Matahari yang bersinar terik mulai meredup dan tersembunyikan oleh awan. Sinarnya yang keorenan berpendar di seluruh penjuru langit seakan ingin mengatakan selamat tinggal pada siang. Memandanginya dari tepi laut terkadang menyejukkan jiwa, setidaknya melenakan diri sejenak dari risaunya hati akan kepahitan hidup. Boat-boat yang disewakan untuk memanjakan pengunjung menikmati riak air sudah tertambat di dermaga dari sejak sore tadi. Mungkin malam ini tak akan begitu ramai seperti malam minggu kemarin. Warung-warung di tepi laut juga tidak seramai sabtu sore, namun beberapa masih buka hingga malam nanti.
Sekitar dua puluh menit lagi adzan maghrib akan berkumandang, namun lelaki itu masih berdiri di tepian dan memandang jauh ke depan. Konon jika berlayar sekitar tiga jam ke depan sana akan sampai ke negara tetangga, Malaysia. Tapi bukan itu yang sedang dipikirkan oleh lelaki itu, mungkin ada yang lain yang membuatnya tak bergerak dari tempat berdirinya. Ditariknnya nafas dalam-dalam dan dihembuskannya lagi namun tak juga ketenangan itu di dapatnya, sedang sedari tadi adiknya bolak-balik datang dan mengajaknya pulang.
Segerombolan bapak-bapak baru sampai di dermaga, mereka adalah para pelaut yang hidup dari hasil melaut. Meninggalkan anak istri bahkan sampai berari-hari. Jika ada anak lelakinya akan lebih baik untuk diajak melaut bersama. Lelaki itu mengamati dengan seksama kalau-kalau ada anak seusianya yang ikut melaut. Tentu ada, jumlahnya cukup banyak. Sudah lumrah di kampungnya jika seorang anak lelaki tak melanjutkan sekolah untuk ikut ayahnya melaut untuk membantu perekonomian keluarga. Tapi belakangan ini para pelaut banyak yang beralih profesi sebagai tukang becak, mungkin lebih menjanjikan dari pada ke laut dengan resiko yang cukup besar.
Dipandanginnya sekali lagi air laut yang tenang, sesekali ada kapal Jet yang lewat menyisakan gelombang kecil di atas permukaan air. Dulu sewaktu kecil ia pernah ikut ayahnya naik sampan kecil, di tengah tenangnya perjalanan sebuah Jet lewat dan menyisakan gelombang yang mengayunn-ayun sampan mereka. Ia berteriak teriak kegirangan sementara teman perempuannya ketakutan. Mungkin ia merasa takut jika ayunan sampan yang disapu gelombang akan membalikkan sampan mereka dan tenggelam. Namun tentu itu hanya sebuah kekhawatiran. Ia pasti tak terlalu khawatir seperti itu, ia anak lelaki yang kuat begitu ia berprinsip. Namun tak urung ia akhirnya khawatir juga seperti saat ini. Dipejamkannya matanya dan dicobanya untuk bersikap tenang namun ia gagal, ia lelaki yang kuat namun akhirnya ia jatuhkan juga air mata yang selalu dijaganya.
“Ayah hanya mampu untuk menyekolahkanmu sampai SMA nak”. Ucap ayahnya kala itu. Ia hanya menunduk dalam-dalam. Ia sebenarnya sudah tau namun ia lebih memilih untuk diam. Sama diamnya ketika ia menerima tanda kelulusan, baginya itu sama sekali tak membahagiakan.
“Rakan tak ingin kuliah ayah, biarkan Rakan bekerja saja ke Medan”. Ia seakan tak yakin dengan ucapannya sendiri. Beberapa waktu yang lalu ia sempat bertanya kepada saudaranya yang kuliah di Medan bagaimana supaya bisa kuliah. Dan ia hanya mendapatkan sebuah nasehat untuk rajin belajar. Sungguh ia merasa sudah rajin belajar dan ingin menjadi dokter dengan kuliah di kedokteran. Belakangan ia mengubah keinginannya, ia ingin kuliah komputer saja di kampungnya.
