minat anak. Orang tua cukup menganalisa kecenderungan, mengawasi dan membimbingnya. Sebab, anak-anak memiliki kecenderungan dan kreatifitas tanpa batas, kecuali bila kita sendiri yang membatasinya. Sehingga, kurikulumnya bisa kita pilih sesuai dengan kebutuhan rumah, kita dan anak-anak, bebas bertanggung jawab. Kalaulah misalnya kita butuh ijazah, kini pemerintah telah memberikan fasilitas ujian penyetaraannya.
Biaya pendidikan dalam HS tidak dipatok nominal harganya, bisa jadi nol rupiah. Biaya bisa saja meningkat sesuai dengan sarana dan peralatan belajar yang kita butuhkan.
Demikian ini bukan berarti, para orang tua yang telah menyekolahkan anaknya di luar rumah tidak bisa menjalankan HS. Pendidikan di luar rumah hanya berbatas waktu, semestinya (kecuali bila kita sengaja menyiksa anak kita dengan menambahkan les dan bimbel di luar jam sekolah hingga sore hari. Sehingga, intensitas interaksi dengan kita sebagai orang tua pun berkurang, dan anak kita stres di usia sangat muda). Di luar jam sekolah, anak-anak bisa kita HS-kan, dengan membimbing dan memantau perkembangan mereka di rumah. Sekolah sejatinya hanya sebatas tempat 'penitipan' pendidikan, guru hanya wakil, pengganti sementara peran orang tua, sementara tanggung jawab pendidikan anak tetaplah ada di pundak orang tua. Sekian dulu. Semoga bermanfaat. Wallahu aâlam.[]
Cirebon, 10/03/2015
Kegiatan âLalaranâ pra kelas TKQ-TPQ Hidayatullah di dalam Mushalla MT Hidayatullah, Jl. Cipto Mangunkusumo Cirebon.. Februari 2016.
TPQ-TKQ Hidayatullah merupakan lembaga pendidikan Al-Qurâan yang menggunakan metode Qiraati. KBM dimulai sejak tanggal 04 Januari 2016, dan secara resmi mendapatkan SK operasional dengan Nomor Induk Lembaga 01.03.06.08 dari Koodinator Cabang Qiraati Cirebon pada Rabu tanggal 23 Maret 2016, dengan Ustadz Masyhari, Lc, M.H.I sebagai kepala sekolah.
Senja Terbelah di Bumi Surabaya
Penulis: Eni Ratnawati
Genre: Novel; Roman, Sosial, Misteri
Terbit: April 2015
Tebal: 400 halam/ bookpaper.
Senja Terbelah di Bumi Surabaya, atau disingkat STBS adalah novel bergenre roman bernuansa sosial karya Eni Ratnawati. Meskipun novel ini adalah karya perdana sang penulis, namun bahasa yang disajikan bukanlah bahasa yang âbiasaâ. Setiap rangkaian kata-katanya tersirat makna yang cukup dalam. Nyastra gitu lah. Khususnya bagi pembaca âpemulaâ, dibutuhkan semacam konsentrasi ekstra, atau barangkali dibutuhkan semacam pengulangan, dua hingga tiga kali setiap paragrafnya, agar benar-benar nyambung. Kecuali bila Anda adalah seorang penikmat novel atau sudah terbiasa membaca karya sastra.
Novel STBS alurnya penuh misteri, berjalan tak terduga, tidak seperti sinetron atau FTV yang ditayangkan di stasiun TV swasta yang endingnya bisa ditebak dari judulnya saja. Meminjam istilah Aguk Irawan Mn, alur novel ini bagai teror yang menyasar ke mana-mana. Bisa jadi, seorang pembaca akan menduga begini lanjutan kisahnya, namun ternyata alurnya bisa saja 180 derajat berbeda dengan dugaan tersebut.
