Membangun Budaya Literasi: Membangun Peradaban
Atika Almira â Mahasiswa S1 Arsitektur ITB 2012*
  Budaya Literasi di Mahasiswa
Literasi menjadi pangkal pembeda masyarakat primitif dan masyarakat âberadabâ. Dalam konteks perguruan tinggi, meningkatkan budaya literasi akan mendorong tumbuhnya inovasi-inovasi baru dan juga menjembatani jurang realitas. Budaya literasi membuat mahasiswa tidak hanya memiliki pemahaman konseptual tetapi juga mendorong pemikiran kritis yang hadir dari idealisme dan pemahaman mengenai realita yang ada. Hal inilah yang nantinya akan memantik munculnya gagasan segar yang membawa kemajuan. Di sanalah peran budaya membaca dan menulis dalam membangun peradaban.
Di jurusan arsitektur ITB, budaya literasi menurut pendapat saya belum benar-benar terbangun. Tidak banyak diskursus yang terjadi antarmahasiswa ataupun antara mahasiswa dengan dosen yang mengacu pada buku-buku tertentu. Atau hal ini dapat juga dilihat dari semangat mahasiswa S1 untuk membaca ataupun mempublikasikan tulisannya. Pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa sarjana memang lebih difokuskan kepada kemampuan merancang, namun seorang arsitek dengan kemampuan literasi saya rasa memiliki kemampuan analisis yang lebih tajam dan juga sudut pandang yang lebih beragam dalam mengambil keputusan desain. Oleh karena itulah, budaya literasi tetap dibutuhkan di lingkungan arsitektur.
Tepat satu setengah tahun yang lalu pemikiran mengenai hal ini didukung oleh sebuah buku yang saya baca. Buku itu berjudul Mengubah Dunia Bareng-Bareng yang ditulis oleh Ridwan Kamil. Salah satu artikel dalam bagian kedua dari buku ini entah kenapa begitu mengusik saya. Judul tulisannya adalah â6 Wasiat Eisenmanâ.
Dari sekian banyak acara dan ceramah dari para arsitek dunia di kongres Union of Architects (UIA) itu, kuliah dari Peter Eisenman-lah yang terus terngiang-ngiang di telinga saya. Dengan gaya kebapakan, Esienman mengemukakan, sedikitnya 6 pesan tentang arsitektur kontemporer.
Pertama, Eisenman mengingatkan bahwa kita sedang berada dalam krisis diskursus arsitektur. âKita berada pada decade yang tidak menawarkan nilai baru,â ujarnya. Yang ada hanya lateness atau kebaruan demi kebaruan geometri arsitektur yang berubah secara periodik, baik tahunan, bulanan, ataupun mingguan. Menurutnya, tidak ada kegairahan pada perdebatan arsitektur dunia, seperti halnya ketika arsitektur modern bergeser ke post-modern, ataupun kegairahan ketika kerumitan dan kegeniusan diskursus dekonstruksi Derrida dipinjam oleh paara arsitek dunia dan menjadi wacana hangat pada zamannya.
Saya mengamini pesan pertama dari Bapak Eisenman yang dikutip oleh Ridwan Kamil. Jika berefleksi pada lingkungan sekitar pun, sedikit sekali diskusi biasa dilakukan seorang mahasiswa arsitektur mengenai arsitektur itu sendiri. Obrolan-obrolan yang mengenai arsitektur seringkali mentok di pengerjaan tugas, jarang hingga masuk ke dalam gagasan dan pemikiran mendalam. Dalam himpunan pun rasanya demikian. Diskusi mendalam tentang pemikiran arsitektur belum banyak dilakukan. Pernah sekali waktu diskusi ini terjadi di sekretariat IMA-G, tapi tak banyak yang terlibat karena memang tak direncanakan.