Meski tak punya sebuah komputer apalagi laptop namun ia pernah belajar komputer semasa sekolah. Ia tak berani lagi mengutarakan niatnya pada ayahnya. Dipandanginya ibunya yang tertunduk diam, ibunya yang hanya buruh lepas itu masih terlihat anggun dengan kerudung birunya, sementara ayahnya menatapnya dengan pandangan sayu, ia mengerti bahwa ayahnya tak akan mengijinkannya untuk pergi, mungkin khawatir dengan kehidupan keras di luar sana.
Lelaki yang bernama Rakan itu mengambil kerikil yang ada di sekitar kakinya dan menemparkannya sekuat tenaga ke laut, berulang kali. Air laut sesaat beriak kemudian tenang kembali. “Aku ingin kuliah” ucapnya lirih. Namun yang didengarnya hanyalah desah nafasnya sendiri, kesunyian menyergapnya.
“Esok aku akan berangkat ke Medan Kan”. Wira teman sebangkunya datang sore itu memberi kabar.
“Hati-hati di sana ya”. Jawab Rakan pendek.
“Kau mencoba ujian seleksi nanti?” Tanyanya lagi.
Rakan tercekat, raut wajahnya menunjukkan rasa tak suka ditanya seperti itu. Tentu ia juga ingin tapi ia tak akan ikut ujian untuk tahun ini dan entah untuk tahun berikutnya. Air matanya akhirnya jatuh juga, sungguh ia cemas memikirkan nasib hidupnya kelak.
“Kau bisa membantu ibumu Kan?”
“Aku selalu membantunya sepulang sekolah”
“Banyak yang bisa dikerjakan, mengupas udang, mengupas kerang, mengoncek kelapa, melaut juga”.
Ia ingat bagaimana ia membantu ibunya yang kesusahan itu, kadang sepulang sekolah, kadang juga dari selesai sholat maghrib sampai larut malam dan ia harus mengerjakan tugas sekolah di sela-sela kesibukannya. Sungguh ia tak sampai hati juga memperhatikan ibunya terkantuk-kantuk melakukan pekerjaan demi menghidupinya. Rakan tak pernah malu berada di sisi ibunya itu.
“Kau belajarlah yang rajin, jadi anak yang pintar biar tak susah kali hidupmu nanti” Kata ibunya suatu hari saat mereka mengoncek kelapa bersama.
“Aku akan belajar semampuku bu”. Jawab Rakan mantap, meski harus membantu sang ibu ia selalu menyempatkan diri untuk belajar dan selalu masuk tiga besar di kelasnya. Selalu seperti itu, mereka bekerja bersama dengan penuh kehangatan. Suasana yang mungkin akan sangat disyukuri oleh anak yang jarang untuk bisa bertemu dengan ibunya. Jangankan untuk bercengkrama, untuk duduk bersama saja mungkin sulit. Rakan juga selalu mensyukuri hal itu. Anak beranak itu pun lalu tenggelam dengan pekerjaannya sambil sesekali bercerita tentang kehidupan.
“Kau adalah anak ibuk lelaki satu-satunya”, Rakan selalu mendengar ucapan ini dari ibunya dan ia paham betul maksud dari perkataan ini. Ia juga tak ingin egois untuk pergi kuliah, masih ada adik-adik yang harus menyelesaikan sekolahnya. Namun seorang Rakan hanyalah manusia yang punya mimpi dan cita-cita yang tinggi dan mulia. Ia juga punya keinginan dan kadangkala bersedih hati bila mengingat impiannya itu.
“Apakah aku bisa kuliah?” lirihnya pelan.
Sebuah Boat kembali merapat di dermaga, langit semakin gelap, suara orang mengajipun mulai terdengar dari mesjid namun Rakan belum ingin beranjak jua. Ibunya sudah cemas mendapati Rakan belum pulang sedari tadi. Biasanya ia sudah mandi dan bersiap untuk melaksanakan sholat maghrib. Ayahnya belum pulang, mungkin butuh beberapa hari lagi untuk bisa kembali ke rumah. Usai memandikan dua adik Rakan, ibunya menghangatkan gulai ikan tadi siang dan memberesi rumah sembari menunggu kepulangan Rakan.
Rakan jarang pulang terlambat, rumahnya yang dekat dengan masjid menjadikannya terbiasa untuk menunaikan sholat berjamaah di masjid. Terkadang ia bertindak sebagai muadzzin, mengumandangkan adzan dan menempati shaf terdepan dalam sholat. Kadangkala orangtua yang sholat di masjid memintanya untuk memimpin do’a. Beruntung ia sudah sering mempraktekkannya di rumah sehingga dengan senang hati ia menerimanya. Biasanya selesai sholat isya ia kembali ke rumah, belajar dan membantu ibunya yang memiliki banyak pekerjaan tambahan.
