Hujan terus turun sedari sore kemarin, lebat lalu reda, lalu hujan lagi. Tanpa aku bisa memahami kapan ia benar-benar reda dan kapan ia masih jatuh sebagai gerimis kecil tanpa suara.
Musim tak menentu, namun jam dinding selalu bergerak tepat waktu. Dengan penuh pasti, hari ini memisahkan diri dengan hari-hari yang telah berlalu. Namun masa lalu selalu menjadikan dirinya abu-abu dengan masa kini, seolah kenangan enggan memisahkan diri dari kenyataan. Ruang ingatan pun, tak pernah kuasa menahan kotak waktu tetap rapat terkunci untuk mengingat segalanya. Dewasa, membuat kita perlahan melupa, harus bertahan dan menyesuaikan diri di tengah kerasnya dunia.
Hadirnya rasa lelah tentang hidup itu manusiawi, namun sebagian orang berpikir orang yang lelah dengan apa yang ia jalani adalah manusia-manusia yang tidak bersyukur telah hidup. Padahal rumusnya tidak selalu begitu. Berburuk sangka memang selalu lebih mudah daripada berbaik sangka, bukan? Sejujurnya, aku pun sama sepertimu, sering lelah dengan kehidupan yang terus berlari ini. Lalu menyelipkan tanya dalam hati, Tuhan bagaimana indahnya rasa pulang dengan baik ke sisi-Mu yang abadi?
Aku sering bercanda pada mama, bahwa seseorang yang masih muda sepertiku pun sudah lelah dengan dunia, mama hanya tertawa lalu menimpali dengan kalimat andalannya; makanya bawa bekal yang baik-baik untuk siap pulang kapan saja. Celetukan sederhana, tapi inti dari segalanya.
Menjelang subuh yang mengandung selaksa gaib, hujan dan kesunyian; aku merajutkan doa-doa menuju langit agar sampai kepadamu sebagai balutan tenang yang menyelimuti resah di hatimu.
Semoga sesakit apapun dunia melukaimu dan sedingin apapun hatimu kini karena dibekukan oleh banyak impian yang mati, tetap menjadikanmu manusia yang selalu memiliki hati kecil yang selalu terang dan hangat dalam keterjagaan untuk selalu berbaik sangka pada setiap ketetapan Tuhan.
Sungguh, tak apa merasa lelah, selama lelah itu menjadikan dirimu semakin mengingat-Nya.🤎
Hujan menuju subuh, 20 Februari 2022 04.30