Kurangnya diskursus yang mendalam bisa jadi berhubungan erat dengan masalah yang juga dialami sehari-sehari di dalam himpunan mahasiswa jurusan: budaya malas berpikir. Hari ini generasi muda dihadapkan dengan kondisi serba mudah. Namun ternyata kemudahan itu tidak meningkatkan produktivitas. Budaya serba instan membuat manusia menjadi serba malas. Dilihat dari fenomena yang ada, mahasiswa malas membaca, malas berdiskusi, dan juga malas menulis. Dampaknya, kemalasan berpikir dan akhirnya berujung pada miskin gagasan. Saya percaya betul, teko yang kosong tak akan pernah mampu mengisi. Maka jika kita kekurangan asupan ilmu, kita tak akan mampu menghasilkan karya yang penuh makna.
Melalui tulisan ini, saya melakukan sebuah perjalanan refleksi pribadi, bagaimana minat terhadap dunia literasi bisa muncul di dalam diri saya. Tulisan ini juga menjadi sebuah rekomendasi hal-hal yang dapat dilakukan agar budaya literasi bisa tumbuh dengan subur di lahan keilmuan arsitektur.
Saya berlatih menulis lebih awal dari bisa membaca. Ibu saya berkata bahwa salah satu permainan yang sering saya lakukan saat masih balita adalah menyalin koran. Saya rasa ketertarikan ini tumbuh dari melihat ayah saya yang membaca koran setiap pagi. Anak-anak adalah peniru ulung, oleh karena itu kebiasaan orang tua untuk membaca juga cenderung akan diikuti oleh anak-anaknya. Sejak kecil ibu yang juga seorang guru bahasa selalu menjadikan waktu sebelum tidur sebagai waktunya membacakan saya buku.
Kebiasaan ini berkembang ketika saya sudah bisa membaca dan saya jadi terbiasa membawa minimal satu buku ke manapun saya pergi. Kedua orang tua saya juga tidak pernah melarang saya membeli buku apapun. Jalan-jalan akhir pekan ke toko buku adalah waktu bersenang-senang keluarga yang kami tunggu bersama.
Kegiatan Kurikuler dan Ekstrakurikuler sebagai Wadah Mengembangkan Minat Literasi
Di masa sekolah minat saya terhadap dunia literasi terus berkembang. Awalnya hal ini dimulai ketika guru bahasa Indonesia saya menemukan fakta bahwa entah mengapa saya suka menulis puisi. Saya didorong untuk menulis puisi lebih banyak saat di dalam kelas dan diberikan kesempatan untuk tampil di depan para orang tua murid. Dari sanalah saya mulai menyukai dunia sastra dan mulai membaca biografi Chairil Anwar ketika saya duduk di bangku kelas 5 SD. Sejak saat itu saya selalu memilih jurnalistik sebagai kegiatan ekstrakurikuler saya, baik di masa SD, SMP, maupun SMA.
Pada akhirnya minat ini lebih banyak diwadahi oleh kegiatan ekstrakurikuler karena jarang sekali ada dorongan yang diberikan guru untuk mengaktulisasikan diri lewat membaca dan menulis. Salah satu dari momen yang sangat jarang tersebut adalah tugas menyusun karya tulis ilmiah. Saya selalu mengerjakan tugas ini dengan sungguh-sungguh; melakukan pengambilan data ke berbagai sekolah lain, menghabiskan waktu berhari-hari mengolah data dan menyusun karya tulis. Beberapa kali karya tulis itu diapresiasi sebagai karya tulis terbaik di angkatan saya.
Dari sini saya menyadari diperlukan adanya wadah apabila kita menginginkan suatu budaya untuk berkembang. Wadah itu juga harus memiliki faktor penarik dan pendorong sehingga orang ingin masuk ke dalamnya. Salah satu faktor penarik yang bagi saya cukup signifikan adalah adanya guru sebagai mentor yang membuat dunia literasi ini tampak menyenangkan. Faktor pendorong yang cukup efektif adalah adanya program yang mewajibkan siswa untuk menulis. Di samping itu, keberadaan teman dengan kesamaan minat yang dikumpulkan menjadi satu menambah ketertarikan untuk terus membaca dan menulis.
 Peer Pressure: Ketika Menulis adalah Sebuah Tren
Masa SMA adalah masa-masa yang menurut saya cukup menarik dalam menumbuhkan ketertarikan saya untuk menulis. Saya menulis lebih karena ingin terlihat keren dan tidak tertinggal. Kala itu, kakak-kakak kelas saya yang aktif di organisasi kebanyakan memiliki blog pribadi. Mereka bercerita mengenai berbagai hal: mulai dari pengalaman di dalam kelas, di organisasi, buku yang dibaca, ataupun hanya sekadar cerita sehari-hari.
