Hati-hati di jalan.
No title available

PR's Tumblrdome

Kaledo Art

titsay
Game of Thrones Daily
hello vonnie
Sweet Seals For You, Always

Janaina Medeiros

blake kathryn
will byers stan first human second

⁂
wallacepolsom

❣ Chile in a Photography ❣
art blog(derogatory)
tumblr dot com
styofa doing anything
noise dept.

tannertan36
Mike Driver
DEAR READER
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Germany
seen from Germany
seen from France
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Iraq

seen from United States
seen from Tunisia

seen from Türkiye

seen from Singapore

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@mentarianti
Hati-hati di jalan.
Untuk setiap hal yang pernah ada, tapi kini tidak :
Terima kasih, karna sudah pernah hadir.
Sedang tidak ada energi untuk menyenangkan orang lain.
Huhu egois ya.
Dear Arkala
Akan selalu ada yang pertama kali dalam hidup. Seperti kemarin yang jadi kali pertama kamu menginap di rumah nenek. Kamu sempat rewel sedikit. Mungkin karena suasana baru ya nak, atau kangen ayahmu?
Begitulah nak. Semua yang serba pertama, memang kadang tak semudah itu untuk dilalui. Kadang diselipi ketidaknyamanan. Terkadang lagi bahkan muncul rasa sedih. Atau bahkan, kita terjebak dalam satu kondisi konyol yang tidak akan kita lupa sepanjang hidup.
Arkala sayang, kelak akan kamu temukan berbagai yang-pertama dalam hidup. Pertama masuk sekolah, pertama naik angkutan umum sendirian, pertama jatuh cinta, atau pertama patah hati bahkan.
Kini bunda juga sedang menjalani fase yang pertama nak. Memilikimu -bukan, diamanahimu, adalah momen yang-pertama yang saaaangat banyak rasanya. Banyak belajarnya. Banyak gejolak naik turunnya. Dan tentu, banyak bahagianya.
Begitulah nak. Momen yang-pertama memang tak selalu baik baik saja. Tapi yakinlah, selama kita berpegangan pada-Nya, tak akan ada yang tak bisa kita lalui.
Percaya, Nak. Itu kuncinya.
Realistis Aja
Dunia ga peduli apakah kamu seorang manager yang susah untuk constantly reading articles atau sering ikut meetup karena ngasuh anak di rumah. Atau apakah kamu seorang mahasiswa yang gabisa ke perpustakaan just for the sake of seeking knowledge karena menanggung kehidupan sekian orang adik. Atau apakah kamu seorang wanita karir yang cari nafkah sekaligus urusin rumah sementara suaminya gabut.
Yang dunia pedulikan itu hasil, output, sesuatu yang keliatan. Sorry this is harsh, but empathy-thingy itu kemewahan. You can’t expect the world to listen to your story and menye-menye.
You know what to do in this condition?
Firstly, communicate, talk, pray, to God, “Dear God, this is hard for me. Aku ingin mengeluh, tapi aku tau Engkau sedang melihat bagaimana aku melalui ini. Maka catatlah kesabaranku ini sebagai pahala yang banyak. Jadikan ini keistimewaanku dibanding makhluk-Mu yang lain.”
Secondly, stop caring about what people would think about you. Just do your best to tackle this and that, finish this and that, but shut your inner voices yang bilang, “Wah nanti aku dinilai ga perform”, “Wah nanti aku keliatan bodoh”, etc. Be a bodoamat person selama kamu udah lakuin yang terbaik yang kamu bisa. Biarkan hatimu bertawakkal–”I’ve done my very best, so whatever will be, will be.”
Thirdly, just keep moving forward, don’t look back, you can slow down but don’t stop, because hardship won’t last forever. At some point things will get easier. If not, then you haven’t pass through the storm, maybe you haven’t faced the center of the storm–brace yourself, but after that things will get better. Remember Dory’s song, “Just keep swimming.. Just keep swimming”
Good luck!
Butuh meluapkan kisahmu? Kirim ke https://yasirmukhtar.tumblr.com/submit.