Meskipun cerita novel ini adalah fiksi, namun bisa dibilang kebanyakan latar-settingnya real-nyata, yaitu di Surabaya, khususnya kala penulis tinggal di sana sekitar tahun 2004-2008. Kendatipun demikian, tetap ada lokasi yang memang benar-benar rekaan penulisnya.
Siapa Eni Ratnawati?
Eni Ratnawati, atau akrab disapa Neni, sehari-hari sebagai seorang ibu rumah tangga, dengan dua buah hatinya. Pernah nyantri di Pesantren Al-Amin Prenduan Sumenep (Madura) selama tiga tahun. Semenjak di sana, ia akrab dengan bacaan-bacaan bergenre fiksi-sastra, sebut saja misalnya Serial Komik Detectif Conan, karya-karya sastra Kahlil Gibran, majalah An-Nida, dan lain sebagainya. Saat itu, ia telah terbiasa menulis buku diary.
Saat ini, Neni tinggal di Cirebon bersama suami dan putra-putrinya.
     Apa Kata Mereka?
"Kalau sudah membaca novel STBS ini, sulit rasanya saya untuk berhenti.  Tulisannya mengalir dan enak dibaca. Tampak, penulis seorang pencinta ulung, atau penghayal ulung. Salam hormat  dan respek saya pada penulis."
-H. Abu Bakar Dachlan SZ, Penulis Biografi KH. Dachlan Saim Zarkasyi, Bapak TK Al Quran-Â
"Alur setiap bab dalam novel ini berjalan tak terduga, misterius dan seperti teror yang menyasar ke mana-mana. Mengkisahkan hampir seluruhnya drama sebuah kehidupan; rasa penasaran yang menggebu, mimpi, pengorbanan, persahabatan, kesetiaan, pengkhianatan, asmara dan cinta yang unik dan menarik..."
- Aguk Irawan MN, Novelis-
âSebuah novel impresif. Sangat mencerdaskan pembaca. Ada pergolakan emosi, cinta, sosial dan keluarga. Bagaimana dengan metafora "senja yang terbelah", nikmati roman cinta dengan menjelma menjadi Bayu. Â Selamat menemukan hamparan makna dalam roman impresif ini.â
- Dr. Sutejo, M. Hum, Penulis dan Dosen sastra STKIP PGRI Ponorogo-
âMembaca halaman pertama, saya langsung tertarik dengan alur ceritanya yang bolak-balik antara masa lalu dan masa kini, pergulatan mencari makna dari berbagai peristiwa yang dialami. Novel ini menarik, tidak menggurui, sarat pelajaran, wajib dibaca oleh siapa saja yang mencintai bacaan segar di sela berbagai peristiwa politik yang membosankan.â
- Jajang Jahroni, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta-
Sinopsis
Bermula dari surat misterius yang diterimanya, Bayu, direktur muda sang penerus kerajaan bisnis Dirgantara, memantapkan hati mencari sebuah keluarga lain Papanya di rimba Surabaya. Semua dipertaruhkan. Kasih Mama dan saudarinya, jabatan, perusahaan, bahkan satu-satunya nyawa. Tidak ada yang lebih mengerikan dari terbongkarnya skandal masa lalu, yang telah menyakiti Mamanya terlalu dalam dan menyisakan kebencian pada Nouri, adiknya. Namun kenyataan menamparnya, memaksanya memilih di antara dua pilihan yang sama perih. Ancaman skandal itulah yang selalu didengungkan oleh siapapun yang mengirimkan surat-surat itu. Seolah menagih janji, atas sumpah yang telah diucapkannya di atas jasad Dirgantara, Papanya.
Kegiatan âlalaranâ. Para santri kecil membaca secara klasikal bersama pra kelas di TPQ Hidayatullah Cipto Cirebon, Januari 2016
Nabil Al-Fatih, dan robot dari balok plastik lego karyanya. Ia buat sendiri bentuk yang disukanya. Sama sekali tanpa arahan ataupun bantuan dari ayah-ibu. Ia hanya diberi fasilitas media bermain-berkreasi. Semoga kelak menjadi anak yang kreatif, shalih dan mushlih.
