Tiga minggu liburan benar-benar terpuaskan dalam 3 hari, terima kasih untuk Nusa Lembongan. Nusa Lembongan memang layak dijuluki "The Real Bali You're Expecting", karena pulaunya yang terpencil dan belum terlalu padat turis memang menjadikannya Bali Tempoe Doeloe. Setelah tarik ulur hati untuk berangkat ke Nusa Lembongan, akhirnya saya menguatkan hati berangkat kesana dengan informasi dari beberapa blog perjalanan. Tidak terlalu akurat karena banyak yang ditulis tahun 2008 jadi banyak kondisi yang berbeda saya temukan di perjalanan. Berangkat pagi buta dengan jalan kaki 30 menit sampai keringetan menuju Perama dan dapat tiket return cukup murah, 30 ribu pp Kuta-Sanur. Sampai disana kepagian dan jadwal speed boat ke Jungut batu baru berangkat jam 9. Sedikit kesal dengan perlakuan sedikit "rasis" dengan penjual tiket yang mana lokal turis disuruh menunggu dulu untuk membeli tiket. Rupanya mereka ingin memprioritaskan turis luar terlebih dahulu karena memang tarif yang beda sangat jauh, 175 ribu untuk bule dan 60 ribu untuk lokal, wajar bila lokal sedikit diacuhkan. Akhirnya dapat tiket setelah menunggu setengah jam, ada pasangan bule yang sedang menunggu speed boat ke Lembongan tapi saya terlalu malu untuk menegur dan mengajak berbincang. Saya memutuskan menghabiskan waktu dengan berjalan kaki menikmati pantai Sanur di pagi hari dan saya melihat ada pertandingan sepakbola pantai sedang digelar. Ups, ada bule cantik juga yang sedang menonton. Berhubung urat malu saya membesar, saya tidak berani mengajak bicara dan jadinya malah dianya asyik mengobrol dengan pelatih bola tim Denpasar. Yup, kesempatan datang sekali, jangan sia-siakan peluang. Ternyata pertandingan bola cukup seru sambil sesekali lirik-lirik genit ke bule cantik, waktu berlalu cepat, hujan mulai menetes dan speed boat siap berangkat. Waktu yang ditempuh hanya setengah jam, sampai disana saya memutuskan langsung menyewa motor untuk mempermudah menjelajahi pulau kecil ini. Karena tidak ada polisi, maka disini sah-sah saja motor tanpa helm dan nomor plat, hehe... Berbekal peta gratis dari penyewa motor, sepertinya hanya butuh kurang dari satu hari untuk menjelajah dua pulau kecil ini, karena mengelilingi semua pantai dan pura hanya memakan waktu kurang dari 3 jam. Ada satu lokasi unik bernama Gala-Gala Underground House. Ya ini semacam gua bawah tanah berfungsi sebagai rumah dulunya yang dibuat oleh manusia. Punya 7 pintu masuk dan sistem ventilasi unik sehingga saat masuk ke dalam kita tidak akan merasa pengap. Semua lokasi pantai disini sangat mirip Bukit Peninsula dimana banyak "hidden private beach" dengan karang tinggi tajam menjulang melindungi pantai. Untungnya saya datang saat low season dimana kita bisa mengakses hampir semua pantai private tersebut. Umumnya sebagian besar pantai disini dikuasai oleh bar, resto, dan villa. Susah diakses oleh turis lokal. Dream Beach adalah pantai favorit saya, airnya biru kristal jernih dengan lanskap yang aduhai cantiknya, plus cewek-cewek bule yang berjemur juga top quality semua. Miss World saja minder dibuatnya, hehe... Tidak jauh dari Dream Beach, ada lokasi sunset kurang ajar kerennya bernama Devil's Tear. Berupa karang besar tajam yang bila ombak tinggi pecah menghantamnya akan menghasilkan semburan air laut sangat tinggi. Itulah sebabnya dijuluki tangisan iblis. Setelah puas menjelajah pantai, baru saya mencari hotel. Berhubung sudah mengeluarkan banyak uang untuk sewa motor, tidak ada salahnya berhemat dengan menginap di budget losmen. Sekadar informasi, villa kelas atas di Jungut batu dengan tipikal pondok tradisional dan kolam renang hanya berkisar 300-400 ribu dimana dengan fasilitas tersebut bisa 4-5 kali lipat lebih murah dibandingkan Ubud dan Kuta. Jadi, untuk pasangan bulan madu, sangat disarankan menghabiskan waktu anda disini. Setelah mendapatkan losmen murah