This.
Bersiap
Begini ternyata rasanya hamil. Mulai dari trimester pertama yang hmm ya cukup menantang karena dilengkapi dengan mual-muntah-sakit kepala-mimisan yang bahkan sempet bikin harus bed rest seminggu. Gak enak makan, sendirian di kosan, jauh dari suami dan orang tua. Alhamdulillaah, Allah mampukan juga untuk melewatinya.
Trimester dua, trimester paling surga, katanya. Makan udah enak, mual sudah jauuuh berkurang, hilang bahkan. Muntah hanya sekali dua kali kalau badan lagi gak fit. Dan dedek, sudah bisa dikenali jenis kelaminnya :)
Trimester tiga. Fase bersiap. Banyak deg-degannya. Mulai serius memantapkan fasilitas untuk bersalin, mulai ngelist kebutuhan dedek dan aku yang perlu disiapkan menjelang persalinan, mulai heboh beresin kerjaan sebelum cuti melahirkan. Frekuensi pulang ke bandung pun mulai dikurangi. Sudah lumayan ripuh pegelnya kalau duduk di bis kelamaan. Mulai nanya-nanya juga jadwal yoga prenatal plus price list paket full body massage. Wkwk.
Bersiap. Menanti seseorang yang selama beberapa bulan ini hidup di rahimku. Yang dengan sabar nemenin bundanya kemana-mana, yang kuat sekali dibawa kerja seharian plus pulang pergi Cibi - Bandung, yang lagi semangat semangatnya olahraga di dalem perut akhir-akhir ini :)
Bismillaah. Sehat-sehat ya kita, sayangku. Sabar ya Nak, insyaAllah sebentar lagi kita ketemu. Mudah-mudahan Allah mampukan, lancarkan, bahagiakan semua prosesnya.
Met bobo, pangeran kecilku sayang.
“Ramazan sevgidir.”
(Ramadhan itu, cinta.)
Sehat-sehat ya, Nak. Kita berjuang sama-sama. Bismillaah.
punggung
aku kira, hampir setiap orang di dunia ini memiliki si punggung-nya sendiri-sendiri. itulah, seseorang yang kalau kata Dewi Lestari, hanya bisa dinikmati punggungnya saja. seseorang yang seakan selalu membelakangi kita sampai-sampai kita tidak betul-betul tahu bilamana matanya hitam atau cokelat, pula apakah geliginya rapi atau gingsul.
aku juga dulu punya seseorang seperti itu. seketika aku sadar telah jatuh cinta kepadanya karena hal-hal yang sangat tidak masuk akal! seperti caranya berdiri dan satu dua cuitannya di media sosial. juga karena cerita-cerita yang kudapat dari temannya temannya. satu, dua, tiga. ya, aku ada di lingkaran ketiga.
lalu, aku jadi melakukan hal-hal yang gila. aku menungguinya di tempat yang pernah ia datangi, berharap bisa tak sengaja bertemu. aku bolak-balik mengecek media sosialnya, lalu menerka-nerka makna jejak-jejak yang ia tinggalkan. yang ini, berharap salah satunya ada yang tentangku.
kemudian, segala hal kecil seakan terhubung dengannya. buku, lagu, film, sajak, cuaca, tempat, makanan, minuman, kendaraan–pada dasarnya semua hal yang aku lihat sehari-hari mengingatkan aku kepadanya. malahan, aku jadi mendengarkan lagu yang dia suka. aku bahkan mengikuti pertandingan olahraga yang adalah hobinya. berharap itu bisa membuatku memahaminya lebih baik.
lalu sebuah keberanian datang. entah dari mana aku merasa percaya diri bahwa aku cukup untuknya. cukup baik, cukup pintar, cukup cantik. aku menyapa agar keberadaanku disadari. aku berupaya agar menjadi semenarik mungkin meskipun tak mau ketahuan. pada suatu titik, aku merasa menang hanya karena dia membalas sapaanku.
aku terlalu dogol untuk sadar bahwa banyak sekali yang tidak dia bagi denganku: cita-citanya, mimpi-mimpinya, harapannya, rencana hidupnya, masa depannya, cerita tentang keluarganya. aku terlalu bangga, mengira mengenalnya begitu sangat padahal tidak.
lalu tiba-tiba dia menghilang, selamanya menjadi punggung yang bahkan tak lagi bisa aku lihat dari belakang. kusangka, dia menghilang karena tau aku begitu jatuh cinta dan telah gila. eh, tunggu. ternyata, dia bukan menghindariku. dia memang tak menganggapku ada.