“Sampai kapan kau akan di sini?” sebuah suara membuyarkan lamunan Rakan.
“Pergilah.” Rakan mengenali suara itu dan sama sekali tak memandangnya.
“Ayolah pulang sebentar lagi adzan maghrib”.
Rakan tak menggubris ucapannya sehingga ia merasa perlu untuk menambahkannya. ‘Ibuumu sudah mencemaskanmu sedari tadi, setidaknya kau pulanglah”.
“Kau bukan satu-satunya orang yang tidak bisa kuliah saat ini, sebelumnya sudah banyak orang yang mengalaminya. Sebagian dari mereka akhirnya tetap bersyukur dengan kehidupannya, namun sebagian yang lain mencoba untuk tetap memiliki harapan dan mimpi. Kau bisa mencobanya setahun ini”.
Rakan mengerti betul apa yang dikatakan teman baiknya itu. Ardi, abang kelasnya di sekolah merupakan salah satu orang yang kurang beruntung untuk bisa kuliah. Ia mencoba untuk beternak ayam dan sekarang jumlahnya sudah ratusan ekor. Berbekal keyakinan ia terus bangkit mencoba beberapa usaha lain. Anggi tetangganya yang tamat dua tahun yang lalu juga terkendala untuk bisa melanjutkan kuliah. Ia sempat setahun bekerja sebagai penjaga toko baju di pajak stasiun padahal teman-teman dekatnya melanjutkan pendidikan ke Medan namun ia mencoba untuk bangkit. Usai dari menjaga toko ia mencoba mendaftarkan diri sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak-Kanak, beberapa bulan mengajar ia mendapatkan kesempatan untuk kuliah di Universitas Terbuka di kota ini, sekarang ia telah menjadi seorang guru dan sering menghadiri acara yang di gelar oleh dinas terkait.
Masih banyak anak di kampungnya yang tak bisa untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi, sebagian dari mereka tetap memiliki mimpi meski tidak dengan harus kuliah di universitas bergengsi, namun ada juga yang akhirnya jatuh ke lembah yang memilukan, meratapi hidup dengan mencari tempat pelarian yang salah, akhirnya ia meyakini bahwa tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri nikmat hidup ini. Beruntung ia masih memiliki orangtua yang senantiasa ada di sisinya, mendidiknya dengan penuh kasih sayang dan senantiasa menjaganya.
Rakan menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan, aroma ketenangan menyeruak ke dalam dadanya, dilemparkannya pandangannya jauh ke depan seakan ingin melemparkan segala beban ke tengah lautan dan menenggelamkannya hingga ke dasar laut dan berharap tak akan pernah muncul lagi dan mengganggu pikirannya. Hidup kadang-kadang harus bisa memandang ke bawah untuk bisa bersyukur.
“Benar, langit belum runtuh Rakan”. Temannya yang sedari tadi berdiri dibelakangnya menambahkan seakan ingin mempertegas ketenangan Rakan.
“Kuliah bukan segalanya, walaupun kau tak bisa kuliah tapi bukan berarti kau tidak bisa belajar. Perpustakaan selalu terbuka untukmu, dan waktumu masih panjang. Kau bisa menabung tahun ini dan mencobanya tahun depan”. Sebuah suara yang lain tiba-tiba terdengar, muncul di belakang Rakan setelah temannya yang pertama.
Rakan membalikkan badannya, dua orang sahabatnya muncul bersamaan dengan kumandang adzan maghrib. Langit semakin menggelap, tiga orang yang bersahabat itu meninggalkan jejak di tepi laut, menyisakan nyanyian hidup yang berputar bersama senja yang segera menjemput malam. Anak-anak berlarian menuju masjid sambil membawa buku kecil, buku untuk ditanda tangani imam. Mungkin malam ini akan muncul bulan disertai bintang. Malam yang pekat tak selalu buruk, justru terkadang ada keindahan yang terpancar darinya jika dilihat dengan hati yang lapang. Tiba-tiba ia ingin sekali makan malam dengan gulai gembung buatan ibunya.***