Aku menyematkan semoga, suatu hari nanti kita akan kembali ke titik ini dalam keadaan yang berbeda. Suatu linimasa di mana aku telah siap untuk mengatakan dan kamu telah merasa yakin bahwa dibalik ketidaksempurnaan itu, ada aku yang siap memelukmu.
KIROKAZE
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
AnasAbdin

izzy's playlists!
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
No title available
ojovivo

if i look back, i am lost
I'd rather be in outer space 🛸
h
sheepfilms
Claire Keane
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
almost home

blake kathryn

Discoholic 🪩
Cosmic Funnies
Cosimo Galluzzi

ellievsbear
$LAYYYTER

seen from Singapore
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from Germany
seen from Iraq
seen from Netherlands

seen from Germany

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Canada

seen from Iraq
seen from United States

seen from China

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Singapore
@memoaratri
Aku menyematkan semoga, suatu hari nanti kita akan kembali ke titik ini dalam keadaan yang berbeda. Suatu linimasa di mana aku telah siap untuk mengatakan dan kamu telah merasa yakin bahwa dibalik ketidaksempurnaan itu, ada aku yang siap memelukmu.
Mungkin aku kembali jatuh hati. Atau hanya terpesona sesaat saja? Karena terlalu sering digoda, jadinya aku mulai sadar akan keberadaan dirinya. Tapi pertanyaannya, bagaimana dengannya? Apa ia mulai menyadari keberadaan diri ini?
“Kenapa aku masih merasa nyaman melihatmu? Kenapa aku merasa kita masih mempunyai kesempatan di lain waktu? Dan kenapa aku masih merasa suatu saat kita akan bertemu lalu memulai cerita baru? Tuhan, aku mohon.. Kenapa melepasnya tak kunjung menyentuh kata rampung?”
— (via mbeeer)
Tanpa Judul
Mentari berlari dengan cepat. Napasnya tersengal-sengal. Sedikit lagi menuju pintu gerbang, batin Mentari. Dan ia berhasil melewati gerbang tepat saat bel sekolah berbunyi dan Pak Dikin menggeser pintu itu. Gates of Hell, itu istilah anak-anak SMA tempat Mentari bersekolah untuk pintu gerbang di depan sekolahnya. Karena begitu pintu itu tertutup dan siswa masih berada di luar, siap-siap merasakan kursi panas ruang BK.
Mentari masih mengatur napasnya. Ia menyeka lehernya yang berkeringat.
“Kesiangan lagi, Non?” tanya Pak Dikin tersenyum seraya menyeruput kopi hitamnya.
Mentari cengengesan. Ia paham, Pak Dikin sudah tentu hapal kebiasaannya yang sering tiba di sekolah detik-detik menuju gerbang ditutup.
“Harusnya Non Tari bangunnya lebih pagi. Kalau bisa barengan sama matahari terbit,” ucap Pak Dikin lagi seolah memberi saran.
Mentari hanya mengangguk basa-basi sebelum berpamitan menuju ke kelasnya. Sudah sering ia mendengar saran itu. Terkadang bosan juga mendengarnya. Di telinga Mentari terkadang saran itu terkesan seperti sebuah ejekan. Ejekan karena namanya Mentari, tapi dirinya bukan tipe morning person.
Dalam perjalanan menuju kelas, Mentari melihat sosok itu. Seorang cowok, kakak kelasnya. Berperawakan tinggi, tatapannya ramah dibalik kacamata yang selalu ia kenakan. Namanya Bintang. Dan Mentari telah mengagumi cowok itu sejak awal ia masuk SMA.
“Mentari!”
Mentari menoleh ke sumber suara. Aruna, sahabat sekaligus teman sebangkunya memanggil seraya menunjuk ke arah belakang Mentari. Gadis itu menoleh. Ups, Pak Ridwan tampak berjalan dari ruang guru menenteng buku biologi, pelajaran pertama kelas Mentari di hari Kamis. Bergegas ia pun masuk kelas.
“Terpesona sama Kak Bintang lagi ya?” goda Aruna. Ia sudah hapal betul kebiasaan kawan sebangkunya sejak kelas sepuluh ini.
Mentari hanya tersenyum simpul.
“Kalau berharap, jangan ketinggian. Nanti pas jatuh, sakit lho,” kata Aruna.
Mentari hanya mengangkat bahu. Ia mengerti maksud dari perkataan Aruna barusan. Ia pernah curhat bahwa ia suka dengan Bintang. Ia bercerita pada Aruna bahwa Bintang sering menyapanya ketika mereka berpapasan di lorong sekolah.
“Ya wajar aja dia nyapa kamu, Tari. Waktu MOS kan dia kakak bindam kelas kita,” sahut Aruna menanggapi curhatan Mentari.
“Tapi dia nyapa aku aja, Na. Dia gak nyapa kamu. Gak nyapa teman-teman sekelas yang lain,” kata Mentari.
“Mungkin cuma kamu yang paling dia ingat, Ri. Soalnya waktu MOS setahun yang lalu kan kamu diminta buat nyanyi dan suara kamu bagus.”
Mentari tersenyum senang karena dipuji sahabatnya sendiri.
“Udah deh Ri, gak usah terlalu dipikirin. Gak penting juga,” kata Aruna. “Mentari itu adanya di waktu siang. Sementara Bintang munculnya ketika malam tiba.” Aruna menggumam pelan.
