Jika jiwa dan ragamu lelah, jangan dipaksa. Tuhan memberikan kata istirahat untuk kita mengambil jeda. It's okay, we just human.
h
YOU ARE THE REASON
No title available
$LAYYYTER

⁂
Sweet Seals For You, Always
Keni
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

blake kathryn
Lint Roller? I Barely Know Her

if i look back, i am lost
art blog(derogatory)
Misplaced Lens Cap

Origami Around

JBB: An Artblog!

No title available
Xuebing Du
Sade Olutola
Peter Solarz
seen from Australia
seen from United States
seen from Singapore
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Portugal

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Brazil
seen from United States

seen from Australia
seen from Türkiye

seen from Australia
seen from United Kingdom

seen from Switzerland
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
@mayapimera
Jika jiwa dan ragamu lelah, jangan dipaksa. Tuhan memberikan kata istirahat untuk kita mengambil jeda. It's okay, we just human.
Ia mengejarku bertahun-tahun yang lalu. Namun, aku baru menyadarinya saat dia telah berhenti berjuang.
Perempuan itu pernah setulus hati, lalu dipatahkan berkali-kali hingga hilang rasa percaya dan kini menjadi sedingin angin malam.
Buku Baru
Siapapun yang kelak akan menjadi tokoh baru dalam ceritaku, maka tenanglah. Buku lamaku sudah kusimpan rapi di almari. Cukup menjadi sejarah yang memang pantas dikenang namun tak lagi untuk dilanjutkan kembali. Hatiku pernah berantakan di dalamnya. Aku sendiri yang menatanya kembali, mengumpulkan puzzle yang kini sudah menyatu dan rekat kembali menjadi sebuah hati baru yang siap melanjutkan hidupnya. Tenanglah, aku sudah baik-baik saja. Kehadiranmu tidak perlu menjadi obat bagiku karena luka itu telah sembuh. Cukup kita buka buku baru dan menulis bersama hingga cerita ini akan berakhir indah.
Aku tidak pernah menyangka akan mewujudkan mimpi mimpi ini bersamamu
Jangan buru-buru. Nikmati masa sendirimu dan temukan dirimu. Hingga akhirnya kamu siap untuk melanjutkan hidup bersama orang lain.
Langkah ini telah melewati banyak kedai
Dari yang berhenti untuk minum kopi
Atau singgah memanjakan kaki
Bahkan sejenak lelap melepas letih
Namun, kaki ini akan selalu melangkah kembali
Entah di mana ia akan sampai
Dan tinggal berdamai
Yang jelas, sejauh kaki ini pergi
Namamu akan selalu ada di sini
Di hati yang tidak lagi kau pilih
Waktu
Semua memang perkara waktu. Setiap manusia punya waktu dan masanya masing-masing. Jadi, jangan hakimi mereka yang masih berproses. Melainkan, tetaplah ada di sisi mereka dan kuatkanlah mereka. Yang mereka butuhkan cukup ditenangkan bahwa mereka tidak sendirian di titik yang melelahkan itu. Ada orang yang butuh seminggu, sebulan, setahun, bahkan lima tahun dan lebih hanya untuk beranjak dari suatu masa. Jadi, it's fine jika kita merasa proses dan penantian ini begitu melelahkan. Kita ada di titik ini sudah sangat luar biasa. Karena untuk bertahan, bukanlah hal yang mudah.
Sajak Hujan
Mewangi tetes air bumi membasahi tanahnya. Tempatnya pulang setelah bertahan di atas kabut kelabu. Mengalun gemericik air langit menyentuh pelataranku. Mengumandangkan senandung yang lama tak terdengar olehku. Akan aku rapalkan bait demi bait sajak hujan teruntuk dirimu setiap kau mau. Agar semakin tenang nafasmu menerjang badai yang tak kunjung usai menghantam kemalut pikiran jiwamu. Duduk dulu, bernafaslah sejenak, Tanda kebesaran Tuhan sedang menyapamu di balik kaca angkasa. aksarasaku
Perjuangan dan pengorbanan itu sepaket. Berani berjuang berarti harus siap berkorban.
Purplellicious
Surga yang Dekat
Ada banyak cerita yang saya temui dalam beberapa hari terakhir. Hasil dari perenungan sepanjang jalan, bertemu dan mengamati orang, berdiskusi dan dari bacaan yang terkumpul. Tulisan ini sempat tertahan beberapa hari demi menunggu beberapa pemahamannya menjadi utuh, menjadi sebuah kesatuan makna yang bisa saya tarik pembelajaran terbaiknya.
Beberapa waktu belakang ini, saya belajar kembali tentang pemaknaan manusia terhadap surga. Di saat saya menyaksikan event-event kekinian yang menjanjikan “surga” sebagai propaganda demi mendapatkan banyak peserta acara. Saya berusaha memaknai kembali, bagaimanakah surga yang menjadi tujuan dari umat manusia ini.
