Jangan-jangan belum ada 🙄 . . . Ini cerita ke-11 : Qurbaan #30HariBeraksara_11 #BulanPeduliBismillah #BismillahLillahFillah https://www.instagram.com/p/B7lyra3JKjz/?igshid=1uiosndh4xdoi
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Discoholic 🪩

roma★
One Nice Bug Per Day

No title available
YOU ARE THE REASON
occasionally subtle

No title available
Not today Justin
Game of Thrones Daily
Lint Roller? I Barely Know Her

tannertan36
hello vonnie

PR's Tumblrdome
d e v o n

Andulka
Keni
official daine visual archive
Sade Olutola

shark vs the universe
seen from United States
seen from Vietnam
seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Singapore
seen from Thailand
seen from Canada

seen from Colombia
seen from Argentina
seen from Philippines
seen from Egypt
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@mellyoktafianii
Jangan-jangan belum ada 🙄 . . . Ini cerita ke-11 : Qurbaan #30HariBeraksara_11 #BulanPeduliBismillah #BismillahLillahFillah https://www.instagram.com/p/B7lyra3JKjz/?igshid=1uiosndh4xdoi
Cerita ke-10 : Hai, Pejuang! Ternyata banyak yaa yang lagi berjuang juga 😁 Aku kasih tau bahwa, "kamu gak sendirian!" Pada dasarnya, semua yang ada didunia ini ya memang sedang berjuang, meski cara berjuang dan apa yang diperjuangkan mungkin beda. Mulai dari yang sederhana, sampe yang butuh kekuatan ekstra. Masing-masing punya kadarnya. Ada yang memperjuangkan dunia, ada juga yang memperjuangkan akhiratnya. Intinya sama, sama-sama berjuang. Aku sering, ngerasa susah buat istiqomah sabar. Gak ngeluh, nahan marah, atau maafin oranglain, misalnya. Gitu aja kadang masih susah, jadi masih harus diperjuangkan. Bahkan, dibeberapa situasi itu jadi susah banget malah. Wkwk Tapi yaa.. Balik lagi, namanya berjuang ya pasti susah dong. Lha kalo gampang ngapain harus diperjuangkan, ya tho?? Wkwk 😂 Teruntuk aku, kamu, dan kita semua yang sedang berjuang untuk memperjuangkan apapun, semangat terus ya! Jangan kasih kendor ikhtiar dan do'anya. Pastikan yang kita perjuangkan di-ridho'i sama Allah. Kejar terus ridho-Nya, biar yang kita perjuangkan jadi berkah. Selamat berjuang, Semangat terus, Pejuang! #30HariBeraksara_10 #BulanPeduliBismillah #BismillahLillahFillah https://www.instagram.com/p/B7gWYn7pYtj/?igshid=1vv571t6ha0xw
Cerita ke-9 : MASUK SURGA SEKELUARGA Caranya? Pakek rumus TIGA-SALING ; Saling yang pertama, • Saling Memaafkan. Kita itu, perlu banget nambah stok maaf khususnya di internal keluarga kita. Biar apa? Biar cinta kita gak berkurang untuk keluarga. Setiap kali ada yang salah, jadi gak langsung marah-marah. Kita mau coba memaafkan, karna maaf itu meredakan amarah, mengajarkan sabar, melekatkan tenang. Saling yang kedua, • Saling Sayang. Rasa sayangnya dipupuk terus, jangan sampe mati. Rasa sayang yang bakal bikin kita mampu menguatkan satu sama lain. Rasa sayang yang terus terbalut oleh yang baik, akan menjadikan kita sama-sama bertumbuh pada kebaikan. Dan saling yang terakhir, • Saling Minta Maaf kepada Allah Sering-sering minta maaf, mintain ampun keluarganya. Jadi, istighfarnya gak cuma buat diri sendiri, tapi juga istighfarin suami kita, anak-anak kita, orangtua kita, kakek-nenek dan keturunan kita selanjutnya)." #30HariBeraksara_9 #BulanPeduliBismillah #BismillahLillahFillah https://www.instagram.com/p/B7bZ8bDJrFm/?igshid=1i47k9pmquigc