“Tapi aku suka malam kok,” sahut Mentari tak kalah pelan. Sering ia mengeluh dan berharap bahwa namanya bukan Mentari. Kenapa sih Papa sama Mama gak ngasih aku nama Bulan aja. Atau Purnama. Atau Laila. Karena Mentari merasa dirinya sangat menikmati malam. Sunyinya, sejuknya hembusan angin, dan ketenangan yang dirasakannya setiap kali gelap menemaninya yang masih terjaga.
Bagi Mentari, malam adalah waktu yang sempurna untuk menumpahkan semua perasaannya melalui goresan pena. Tidak ada suara bising yang mengganggu. Hanya sepi yang menjadi saksi curahan hatinya di atas lembar catatan harian miliknya.
*
Jam istirahat, kantin penuh seperti biasa. Tapi untungnya, Mentari dan Aruna sudah duduk di kursi favoritnya. Berkat bantuan Awan, sahabatnya dari SMP yang beda kelas. Setiap kali bel istirahat berbunyi, Awan selalu ke kantin lebih dulu ketimbang teman-teman yang lain dan selalu duduk di tempat favorit Mentari dan Aruna. Ketika ia melihat kedua cewek itu datang, Awan akan memanggil mereka lalu memberikan kursi tersebut.
“Awan itu bener-bener cowok yang perhatian ya, Ri,” ucap Aruna setelah Awan berlalu untuk memesan makan.
Mentari mengangguk lalu ia meletakkan teh panas yang sudah dipesannya. “Dia sahabat yang baik,” puji Mentari.
“Kamu gak pesan makan?” tanya Aruna.
“Enggak deh. Nanti aja kalau laper,” jawab Mentari.
Lantas Aruna beranjak memesan sup kesukaannya. Sementara Mentari hanya duduk seraya mengaduk-aduk teh panas.
“Ehm.” Terdengar dehaman diikuti dengan diletakkannya dua mangkuk bubur ayam dan segelas teh hangat di samping Mentari.
Gadis itu menoleh. Matanya menangkap sebuah senyuman milik seorang cowok berkacamata.
“Kamu belum sarapan kan?” tanya Bintang. Mentari hanya diam. “Yuk sarapan bareng. Aku traktir,” katanya lagi sambil menyodorkan semangkuk bubur ayam ke arah Mentari.
Mentari mengerjapkan mata. Dengan agak tergeragap, ia menerima mangkuk itu. “Oh, makasih banyak, Kak.”
Bintang hanya tersenyum.
“Kamu suka begadang ya?” tanya Bintang.
Mentari menatap cowok itu lalu mengangguk pelan. “Kok Kakak tau?”
“Nebak aja. Soalnya kamu sering telat kan?”
Ups! Mentari tidak bisa menahan rasa malunya. Tapi terselip rasa bahagia karena itu artinya Bintang sering memperhatikannya.
“Hehehe... iya Kak. Soalnya aku suka nulis pas malam. Karena keasyikan sampai lupa waktu deh,” sahut Mentari mencoba menghilangkan rasa malunya.
Bintang mengangguk-angguk. “Kamu suka nulis? Nulis apa?”
“Yaaa macam-macam. Kadang cerpen, kadang puisi, kadang opini. Tergantung mood.”
“Sama curhatan juga ya?” tebak Bintang tepat sasaran.
Lagi-lagi Mentari hanya cengengesan. Ia merasa bingung. Kenapa Bintang seakan bisa membaca pikirannya.
“Aku balik ke kelas dulu ya, Mentari. Habisin buburnya,” kata Bintang seraya bangkit dari tempat duduknya.
Mentari mengangguk. “Iya, Kak. Makasih ya,” ucapnya. Mentari menyendok bubur ayam dengan nikmat. Selain karena rasanya yang enak, bubur ayam itu terasa istimewa karena Bintang yang membelikan untuknya.
“Loh? Kapan kamu pesan bubur ayam, Ri?” Aruna yang baru saja kembali duduk sambil membawa sepiring nasi sup terkejut melihat Mentari yang sedang menyuap bubur.
“Emm...” Mentari mengelap ujung bibirnya dengan tisu. “Tadi Kak Bintang yang beliin, Na,” jawabnya malu-malu.
“Oh ya? Cieeee...” goda Aruna. “Terus mana Kak Bintang nya?”
“Barusan balik ke kelas,” sahut Mentari.
Aruna hanya mengangguk-angguk.
Selesai menghabiskan makanan masing-masing, Mentari dan Aruna kembali ke kelas. Mereka berdua terkejut mendapati Samudera, salah seorang pengurus OSIS sekolah mereka tengah berdiri di depan kelas. Wajahnya tampak sedih.
“Eh? Maaf, Samudera, ada pengumuman ya?” tanya Aruna.
Samudera mengangguk pelan. “Masuk dulu,” pintanya. Mentari dan Aruna bergegas masuk dan duduk di bangku mereka.
“Teman-teman, ada berita duka,” kata Samudera menjelaskan mengapa wajahnya terlihat sedih. “Kakak kelas kita, Bintang Baskara, menghembuskan napas terakhir sekitar satu jam yang lalu di rumah sakit. Kak Bintang mengalami kecelakaan tadi malam. Mohon doa dari teman-teman semua.”
Mentari mendengarkan kalimat itu dengan pandangan buram. Sementara Aruna hanya bisa mengusap pelan punggung tangan sahabatnya.
“Na, aku salah dengar kan? Kak Bintang barusan di kantin, Na. Dia beliin aku bubur ayam,” ucap Mentari.