Saya berusaha mendalami dengan perjalanan, menemui sebanyak mungkin orang dan melihat sorot matanya. Berusaha menyelami kehidupan dengan semua perspektif yang disediakan, dengan semua sudut pandang yang memungkinkan untuk saya pakai. Sampai-sampai saya sendiri menangisi pemikiran saya selama ini, betapa piciknya pikiran ini dengan segala isinya. Kalau ada cara bagaimana me-reset sebuah pikiran, ingin sekali saya menghapus isi kepala ini, saya tidak suka isinya. Dengan bagaimana selama ini pikiran begitu mudah melakukan penghakiman.
Diperjalanan saya menemukan bahwa surga dimaknai berbeda dari satu orang ke orang yang lain, makna yang berbeda membuat setiap orang juga melakukan cara-cara yang berbeda untuk meraih surga itu.
Saat di kota, di komunitas masyarakat urban. Saya gembira menemukan semangat gelombang hijrah (dalam agama yang saya imani). Begitu banyak orang berbondong-bondong melakukan perubahan baik. Surga yang kabarnya tidak akan tercium oleh perempuan yang berpakaian tapi telanjang, membuat gelombang hijrah yang luar biasa. Surga itu seperti bisa diraih dengan jalan tersebut.
Dan di saat yang sama, hanya beberapa ratus meter dari pusat keriuhan acara-acara berlabel hijrah. Surga itu sesederhana seorang bapak yang mendorong gerobak sampahnya, pulang menjelang maghrib dengan membawa seplastik beras hasil mencari rezeki hari ini. Itulah jihadnya. Tidak sempat hadir dipikirannya tentang bagaimana mengubah penampilannya agar sesuai dengan konsep surga yang dimaknai oleh teman-teman saya yang lain, yang rela mengeluarkan lebih banyak hartanya untuk membeli pakaian dengan segenap propaganda kehijrahannya.
Ada konstruksi pikiran yang berbeda, ada pemaknaan yang berbeda. Perjalanan ini membuat saya percaya satu hal bahwa Allah itu Maha dalam segala ke-MAHA-annya. Saya percaya bahwa setiap manusia itu akan mencapai surganya dengan ridho Allah. Dan surga itu tidak akan pernah bisa dimonopoli oleh segilintir orang dan golongan, tidak juga hanya bisa diraih dengan jalan-jalan yang serupa seperti yang tengah tren saat ini.
Setiap orang akan dimudahkan dalam beribadah, juga disediakan ladang ibadahnya sendiri. Ladang-ladang amal yang mungkin tidak akan pernah bisa dipahami oleh orang lain. Dan saya hanya bisa menangis saat saya berusaha membeli sebuah baju muslim baru dengan harga ratusan ribu, sementara di perjalanan pulang saya menyaksikan sepasang manusia, bekerja berdua mencari rezekinya. Saat kami sama-sama berhenti di sebuah masjid karena maghrib sudah menjelang. Ibu dengan jilbab seadanya, dengan baju lengan pendeknya, dan celana panjang yang lusuh. Dan suaminya yang mendorong gerobak berisi tumpukan kardus. Pikiran saya ternyata benar-benar picik, saya mengira surga itu hanya bisa diisi dengan orang-orang pakaian syari terkini. Harus menghafal semua isi kitab suci, atau harus mengikuti semua kajian. Maka, saya harus benar-benar bersyukur karena diri ini dimudahkan dalam beribadah, tidak harus mengalami kehidupan yang sulit dalam hal rezeki (materi). Karena ada orang-orang yang tidak memiliki ruang dan rezeki untuk menikmati ibadah-ibadah itu.
Setiap orang sedang berjuang dalam hidup ini, berjuang yang terbaik. Untuk meraih surga-Nya. Sebuah tempat terbaik untuk pulang nanti, sesudah mati. Dan ternyata surga itu begitu dekat.
Yogyakarta, 21 Agustus 2016 | ©kurniawangunadi
disclaimer :
Pemahaman tulisan ini adalah pemahaman pribadi saya, saya percaya pelajaran tersebut belum utuh. Keutahannya membutuhkan waktu. Dan saya selalu membuka ruang untuk diri saya belajar, mungkin suatu hari berubah atau bertambah.
~* Perihal Melepaskan
Sebab hidup bukanlah perlombaan siapa yang memenangkan dunia adalah ia yang berhak mendapatkan piala citra. Bukan, bukan tentang itu.
Namun hidup adalah serangkaian perjalanan ketaatan. Jika kita taat, maka selesai sudah urusannya. Kita hanya diminta taat, sesederhana itu. Namun untuk menjadi taat itulah kita tak pernah bisa mendapatkannya dengan mudah, bukan karna tak bisa, kita hanya butuh memaksa dan membiasa.
Hidup buat apa sih kalau bukan ridha Allah yang dituju??
Maka setelah ini, aku ingin melepasmu sebagai yang terakhir, dengan bahagia, dengan tak ada lagi sendu. Sebab ada yang lebih aku cintai, ialah hatiku yang aku cintai dengan begitu.