Cerita ke-8 : Tangerang Pertengahan taun lalu, Allah pindahin aku ke tempat ini. Kalo dibandingin, jauh lebih enak tinggal di Jogja, pasti. Udah hafal jalan, udah bisa survive hidup sendirian, dan yang paling penting, ngaji disana gampang. Sekalinya pindah kesini, rasanya luarbiasa, jalannya rusak, sampe 3x ganti ban motor dalam sebulan karna bocor 😂 ngafalin lagi jalanan dari awal, mana musti balapan sama mobil-mobil gede. Dah gitu ngaji juga susah, masih harus nyari-nyari. Kajian terdekat aja setengah jam dari rumah. Wkwk Tapi dari semua yang susah itu, aku baru sadar ternyata ini justru menambah kadar sabar. Apalagi ditempat kerja, Sadar gak sadar, kebawa sabar 😂 Nikmat semangat ngaji yang berkali lipat lebih banyak, baru dirasain setelah harus bersusah-susah nyari lokasi kajian 😂 Nikmat capeknya Allah tambah, setelah ngerasain hidup disini 10x lipat lebih capek daripada dijogja. Nikmat dunianya sedikit-sedikit Allah kurangin, sadar gak sadar kesempatan dapetin nikmat ujiannya yang ternyata Allah tambah. Kabar baiknya, Allah dekat dengan mereka yang sabar. Berarti, ketika aku dikasih ujian sama Allah, aku punya satu kesempatan untuk satu langkah lebih deket sama Allah 🤗 iya gak si?? Apa aku kepedean ajaa wkwk Jadi inget apa kata Ust. Firanda : "kalo masalahnya bikin kamu makin deket & bergantung sama Allah, maka itu ujian. Artinya kamu dicintai Allah. Tapi kalo masalahnya justru bikin kamu makin jauh dari Allah, makin mikirin dunia, berati itu azab." Auto mikir, kalo masalah ini gak bikin aku makin deket sama Allah, azab dong 🙄 naudzubillaaaah! Dari sekian kota yang pernah aku tinggali, rasa-rasanya, kota ini yang paling banyak menuntut sabar 😂 Kemarin, Ust. Hanan bilang gini : "Ustad itu cuma ngajarin kita teori sabar, prakteknya ya lewat ujian." Iya juga ya, kalo bukan lewat ujian, ya kita gak bakal tau gimana rasanya sabar. Tau teorinya doang. Wkwk Terakhir, walaupun masih sering ngeluh, tapi syukurku terus berusaha aku tambah tiap hari. Salah satunya, syukur karna masih sadar untuk sabar hari ini. Selamat menjaga nikmat sabar dimanapun kamu berada 🤗 #30HariBeraksara_8 #BulanPeduliBismillah #BismillahLillahFillah (at Tangerang) https://www.instagram.com/p/B7WNtBDp5Sk/?igshid=1vujwh1a7u2uc
Cerita ke-7 : HIKMAH BULLYING Bullying ini identik banget sama masa sekolahku. Aku pernah jadi korban bully, wlpn gak parah, sekedar bully antar senior-junior di sekolah. Tapi parah gak parah efeknya sama gak sih? - NYAKITIN. Iya to?? Bully itukan nyakitin oranglain lho. Dari cerita-cerita di HL Bullying tadi pagi, aku dapet 2 efek dari bullying. Pertama, menguatkan. Ada orang yang justru jadi kuat karna bully, hatinya jadi lebih peka, dan tumbuh jadi baik. Jadi ngerasa jangan sampe aku melakukan hal yang sama ke oranglain, aku gak mau oranglain sampe merasakan sakit yang aku rasain. Ini positif. Kedua, melemahkan. Mungkin kadar bully yang lebih banyak, berturut-turut dalam jangka waktu yang lama. Atau bisa jadi karna hatinya yang udah gak kuat dan tertekan. Ini yang bahaya, jatohnya jadi dendam. Bisa ke diri sendiri, bisa banget ke oranglain. Gak