Aruna segera memeluk Mentari. “Tari, sabar.” Hanya itu kalimat yang mampu diucapkan oleh Aruna.
Mentari menangis di pelukan Aruna. Apa memang matahari dan bintang tidak pernah bersatu?
Jangan datang jika hanya sekedar singgah. Bagimu mungkin biasa, namun bagi mereka yang pernah terluka, perlu usaha yang tak terkira untuk sekedar menerima.
riasetia
Cerita di Bandara
Suasana bandara yang tidak berubah. Aku tersenyum kecil. Memangnya suasana seperti apa yang aku harapkan saat berada di sini? Semilir angin yang meniupkan aroma rerumputan? Hijau pepohonan yang menyegarkan mata? Tidak. Bandara, lapangan terbang, airport tidak pernah menyuguhkan pemandangan seperti itu. Selalu saja kesibukan para penumpang pesawat yang hilir mudik, para penjemput dan pengantar yang dipertontokan. Dan aku—yang entah mengapa senang sekali berada di sudut kafe yang berada di bandara ini—begitu menyukainya.
Bunyi desing pesawat, hembusan asap rokok, kadang tercium aroma kopi bercampur dengan wangi mentega dari roti yang baru selesai dipanggang, yang membuatku betah untuk berlama-lama di sini, di bandara. Semua itu membuatku tenggelam dalam lamunan, mengingatkanku akan pertemuan kita dua tahun yang lalu.
*
“Para penumpang yang terhormat, kita telah mendarat di Bandara Internasional….” Suara pramugari di dalam pesawat menyadarkanku. Sekarang aku sudah berada ratusan kilometer dari rumahku. Meninggalkan kehangatan yang selalu ada. Aku menghembuskan napas sebelum beranjak keluar. Ada sedikit rasa gugup yang menerpaku, juga tak sabar untuk memulai petualangan baru.
Seusai mengambil barang, aku melangkah menuju kedai kopi yang berasal dari Seattle. Aku duduk di salah satu sofa, membaca buku yang aku bawa dari rumah seraya menunggu namaku dipanggil oleh barista. Beberapa menit berlalu. Aku sudah tenggelam dalam cerita yang kubaca. Kemudian aku mendengar suaramu.
“Ehm, permisi, Mbak.”
Aku mendongak. Menatap sepasang mata yang jernih menawan.
“Apa sofa di depan Mbak kosong? Boleh saya duduk?”
Aku menaikkan alis. Lalu mengedarkan pandangan. Semua tempat duduk telah terisi. Yah, maklum saja, namanya juga di bandara, space yang tersedia tidak terlalu luas. Aku mengangguk.
“Terima kasih ya, Mbak,” ucapmu.
Aku tersenyum. Tak lama, kopi pesananku selesai dibuat. Aku beranjak sebentar menuju kasir.
Kamu memandangku dengan sorot mata takjub dan seakan tak percaya saat aku kembali duduk di sofa.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Latte?” tanyamu.
Aku memandang ke arah gelas kopi yang berada di hadapanku. “Iya. Asian Dolce Latte.”
Kamu mengangguk-angguk. “Aku pikir perempuan tidak suka kopi. Biasanya mereka kalau ke Starbuck pesannya yang frappucino.”
Aku tersenyum. “Ya, boleh dibilang aku setuju dengan pemikiranmu. Karena teman-temanku, selalu pesan frappucino. Mereka tidak terlalu suka kopi. Baru mencoba ADL saja, mereka sudah kepahitan,” ucapku seraya tertawa mengingat reaksi dari sahabatku ketika mencicipi minuman favoritku ini.
“Tapi kamu tidak. Kamu terlihat menikmatinya,” katamu ketika melihatku meneguk kopi dengan nikmat.
“Karena aku menyukainya,” sahutku.
“Jadi kamu suka kopi?”
Aku menggangguk. Sudah jelas kan?
“Apa kopi favoritmu?” tanyamu.
“Ini,” jawabku mengangkat gelas kopi yang sudah tersisa setengah. “Kalau di Starbuck, aku sering memesan ini. Kalau di coffee shop yang ada di kota asalku, terkadang aku mesan cappucino, atau single origin. Bean kesukaanku Enrekang dari Sulawesi Selatan.”
Lagi, kamu menatapku takjub. “Single origin? Maksudmu kopi hitam? Manual brew?”
Mau tidak mau aku tertawa melihat ekspresimu. “Biasa aja dong, Mas. Kok kamu seperti baru lihat ada perempuan yang suka minum kopi hitam sih?”
Kamu ikut tertawa malu. “Yah, sejujurnya ini kali pertama aku bertemu dan mengobrol dengan perempuan penikmat kopi.”
Aku merasakan kedua pipiku bersemu merah. Ah, mungkin hanya aku yang kege-eran.
Sebuah getar dari ponsel pintar menyadarkanku. Pesan singkat dari temanku yang mengatakan bahwa dia sudah berada di bandara. Aku mendesah. Artinya aku harus berpisah denganmu.
“Mas, aku pergi dulu ya. Sudah dijemput.”
“Oh iya, terima kasih ngobrol-ngobrolnya,” katamu.
Aku menatapmu. Mencoba mencari jejak basa-basi dari ucapanmu. Namun, sorot kedua matamu terlihat tulus. Aku tersenyum, mengangguk, lantas beranjak pergi. Begitu aku sudah duduk di dalam mobil, baru aku menyadari kebodohanku. Aku lupa menanyakan siapa namamu.
