Perempuan yang Menunggu Senja
Dudukku dalam diam di bawah pohon yang berada tak jauh dari bibir pantai. Kulirik jam tangan keemasan, baru menunjukkan pukul 4 sore, kurang dari 2 jam lagi menuju senja.
Hal yang paling kunanti di setiap hari, sebenarnya. Pergantian dari siang menuju malam. Perubahan dari terang benderang menuju pekat hitam kelam. Senja dimana langit berwana jingga kemerah-merah-an muncul malu-malu di balik bangunan tinggi yang mencoba mencakar langit dan beruntung bila pada senja terdapat arak-arak awan di dalamnya, maka akan ada warna keperak-perakan yang bercampur. Kuasa Tuhan banyak sekali dalam menciptakan keindahan di tiap sudut buminya, tapi bagiku senja adalah ciptaan Tuhan terindah yang pernah kusaksikan. Bagiku dia ciptaan Tuhan tanpa cela, terlalu sempurna. Karena itu aku sanggup diam termenung memandanginya, berapa lama pun.
Tapi beberapa waktu yang lalu aku memilih untuk berhenti memandangi senja jika ia datang kembali. Aku takut berduka karena gagal mempertahankan senja setelah siang dan sebelum malam, dia terlalu cepat berlalu. Maka jika hampir memasuki waktu senja, aku akan kembali ke rumah. Mengunci pintu rapat-rapat, dan kembali keluar saat senja sudah digantikan malam berbintang. Kemudian menuju pekarangan rumah untuk menanam sebuah kotak. Aku sudah melakukannya setiap hari sejak kusadari bahwa aku takkan mungkin bersama senja, ntah sudah berapa banyak kotak yang tertanam di pekarangan rumahku yang menjadi makam bagi kotak-kotakku yang berisikan cintaku pada senja. Cintaku pada senja yang tak pernah berbalas karena dia meninggalkanku tanpa kata. Cintaku pada senja karena dia lebih membiarkan malam menemaniku. Aku mencintainya, tapi aku lebih memilih untuk membencinya daripada terluka kemudian terus-terusan berduka.
Hingga hari ini, lelaki itu datang dia membawa banyak kotak-kota yang ntah apa isinya kemudian memberikan padaku.
‘Ini untukmu.’ Ujarnya sambil menyodorkan kotak-kotak itu padaku.
‘Cintaku pada senja.’ Lanjutnya.
Aku terdiam lama, kaget setengah mati. Badanku membeku. Dia sepertiku, mengumpulkan cinta pada senja dan menyimpannya dalam kotak-kotak.
‘Aku sudah menyimpannya sejak lama, sejak aku yakini aku tak mungkin terus-terusan bersama senja. Hingga beberapa waktu yang lalu aku melihatmu di bibir pantai, berlari cepat menuju rumah ini. Lalu kutunggu kau dan kulihat setelah langit berganti malam kau keluar sambil berurai air mata memegangi kotak yang sama persis milikku. Lalu sejak itu kuubah rutinitasku, dari datang kepantai untuk menanti senja, lalu kulalui hariku untuk menantimu. ‘
Aku masih diam mematung memandanginya lama-lama. Badannya bercahaya, jingga keperak-perakkan seperti senja. Terang tetapi meneduhkan. Ada perasaan menyeruak keluar, ntah apa itu namanya. Perasaan bahagia, tetapi diliputi kesedihan yang muncul secara bersamaan.
Dia melanjutkan kata-katanya.
‘Aku pikir aku telah jatuh cinta padamu.’
‘Maaf, aku belum bisa. Aku telah berjanji untuk mencintai senja ntah sampai kapan. Mungkin hingga aku benar-benar lelah sendiri.’ Jawabku sambil terus memandangi matanya yang sendu.
Lelaki itu diam dan dengan tenang kembali berbicara sambil terus disinari warna jingga keperak-perakkan.
‘Aku sudah lama bersetia menunggu senja hingga akhirnya kau datang, tak mengapa jika aku harus menunggumu kembali walau hingga waktu yang tak menentu. Karena aku yakin, semesta lebih tahu kau milikku karena itu dia membawaku padamu.’