pernah ada yang tau, efek dari lisan dan tindakan kita ke oranglain dalam bentuk dzolim itu bakal jadi efek yang pertama atau yang kedua. Intinya, jangan pernah dengan sengaja dzolim sama oranglain. Serem lho, bukan cuma dampaknya ke oranglain, tapi ke diri kita sendiri. Itu Allah udah jelasin di Qs. Ibrahim : 24. Pahala kita di transfer lho ke orang yang kita dzolimi. Dan kalo orang itu berdoa yang aneh-aneh buat kita, auto Allah ijabah. Gak serem apaaa 🙄 Teruntuk yang pernah jadi korban bullying, semoga segera Allah pulihkan hatinya. Karna cuma Allah yang bisa kuatkan kita. Dan teruntuk yang pernah dengan atau tanpa sengaja jadi pelaku bullying, semoga Allah tambahkan sadar pada hatinya. Bismillah yaa.. Semoga Allah jauhkan kita dari kegiatan bullying dan bentuk kedzoliman lainnya. Semoga Allah bantu jaga lisan kita, tangan kita, mata, telinga, pun hati kita. Bismillah ❤ #30HariBeraksara_7 #BulanPeduliBismillah #BismillahLillahFillah https://www.instagram.com/p/B7Q_npqJWLi/?igshid=1hr1fm5j5w4oa
Cerita ke-5 : Bukti Cinta "sabar itu ada batasnya, Mell." - kata temenku yang waktu itu lagi emosi. Mmm.. Keknya aku gak sepakat deh 🙄 Karna sampe sekarang aku gak nemuin batasan sabar itu sampe dimana. Yang ketemu malah perintah untuk terus dan terus perbanyak sabar. Sampe akhirnya ketemu ayat-ayat itu. Luar biasa gak sih efek sabar? - Nenangin. Ngerasa gak sih? Setengah masalah kita selesai setelah kita tenang. Itulah bukti cinta Allah ke kita, walaupun masalah belum selesai, dengan terus bersabar dan mengingat-Nya, hati kita akan tenang. Dah gitu dihadiahin surga pulaaak 😍 Maasyaa Allah ❤ Selamat menjaga nikmat sabar 🤗 #30HariBeraksara_5 #BulanPeduliBismillah #BismillahLillahFillah https://www.instagram.com/p/B7GwL-uJ37a/?igshid=13zbfq9vs90q1
Cerita ke-3 : Nikmat Peduli Bertemu dan melihat beberapa orang di lingkaran yang berbeda, sempat membuatku khawatir, bagaimana jika nikmat peduli ini Allah cabut? Tidak lagi ada rasa ingin membantu yang butuh bantuan, tidak lagi ada rasa ingin menolong yang harus ditolong. Tidak lagi peduli atas apa yang terjadi pada oranglain. Kemudian, yang penting hanya aku. 😱 Kebayang gak kalo kita udah gak punya kesempatan lagi untuk jadi manfaat, untuk berbuat baik? Kebayang gak betapa sedikit pahala yang bisa kita kumpulin, padahal dosa kita terus mengalir. Ya Allah, naudzubillah. ~ Kalo kita liat oranglain butuh bantuan dan kita diem aja, ngerasa biasa aja, ngerasa gak perlu melakukan apapun, mungkin gak si Allah pelan-pelan mulai mencabut nikmat peduli kita? Sedikit demi sedikit, sampe akhirnya habis. Sampe kita gak lagi peduli sama siapapun, dan akhirnya, Allah juga jadi gak peduli lagi sama kita. Ya Allah, naudzubillah. Mari sama sama berdo'a, supaya kita tetap dianugerahi hati yang peka, yang terus bisa merasa, yang terus mampu peduli. Dan sisa-sisa nikmat peduli dalam hati kita ini juga harus dijaga. Dijaga agar terus ada, syukur-syukur bertambah. Bagaimana caranya? Yaitu dengan tidak berhenti membantu siapapun yang perlu dibantu. Kali ini, ada yang sudah siap memfasilitasi. Iya, di slide terakhir. Untuk yang mau bantu share, boleh DM aku untuk content donasinya, dan bagi yang mau ikut donasi, pengumpulannya gak di aku, yaa.. Karna kali ini langsung ke @bismillahofficials temen temen bismillah yang nanti memfasilitasi kita ❤ Selamat menjaga nikmat Allah yang sangat berharga ini, semoga Allah ridho atas ikhtiar kita. Barokallah 🤗 #30HariBeraksara_3 #BulanPeduliBismillah #BismillahLillahFillah https://www.instagram.com/p/B68U-R6pg65/?igshid=1urg0g6f2rcbr
