Titik Awal
“You should be proud of your progress from 0 to 100, not 99 to 100.”
Kutipan tersebut sempat membuat saya mengangguk setuju dalam hati. Tentu saja dong, mereka yang hanya melakukan satu langkah seharusnya tidak bangga-bangga amat dibandingkan mereka yang sudah mengambil banyak langkah. Dengan modal yang berbeda, masa hasilnya sama?
Tapi semakin ke sini, saya semakin menyadari bahwa, tidak seperti itu. Ungkapan itu saya rasa diucapkan oleh mereka yang mudah iri dengan sumber daya yang dimiliki oleh orang lain. Sumber daya, atau dalam kata lain, modal.
Setiap orang memiliki modal kehidupan yang berbeda. Lazimnya disebut kelebihan. Ada yang memiliki orang tua yang menjadi bantuan untuknya mencapai pencapaiannya sekarang, ada yang memiliki modal dana, ada yang memiliki modal kepintaran, ada yang memiliki koneksi luas untuk bisa mencapai kariernya sekarang, dan sebagainya.
Lalu kalau ada orang seperti itu, biasanya orang akan berkata, “Ah dia mah enak bisa kayak gitu karena emang udah pinter dari sananya.” / “Ah dia sih wajar bisa mencapai posisi itu, dia kan anaknya X.” / “Gak heran dia bisa jadi kayak sekarang, buat bisnis sih bagi dia gak susah, kan emang uangnya udah banyak dari dulu.”
Huft.
Padahal kalau kita yang ada di posisi dia, belum tentu kita bisa melangkah seperti dirinya. Bisa berprogress.
Bisa jadi kalau kita ada yang di posisi mereka, kita hanya menikmati apa yang sekarang dikatakan “dia kan memang sudah ____” tanpa mau berusaha lebih untuk mencapai lebih.
Ketika mencapai topik ini, saya seringkali ngotot, “Ya itu namanya iri sama rezeki orang dong? Setiap orang udah ada rezekinya. Kalau kamu yang jadi dia, belum tentu bisa mencapai itu karena itu memang bukan rezeki kamu!”
Lagipula yang terpenting sungguh bukan membandingkan kita sudah berapa langkah, dia sudah berapa langkah, kita bermula dari titik start mana, dia dari mana, dan sebagainya.
Memang tujuan kita akan tercapai dengan membandingkan diri dengan tujuan orang begitu? Apalagi menjadikannya sebagai patokan untuk bersyukur. Apalagi menjadikannya sebagai modal iri hati terhadap rezeki orang lain.
Kita tidak menjadi lebih mulia hanya karena secara penilaian “satu aspek” kita lebih baik dari orang lain.
Yang terpenting adalah kita membuat sebuah kemajuan. Berprogres, tidak stagnan. Belajar hal baru setiap hari, menambah kebermanfaatan setiap saat.
Kalau kata sebuah quotes : it doesn’t matter how slow you go as long as you don’t stop!
Hati-hati, jauhkan diri kita dari iri hati. Jauhkan diri kita dari bilang “dia sih enak” dan sebagainya. Selalu ingat, dia bisa mencapai titik tersebut karena bisa memanfaatkan modalnya dengan baik. Secanggih-canggihnya pebisnis, kalau dia tidak memiliki strategi untuk mengelola sumber daya dengan baik, ia akan tumbang juga pada akhirnya. Sumber daya akan habis ketika tidak dikelola.
p.s. ini juga sih yang menjadi pertimbangan pemilihan pasangan hidup. Melihat daya juang. Bukan hanya melihat apa yang dia milki sekarang. Hehe ;)
Mudah-mudahan kita selalu dikaruniai hati dan lisan yang mudah bersyukur, serta tenaga yang tidak habis untuk mencari rezeki dan menebar manfaat di bumi Allah.
Good reminder mah :')