Memahami Komunikasi
oleh Cak Hari (Masyhari, Lc, M.H.I)
Sebelum membincangkan komunikasi, kita simak cuplikan cerita berikut ini:Â
Dalam dua ruang kelas enam di sebuah SD berbeda yang akan menghadapi ujian akhir.
Pertama, karena merasa bahwa anak-anak penting mendapatkan nilai tinggi, sehingga dibutuhkan materi tambahan, seorang guru mengumumkan: âAnak-anak! Karena tak lama lagi kita akan menghadapi ujian akhir, mulai pekan depan, kalian akan mendapatkan materi tambahan, yaitu setiap hari Senin dan Selasa, selama satu jam sebelum pulang! Bagi yang tidak ikut, orang tuanya akan dipanggil dan ia tidak diperkenankan ikut ujian! Semua mengerti?!â
Kedua, sang guru menjelaskan: âAnak-anakku, sayang. Kalian tahu, beberapa bulan ke depan, kita akan menghadapi ujian akhir. Tahun lalu, kakak kelas kalian memperoleh nilai tertinggi 9,1. Bapak tahu, kalian adalah anak-anak yang pandai. Kira-kira tahun ini, kalian tarjetkan nilai tertinggi berapa?â Di antara murid, ada yang menjawab 9,1, minimal tidak kalah. Ada yang menjawab 9,2. Ada yang menjawab 9,9, bahkan ada yang menjawab 10, karena tertantang. âKira-kira untuk mencapai itu, apa yang mestinya kita lakukan?â âBanyak berdoa, Pak.â âLebih rajin belajar, Pak.â âIkut bimbel, Pak.â âBelajar lebih rajin dan giat, Pak.â âPanggil guru les privat, Pak.â Dan lain sebagainya. âKalian sungguh anak-anak yang luar biasa. Hebat. Bapak sangat setuju. Selain berdoa, agar belajar kita lebih maksimal, bagaimana kalau Bapak usulkan, kita belajar bersama di sekolah, seusai pelajaran terakhir, sebelum pulang?â
Kesan dari kedua kelas tersebut berbeda bukan? Guru pertama, karena merasa keputusan dan aturan yang ditetapkannya amat perlu dan baik, ia pun dengan âtangan besinyaâ memberikan satu pilihan saja untuk diterapkan, tanpa kompromi. Seakan apa yang diucapkan pasti benar dan paling bijak, dan bahkan dibumbuhi pula dengan ancaman. Nah, apakah sikap tersebut efektif?
Mungkin saja sebagian murid akan mengikuti peraturan tersebut, meskipun dengan terpaksa, dan karena takut ancaman. Kebanyakan anak belum tahu manfaat materi tambahan, karena belum dijelaskan, atau andaipun sudah dijelaskan namun dengan perspektif guru. Kebanyakan dari mereka merasa keberatan, karena akan terbebani, mengurangi jam bermain dan beristirahat mereka, dan tentunya memperlambat kepulangan mereka. Bahkan, bisa jadi sebagian anak akan tertekan.
Coba bandingkan dengan guru kedua. Ia mengikuti proses komunikasi. Di sana terjadi sharing.Guru ini berusaha membangkitkan motivasi dari dalam diri anak, dengan melakukan semacam penyadaran anak akan pentingnya belajar lebih giat. Memancing agar anak secara sadar diri mengakui bahwa materi tambahan itu penting. Ia juga memberikan semacam tantangan, karena anak-anak suka berlomba-lomba, berusaha menjadi yang lebih baik.
Dan, tentunya bisa dipastikan, karena jadwal materi tambahan adalah hasil keputusan sadar para murid dengan gurunya, maka para murid pun dengan antusias, penuh gairah dan semangat mengikuti materi tambahan, tanpa ada keterpaksaan ataupun bermalas-malasan.
