Menjadi seorang Ibu, kadang terasa seperti...
Musim yang paling gelap dan paling sepi. Kamu melihat ke sekeliling dan diam-diam bertanya-tanya ke mana semua orang pergi.
Orang-orang yang dulu bisa kamu hubungi tanpa berpikir, nama-nama yang dulu selalu berada di urutan teratas riwayat panggilanmu.
Kini ponselmu berdering karena pengingat janji temu, tonggak perkembangan yang diukur dalam minggu dan ons, pemeriksaan kesehatan menggantikan obrolan untuk saling menyapa.
Ada ketegangan yang aneh, merindukan untuk terhubung kembali, namun pada saat yang sama mendambakan keheningan hanya untuk sekadar ada.
Ada ruang kosong di kedua sisi. Di satu sisi, ada kesadaran bahwa perempuan yang dulu pernah menjadi dirimu telah melangkah ke belakang—bukan hilang, hanya sedang berhenti sejenak.
Di sisi lain, versi baru dari dirimu mulai muncul, berakar pada pengabdian, membentuk dan membesarkan generasi masa depan dengan tangan yang selalu penuh dan hati yang terus berkembang.
Tidak ada kehilangan di sini—yang ada hanyalah awal yang baru. Apa yang telah berlalu tidak terhapus; semuanya tersimpan dengan penuh kelembutan.
Sebuah bab yang ditempatkan dengan hati-hati dalam album foto—bertanggal, terperinci, dan dihargai sebagaimana adanya.
Musim ini mungkin terasa sunyi dan tak terlihat, tetapi tidaklah kosong.
Ia sedang melakukan pekerjaan yang sakral, membentukmu perlahan, dengan lembut mengajarimu cara mencintai tanpa batas, cara menjadi lebih lembut tanpa menghilang, cara memulai kembali dari dalam ke luar dunia.
N.a.N | 24 Juni 2026