Ini mendorong saya untuk mengaktifkan kembali blog pribadi yang sudah lama vakum. Saya mulai menulis cerita mengenai kegiatan sehari-hari, opini, maupun resume dari buku yang telah saya baca. Semula saya melakukan hal tersebut hanya karena ikut-ikutan namun lambat laut hal itu mulai menjadi kebiasaan.
Saya menyadari adanya beberapa orang kakak kelas saya sebagai role model menjadi penarik yang signifikan. Peer pressure, atau tekanan dari teman-teman, secara positif mendukung minat dan kebiasaan menulis di dalam diri saya.
   Budaya Baca-Tulis: Kiat Menyelami Pengetahuan serta Kristalisasi Pengetahuan dan Kegelisahan
Saat masuk ke jurusan arsitektur, kami diberikan akses untuk masuk ke moodle di awal semester 3. Salah satu syarat di-keluarkannya nilai studio yang saya ingat adalah masing-masing mahasiswa minimal menuliskan satu jurnal tentang pembelajaran studio melalui moodle. Entah apa yang terjadi, yang saya ingat program ini belum berhasil membuat mahasiswa menulis.
Saya sendiri bersemangat di awal namun tidak semua kesempatan pem-belajaran berhasil saya tuangkan ke dalam tulisan. Beberapa yang masih tercatat adalah tulisan dari blog saya mengenai pengalaman asistensi dengan Pak Hanson dan juga Portofolio Desain di Semester 3 yang ternyata lebih banyak memasukkan tulisan dibandingkan gambar konseptualnya. Pak Hanson pernah menjelaskan bahwa seorang arsitek membutuhkan descriptive knowledge, selain procedural knowledge dan tacit knowledge.
Kelak saya menyadari bahwa lapis-lapis ilmu yang disebutkan oleh Pak Hanson di atas, selain melalui pengalaman ruang, dapat digali lewat membaca dan dapat diikat dengan menulis.
Saya juga mulai menuliskan pem-belajaran yang saya dapat di dalam kelas dan mengaitkannya dengan pengalaman yang saya lalui di organisasi. Cara itu sangat efektif bagi saya untuk bisa memahami lebih dalam terkait apa yang dipelajari dan juga memahami cara mengontekskan suatu teori atau pemikiran ke kehidupan yang saya jalani.
Menulis sebagai Sarana Berbagi
Berbagai kesempatan yang saya lalui misalnya menjadi Ketua di IMA-G ataupun mengikuti Asia Pacific Urban Forum Youth dan APUF-6 mendorong saya untuk menuliskan pengalaman yang saya lalui. Harapannya, kebaikan yang saya dapat bisa mengalir ke lebih banyak orang.
Saya mulai menulis dengan tujuan berbagi, baik itu tulisan yang secara eventual saya publikasikan melalui media sosial maupun tulisan yang akhirnya saya bukukan secara swadaya dalam bentuk e-book agar bisa dibaca lebih banyak orang. Dari sana saya berharap orang-orang yang bisa membaca tulisan saya bisa lebih banyak belajar dari apa yang saya lakukan. Terlebih, saya berharap mereka tidak perlu melakukan kesalahan yang saya lakukan dalam kehidupan berorganisasi
 Menulis sebagai Sarana Pengejawantahan Intellectual Courage
Aktif di organisasi mahasiswa juga membuat saya banyak berdiskusi dengan mahasiswa dari jurusan lain. Lagi-lagi peer pressure-lah yang mendorong saya untuk konsisten membaca dan menulis. Ketika saya tidak membaca, saya bisa saja ketinggalan obrolan seru dengan teman-teman. Melihat teman-teman saya banyak menulis pun mendorong saya untuk menyuarakan opini ketika saya gelisah akan suatu kondisi.
Dari teman-teman saya, saya belajar untuk mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan apa yang benar dan salah dari kacamata saya. Hal ini dipupuk juga melalui keterlibatan saya di UKM Pers Mahasiswa ITB.