Tak jarang yang punya anggapan, bahwa ketika seseoang sedang berbicara dengan anak atau muridnya, ia telah berkomunikasi. Padahal, sebenarnya ia hanya berbicara sendiri. Bisa jadi, seorang ayah/ibu sedang BERBICARA dengan penuh semangat berapi-api menasehati anaknya, hingga berbusa-busa, namun ia tidak sedang berkomunikasi. Berbicara tidak selalu berarti berkomunikasi. Berbicara hanyalah salah satu cara dalam berkomunikasi, yaitu komunikasi verbal. Yang pasti, ia berbicara dengan bahasanya.
Berbicara disebut berkomunikasi bila ada pihak lain yang mendengarkan, ada pembicara (mutakallim) yang memberi pesan, dan ada pendengar (mustamiâ) yang menerima pesan. Dalam bahasa Arab, komunikasi disebut dengan âittishalaatâ (ۧŰȘ۔ۧÙۧŰȘ), yang berasal dari kata âittashala-yattashiluâ (menyambung). Kata âittashala bi..â berarti menghubungi. Kata kerja ini berasal dari akar kata âwa-sha-laâ, yang berarti âsampaiâ. Sehingga, kalau boleh disimpulkan, sebuah bahasa disebut komunikasi bila terjadi ketersambungan (koneksi) antara minimal dua arah, yaitu pihak pembicara dan pihak pendengar, sehingga pesan yang dikehendaki oleh pembicara tersampaikan kepada pendengar.
Selain dengan lisan, masih ada jenis komunikasi lainnya, yaitu komunikasi secara tertulis, dengan tanda atau simbol-simbol yang dipahami dan dimengerti tidak hanya oleh si penulis, tapi juga oleh si pembaca. Bila tidak demikian, yang terjadi adalah gagal paham atau kesalahpahaman. Karena itu, diupayakan dalam menulis, baik sms, whatsApp, ataupun artikel dengan bahasa yang mudah dipahami oleh si calon pembaca, agar tidak menimbulkan salah tafsir dan gagal paham. Bila ini terjadi, bisa saja berakibat fatal, konflik antar pribadi pun tak terelakkan.
Selain dengan lisan dan tulisan, alat komunikasi lainnya adalah bahasa tubuh (komunikasi fisik), baik hanya berupa sikap yang bisa diperhatikan secara visual ataupun dengan sentuhan, belaian, kecupan atau bahkan berhubungan badan. Terkadang, komunikasi lisan tidak diperlukan. Cukup dengan ekspresi wajah, gerakan bibir ditarik ke sisi kanan-kiri, tersenyum, atau gerakan fisik yang menghangatkan. Seorang istri yang sedang curhat, sedih karena satu dan lain hal, tak perlu banyak kata-kata dikeluarkan suami untuk mengobati kesedihannya, cukup sediakan pundakmu atau dadamu tuk dia bersandar di pelukan, kau belai rambutnya, dan kau bisikkan kata sayang. Bila ia ngomel atau diam ngambek, cukup didengarkan, tak perlu dimasukin hati. Bila usai, buka pintu kamar, masuklah berdua dan selesaikan di kamar.hahaha
Karena itu, tak heran, dalam hukum fikih disebutkan, salah satu cara rujuk pasca talaq rajâi adalah dengan jimaâ (bersebadan).
Bisa pula, komunikasi itu hanya dengan tatapan mata. Antar personal bisa saling memahami dengan bahasa mata, khususnya bagi yang sudah mengenal satu sama lain. Untuk mengajak seorang istri melakukan âsesuatu halâ, seorang suami bisa jadi hanya dengan menatap istrinya dengan isyarat tertentu yang hanya dipahami oleh keduanya.
Makin panas khan, mblo!? Biar agak ademan dikit, kita kembali ke masalah komunikasi antara ortu-anak, guru-murid.