Ceritaku ke-2 : Perempuan, Sabar & Syukur Dipertengahan 2019, Allah pindahkan aku ke tempat kerja yang baru. Disini, banyak sekali yang berubah, banyak sekali yang berbeda, banyak sekali yang hilang, pun banyak sekali yang datang. Sesekali, ini membuatku khawatir. Diperlakukan tidak sebaik sebelumnya kadang memicu rasa tidak nyaman datang. Sampai akhirnya, rasa takut ikut hadir, penuh. - Utuh. . Capek, mengulur sabar jadi rutinitas, menjadi lebih sering, bahkan sangat sering. Padahal, rasanya selama ini aku sudah cukup sabar. Tapi sekarang justru sadar, sabarku masih kurang, syukur pun masih jarang. Mungkin, Allah mau aku menambah keduanya. Karena seiring dengan terus bertambahnya usia, sabar dan syukurnya juga harus terus bertambah. - Dan bertumbuh. Ingat apa kata Rasulullah, bahwa neraka dipenuhi oleh orang yang fasik. Dan orang-orang fasik itu adalah para perempuan. Perempuan-perempuan yang tidak mau bersabar saat diberi masalah, dan tidak juga bersyukur ketika diberi nikmat. (HR Ahmad No. 14983) Ya Allah, naudzubillah. Ternyata, inilah cara Allah untuk mengingatkan, mengevaluasi, bahwa ada sabar dan syukur yang harus diperluas. Dengan cara mempertemukanku dengan orang-orang dan lingkungan baru yang sangat menuntut sabar. Dengan berbagai diagnosa pasien yang membuatku sadar, ada syukur yang masih sangat kurang. . Karena sehat itu tetap mahal, sekalipun kamu punya jaminan kesehatan. Jadi, terus jaga kesehatan, yaa.. 🤗 #30HariBeraksara_2 #BulanPeduliBismillah #BismillahLillahFillah https://www.instagram.com/p/B63PbGmJxVC/?igshid=7sqxuuvelome
Ceritaku ke-1 Coba kita bandingkan, 2018 & 2019. Apa sih yang kurang? Apa-apa aja yang berhasil bertambah? Kebermanfaatan kita? Gimana?? Bertumbuh, kah? Jika ketidakbaikan yang justru bertambah, jelas kita harus memperbaikinya. Dear aku dan mimpi-mimpiku di 2020, kita coba lagi ya.. Kita ulang yang memang harus diulang, Kita perbaiki yang masih kurang baik, Kita belajar lagi, kita rayu Allah lagi. Semoga Allah tetap membersamai kita di 2020 ini, mari sama-sama kita keraskan ikhtiar, kita langitkan kembali do'a-do'a. Karena resolusi itu target, bukan sekedar tumpukan harapan. kita perlu sertakan ikhtiar, pada setiap list do'a kita. Selamat berjuang, Pejuang! Barokallah ❤ #30HariBeraksara #BulanPeduliBismillah #bismillahlillahfillah https://www.instagram.com/p/B6yKIAHJUyr/?igshid=sdftko9xekpk
Jika masih merasa jauh,
maka segeralah mendekat.
"Rasanya, ada banyak yang ingin dibeli. Tapi ternyata, lebih banyak yang harus diberi."
bagaimana jika bandingannya bukan lagi Memberi dan Diberi, melainkan Memberi dan Membeli.
Pasti kita semua hafal dengan ungkapan 'Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah'. Bahkan pada pengamalannya pun kita khatam. Kita paham, bahwa lebih baik memberi daripada diberi.
Tapi, bagaimana jika perbandingannya berubah, antara memberi dan membeli ?