Kadang, perempuan ingin segera mengakhiri hubungan jarak jauh--ketemu cuma beberapa hari dalam beberapa bulan-- bukan karena ia tidak percaya dengan lelakinya, tapi karena ia takut akan mengkhianati. Bukan karena ia cemburu lelakinya akan jatuh cinta pada perempuan lain, tapi karena ia khawatir akan jatuh cinta kepada lelaki lain yang selalu ada ketika ia membutuhkan. Karena ia tidak mampu untuk menolak kehadiran lelaki lain di kehidupannya. Karena lelaki yang setia, namun jauh di sana akan dikalahkan oleh lelaki yang selalu ada.
Ria Setia
Sharing is Caring
Akhirnya…
Setelah sekian lama tidak menulis, tidak bercerita, I’ve come up with some ideas that based on my personal experience. Ceritanya cukup panjang, silakan tarik napas dulu yaa…
Bukan cerita tentang kesenian atau review dari diskusi atau wakaf pikir atau apalah itu ya, tapi ini cerita yang aku dapatkan dari pengalaman menyelesaikan pendidikan S-1.
Seperti yang tertulis di bio di akun instagram atau facebook aku, aku kuliah di program studi psikologi, masuk bulan September tahun 2012 dan baru selesai sidang skripsi di bulan Maret tahun 2019. Iya, kalian gak salah baca. Tujuh tahun, 7 tahun. Kalau minjem istilahnya Boris Bokir sih, memaksimalkan jatah semester yang diberikan oleh kampus, dua kali tujuh semester, hihihihi…
Lantas kalian bertanya-tanya. Kok lama banget sih, Kak, baru lulus? Sambil kerja ya?
Enggak… alhamdulillah orangtuaku berkecukupan dan aku masih bisa makan enak, tidur nyenyak setiap harinya, masih dikasih uang jajan per bulan.
Oohh… pasti Kakak sibuk organisasi ya?
Gak tuh. Semenjak semester tujuh aku sudah pensiun dari segala organisasi resmi.
Terus? Kenapa?
Jadi… begini ya, aku memprogram skripsi itu dari semester tujuh, tahun 2015, tapi benar-benar baru aku kerjakan itu di tahun 2018. Selama tiga tahun aku gak ngapa-ngapain. Well, ada sih konsul sama dosen pembimbing. Konsul judul, bab 1, terus ganti judul, terus bab 1, terus ganti dosen pembimbing dua, sampai akhirnya balik lagi ke judul pertama.
Tapi ya itu, aku nya yang males kok. Aku terlalu sibuk mencari kesibukan lain supaya pas ditanya sama orang lain aku lagi sibuk apa, aku bisa jawab kalau lagi ada kesibukan di tempat lain. Noh, bingung kan bacanya. Hahahaha…
Akhir 2015 sampai 2017, aku sedang sibuk menggalaukan seseorang. Pria yang berada di pulau Jawa. Tahun itu bener-bener tahun produktif aku menulis puisi atau cerpen untuk di-posted di inspirasi.co deh pokoknya, ikut event menulis yang diadakan sama salah satu penerbit indie dan cerpenku tiga kali masuk ke dalam kumpulan cerpen. Mungkin bener ya kata salah seorang penulis Indonesia, kalau mau dapat ide dan inspirasi untuk lancar menulis, maka jatuh hati dan patah hati pada saat bersamaan. Dan itu benar-benar terjadi sama aku.
Sekarang masih menggalaukan si Mas nya, Kak?
Oh tidak… sekarang aku mikirin Daniel Henney aja. Atau enggak Park Jimin <3 *ditimpuk ARMY* Hahahahaha….
Pertengahan tahun 2017, aku mulai menyibukkan diri dengan membaca buku. Kebanyakan novel sih. Karena pada saat itu keinginan aku untuk menjadi penulis sedang menggebu-gebu. Ditambah aku juga bergabung di salah satu komunitas literasi di kota tempat tinggalku. Konon katanya, untuk menuliskan satu kalimat yang baik, kita harus membaca satu paragraf. Dan untuk menulis satu paragraf, maka kita harus membaca satu buku. That moment, aku benar-benar gila sama buku lah. Dalam satu tahun bisa beli sampai 50-an buku dan menyelesaikan hampir 40 judul buku. Kadang, bisa menamatkan satu buku dalam waktu semalam, enam buku dalam satu bulan. Saat itu, sempat terjadi perbincangan dalam hati, “Begadang buat baca buku aja kuat, kenapa gak begadang buat skripsian aja sih?”
Selama beberapa bulan, aku ngerasa kaya orang yang gak punya rasa. Gak punya minat buat ngapa-ngapain, selain baca buku, nongkrong di kafe gak jelas, minum kopi, jalan-jalan, tidur yang berlebihan, scroll instagram atau youtube. Aku takut untuk ketemu orang yang aku kenal, teman, keluarga, karena ya pertanyaan mereka pasti satu, “Udah lulus?” Setiap kali dengar pertanyaan itu, rasanya kaya ada tombol dalam otak aku untuk menjauhi mereka. Makanya aku lebih suka untuk mencari tempat baru, kenal sama orang-orang baru.
Bukan contoh yang baik, mohon untuk tidak ditiru. Terima kasih. Oh iya, sekalian mau minta maaf untuk mereka yang pernah saya abaikan ketika tak sengaja berpapasan di suatu tempat.
