berfikir sejenak

Origami Around
occasionally subtle
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

@theartofmadeline
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
ojovivo
Jules of Nature
Misplaced Lens Cap
Peter Solarz
we're not kids anymore.
No title available
KIROKAZE
Cosmic Funnies

No title available

Discoholic 🪩
h

#extradirty
hello vonnie
trying on a metaphor
Cosimo Galluzzi

seen from United States
seen from South Korea
seen from Chile

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from France

seen from Malaysia

seen from Netherlands

seen from Germany

seen from United States
seen from Argentina
seen from Iraq
seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Nepal
seen from United States
@mediailmu
berfikir sejenak
Makna Kemerdekaan
Berbicara tentang kemerdekaan, pada hakikatnya ia memiliki beragam makna. 74 tahun yang lalu, saat teks proklamasi dibacakan Soekarno didampingi M. Hatta pada 17 Agustus 1945 tentunya tidak secara eksplisit menerangkan apa makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Saat kemerdekaan itu diproklamirkan maka tentu yang dimaksudnya adalah kemerdekaan dari penjajah.
Lalu, apakah makna kemerdekaan hanya sampai berhenti dari memerdekakan diri dari penjajah? Tentu tidak. Kalau makna kemerdekaan hanya pada kemerdekaan dari penjajahan itu sudah diselesaikan oleh para pejuang terdahulu. Mereka tidak hanya mengorbankan harta dan benda an sich tetapi jiwa mereka pun dikorbankan demi kemerdekaan negara ini.
Lalu apa makna kemerdekaan setelah kemerdekaan dari penjajahan tersebut? Pemaknaan kemerdekaan itu bagi rakyat Indonesia merupakan tugas para generasi setelahnya untuk menjawabnya. Apalagi dalam Pembukaan UUD 1945 ditegaskan bahwa kemerdekaan adalah ‘pintu gerbang’ menuju cita-cita kebangsaan dan keindonesiaan yang sejati.
Sebagai umat Islam yang merupakan umat mayoritas di negeri ini, maka tentunya makna kemerdekaan tersebut tidak hanya ‘bebas’ dari penjajahan bangsa lain tetapi harus mampu dimaknai dalam perspektif Alquran yang menjadi pedoman hidup kita. Alquran paling tidak menjelaskan berbagai kisah kemerdekaan orang-orang terdahulu yang dapat mengilhami kita, bagaimana seharusnya menjadi bangsa merdeka di era globalisasi atau era milinial.
Kisah Nabi Ibrahim, Musa dan Muhammad merupakan kisah yang bisa diambil hikmahnya dalam memaknai kemerdekaan dalam persepektif Islam. Amat menarik jika kita mencermati Surat Al-An’am Ayat 76-79 di mana dalam ayat tersebut dikisahkan perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan. Pencarian Tuhan (Allah) tersebut merupakan upaya Ibrahim dalam membebaskan hidupnya dari orientasi hidup yang diyakininya keliru, tetapi kekeliruan itu tumbuh subur di tengah-tengah masyarakatnya.
Masyarakat Ibrahim saat itu mayoritas mereka menyembah berhala, bahkan yang tidak habis ia pikirkan adalah hasil buah tangan orangtuanya dijadikan tuhan oleh kaumnya. Bagi Ibrahim, penyembahan terhadap berhala merupakan kesalahan besar. Sebab manusia telah melakukan penghambaan yang justru menjatuhkan harkat dan martabat dirinya sebagai manusia.
Penghambaan terhadap manusia lainnya tentunya sangat merisaukan hatinya. Baginya ini sesuatu yang salah dan harus diperbaiki. Namun tidak ada tempat untuk bertanya, sehingga ia mencoba ‘mencari’ kepada sesuatu yang patut untuk disembah. Mulailah pencarian dilakukan, sehingga akhirnya ia menemukan jawaban yang membuat ia tidak sia-sia dalam pencariannya tersebut.
Kalau selama ini, penghambaan manusia terhadap manusia begitu sangat menjatuhkan harkat martabat manusia itu sendiri, tetapi setelah ia menemukan jawaban apa yang selama ini menjadi tanda tanya besarnya, maka bentuk penghambaan itu benar adanya.