Sebagai perempuan, yang merasa ada banyaaaaak sekali kebutuhannya, memberi dan membeli seringkali menjadi perdebatan panjang dalam hati.
Mumpung ada uang, ada gamis yang bagus, pun murah, kenapa tidak?
Mumpung ada uang, ada diskon jilbab di brand kesayangan, kenapa tidak?
Mumpung ada uang, stok tas yang dari kemarin habis, sudah restok lagi, jumlahnya pun terbatas, kenapa tidak?
Dulu, menurutku, mumpung ada kemampuan membeli, dan ada juga kesempatan membeli, ya tidak jadi masalah. - Toh gak setiap bulan, hanya ketika ada kesempatan, dan ada uang.
Dulu, rasanya itu adalah keputusan yang cukup bijak dalam membelanjakan harta.
"Insya Allah, gak dosa lah, yaa.." - pikirku membenarkan.
Sampai akhirnya, Allah mau hijrahku naik kelas. Caraku membelanjakan harta, terasa perlu lebih bijak lagi. -Hijrah harta level up.
Allah pertemukan aku dengan banyak orang-orang baik, satu-persatu. Mereka yang gamis dan jilbabnya bukan yang mahal, tapi sedekahnya banyak. Tas dan sepatunya bukan pula branded, tapi sangat rajin berbagi dengan oranglain.
Seringkali aku lihat, orang-orang yang lebih mengutamakan oranglain daripada dirinya sendiri. Bukan hanya pada penampilan, bahakn urusan makan pun demikian. Merekalah orang-orang yang peka hatinya.
Allah kasihtau aku, bahwa diluar sana, ada banyak perempuan yang jauh lebih bijak membelanjakan hartanya.
Satu hikmah yang aku simpulkan kemudian, bahwa sekalipun ada banyak yang ingin mereka beli, mereka sadar bahwa ada lebih banyak yang harus mereka beri.
Ini, seperti menjadi rem bagi diriku sendiri dalam berbelanja. Ketika aku mulai tau, dan paham akan hal itu, rasanya butuh waktu lama sekali untuk akhirnya memutuskan membeli sesuatu, atau tidak. Sebesar apapun keinginanku.
Pertimbangan itu rasanya semakin panjang, butuh lebih banyak alasan untuk akhirnya membeli.
Dan rasanya, ini membuat hidupku jauh lebih ringan. Tidak terlalu banyak barang, karena sebelumnya memang sudah pelan-pelan mengosongkan kamar. Mengeluarkan yang dirasa tidak lagi terpakai. Yang masih manfaat disumbangkan, yang sudah tidak ya dibuang.
Coba menerapkan gaya hidup minimalis versi Rosulullah, siapa tau Allah hitung sebagai amalan sunnah, kan?
Rasanya juga lebih bahagia, karena lebih banyak memberi. Bukankah "Man as'adunnas, Man as'adannas" ?
(Orang yang paling bahagia adalah yang mampu membuat oranglain bahagia).
Bukankah setiap orang senang dibantu? Apalagi ketika mereka memang sedang butuh bantuan.
Bantulah mereka yang membutuhkan, salurkanlah nikmat bahagia dari Allah melalui tangan kita.
Membeli memang tidak membuat kita berdosa, hanya saja rawan jadi sia-sia, tidak berpahala. Sayang, kan?
Jadi, jika sudah hatam dengan "Memberi vs Diberi", maka kita perlu hijrah harta level up, ayo sama-sama hatamkan juga "Memberi vs Membeli".
Barokallah ❤
Hay, aku mau cerita ☺ #sebatik #sebatikku #pulausebatik #tapalbatas #maspul #sebatiktengah #generasibaktinegeri #GBN (at Sebatik Tengah) https://www.instagram.com/p/BwTWhM7JOZ1/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=6tn8zie7784c
Belajar dari Ibok Kirana
Dari caption Ibuk di postingan foto Kirana yang ini, kita bisa belajar tentang ikatan emosional yang seorang Ibuk turunkan pada anak, juga tentang sabar yang harus lebih dari biasanya.
Dari sini kita bisa tau apa yang bikin Kirana menjadi anak yang sangat lembut hatinya, pintar, penyabar. Tidak lain karena treathment dari Ibuk yang juga lembut hatinya, Ibuk yang pintar, Ibuk yang sabar.