Sampai satu momen, aku sadar kalau aku memerlukan bantuan, membutuhkan pertolongan. Aku curhat ke dosen pembimbing akademik, tentang apa yang jadi kendala ku selama skripsi, selain alasan malas itu ya. Aku bilang kalau aku inginnya setiap kali konsul, aku sudah siap dan berkas yang aku bawa itu sempurna. Karena aku terlalu takut untuk menghadapi dosen pembimbing tanpa persiapan yang bagus. Makanya aku selalu mencari-cari jurnal sebagai bahan referensi, tapi gak pernah konsultasi bab 1.
Di situ dosen pembimbing akademik aku akhirnya ngasih tau. Kalau aku seperti itu ya gak bakalan bisa tahu kesalahan aku di mana. Bahwa skripsi itu pasti selalu direvisi. Skripsi itu gak perlu sempurna yang penting selesai. Well then, being perfectionist, isn’t always perfect.
Mei 2018, aku udah mulai membuat kemajuan. Udah konsul bab 3 sama dosen pembimbing satu dan dua. Waktu itu sedang dibuka pendaftaran untuk seminar proposal dan sidang hasil skripsi. Dosen pembimbing akademik aku menyarankan untuk daftar, begitu juga dengan dosen pembimbing skripsi satu. Tapi aku belum bilang sama dospem dua, karena ngerasa gak enak aja. Kan aku baru konsul beberapa kali, gak tiap minggu lagi, masa iya, ngomong mau daftar proposal?
Waktu itu bulan puasa, tiap hari aku bolak-balik Banjarmasin-Banjarbaru, demi konsul sama dospem dua. Pulang dari Banjarbaru, sore, buka puasa, taraweh, lanjut revisi. Kadang sampai gak tidur karena dilanjut sahur. Jam tujuh pagi berangkat lagi ke Banjarbaru.
Gak capek, Kak? Capek. Banget. Lah… tapi waktu itu memang gak berharap terlalu tinggi sih. Pasrah aja, kalau memang jalannya, InsyaAllah dimudahkan. Ditambah lagi temen-temen di kampus pada ngasih semangat. Bismillah, dikerjakan aja dulu revisiannya.
Alhamdulillah, bisa daftar di hari akhir pendaftaran sidang. Rasanya gak percaya pas selesai daftar itu. Gila, lima hari bolak-balik Bjm-Bjb, kurang tidur, ternyata bisa juga daftar untuk sidang proposal.
Apakah cerita ini selesai? Belum, Kak. Masih ada lagi… Monggo yang mau minum, minum dulu. Yang mau buka bungkusan keripik kentang juga silakan, tapi bagi-bagi sama orang di sampingnya ya. Karena aroma keripik kentang itu menggoda sekali. Sama halnya dengan aroma mie instant.
Lanjut nih? Lanjut yaa…
Singkat cerita, sehari sebelum sidang proposal, ada kejadian yang kurang mengenakkan. Adik tingkatku yang sidang proposal hari itu, diminta untuk sidang ulang. Mendengar itu bikin aku kepikiran sampai malamnya. Gugup, cemas, takut, dan segala pikiran negatif lainnya. Aku nangis di kosan. Sehari sebelum ngumpul berkas juga aku nangis karena gugup. Sampai aku meluk mamah buat nenangin diri. Sementara di kosan, aku berusaha keras untuk mengalihkan kecemasan aku. Aku ngajakin teman buat nyari makan. Ngobrol-ngobrol sampai sekitar jam 10 malam. Terus berusaha untuk tidur nyenyak.
Ternyata oh ternyata… pas aku sidang proposal lancar jaya. Segala ketakutan yang aku bayangkan gak terjadi sama sekali. Konyol memang. Sekarang kalau dipikir-pikir, kenapa bisa aku menangisi hal-hal yang belum terjadi?
Singkat kata singkat cerita, selama proses pengambilan data semua berjalan lancar dan aman terkendali. Sampai pada Maret 2019 waktu mau sidang hasil, teman-teman yang juga sidang di periode itu, curhat ke aku, katanya mereka merasa gugup, dag dig dug, ngeliat jadwal aja rasanya mau muntah. Terus mereka nanya ke aku, “Kak Ria gak gugup?” Iya, teman di sini maksudnya adik-adik tingkat. Ada sih satu teman yang sama-sama 2012 juga.
Aku jawab aja, kalau aku gak ngerasain apa-apa. Pas liat jadwal sidang ya aku cuman bilang, “Oh, aku kena hari Selasa jam satu siang.” Udah.
Beda banget sama hal yang aku rasakan waktu mau sidang proposal kemarin.
Selama sidang hasil juga semuanya berjalan lancar.
Bukan bermaksud untuk meremehkan perjuangan skripsi ya, tapi terkadang, kita sebagai mahasiswa, sudah ciut duluan sebelum ketemu dosen. Semakin ciut ketika dikasih revisian, padahal hari pendaftaran sidang sudah semakin dekat.
Kalau ditanya, pernah nangis gak selama proses pengambilan data, atau ada kendala apa aja selama itu? Ya tentu pernah dan ada. Dari subjek yang tiba-tiba mengundurkan diri, sampai gak bisa daftar sidang hasil di Bulan Desember karena data yang diperlukan belum lengkap, sampai akhirnya aku nangis deh di kamar Mamah. Hihihi… Kesel banget sih rasanya waktu itu, tapi ya balik lagi, ada hikmahnya tersendiri. Aku jadi punya lebih banyak waktu buat ngerjakan bab 4 dan 5.
