Ada saat dimana saya selalu melihat wajahnya ketika memejam mata.
Ada saat dimana saya sangat ingin mendengar suaranya.
Ada saat dimana saya ingin menceritakan segala hal kepadanya.
Ada saat dimana saya berharap dia duduk disamping saya, hanya untuk memandangi indahnya senja ibu kota.
Ada pula masa dimana saya merasa sedih memandangi layar pesan kita yang kini hanya tersisa seutas kata, sepi dan jauh dari bincang.
Ada masa dimana hati menjadi begitu perih, mata menjadi cepat basah, dan kaki sangat ingin berlari hanya karna saya mengingat namanya.
Ada masa dimana saya sangat ingin waktu diputar kembali.
Saya tidak baik-baik saja. Belum sembuh juga.
Saya tersenyum bukan berarti saya melupa,
Saya tertawa bukan berarti saya tak pernah kecewa.
Saya belum pergi jauh dari tempat dimana sebelumnya diri ini berpijak.
Saya belum terbiasa berdiam diri di tengah perjalanan pulang.
Karna kemarin, saya selalu memiliki teman untuk berbicara.
Saya bahkan tidak lagi tahu minuman terbaru yang sangat ramai diperbincangkan baru-baru ini.
Karna saya menemukan diri saya yang dulu saat dia belum ada, seseorang yang terlalu malas menelusuri keadaan diluar sana, manusia yang paling tidak memiliki minat tentang kabar dunia.
Saya tidak menyangkal bahwa kehadirannya bukan cuma untuk menyakiti, dia juga pernah membawa banyak warna.
Dia pernah memperkenalkan saya pada hal-hal sederhana yang nampak luar biasa.
Dia pernah memperlihatkan saya betapa bumi sangat luas dengan keberagamannya.
Akhirnya saya menyadari bahwa dia bukanlah sosok yang mudah saya hapuskan bayangnya.
Akhirnya saya harus mengakui bahwa memang, saya pernah mencintainya, dulu.
10.27 pm. Saturday, 8 Feb. 2020
Meet me on twitter @_kaktusssss