Sebab hatiku adalah pemberianNya yang paling berharga. Dan aku ingin berbahagia, memaafkan, menghargai dan berdamai dengan segala luka yang ada.
Akan ada hari aku melepasmu sebagai yang terakhir. Dengan pendar senja yang tak lagi ranum. Dengan kemilau zamrud yang mulai memudar.
Dan hari itu adalah hari ini, sampai nanti takdirNya mempertemukan kita kembali. Semoga segalanya tetap baik-baik saja..
Meminjam hatimu || 20.15
Ramadhan - 2
Mari Bersama
Kita tidak melangkah sejauh ini hanya untuk menyerah Berhentilah menghitung tantangan yang harus dilalui Mulailah mengingat berapa banyak tantangan yang sudah terlewati. Jangan menyerah. Mari melangkah bersama.
Aku membuat kesalahan bukan karena aku jahat, tapi karena aku seorang manusia. Kalaupun aku boleh memilih, aku tidak akan pernah memilih untuk seperti ini. Tapi, bukannya ada entitas lain yang tidak bisa disalahkan, ya?
Kebaikan memang tidak selalu dibalas oleh orang yang sama. Tapi semoga kita tidak menjadi seseorang yang memutus rantai kebaikan itu dengan keegoisan yang dimiliki.
Jangan meniadakan hanya untuk menang. Jangan menikam namun seolah tak berbuat apa-apa. Jangan berpura baik karena ingin dihargai. Jangan mewujud kata bijak hanya supaya tetap menarik. Jangan pula ambil sikap seolah lelah menjelaskan sebab ingin menutupi kecurangan.
Mereka yang berada di dekatmu tak seharusnya dilukai. Hanya itu, hanya itu yang seharusnya kamu ingat.
Menghargai Doa
Tersadar ketika kita telah mendapatkan kemenangan atas apa yang selama ini kita dambakan dan bagaimana perjuangan serta pengorbanan yang telah kita lakukan untuk sesuatu berharga itu. Di situlah keberhasilan terasa berharga. Sesuatu yang diperjuangkan bertahun-tahun, jatuh bangun, gagal, mencoba lagi, dan begitu seterusnya hingga pada akhirnya keberhasilan memeluk, menenangkan diri. Berasal dari doa-doa dan janji pada Sang Kuasa, “Tuhan, jika memang sesuatu itu baik dan mendekatkan diri padaMu, kumohon kabulkanlah doa-doaku ini, aku berjanji tak akan berbuat dosa-dosa yang telah sengaja lama aku kerjakan.”
Begitulah, cara merayu Tuhan agar apa yang kita damba segera datang dan kita dapatkan. Namun, sayang sekali. Ketika sesuatu berharga itu datang, janji-janji itu terlupakan, seakan tak pernah ingat jika pernah berdoa merayu Sang Pemilik Hidup. Kala sesuatu itu datang, bahagia sudah jiwa ini. Sesuatu yang telah bertahun-tahun diperjuangkan. Namun masih saja, namanya juga manusia. Menginginkan lebih dari yang didapatkan. Masih merasa pemberian Tuhannya tak pernah cukup. Apa lupa jika pernah jatuh bangun memperjuangkannya? Apa lupa pernah menangis kala gagal menamparnya berulang kali? Sekali didapat, mencari yang lain. Lantas untuk apa kau rayu Tuhanmu agar hal berharga itu kau genggam? Untuk apa? Untuk menyamai posisi kawan-kawanmu yang telah mendapatkan hal serupa? Agar kau tak terlihat bodoh? Atau apa? Tuhanmu memberikan apa yang kau pinta, namun kau dengan polosnya pura-pura bodoh tak mengerti, bahwa kau telah menyia-nyiakan doa-doa dan segala perjuanganmu di masa itu.
Kau bilang kala itu, bahwa bertahun-tahun kau merasa hidupmu sia-sia jika hanya belajar untuk memperjuangkan hal itu. Lantas ketika kau dapatkan, kau berpaling untuk hal yang lain. Apakah itu tidak lebih sia-sia? Manusia selalu saja menyia-nyiakan doanya, tak menghargai Tuhannya, lantas marah kala Tuhannya terasa tak adil padanya. Ayolah, belajar bersukur atas apa yang diberikan Tuhan kepada kita. Ayolah, belajar merasa cukup dan menjalani apa yang telah ada di depan mata. Ayolah, belajar tidak mengeluh dan marah jika keinginan kita tak pernah tersampaikan.
Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang menyia-nyiakan doa dan selalu bersyukur serta menghargai Sang Pemberi Kenikmatan.
Mari bersyukur dan selalu merasa cukup,
aksarasaku
Hargai sebelum kehilangan. Ketika ada acuh tak terhingga, ketika hilang baru terasa berharga. Lalu menyalahkan Tuhan dan membuat berbagai macam praduga. Seberapa egoiskah diri ini? Hingga tak peka pada kode Sang Pencipta. Semua yang ada di hidup ini hanyalah titipan. Namun masih saja disia-siakan tanpa merasa bahwa bersama adalah sebuah kelengkapan.
(Jakarta, 2018)
aksarasaku