Bisa dibilang, selama proses pengerjaan bab 4 dan 5, terus konsul ke dospem satu dan dua, aku gak terlalu mellow kaya waktu proposal. Pertama waktu perngejaannya yang lebih lama, kedua aku juga gak terlalu mikirin yang aneh-aneh, gak terlalu negative thinking, ketiga aku terinspirasi dari kutipan atau istilahnya quotes yang pernah aku baca di novel atau tonton di film.
Di film 3 Idiots contohnya, oh, siapa sih yang gak nonton film ini? Ini film dengan segudang quotes. Salah satunya, ada adegan yang Ranchodas bilang ke Raju, kalau kamu terlalu takut dengan masa depan, bagaimana bisa kamu hidup di hari ini.
Pas nonton itu tuh, aku berasa ditampar. Iya ya, kan besok itu belum kejadian, kenapa harus aku khawatirkan sekarang sih?
Terus ada juga kutipan di novel Rantau 1 Muara, kalau manusia itu musuh terhadap apa yang dia tidak tahu. Karena kita tidak tahu, jadinya kita khawatir berlebihan, pikiran negatif datang dan mulai mengandai-andaikan hal yang tidak baik.
Waaaahhhh… it was so me… Aku yang dulu seperti itu. Negatif mulu. Sampai-sampai dosen pembimbing akademik aku menyarakan aku untuk konseling profesional menggunakan salah satu terapi. Alhamdulillah, semua itu tidak diperlukan. Hehehe…
Jadi teman-teman pembaca sekalian, aku mau cerita, aku mau berbagi melalui cerita barusan yang cukup panjang, karena ada beberapa teman yang aku kenal juga mengalami hal sama dengan yang aku alami. Menunda-nunda menyelesaikan skripsi. Aku kurang tau ya alasan mereka apa, tapi kalau mau berbagi sama aku, yuk lah aku menerima dengan tangan terbuka.
Mungkin ada teman-teman yang malas ke kampus, karena malas diledekin sama teman atau disindir.
Aku ngalamin itu juga kok. Menginjakkan kaki ke kampus lagi setelah sekian lama, rasanya agak asing. Disindir juga, diledekin juga, tapi ya disenyumin aja. Tau gak, dosen itu sebenarnya senang banget liat kita mulai ke kampus dan konsultasi lagi. Mungkin, kadang-kadang ada beberapa dosen yang agak sulit ditemui, ya itu beliau mau lihat seberapa kuat usaha kita. Kalau misalnya dosennya dichat gak pernah balas, ya tungguin dari pagi. Dospem dua aku tipe yang seperti itu. Aku ngechat beliau cuman dua atau tiga kali, setelah itu aku selalu nungguin beliau di kampus kalau mau konsul.
Mungkin ada teman-teman yang malas konsul karena takut sama dosennya.
Wah, ini aku banget nih. Aku tuh malas konsul karena takut direvisi, karena rasanya kaya ditolak. Kan gak enaaakkk… L
Tapi ya balik lagi, yang namanya skripsi itu gak ada yang sempurna. Pasti direvisi. Walaupun sudah di-acc sama dosen pembimbing, pas sidang proposal dan sidang hasil kan direvisi juga sama dosen penguji :’D
Yang terpenting kita sudah mengerjakan sebaik dan semampu kita. Masalah besok direvisi atau di-acc, itu urusan nanti. Balik lagi ke quotes nya film 3 Idiots, kalau terlalu takut sama masa depan, bagaimana kita bisa hidup hari ini. Karena terlalu takut sama besok, jadinya kita gak punya energi untuk menyelesaikan apa yang harus dikerjakan hari ini.
Last but not least, dari pengalaman ini aku sadar, kita tidak akan bisa mendapatkan bantuan atau pertolongan kalau bukan kita sendiri yang minta tolong lebih dahulu. Agak berat sih di awalnya, mengakui kalau diri sendiri memerlukan bantuan, terlebih yang berkaitan dengan psikologis, karena masih ada beberapa orang yang merasa malu kalau harus menemui psikolog atau psikiater. Beberapa masih merasa kalau permasalahan psikologis itu terlalu remeh untuk dibicarakan, terlalu tabu untuk dibagikan kepada orang lain dan alasan lainnya.
Padahal, dengan kita menceritakan permasalahan yang dialami dengan tenaga profesional (psikolog), kita bisa menemukan sudut pandang baru dalam melihat hal-hal yang terjadi pada diri kita. Kalaupun masih malu atau merasa kurang nyaman, boleh kok berbagi dengan teman atau kenalan yang lulusan psikologi.
Mungkin dari teman-teman sekalian ada yang mau sharing ke aku? Feel free untuk mengirimkan pesan di media sosial aku yah. Boleh di Instagram atau Facebook aku. Username nya akan aku cantumkan di bawah yaa… J
Mungkin sampai sini dulu sharing dari aku. Kapan-kapan aku mau bahas yang lain.
“Now that I look back, I don’t know why I was so stressed about it all this time. Funny how sometimes you worry a lot about something and it turns out to be nothing.”
-R.J. Palacio, Wonder-
With Love,
Ria S. Hayatunnfus (@ria.setiani)
P.S. Tulisan ini sudah pernah diposting di platform inspirasi.co/ria_setia. Tapi websitenya gak bisa dibuka~~~
Senja di Tepi Sungai Martapura
“Aku tahu kamu pasti ke sini.”