Bagaimana pertumbuhan anak sangat bergantung pada bagaimana orangtuanya mendidik mereka.
Dear calon Ibuk-Ibuk, pintarnya anak bergantung pada pintarnya kita.
Baiknya anak bergantung pada baiknya kita.
Sholeh/Sholehahnya anak bergantung pada sholeh/sholehahnya kita.
Dan semua kepribadian itu, gak bisa kita didapatkan secara instan untuk ada pada diri kita, semuanya melalui proses yang panjang, melalui banyak treathment hal-hal baik yang kita jadikan kebiasaan.
Membiasakan hal baik itu baik, teman-teman. Tidak ada yang sia-sia dari kebaikan yang diusahakan. Percayalah.
Biasakan hal-hal baik terjadi dalam keseharian kita, tidak mengulur waktu itu baik, tidak membuat oranglain menunggu itu baik, tidak mudah beropini negatif itu baik, dan tidak bermain gadget saat teman sedang bicara itu pun baik. Jadikan kebaikan-kebaikan yang sederhana ini terjadi setiap kali kesempatan berbuat baik itu datang.
Latih hati menjadi lebih peka, lebih mudah merasa, lebih mudah peduli dan lebih mudah berbagi. Ingat teman-teman, ini tidak bisa instan. Jika tidak dimulai dari sekarang, mau dimulai kapan? Katanya mau nikah muda, kok persiapannya masih ditunda-tunda??
Yang disebutkan diatas hanya sebagian kecil dari banyak sekali kesempatan baik yang bisa kita raih. Ini penting untuk kita sadari, bahwa kesempatan baik itu diberikan Allah pada semua hamba-Nya, karena Allah itu Maha Adil. Tapi, tidak semua hamba-Nya bisa peka, bisa jelih memanfaatkan setiap kesempatan yang diberikan. Ada yang menangkap kesempatan itu dengan sangat semangat, gercep. Tapi ada juga yang melewatkannya begitu saja, bukankah melewatkan hal baik sama saja melewatkan sebuah pahala untuk hilang begitu saja? Hilang sia-sia.
Kuncinya adalah peka, teman-teman.
Selamat bersiap-siap dengan sebaik-baiknya persiapan, para calon Ibuk yang baik. Semoga kita sudah layak ketika yang menjemput sudah datang. Barokallah 💕
Tadi, Jogja baru saja mati listrik.
Tapi kemudian aku menyadari satu hal, bahwa ternyata Allah tidak pernah memberikan kita gelap.
Iya, karena malam tanpa lampu pun ternyata terang. Tidak percaya??
Coba nanti, kalo mati listrik, jangan buru-buru cari lampu ataupun lilin. Coba diam sebentar, sabar.
Pelan-pelan langitnya tampak terang, cahayanya mulai bisa kita rasakan.
Allah tidak membuat malam dengan gelap, hanya saja kadar cahayanya sedikit diturunkan. Meredup, tidak seterang siang.
Bukankah seredup-redupnya cahaya dalam gelap adalah terang?
Ternyata, Allah tidak pernah membiarkan kita berada dalam kegelapan. Allah hadirkan cahaya redup yang menenangkan bagi mereka yang peka.
Subhanallah.. Allah baik sekali, yaa.. 😅
Karirmu moncer, pendapatan gak kira-kira, tapi pas ada panggilan adzan kamu ga beranjak dari tempatmu berada. Sementara sepuluh meter darimu, ada tukang sapu, saat ada panggilan adzan dia tinggalkan sapunya dan bersegera menyambut panggilan-Nya. Siapa yang lebih Allah sayang?
— Taufik Aulia
Sholatnya 5 waktu, tapi lalai.
Lalai waktunya.
Astagfirullah..