Tak jarang, seorang guru menganggap telah berkomunikasi dengan murid-muridnya, saat ia berbicara dengan mereka, padahal sang guru hanya berbicara satu arah. Ia seakan tak peduli, apakah pesan yang dikehendakinya sampai dan diterima oleh mereka ataukah diacuhkan. Ia hanya fokus pada dirinya dan apa pesan yang dibicarakannya. Karena murid tidak menginginkan atau merasa membutuhkan isi pesan sang guru, maka akan dikesampingkan, bahkan diacuhkan. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Berbeda halnya, bila seorang guru sebelum berbicara, terlebih dahulu ia ketahui apa yang dibutuhkan muridnya, dan memahami sifat, tabiat dan karakter para muridnya, pesannya akan lebih mudah diterima. Ia tidak hanya berbicara, tapi juga banyak mendengar suara hati muridnya.
Berbicara tentang komunikasi ini, saya teringat dengan materi âFashahahâ dalam ilmu Balaghah. Suatu ucapan atau kalam disebut fasih, bila sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi (muqtadhal hal). Hal ini ditujukan agar pesan dapat tersampaikan dengan baik. Karena itu, dalam Al-Qurâan surat Ibrahim ayat 4 termaktub:
âKami (Allah) tidaklah mengutus satu rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar ia bisa menjelaskan kepada mereka (dengan sejelas-jelasnya)âŠâÂ
Karena itu, Allah mengirimkan utusan kepada Bani Israil seorang dari kalangan mereka, di antaranya Musa, yang berbahasa Hebrew (Ibrani). Allah utus kepada bangsa Arab seorang utusan dari bangsa mereka, yaitu Nabi Muhammad SAW, dengan membawa pesan Tuhan berbahasa Arab.
Saat berbicara tentang surga yang dijanjikan bagi orang-orang mukmin yang baik, Allah gambarkan di bawahnya terdapat sungai-sungai yang mengalirkan air yang sejuk. Amat indah dan menggoda, khususnya bagi mereka yang hidup di dalam gurun pasir nan tandus. Di dalam surge itu tersedia aneka macam buah-buahan, bahkan para bidadari yang teramat cantik. Meskipun apa yang digambarkan, tak bisa dibayangkan hakekatnya oleh indera manusia (ma la âainun ra-at, wa la udzunun samiâat, wa la khtahara âala qalbil basyar). Â Gambaran-gambaran itu tiada lain adalah agar pesan Tuhan lebih mudah diterima oleh bahasa manusia, yang kala itu bangsa Arab Arab dan tentunya bernalar Arab (al-âaql al-âarabi).
Begitu pula, Sang Nabi, Muhammad SAW ketika mengumpamakan seorang muslim yang baik laksana pohon kurma, pohon yang berkarakter kuat, pengayom, dan seluruh bagiannya berguna (HR. Muslim). Bangsa Arab sangat mengenal pohon kurma dan bersahabat dengannya, sehingga mereka dengan mudah sekali memahaminya. Andai kata Al-Qurâan diturunkan di pulau Jawa, tentunya akan berbahasa lokal (bi lisani qaumihi). Pun yang digambarkan oleh rasul-Nya bukan pohon kurma yang belum dikenal oleh masyarakat Jawa kala itu, akan tetapi mungkin pohon kelapa, yang juga memiliki karakter dan guna yang tak jauh berbeda dengan pohon kurma. Itupun kalau seandainya.
Seorang guru atau ortu yang baik adalah yang mau menyelami dunia anak (didik)nya. Seorang anak adalah anak. Ia bukan orang dewasa berbadan kecil. Ia memiliki dunia dan bahasa yang berbeda dengan dunia dan bahasa orang dewasa. Ia mau mempelajari cara menyampaikan hal penting, besar dan rumit, dengan bahasa yang sederhana dan sesuai dengan dunia anak-anak. Ia mau berusaha mempelajari sosiologi dan psikologi pendidikan, sehingga mengetahui tipologi anak dengan berbagai macam pendekatan dan teori, dan bagaimana cara mensikapinya, sebut saja misalnya dengan pendekatan teori Multiple Intellegences, golongan darah, dan lain sebagainya.
Cirebon, 26/03/2016