Sebuah suara membuatku mengalihkan pandangan dari jejeran jukung.
“Lagi ngerekam ya?”
Aku tidak mengacuhkannya. Kembali asyik memotret kesibukan pasar terapung sore ini.
Kamu mendekatiku. Sikutmu menyenggol pelan lenganku. “Kok diem aja? Kenapa?” Ya Tuhan, pria ini benar-benar menjengkelkan. Haruskah aku menjelaskan segalanya. Apa kamu tidak mengerti dengan kalimat ‘Aku ingin sendiri?’
“Tadi kamu ke sini naik apa?”
Aku menarik napas lalu berjalan menyusuri siring. Dia mengikuti. Wajahnya menuntut jawaban.
“Ojek online,” sahutku pendek.
“Kenapa gak whatsapp aku sih? Kan bisa aku temani?”
Aku menghela napas. Ada nada khawatir dari ucapanmu. Tapi aku sudah dewasa. Aku sudah terbiasa untuk traveling seorang diri. Lagipula ini bukan pertama kali aku berkunjung ke kota ini. Oh, seandainya kamu lupa, aku memang sedang ingin sendiri. Dari awal aku tiba di kota ini, tidak ada niatan untuk menghubungi kenalanku yang ada di sini. Entah bagaimana kamu bisa menemukanku di kedai kopi dua malam yang lalu.
“Aku takut ganggu kamu.” Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.
Aku menatap Sungai Martapura yang berkilau diternpa sinar matahari sore. Untuk apa lagi menghubungimu? Toh semua rasaku telah ku biarkan tenggelam ke dasar sungai ini.
“Kalau kamu yang minta, aku pasti akan usahain kok.” Jawabanmu membuatku menoleh. Menatap ke matamu, mencari jejak kebohongan. Nihil, aku menemukan sorot ketulusan dan penuh harap.
Seorang perempuan berjalan mendekat ke arahmu. Aku tersenyum padanya yang juga tersenyum padaku.
“Hei, ikut makan malam yuk!” ajaknya kepadaku.
Aku menatapmu yang tampak canggung. Lalu aku menggeleng. “Sori, tapi aku harus balik ke hotel sekarang. Takutnya panitia sudah nunggu. Soalnya malam ini mau ada briefing,” tolakku sembari tersenyum.
“Memang acaranya kapan?”
“Besok pagi jam 9,” jawabku.
“Yah, berarti kamu gak bisa datang ke resepsi kita dong?” perempuan itu terlihat kecewa.
Aku mengangkat bahu. “Iya, sori banget ya. Semoga acara besok lancar.”
Kamu hanya diam. Berusaha untuk tidak menatapku, maupun istrimu.
“Ya udah kalo gitu, aku balik dulu ya.” Aku berjalan menjauhimu. Sempat terdengar kamu membisikkan namaku pelan sebelum digantikan suara adzan yang mulai menggema.
*
Humans will say, "That's a tree." But those birds will say, "This is home." #sundayvibes #latepost #Gramediadutamallbjm #Gramediaveteran #SejutaPohon #CintaTanaman
"Seharusnya aku ke sini sejak dulu. Sejak pertama kamu merekomendasikannya kepada ku. Seharusnya aku ke sini sejak dulu. Saat kesibukan tidak terlalu menyita waktu mu. Sehingga banyak kemungkinan kita akan bertemu. Mungkin jika aku ke sini dari dulu, jantungku akan berdebar-debar, gelisah dan gugup menjadi satu. Menantikan hadir mu, entah sendiri atau pun bersama teman-temanmu. Mungkin jika aku ke sini dari dulu, kamu dan aku akan memiliki kesempatan untuk berbincang hingga lupa waktu. Tapi kini, jantungku berdetak dengan kecepatan normal. Tak ada gelisah apalagi gugup melandaku. Sebab aku tahu, kamu datang ke sini bersama istrimu." #ria'swriting #feelings #sky #blue #clouds #coffeeshop #place
Beautiful Things Don’t Ask for Attention
Tenang. Hanya itu yang kurasakan saat berada di sini. Sendiri. Sesekali debur ombak dan semilir angin mencoba untuk menemani. Aku tersenyum, menggumamkan terima kasih entah untuk siapa. Mungkin kepada Tuhan, yang telah menciptakan alam ini dengan begitu indahnya.
Pantai ini cantik. Dan pojok yang sedang aku datangi ini masih sepi. Sebab tak ada seorang pun yang tahu keberadaannya. Aku menemukannya sebulan yang lalu, ketika ke pantai ini bersama dengan sahabat-sahabatku. Tempat ini tidak pernah aku ceritakan kepada siapapun, tidak kepada sahabatku, tidak pula ku abadikan dalam bentuk foto untuk diunggah di media sosial. Aku hanya merekamnya melalui sepasang mataku, untuk ku simpan dalam benak.
Sungguh, setiap kali ke tempat ini aku tidak pernah memiliki niatan untuk mengambil gambar. Sebut aku egois. Tidak mau berbagi keindahan salah satu pojok pantai ini. Enggan mempromosikan pariwisata daerah sendiri. Persetan! Aku tak peduli. Tempat ini milikku, punyaku seorang.
Ah, aku teringat dialog di sebuah film asing. “Beautiful things do not ask for attention.[1]” Segalanya yang indah tidak meminta perhatian. Bukankah alam tidak pernah meminta untuk dipotret? Dijadikan latar untuk mengambil gambar? Lantas menjadi terkenal hingga orang berbondong-bondong datang untuk ikut berfoto di sana. Biar kekinian katanya.