Belajar bilang "Gapapa" dan praktek sabar Kemarin, aku ke Solo untuk dateng ke Bismillah Writting Summit di UNS. Semua sudah direncanakan dan di siapkan dari awal, rinci. Dari timeline sampe budgetingnya. Tapi, semuanya berubah di hari H. Rencana berangkat jam 5.00 dari kos, pemberangkatan kereta jam 5.30. Qodarullah ada sesuatu ba'da subuh yang bikin aku jadi berangkat jam 6.00 dan harus cari jam pemberangkatan lain dari kereta lokal ini. Ok, gapapa. Mungkin Allah ridhonya aku berangkat jam 6.00 dari kos. Jam 6.15 aku sampe stasiun. Harusnya, aku masih bisa berangkat jam 7.20 dengan kereta lokal yang sama. Tapi, Qodarullah tiketnya HABIS. Ok, gapapa. Kita cari kereta lain. Mungkin Allah ridhonya aku pake kereta yang lain. Pengen banget sebel, rasanya wkwkw. Yang harusnya jam 6.40 aku udah sampe Solo dan bisa ikut kegiatan dari awal, dengan kereta ini aku baru sampe Solo jam 8.30, dan itu udah masuk materi pembicara pertama. Dan bener dong, sesampenya aku di ruangan, pembicara pertama udah menyampaikan setengah dari materinya. Aku baru dengerin sebentar, dia udah closing statement. Pengen banget sedih, rasanya. Wkwkwk Tapikan lagi belajar bilang gapapa. Jadi ya gapapa, mungkin emang cuma segitu ilmu yang Allah ridhoi buat aku dari pembicara pertama. Ok, gapapa. Aku coba temukan hikmahnya. Ohh mungkin, Allah mau aku praktekin ilmu sabar yang semalem. Jadi, semalem aku gak sengaja dengerin kajian Ustad Hanan di Youtube yang judulnya Sabar. Gak sengaja karna auto play gitu lhoo Jadi hari ini Allah kasih rejeki buat ke Solo biar aku belajar bilang gapapa + praktekin ilmu sabar. Ohh, Ok!! Dan ternyata, pembicara pertama pun bicara tentang hikmah, hikmah-hikmah yang dia temukan dan akhirnya dia tulis jadi satu buku. Nah karna aku belum bisa nulis dan bikin buku, jadi kutulis disini aja hikmah perjalanan kali ini wkwkwkw (at Solo, Jawa Tengah) https://www.instagram.com/p/Bu0T9OCpovb/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=zuodrp4ag2yf
Memilah-milih Rezeki
Sore itu, sebelum pukul 15.00 aku sudah harus sampai di stasiun Solo Balapan. Dari Paragon, aku memesan taxi online.
"Dari Jogja ya mbak? Mau kemana?"
Adalah percakapan pertama yang mengawali obrolan kita, sampai akhirnya kita membahas sedikit dari jurusanku, Ekonomi Islam.
--------------------------------------
Wah itu yang kuliahnya ngebahas riba yo Mbak? Adik saya itu kemarin tak bodoh-bodohi Mbak, gara-gara nonton ceramah ustad tentang riba kok dia tiba-tiba mau keluar dari pekerjaannya di bank (konvensional). Wong masuknya aja susah kok mau keluar, padahal gaji dia sudah lumayan itu Mbak.
Oiya Pak? Memang begitu, orang yang udah tau ilmu dan hukumnya, biasanya langsung ngeri Pak, kapok gak mau lagi berkaitan sama riba.
Lhaa itu gimana to Mbak ilmune? Kok ya adik saya langsung ijin sama orangtua mau keluar dari bank, kan yo gobl*k. Trus dia tu tak kandani Mbak, kalo ribanya itu udah masuk perut atasanmu, kalo cuma staff bank kaya kamu ya gak kecepretan ribanya. Gitu Mbak, saya bener to??
Hehee.. Sebenernya gini Pak, dalam konsep riba ini ada 3 pihak yang akan menanggung dosa riba. Pertama pemberi riba, kedua penerima riba, dan yang ketiga itu pencatat riba. Adik Bapak kerja di bagian apa?
Dia staff keuangan gitu mbak, bagian akuntansi katanya. Kerjanya bikin laporan uang yang masuk sama keluar sehari-hari Mbak.
Berati kalo kita masukin ke tiga kategori tadi, Adik Bapak termasuk, mboten?