Belajar dari pencarian Nabi Ibrahim ini, maka kita juga harus sadar, bahwa kemerdekaan adalah bentuk dari pembebasan diri dari penghambaan terhadap manusia. Di saat kita masih menghambakan manusia, maka sesungguhnya kita belum merdeka. Tetapi ketika kemerdekaan tersebut sampai kepada bentuk penghambaan diri kepada Allah, maka di saat itulah nilai-nilai kemanusiaan kita sudah menemukan apa yang kita cari tersebut. Karena itulah dalam pembukaan UUD 1945, kalimat: berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa merupakan bentuk kemerdekaan kita dari menghambakan makhluk-makhluknya. Jadi sadari itu.
Makna kemerdekaan juga dapat dipetik dari kisah Nabi Musa ketika membebaskan bangsanya dari penindasan Firaun. Keangkuhan rezim penguasa ini membuat mereka tak segan membunuh dan memperbudak kaum laki-laki bangsa Israel dan menistakan kaum perempuannya. Keangkuhan inilah yang mendorong Musa tergerak memimpin bangsanya untuk membebaskan diri dari penindasan, dan akhirnya meraih kemerdekaan sebagai bangsa yang mulia dan bermartabat sebagaimana tertulis di dalam QS Al-A’raaf:127, Al-Baqarah:49, dan Ibrahim:6.
Kemerdekaan negara Indonesia yang diraih, bukanlah ‘hadiah’ dari bangsa Jepang atau Sekutu tetapi bagian dari perjuangan dalam membebaskan diri dari penindasan bangsa-bangsa yang ‘angkuh’ tersebut. Kemerdekaan yang diproklamirkan pada 17 Agustus tersebut hakikatnya juga merupakan momen yang mengakhiri episode keangkuhan dan penindasan rezim kolonial. Walaupun pembebasan sudah selesai, namun harus diingat, tugas terberat dari bangsa ini adalah mempertahankan kemerdekaan itu, karenanya kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang sayang dan cinta kepada rakyatnya sendiri. Bukan kepada rakyat orang lain. Tidak hanya cinta sebatas bibir, namun juga mencintai dan mengayomi dalam bentuk dan tindakan nyata. Ini juga makna kemerdekaan.
Lalu cerminan dari makna kemerdekaan dalam perspektif Islam adalah tentang kisah sukses Nabi Muhammad dalam mengemban misi profetiknya di muka bumi. Nabi Muhammad saat menjalani misinya menghadapi sebuah masyarakat yang dikenal dengan istilah jahiliyah (bodoh). Kenapa disebut jahiliyah karena mereka mengalami apa yang disebut disorientasi hidup. Rasulullah berjuang keras mengajarkan kepada umatnya untuk menyembah Allah Swt. Tidak hanya menyelesaikan soal akidah saja, tetapi Rasulullah juga melakukan upaya-upaya ‘memerdekaan’ masyarakat di bidang ekonomi, sosial dan sebagainya.
Kalau selama ini terjadi penindasan ekonomi di mana Alquran menjelaskan bagaimana kekayaan hanya berputar pada kelompok-kelompok tertentu saja, lalu muncullah ajaran Islam yang dibawa Rasulullah agar masyarakat juga peduli dengan kesejahteraan sosial dan keadilan ekonomi (QS Al-Humazah:1-4; Al-Maa’uun:2-3).
Rasulullah juga mengkampanyekan pembebasan budak, kesetaraan laki-laki dan perempuan, dan kesederajatan bangsa-bangsa. Di dalam QS Al-Hujaraat: 13, Allah menjelaskan bahwa di mata-Nya semuanya sama, tidak ada yang membedakan di antara mereka, kecuali ketakwaan.
Inilah cerminan dalam pemaknaan kemerdekaan menurut Islam. Kemerdekaan yang kita raih dari para penjajah tidaklah berhenti sampai pada Proklamasi 17 Agustus 1945, tetapi harus terus ‘berkobar’ sehingga tidak ada lagi bentuk penghambaan manusia kepada manusia atau penghambaan manusia kepada sesuatu yang ia kreasikan sendiri, dan akhirnya ditemukan makna kemerdekaan secara hikiki seperti penemuan dari pencarian Nabi Ibrahim. Kalau sudah pada titik itu. Maka di situlah kita disebut telah merdeka.
Terkadang ketika kita jatuh dan merasa tidak mampu maka disana sebenarnya Allah SWT sedang menguji apakah bahwa kita mampu untuk menghadapinya.