meriah bernama Jonny's Losmen plus nego sehingga dapat 70 ribu/malam, saya lalu berburu informasi diving ke dive center di Jungut batu. Sialnya, forecast diving menunjukkan 3 hari kedepan ombak dan arus sangat tinggi sehingga susah untuk diving ke Manta Point dan Crystal Bay. 2 spot terkenal dimana kita bisa melihat ikan mola-mola dan manta. Cuaca paling baik justru hari saya datang dan Senin depan. Saya kemudian memesan untuk siang ini dan ternyata penuh semua. Tidak mau kehilangan momen, saya pacu motor ke Mushroom Beach untuk bertanya ke Dive Center lain untuk penyelaman siang ini juga dan hasilnya sama, terpaksa pesan untuk besok pagi. Setelah makan malam di Warung 99, saya sadar bahwa biaya hidup mahal disini karena hampir semuanya dibawa dari Denpasar. Buah-buahan selain pisang dibawa dari Denpasar. Es batu sampai piring juga. Ya standar pulau-pulau kecil di kepulauanlah. Jadi, jangan kaget bila harga bensin disini mencapai 10 ribu per liter. Penghasilan utama penduduk Lembongan itu rumput laut yang akan diekspor ke Jepang untuk dijadikan bahan kosmetik dsn makanan. Penduduk disini mayoritas Hindu jadi tidak ada mesjid dan plang makanan halal di warung-warung. Banyak anjing-anjing liar tapi jenis mahal seperti Chihuahua, Corky, German Shepperd dan Golden Retriever berada disini. Ini entah bule kampret mana yang meninggalkan peliharaannya disini. Jadi buat anda muslim garis keras, mending jangan liburan kesini, kasihan anda nantinya! Hari kedua di diving di Lembongan Dive Center. Tempat yang cukup memuaskan dari segi pelayanan dan harga relatif bersahabat, sekitar 750 ribu/2x diving incl. makan siang dan dive gear. Forecast yang dijelaskan mereka tepat karena arus sangat tidak bersahabat sehingga saya agak kesulitan diving di spot pertama. Untungnya saya dapat cepat menyesuaikan diri setelah 2 tahun tidak pernah diving lagi. Meskipun telinga kanan saya tetap sulit diekualisasi, tapi saya mampu bertahan di kedalaman 19 meter, lumayan lah. Di spot pertama, Buyuk, saya melihat purple fish, mooray eel, 2 penyu, lion fish serta macam-macam nudi branch yang saya tidak hafal namanya. Spot kedua di Pura Ped lebih banyak lagi ragam ikan tropis karena spot yang berbentuk wall. Karang yang sehat dan indah serta ragam biota laut memuaskan mata. Ada 7 peserta dive di boat saya, pasangan Polandia yang saya temui di pelabuhan tapi malu untuk disapa, pasangan dari Spanyol, dan pasangan dari Jerman, dan satunya lagi saya. Kebayang awkwardnya berada di tengah-tengah mereka, walaupun suasana sedikit mencair setelah diving di spot pertama tapi tampaknya para diver ini kelas serius semua, hanya cewek Spanyol yang bisa diajak bercanda. Hehe, yang berbau latina memang lebih menggoda. Setelah puas diving, kembali ke losmen dan sangat letih sehingga memutuskan untuk santai di losmen saja. Tamu-tamu losmen baru bermunculan, peselancar pemula Austria dan pasangan diver Jerman. Tak terasa menghabiskan waktu berbincang banyak hal dengan mereka. Menjelang sunset, saya menuju Devil's Tear dan melihat sunset yang sangat indah. Sialnya, saya lupa bawa kamera. Ah sudahlah, saatnya menikmati dunia. Tampak banyak pasangan bule menunggu sunset di pinggir bukit yang berada di belakang karang tajam itu. Melihat semburan air laut yang tingginya mencapai 3 meter itu membuat saya nekat menaiki karang tersebut dan berada tepat di tengah-tengah semburan liar air laut tersebut. BYAARRR, semburan air laut membasahi badan saya, sensasi yang melebihi arung jeram ataupun roller coaster. Melihat saya menikmati semburan itu, beberapa orang pun ikut-ikutan turun dan akhirnya asyik masyuk berbasah-basahan. Puas dengan sunset, pulang ke losmen dengan menggigil kedinginan. Disambut dengan senyum hangat dua cewek bersaudara dari Jerman dan dilanjutkan dengan obrolan ringan, kita memutuskan untuk snorkeling berempat besok pagi. 2 