Hoo yo Mbak, termasuk sik mencatat to Mbak?
Nggih Pak, sepemahaman saya begitu..
Tapi kalo saya tetep ndak setuju e Mbak, karna bagi saya, yang penting itu usahanya, halal haram biar itu jadi urusan Tuhan to Mbak, yang penting manusianya berusaha. Jadi ndakpapa kalo ada ribanya sedikit. Kan yang bikin itu jadi riba atasannya, bukan staff kecil kaya Adik saya.
Nah disini berarti Adik Bapak lebih memilih yang sedikit tapi bersih dari riba Pak, daripada banyak tapi nyerempet riba. Soalnya ngeri e Pak, dosa riba itu, termasuk dalam pintu dosa terbesar yang ke tiga, setara kaya anak yang berzina dengan ibu kandungnya.
Wooo pikiran manusia cen bedo-bedo yo Mbak, yowislah sik penting gak lali sholat lan moco Quran yo Mbak.
Hehee.. Nggih Pak.
-------------------------------------
Kita pun sampai, pas pada percakapan penutup dari Pak Driver.
Menunggu keretaku datang, obrolan tentang adik Pak Driver itu masih kupikirkan.
Teringat salah satu Ustad yang mengatakan,
"Manusia itu tidak bisa 100% berada ditengah, antara dunia dan akhiratnya. Jika tidak condong ke dunia, pasti condong ke akhiratnya. Begitupun sebaliknya."
Jadi, harusnya memang kita sendiri yang memilih, karena Allah memberi kita pilihan. Mau condong kemana? Dunia kah Akhirat?
Kecondongan ini bisa kita nilai dari usaha kita dalam menumpulkan serpihan-serpihan rezeki yang Allah tebar di bumi ini.
Mau pilih yang mana? Sedikit tapi bebas riba, atau banyak tapi sedikit nyerempet riba? Hukumnya jelas, kan ya? sedikit banyak, riba ya riba.
Coba kita perluas, tidak hanya rezeki, tapi pada seluruh ranah hidup kita. Pada seluruh cara kita menjalani hidup kita masukan pada dua sisi ; Dunia dan Akhirat.
Ketika kita makan, pada sisi dunianya adalah bagaimana ikhtiar kita supaya kita bisa kenyang. Lalu sisi akhiratnya adalah bagaimana ikhtiar kita supaya bisa kenyang + mendapatkan berkah dari makanan yang kita makan.
Pada sisi dunia, mungkin ikhtiar kita hanya mengumpulkan uang dan makan sebanyak-banyaknya hingga rasa kenyang kita dapatkan. Setelah itu? Sudah, puas.
Pada sisi akhirat, mungkin ikhtiar kita bukan hanya makan hingga kenyang, tapi berusaha mendapatkan berkah. Dengan berdo'a, juga menerapkan sunnah-sunnah yang lain seperti makan secukupnya, menggunakan 3 jari, tidak bersandar, tidak memakan makanan panas dan tidak meniup yang panas. Bahkan, sebagian orang yang benar-benar mengharapkan berkah, mereka rela membagi makanannya dengan oranglain yang kekurangan. Sebagian dari mereka juga mensedikitkan jatah makannya lalu menyisihkan sebagian lainnya untuk menolong sesama, anak yatim, korban perang di Palestine, ataupun para korban bencana alam yang akhir-akhir ini tidak berhenti melanda Indonesia.
Kira-kira, untuk apa mereka melakukan semua itu selain untuk mendapat ridho dari Allah? Iya, mereka ingin condong ke akhirat. Mereka menomorduakan dunia mereka, mereka jadikan semuanya disertai berkah, hanya demi ke-ridhoan Allah. Mereka hanya mau itu.
Betapa besar hati mereka yang mampu menomorduakan dunia, ketika yang lain berlomba-lomba bahkan menghalalkan segala cara demi mengumpulkan dunia. Mungkin tidak ada yang salah, itu hak mereka, itulah yang telah menjadi pilihan mereka.
Jadi, kamu mau condong kemana? Dunia atau akhirat?
Semoga bijak dalam mengambil keputusan, Barokallah 💕