hari ini, masa-masa tentang si punggung telah berlalu. aku bersyukur bahwa aku telah jujur kepada diriku sendiri, bahwa aku telah berani menampakkan diri, juga karena aku menerima pilihannya untuk pergi.
aku bersyukur dia pergi. meski saat itu tiba-tiba ada lubang sebesar kota hujan di hatiku, kini ruang ini telah menjadi tempat yang nyaman. kini, seseorang lain bisa tinggal di sini, merawatku tanpa perlu tapi-tapi.
Kadang ada beberapa hal yang gak bisa kita mengerti. Yang semakin dipikir semakin membuat kita lelah. Yang semakin dirasa semakin membuat kita sedih. Yang semakin ditanya semakin jauh dari jawabannya. Ada. Yang seperti itu ada. Kalau sudah begitu, apalagi pertahanan utama selain berhusnudzan terhadap setiap takdir-Nya?
Respon Pertama
Pernah tidak memiliki sesuatu yang mahal, kita begitu suka dan menjaga, tapi tiba-tiba lecet bukan karena salah kita? Tiba-tiba aja, tanpa mendung, tanpa petir, tanpa tanda-tanda. Pernah, pasti ya? Kalau kalian seorang muslim, yakinlah ini adalah cara Tuhan untuk menjaga kita agar tidak terlalu jauh mencintai dunia.
Saya ingat sekali pesan seorang ustadz–entah Aa Gym atau siapa saya lupa, tapi kata-katanya masih terus terngiang. Beliau bilang begini, “Kalau hati seorang hamba sudah terikat dengan dunia, ciri-cirinya mudah. Lihat dari perlakuannya terhadap dunia itu sendiri. Misal, dia punya mobil bagus dan mahal. Lalu tiba-tiba mobil itu tergores. Respon pertama dia terhadap mobilnya yang tergores itu adalah sejauh mana ia mencintai dunia.” Dalam hati, saya langsung berdegup. “Respon pertama”, ini sesuatu. Jangan-jangan selama ini saya telah terlalu jauh mencintai dunia.
Sering beribadah, tapi hanya di permukaan. Ibadah itu nampak di permukaan tandanya, tapi soal hati benar-benar misterius. Dan, “respon pertama” adalah sesuatu yang datang dari dalam hati. Sama seperti “kesabaran pada hentakan pertama”. Orang yang benar-benar tulus bersabar adalah ketika ia mengalami musibah pada hentakan pertama. Jika responnya keras, berlebihan, marah, sedih, lalu ia sadar dan bersabar, ia tidak lagi pada hentakan pertama, bukan respon pertama.
Sering saya mengalami hal ini, dan berkali-kali Tuhan memberikan peringatan; dunia itu mudah retak. Punya hp bagus sedikit, disayang-sayang, eh jatuh oleh keponakan. Terakhir beberapa menit lalu, yang menginspirasi untuk menulis ini, saat sedang membersihkan laptop, saya lihat di ujung unibody alumuniumnya pengok, yang saya yakin ini baru. Saya menduga tas saya terjatuh saat petugas test IELTS di Istanbul menyimpan barangnya. Beberapa menit saya meratapi; menginvestigasi apakah saya penyebabnya; kenapa bisa pengok; kenapa saya tidak menyadarinya; dan pertanyaan gelisah lain yang membuat saya hampir kesal. Lalu, slap! Saya langsung teringat, inilah yang dimaksud dengan cinta dunia. Astaghfirullah. Benar-benar mudah retak dan saya begitu lemah.
Ini bisa terjadi terhadap apapun yang berkaitan dengan dunia; yang tidak menghasilkan kebaikan; yang justru melalaikan. Apapun itu yang tidak mendekatkan kepada Tuhan adalah kesia-siaan. Di sinilah letak keunikannya, menjadi seorang muslim; bahwa ada pesan Tuhan dalam setiap kejadian.
Respon pertama saya tidak bersabar. Saya kesal. Masih ada cinta berlebihan terhadap dunia. Meski pada akhirnya saya menyadarinya dan membaginya di sini. Tapi saya gagal. Saya ingin yang membaca tulisan ini ingat bahwa respon pertama kita itu penting. Dunia mudah retak. Apa yang kita pandang indah, akan rusak. Atas kemauan kita atau tidak; itu semua kehendak Tuhan. Dan ketika ia retak, jagalah diri kita dari cinta terhadapnya.
mau repot
