Kesedihan bisa dibagi, kesabaran tidak.
Ada kutipan yang sempat lewat di linimasa, katanya, "kalau kamu lagi struggle kerja, ceritanya sama yang lagi kerja. Kalau lagi struggle skripsian, ceritanya sama yang lagi skripsian. Kalau udah nikah, ceritanya sama yang udah nikah." Dan seterusnya.
Kupikir itu menarik soalnya kalimat itu (kayaknya) lahir dari kesadaran bahwa orang-orang lebih gampang saling ngerti kalau ada di struggle yang sama atau di jalur kesabaran yang sama. Karena level understanding-nya nggak jauh beda, kemungkinan untuk disepelekan, disalahpahami, atau di-judge itu jadi kecil.
Ungkapan untuk empati sering banget kita denger, kayak, "I'm happy for you," atau "I'm sorry for you" dan semacamnya. Kita bisa marah untuk orang lain. Kita bisa ikut sedih atas nestapa orang lain meski kita nggak mengalaminya. Tapi kita nggak pernah bisa ikut bersabar atas ujian orang lain yang nggak sedang kita hadapi. Kita nggak pernah benar-benar bisa memikul beban ujian orang lain. Dan orang lain pun nggak bisa melakukannya untuk kita.
Karena nggak ada yang bisa melangkah menggantikan kaki orang lain, hal terbaik yang bisa dilakukan mungkin cuma menemani, menguatkan, dan mendoakan. Soalnya tetep aja, yang berdiri di garis depan mah, orang itu sendiri. Yang bernegosiasi dengan rasa pahit setiap malam dan bangun untuk melanjutkan hidupnya, tetap orang itu sendiri.
Kesedihan mencari telinga. Kesabaran menuntut punggung. Dipikir-pikir pahit dan getir. Mungkin karena itulah orang-orang yang sedang diuji terbiasa menengok ke belakang alias melihat orang-orang yang pernah sampai lebih dulu, "oh, ternyata bisa ya dilewati."
Bahkan kadang kalimat "sabar ya," bisa terdengar menyebalkan ketika keluar dari orang yang nggak sedang memikul ujian itu. Terlalu ringan untuk beban yang sedang berat-beratnya. Aku sampai sadar, betapapun seseorang jago akrobat diksi, perasaan getir dan pahitnya mah cuma bisa dijembatani oleh orang yang pernah di titik yang sama.
Yang bikin sabar kerasa makin berat juga karena sebagian besar ujian susah didekati/di-approach secara kognitif. Maksudnya, nggak bisa dijelasin dengan sebab-akibat yang rapi. Terlalu banyak variabel luar yang nggak bisa dikontrol dan dipelajari, belum lagi kalau ada hidden variabel. Terlalu banyak yang bahkan nggak kita tau harus mulai dipikirin dari mana. Logika juga udah cape duluan kali.. karena mentok di tengah jalan. Dalam beberapa momen, pikiran sampai nggak cukup kuat untuk menopang hati.
Terus apa yang bisa kita andelin di titik itu?
Iman emosional (ini mah terminologi pribadi Giza aja), yang sifatnya cenderung afektif juga fluktuatif. Kalau sering denger orang Sunda mah, bilangnya, "muntang ka Allah." Semacam.. kepercayaan karena ingin ditemani Allah aja. Entah kenapa, selalu ada rasa aman saat punya kebergantungan semacam ini, meski nggak paham, lagi di bawa kemana atau mau ditunjukkin apa sama Allah. Di sisi lain, iman rasional (ini juga terminologi pribadi Giza aja), yang sifatnya kognitif bukan berarti nggak guna. Itu juga justru jadi jangkar buat kita tetep waras.
Sebagai orang yang gampang marah/sedih untuk orang lain, aku akhirnya cuma bisa bayangin, "berapa lama ya orang ini udah sabar?" Soalnya si gue mah pasti bebeledagan. Misal hari ini gue day 1 bersabar, besoknya pasti bukan day 2, tapi ngulang lagi day 1 karena gagal sabar di hari pertama wkwk.
Lebih tinggi dari empati, aku ingin sekali menaruh hormat pada orang-orang yang tetap menghormati ketetapan dari Tuhannya, betapapun ujian itu terasa seperti menggenggam bara api. Karena kalau aku yang di posisi itu, belum tentu bisa.
Hormat juga berarti aku sadar batas bahwa perjuangan sebagian orang nggak minta ditafsirkan, apalagi dijadiin pelajaran cepat saji. Selain itu, juga berarti membiarkan seseorang memikul ujiannya dengan caranya sendiri, tanpa aku paksa masuk ke dalam kerangka pikirku.
Sejujurnya dengan ini, jadi ngerti struggle-nya Hajar. Pahit dan getirnya mungkin nggak kerasa heroik atau spektakuler seperti ibadah-ibadah aktif lainnya kayak perang atau dakwah. Tapi bayangin, di gersangnya hari-hari tanpa pengakuan, Allah sendiri yang menghargai kesabaran itu. Kalimat Hajar pun jadi nyata, "sungguh Allah takkan menyia-nyiakan iman kami."
Aku tahu, ke depannya, cepat atau lambat, struggle-ku juga akan semakin berat. Semoga Allah tetap karuniakan rahmat berupa ketenangan dan kesabaran di titik itu, meski akan ada banyak hal yang nggak masuk akal. Soalnya menurutku kesabaran adalah topik yang cukup susah didekati secara kognitif kalau aku belum ngerasain itu. Beda dengan hal-hal lain yang kupikir masih relatif mudah. Dan bahkan mungkin kalau udah ngerasain, aku nggak perlu lagi terlalu ngeteoriin sabar.
Untuk siapapun yang sedang diuji, dengan hormat, Giza ingin bilang, "seperti doa Ismail, mudah-mudahan Tuhan mendapatimu, serta kau mendapati dirimu sendiri, sampai akhir, termasuk orang-orang yang sabar. Dan mudah-mudahan pahala dan kebaikanmu memanjang di dalam waktu, seperti buah kesabaran Hajar."
Kalimat itu, mudah-mudahan berguna juga untukku jika diuji dengan yang lebih berat daripada hari ini.
Mari saling menjaga agar perjuangan orang lain tidak kita perkecil hanya karena kita tidak hidup di tubuhnya. Mari saling menyertai dan menjadi agen tawashou bilhaq wa tawashou bisshabr untuk satu sama lain. Lagi-lagi, dunia sudah kejam dan (selain Allah) kita hanya punya satu sama lain untuk selamat.
— Giza, menghormati perjalanan hidup manusia lain.
