cewek Jerman, satu bule surfer Austria dan saya. Perfect! Setelah mengisi perut keroncongan, pulang ke losmen dan lagi-lagi terlibat obrolan seru semalam suntuk dengan para gadis Jerman, malam yang indah. Hari ketiga, snorkeling. Forecast dive center tepat, arus masih kuat jadi perahu snorkeling tidak berani memutuskan ke Manta Point, sehingga kami menghabiskan waktu di Gamat dan Mangrove Point. Arus di Gamat sangat kuat sehingga tidak perlu banyak paddling fin, banyak koral lunak disini. Pindah ke Mangrove, disini banyak sekali school fish, beragam ikan tropis bergerombol, sungguh puas melihat ikan tersebut dekat sekali bahkan ada beberapa ikan berani menggigiti masker saya, hehe...Disamping ikan-ikan tropis, saya juga melihat Putri Duyung menari dengan indahnya di kedalaman laut, sungguh memukau hati menggoda iman. Selesai snorkeling, tampaknya geng kami jadi susah dipisahkan. Santai mengobrol di pondok Mangrove berbincang banyak hal dan saling goda, dilanjutkan makan siang bersama di warung vegetarian. Saat perjalanan pulang ke losmen, saya dan Phillippe, surfer Austria berpapasan dengan dua cewek bule yang baru keluar dari gang, mereka tampak gugup melihat motor kami dan oleng membawa motor matic nya. Entah terkejut atau panik, cewek tersebut justru mengegas motornya lebih kuat sehingga menghantam dinding tembok yang sangat tajam. Ada yang tidak beres, saya minta Phillippe menghentikan motor dan melihat situasi 2 cewek ini. Penumpang di belakang tampak pincang, saya mengamankan motor mereka dan ada penduduk lokal sigap membopong penumpang cewek ini. Situasi yang tidak sedap dipandang terlihat, penumpang cewek ini terluka cukup parah, tangan dan kakinya lecet berdarah, tapi yang membuat merinding adalah daging di dengkulnya terkelupas dalam sehingga saya melihat jelas tulangnya menonjol disana. Keadaannya pucat dan hampir pingsan sehingga diputuskan dibawa penduduk lokal ke rumah sakit. Pengendaranya juga terluka lecet dan berdarah, bergetar ketakutan, kita paksa ke rumah sakit tapi dia memohon ketakutan ke Phillippe; "Please don't bring me to hospital, this local guy will ask me a lot of money!" ibanya...tapi tidak ada jalan lain, motornya dibawa penduduk lokal dan dia dibonceng ke rumah sakit. Sampai di losmen, kita berbincang dengan Lisa, si sulung Jerman yang kebetulan perawat. Dia tampak shock karena harusnya bila dia melihat kejadian tersebut dapat segera melakukan P3K. Kecelakaan dapat merusak liburan anda sekejap mata, ujar saya, disambut tatapan tajam Dana dan Lisa yang tahu saya ugal-ugalan ngebut di jalan. Hehe... Melihat ombak yang cukup kuat, Phillippe memutuskan berpisah dari geng dan berselancar. Para gadis Jerman ikut dengan saya berjemur di Dream Beach dan sunset di Devil's Tears. Oh yes, Poppies Dog Ressurection! Selanjutnya sih sulit dijelaskan dengan kata-kata, terlalu banyak bumbu romantisnya, caelaaah... Pulang dari sunset ke losmen, dinner bareng berempat. Saya, Dana, dan Lisa memutuskan pulang ke Bali besok dan Phillipe bertahan di Lembongan 2-3 hari lagi. Pulang ke losmen masih dilanjut obrolan saru semalam suntuk, sayangnya ada rombongan bule baru di losmen yang berisiknya minta ampun, merusak suasana saja. Keesokan pagi Dana & Lisa berangkat lebih awal dengan kapal lambat dan saya 2 jam setelahnya dengan kapal cepat. Seperti dijelaskan di awal, tarif lokal dan bule beda sangat jauh, 20 ribu/60 ribu untuk kapal jukung/lambat dan 60 ribu/175 ribu untuk kapal cepat. Sampai di Sanur hampir jam makan siang, lalu mencicipi sup ikan A Beng yang legendaris itu. Menunggu sekitar 45 menit di Perama dan pulang kembali ke Kuta. 3 hari yang menyenangkan, pulau yang indah, pantai yang cantik, langit mempesona dengan bintang dan bulan separo, bawah laut yang memukau, dan yang paling penting, your travelling buddy ecstasy were incredibly super smoking hot! Huahaha....