Sebuah catatan agak ngedumel, nggak enak jadi orang yang nggak enakan
Gue—eh, maksudku aku—kadang mikir, jadi orang baik tuh emang salah, ya? Maksudku, bukan baik yang sekadar senyum-senyum ke satpam atau ngucapin “makasih” ke mbak kasir. Tapi yang levelnya udah kayak rela mengorbankan waktu, tenaga, dan kadang harga diri sendiri demi ngejaga perasaan orang lain. Yes, aku salah satu orang yang hidup dengan mental: “yang penting semua senang, aku belakangan.”
Dan ternyata, hidup kayak gitu… capek, cuy.
Aku baru sadar setelah berkali-kali ngerasa lelah, kesel sama diri sendiri, dan ironically, ngerasa nggak dihargai.
“Being too nice invites a lot of disrespect.”
Sakitnya tuh bukan karena orang jahat ke kita, tapi karena kita diam aja waktu mereka ngelangkahin batas. Kenapa? Karena kita nggak enakan.
Nggak enak nolak. Nggak enak bilang enggak. Nggak enak jujur kalau sebenarnya nggak mau. Nggak enak bikin orang lain kecewa, padahal diri sendiri udah lelah banget.
Padahal, jadi orang baik tuh seharusnya nggak identik sama jadi karpet. Tapi entah kenapa, di lingkungan kita, kindness sering dianggap sebagai default role untuk jadi penolong, pendengar, pelayan, penyelamat—semua peran yang melelahkan tapi harus diterima karena… ya, kamu kan “baik.”
Di kantor, kamu yang paling cepat jawab chat walau udah lewat jam kerja. Di tongkrongan, kamu yang selalu “gapapa, ikut aja,” walau sebenarnya pengin pulang cepat. Di rumah, kamu yang nahan emosi biar nggak bikin suasana jadi awkward. It feels noble at first. Tapi lama-lama, kamu jadi invisible. People stop asking what you want. Bahkan, kamu pun lupa cara nanya itu ke diri sendiri.
Lucunya, orang yang terlalu baik itu sering banget dicap “lemah.” Padahal kita ini pejuang, loh. Pejuang kedamaian. Tapi sayangnya, dunia ini lebih sering ngelihat kindness sebagai celah buat dimanfaatin. Dan ironisnya, orang-orang yang kamu jaga perasaannya, belum tentu akan jaga balik perasaanmu.
Titik balik biasanya datang dari satu momen—yang entah itu pengkhianatan, ditinggal tanpa alasan, atau sekadar dilupakan setelah kamu habis-habisan bantu mereka. Di titik itu, kamu nggak cuma sedih. Kamu kecewa, tapi lebih ke kecewa sama diri sendiri. Kok bisa-bisanya nggak jaga batas, kok bisa-bisanya selalu nurutin semua?
Dari sana, baru mulai muncul pertanyaan baru: Apa itu “baik”? Apa itu “tulus”? Dan kenapa harus selalu jadi kita yang mengalah?
Turns out, being kind doesn’t mean being spineless. Being kind means knowing your limits, and still choosing to care—but not at the cost of your own wellbeing. Jadi baik bukan berarti kamu harus rela diinjak. Kamu bisa jadi baik dan tetap tegas. Kamu bisa bilang “tidak” dan masih tetap peduli.
Di dunia yang makin cepat, makin individualis, dan makin sensitif terhadap eksistensi, jadi orang baik bukan cuma tentang menyenangkan orang lain. Tapi juga tentang menjaga diri sendiri. Kadang, yang kamu butuhkan bukan lebih banyak effort untuk menyenangkan dunia, tapi lebih banyak keberanian untuk bilang, “Maaf, kali ini aku pilih diriku sendiri.”
Karena kalau kamu terus jadi orang yang nggak enakan, ujung-ujungnya kamu bakal hidup dalam realitas yang kamu sendiri nggak nyaman di dalamnya.
Dan percayalah, self-respect is the new kind.
• Everything About Overthinking