Saat masih aktif di Pers Mahasiswa ITB kami juga beberapa kali membahas topik yang berkaitan dengan lingkungan binaan, contohnya mengenai pembangunan di ITB, maintenance atau restorasi gedung, hingga ke isu transportasi kota. Hal ini bertujuan untuk menyuarakan kondisi ideal yang telah dipelajari di dalam kelas dan mengaitkan-nya dengan kondisi eksisting yang ternyata masih jauh dari ideal.
Riset dan Budaya Literasi
Menulis untuk Temu Ilmiah IPLBI V di Malang menjadi pengalaman pertama saya menulis jurnal ilmiah yang memang berniat dipublikasikan. Meski sebenarnya riset ini bukan riset empiric melainkan sebuah rangkuman proses studi literature, studi lapangan, dan studi eksplorasi dalam perancangan pasar rakyat yang menjadi tugas akhir saya. Â Salah satu aspek yang diperhatikan adalah bagaimana karakter Sunda bisa dimunculkan dalam perancangan pasar rakyat dan hal inilah yang menjadi fokus dalam jurnal, menyesuaikan dengan tema temu ilmiah yaitu konservasi lingkungan dan kearifan lokal.
Ada beberapa hal yang memotivasi saya untuk mempublikasikan jurnal ilmiah. Saya pribadi tidak ingin TA saya berakhir di perpustakaan arsitektur. Gagasan di TA mengenai perancangan Pasar Sederhana, Bandung ini sayangnya tidak bisa direalisasikan karena meski saya kala itu telah bertemu dengan Dirut PD Pasar Bermartabat; Pak Rinal kini tidak lagi ada di jabatan yang sama. Oleh karena itu, seminimalnya saya berharap apa yang saya pelajari bisa saya bagikan kepada lebih banyak orang.
Melalui proses menulis jurnal ilmiah, ada beberapa hal yang saya pelajari. Yang pertama dan sangat terasa adalah bagaimana saya terpaksa membaca untuk menulis. Sebelum mulai menulis, saya melakukan studi mengenai format jurnal IPLBI dan bagaimana para peneliti menuliskan sebuah jurnal mengenai perancangan yang telah mereka lakukan. Bagian tersebut pun sudah menuntut saya untuk membaca beberapa paper. Saya juga harus lebih banyak belajar mengenai metode penelitian dan terdorong untuk membeli buku karangan Creswell mengenai Research Design agar benar-benar yakin mengenai metode penelitian yang saya gunakan âdi akhir barulah saya sadar bahwa riset yang saya lakukan lebih berbasis studi preseden. Kemudian untuk tahap finalisasi saya tetap harus terus membaca agar tulisan saya lebih kayak arena bisa lebih banyak memasukkan contoh-contoh yang relevan.
Hal kedua yang saya pelajari adalah bagaimana menyajikan tulisan yang memang akan dibaca banyak orang, baik dari segi substansi, tampilan visual, maupun teknik presentasi secara verbal. Pak Agus S. Ekomadyo selaku dosen pembimbing dan penulis kedua dalam jurnal ini memberikan banyak masukan terkait hal tersebut.
Judul jurnal akhirnya dipertajam akan sesuai dengan tema temu ilmiah. Penerapan Arsitektur Sunda pada Perancangan Pasar Kerajinan Tangan Sederhana, Bandung menjadi judul yang dianggap dapat merepresentasikan substansi jurnal sekaligus memenuhi kualifikasi yang diberikan oleh panitia.
Selain itu juga Pak Agus memberikan catatan khusus mengenai layout artikel. Ada banyak ruang-rang kosong yang tidak terolah. Ada penataan halaman yang tidak nyaman dibaca. Selain itu, gambar yang saya sajikan juga dicomot seadanya dari Tugas Akhir saya, tidak saya persiapkan ulang untuk artikel ini. Seharusnya menurut Pak Agus saya sudah membuat layout kasar terlebih dahulu untuk setiap halaman sebelum memasukkan tulisan dan gambar.