“mbak, kalau kamu mau anakmu jadi anak yang mandiri, berdaya, peka dengan sekitar, terasah empati dan emosinya, itu gampang. kuncinya satu, kamu harus mau repot.
membuat anak terus-menerus merasa terhibur dan memilih menghindarkan anak dari layar sebelum waktunya memang repot. lebih enak beri saja teve atau hape, biar nonton dan berhenti rewel. tetapi ini melatih anak untuk bisa membuat dirinya sendiri terhibur dengan yang ada di luar layar. ada banyak yang lebih menarik di sekitar.
membuat anak mau makan sambil duduk, apalagi makan sendiri, dengan rapi, tidak acak-acakan, dan makannya tetap banyak memang repot. lebih enak gendong dan suapi sambil jalan-jalan, makannya biasanya akan lebih banyak. tetapi ini melatih kesadarannya bahwa dia sedang makan. bahwa makan harus duduk. bahwa makan adalah bagian dari bersyukur.
membuat anak mau buang air di toilet, bisa duduk tenang, mencatur setiap pagi dan malam, memang repot. lebih enak pakai popok sekali pakai, biarkan saja buang air sesukanya. tetapi ini mengajarkan aturan dan menunjukkan bagaimana berperilaku yang baik. lebih sehat.
membuat anak memiliki jadwal yang rutin, jam tidur rutin, jam makan rutin, jam mandi rutin, memang repot. lebih enak biarkan saja anak semaunya. tetapi ini mengajarkan kebiasaan, yang saat besar akan memengaruhi perilakunya pula, kedisiplinannya.
mengikuti dunia anak dan tidak "memutus” begitu saja yang sedang dilakukan atau diinginkannya memang repot. harus menunggu sampai puas main air di kamar mandi, harus membuntuti sampai puas memanjat tangga, harus mengikhlaskan rumah berantakan, repot. tetapi ini memberikan sinyal kepadanya bahwa dirinya disayangi, didukung, dan boleh belajar.
mbak, intinya, menjadi ibu itu bisa saja tidak repot, tetapi jika ingin anaknya jadi anak yang berdaya kelak, ya harus mau repot. di tengah segala kemudahan yang ditawarkan zaman ini, menjadi ibu harus pintar-pintar memilih, harus banyak-banyak sabar, dan lebih banyak lagi memaafkan.“
demikian nasihat ibu untuk saya. sulit bagi saya membayangkan kerepotan yang saya timbulkan untuk ibu saat kecil dulu. ibu tidak pernah mengeluh, tidak pernah lelah. semoga Allah memberikan cinta-Nya untuk ibu.
Hardest part of pulang bandung itu adalah saat harus balik ke perantauan. Lebay sih kalau bilang perantauan karena sebenernya jarak Cibinong - Bandung tidak sejauh itu. Tapi jadi cukup jauh buat saya yang notabene gampang kangenan. Ada satu hal yang saya rasakan dari pengalaman jauh dari keluarga. Sepi. Seramai apapun hidup disekelilingnya, tetap saja rasanya sepi. Dulu, selama saya tinggal di rumah, dekat dengan orangtua dan adik-adik, rasanya saya tak pernah merasa sesepi itu. Di bumi, tak ada tempat tertentram selain tempat dimana kita merasa paling disayang, ternyata. Dan buat saya, rumah, mewakili itu. Tapi, Allah kan yang paling sayang. Dan ada bersama kita dimana saja. Kapan saja. Harusnya, rumah ada dimana-mana. Sejauh kita ingat Allah, itu rumah kita. Begitu kan ya harusnya. Semangat. Allah bersamamu. Sesepi apapun rasanya kamu, kamu tak pernah benar-benar sendirian, kan.
Hati-hati dalam menceritakan ulang. Menceritakan ulang tanpa bumbu-bumbu itu susah. Kalau ragu tentang detailnya, mending ndak usah.
(via beningtirta)
Nah. Cerita ulang, suka banyak mecinnya Tiati ah.
You did a good job, anti. You did what you have to do. Now, go ahead. Complete your own pledge you made. Don't you want to be happy? You need to be happy. Yourself do.
Kita semua mungkin pernah mengalami ini. Atau mungkin sering. Atau mungkin selalu.
Ketika malam tiba, menjelang istirahatnya mata dan seluruh jiwa raga, teringat tentang hidup yang sedang kita jalani, dan apa yang akan kita lalui setelah ini.