Tidak bisakah hanya memandang saja? Menikmatinya dalam diam, bersama sunyi yang menemani. Mendengarkan suara bumi pertiwi yang menjerit pelan menyayat hati.
Sudah berapa banyak pantai dan gunung yang kotor karena sampah? Sudah berapa banyak taman rusak akibat ulah manusia? Dan mereka—para pemburu likers-- seakan tidak pernah puas. Masih mencari tempat hits untuk menghiasi media sosial dengan selfie yang diambil ratusan kali.
Pancaran sinar jingga membuatku menoleh. Lagi, aku terpaku untuk kesekian kalinya menatap senja yang berhiaskan warna magenta. Dalam hati aku mengucapkan doa, semoga tempat ini akan baik-baik saja.
***
[1] Secret Life of Walter Mitty
Poetry In Action di Mingguraya Banjarbaru dengan tema "Ketika Orang Baik Itu Pergi". Didedikasikan untuk mengenang almarhum Dewa Pahuluan. Six years has past since the last time I read a poetry for competition. It's been so long and I kinda lost my confident. But then I decided to take a part in this Poetry In Action at Mingguraya, Banjarbaru which dedicated to Mr. Fitri Zamzam a.k.a Dewa Pahuluan. Because I've met him once when we visited him at hospital. Turns out, that was the first and the last time I met him. He was a nice and humble man. No wonder, many people were also participated in that event. Still can feeling how nervous I was, my hands were as cold as ice and my knees was a little bit shaken. 😂 Banjarbaru, 24 November 2017 Photo taken by @yulian.manan #poem #poetry #poetryinaction #poetryreading #sliceofmylife #banjarbaru #mingguraya #positive (at Akademi Bangku Panjang Mingguraya Banjarbaru)
"Welcome to my house. Come freely. Go safely; and leave something of happiness you bringing." - Bram Stoker. #book #novel #bookgram #bookstagram #dracula #fiction #bramstoker #quotes #bookworm #readerslife #chocolate #marshmallow #watches #xiaomicameraphone
Coffee and book are bestfriend. Just wear your bracelet and smell it whenever you want. The scent is truly relaxing. Fallin' in love with this coffee bracelet. Thank you @gelangkopi.jogja . A new way to enjoy caffeine. Keep up the great work yaaa :) #gelangkopiku #coffee #coffeebean #coffeelover #coffeegram #bracelet #creative #accessories #fashion #books #booksgram #reader #readerslife #bookworm
"Puisi ini berdasarkan pengalaman pribadi yang aku ceritakan sendiri Ketika menyambangi konter puisi, Bertemu langsung dengan Bang Sandi Pukul 12 malam, di hari Sabtu yang beranjak Minggu, Beliau mendengarkan kisahku Yang telah lewat dua tahun lalu Entah berapa teguk kopi dan berapa batang rokok yang beliau habiskan Untuk mencari pencerahan Agar karyanya mengesankan Dan aku hanya mampu bergumam, 'Ya Tuhan' Aku terbawa, teringat akan semua perasaan yang dulu pernah singgah dan bertahan Ku rasa tak perlu diungkapkan lagi Cukup puisi ini yang mewakili" #poem #poetry #konterpuisi #latepost #sliceofmylife #saturdaynight #words
Sebenarnya udah dari beberapa bulan yang lalu mau beli novel ini, tapi entah kenapa selalu aja nunda-nunda. Rasanya terlalu takut untuk kecewa kalau ternyata isinya gak sesuai dengan harapan. Kalau ternyata, cerita yang ditawarkan hanya seputar cinta-cinta lebay, bikin gregetan tapi juga bikin baper. Akhirnya, setelah jenuh dengan novel terjemahan dan agak 'berat', beli novel ini juga. Secangkir Kopi dan Pencakar Langit. Tertarik banget sama novel ini karena judulnya ada kata 'Kopi' 😅 Well, IMHO, ini novel yang beneran logis. Logis dalam artian ya, sesuai dengan keadaan. Kisah cintanya pas, masuk akal, gak berlebihan macam ftv atau drakor. Dari novel ini, aku semakin yakin, kalau perempuan itu harus mendengar pernyataan seorang pria yang menyukainya. Karena seperti Athaya, yang tidak mengerti kode, padahal sudah jelas kalau Satrya dan Ghilman suka padanya. Dan terkadang, orang yang kita kira semangat dan selalu kuat, ternyata memiliki tantangan yang lebih dalam kehidupannya. Hmm... Novel ini berpusat pada kisah cinta antara Satrya-Athaya-Ghilman, diselingi sedikit cerita di kantor dan humor yang asyik. Cocok untuk bacaan ringan, karena kita gak perlu mikir. Cukup baca dan nikmati. Baper-baper sedikit sih ada, gregetan juga, dan permasalahan di novel ini beneran nyata, gak ada drama yang berlebihan. Sesuai lah dengan ekspektasi aku dan gampang untuk memahami jalan ceritanya. Mungkin sesuai dengan umur yah? 😂 Penasaran? Cuuss beli yak. Karena ini termasuk novel bagus, jadi gak akan aku pinjamkan ke orang lain. Kecuali orang terdekat, itupun harus rela menunggu senggaknya 3 bulan. Hahaha ✌ #review #book #bookstagram #bookgram #photooftheday #secangkirkopidanpencakarlangit #novel #bookworm