Setelah beberapa kali diperbaiki, akhirnya artikel itu dikirimkan ke panitia Temu Ilmiah IPLBI V. Kemudian panitia dari IPLBI mengirimkan hasil telaah terhadap artikel saya. Ada banyak aspek yang dinilai, yaitu format artikel, abstrak, latar belakang, state of the art, permasalahan, tujuan,metode penelitian, hasil analisis, diskusi/interpretasi, kesimpulan, daftar pustaka, judul artikel, penggunaan bahasa Indonesia. Secara umum nilai yang diberikan cukup baik, kecuali bagian daftar pustaka yang hanya dapat nilai pas-pasan. Saya mengakui selama S1 kapasitas saya dalam menelan berbagai literatur arsitektural sungguh patut dipertanyakan, seperti yang telah dibahas di bagian awal tulisan.
Lewat pengalaman ini saya merasa menulis jurnal ilmiah seharusnya bisa dilakukan oleh mahasiswa manapun. Terlebih, terdapat beberapa mata kuliah seperti Kritik Arsitektur dan Seminar Arsitektur yang seharusnya bisa diarahkan ke penulisan jurnal yang lebih serius. Hal ini akan mendorong kebiasaan membaca yang lebih baik karena dengan menulis mahasiswa akan terpaksa membaca dan menyelami pengetahuan lebih dalam lagi.
Budaya literasi perlu ditumbuhkan bahkan di lingkungan pendidikan sarjana arsitektur. Harapannya, lewat budaya ini dapat muncul gagasan-gagasan baru yang inovatif dan menjadi jembatan jurang realitas. Bagi saya pribadi, ada beberapa hal yang bisa menumbuhkan minat membaca dan menulis, yaitu kebiasaan yang ditumbuhkan orang tua sejak dini, dorongan yang diberikan guru ataupun dosen, adanya wadah untuk mengembangkan minat dan bakat, dorongan dari teman-teman, serta dorongan lewat kegiatan yang diwajibkan berkaitan dengan dunia literasi. Setelah minat itu perlahan tumbuh, semangat membaca dan menulis juga terus dipupuk karena rasa ingin tahu, keinginan untuk mengkristalkan kegelisahan dan pengetahuan tersebut, keinginan untuk berbagi, serta keinginan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Dari pengalaman pribadi tersebut saya dapat melihat dua pola. Pada awalnya, minat terhadap dunia literasi itu muncul karena adanya dorongan internal, entah itu karena orang tua, guru, dosen, teman, ataupun adanya kewajiban melakukan sesuatu. Barulah setelah minat itu perlahan tumbuh, adanya dorongan internal membuat budaya literasi lebih tertana di dalam seorang individu.
Terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan secara komunal untuk membangun budaya literasi di lingkungan arsitektur ITB. Pertama, menyediakan wadah yang bisa mengembangkan budaya ini. Adanya diskusi buku, workshop menulis, sayembara tulisan yang kemudian dipublikasikan dapat menjadi metode yang dipilih. Wadah ini pun bisa juga diintegrasikan dengan wadah-wadah yang sudah ada seperti himpunan mahasiswa jurusan. Kedua, menghadirkan peran mentor. Dosen ataupun kakak tingkat dapat berperan sebagai mentor apabila wadah interaksi dunia literasi telah dibentuk. Ketiga, mengintegrasikan budaya literasi ke dalam perkuliahan maupun perhimpunan. Misalnya dengan memberikan tugas membaca buku, tugas menulis, dengan sebelumnya dijelaskan urgensi budaya literasi ini. Keempat, menumbuhkan sikap apresiatif terhadap bibit-bibit budaya literasi.
Beberapa tulisan terkait:
·        https://www.facebook.com/notes/atika-almira/6-wasiat-eisenman-bagian-pertama/10152988344671695
·        http://tikathinksthings.blogspot.co.id/2013/09/rumah-a.html
·        https://www.facebook.com/notes/atika-almira/belajardariarsitektur-meningkatkan-keamanan-lewat-desain/10151910106921695
·        https://www.facebook.com/notes/atika-almira/partisipasi-dalam-perencanaan-dan-perancangan-dalam-membentuk-kota-yang-inklusif/10153061526061695
·        https://www.facebook.com/notes/atika-almira/temu-ilmiah-iplbi-v-membayar-hutang/10153811699781695