Juga tentang orang-orang yang kita rindu, yang kita sayang teramat dalam. Tentang mereka yang berharga dan harus dijaga. Yang tetiba kebahagiaannya menjadi fokus utama kita. Yang cita-citanya menjadi cita-cita kita. Yang keinginannya menjadi prioritas kita.
Yang karena sungguh sayangnya kita pada mereka, mengomandoi pikiran dan hati kita untuk merencanakan hidup dengan mempertimbangkan mereka sebagai salah satu alasan utama. Yang -pada saat itu- menjadikan kita manusia paling tidak egois sedunia.
Tapi kemudian mata kita terpejam, dan pagi datang. Rutinitas harian kembali menjadi teman setia. Lalu kita lupa. Dan kembali menjadi diri kita, yang serba lupa. Atau mungkin pura-pura lupa. Bahwa hidup yang sedang kita jalani ini, sungguhan hanya sementara.
maklum
Alkisah, ada perempuan yang kerap mengusik perasaan orang-orang di sekitarnya. Sebut saja, K. Ketidaknyamanan berjamaah timbul karena kebiasan K menyindir rekan-rekan kerjanya secara langsung. Rekan yang tengah mengambil cuti, kena sindir. Rekan yang makan siang di luar kantor tanpa mengajaknya, kena sindir. Rekan yang izin dari pekerjaan untuk alasan keluarga, juga kena sindir. Kita mengenal orang-orang sejenis K sebagai toxic person.
Dengan gangguan serupa, mungkin kita bisa dibuat berang dan menggerutu kepada orang-orang tak bersalah. Alhasil, “racun” yang mereka sebarkan telah kita tularkan tanpa sadar dalam bentuk perilaku buruk terhadap lingkungan. Tapi, pernahkah di satu waktu kita coba menyelami latar belakang dari para toxic person? Umumnya, akan kita temukan sesuatu yang menjadi musabab dari tabiat yang kadung mengakar pada orang-orang sejenis K.
Dari lingkaran terdekatnya, diperoleh kabar bahwa K yang tengah mengandung anak keduanya pernah memergoki suaminya serong dengan perempuan lain di luar rumah. Haduh. Hamil sewajarnya tanpa menghadapi persoalan saja akan memayahkan ibu manapun, lalu apa jadinya kalau sang suami ketahuan belangnya berkali-kali?
Kita sering mendengar kisah yang seolah mengandung hubungan sebab-akibat serupa di balik kehadiran toxic person. Di balik sosok yang galak, ada kisah tentang sepasang suami-istri yang tak kunjung dikaruniai anak hingga usia tuanya. Di balik sosok yang hobi nyinyir, ada kisah tentang masa lalu yang penuh dengan memori yang menyedihkan. Di balik sosok yang usil, ada kisah tentang masa kecil yang diisi pengalaman dijahili.
Kisah-kisah semacam itu membuat kita belajar memahami sebab yang menimbulkan akibat tertentu pada tabiat seseorang. Dengan menyelami sebab-musabab tersebut, kita akan dibuat lebih mudah memaklumi para pengusik perasaan dalam pergaulan sehari-hari. Nyatanya, dimanapun, akan selalu ada orang-orang dewasa yang bersikap menyebalkan untuk melampiaskan ketidaknyamanan pribadi. Sebetulnya, mereka amat layak dimaafkan dan dikasih(an)i.
Amat manusiawi ketika sebagian orang terbelit masalah dengan kerumitan yang beragam, ada ketidakberesan yang tercermin pada perilaku mereka. Bukankah kita pun kerap bersikap mendongkolkan ketika mengalami hari yang buruk? Bukankah kita pun ingin dimaklumi ketika berperilaku menjengkelkan karena alasan tertentu?
Jadi, tahanlah amarah sejenak ketika kita menjadi korban dari keserampangan para toxic person. Sayangi dirimu sendiri dengan menghemat energi dan menjauhkan diri dari perkara yang hanya perlu diabaikan. Cerdik cendekia telah meringkas hikmah dari peristiwa semacam ini lewat peribahasa, “anjing menggonggong, kafilah berlalu”. Andai kafilah harus memedulikan gonggongan dan menyerupai anjing, betapa banyak kesia-siaan yang terjadi.
Sindiran, gunjingan, cemoohan tak pernah memberi kita banyak nilai tambah kecuali lewat jeda atas pengabaian dan catatan kebaikan atas kemauan untuk memaafkan.
Setujuuu