Kini aku hanya mencintaimu, karena hanya padamu kulihat teduh..
Mbak, ibuk mencintaimu.
noise dept.
$LAYYYTER
todays bird
we're not kids anymore.

⁂
No title available
tumblr dot com
ojovivo
Sade Olutola
Alisa U Zemlji Chuda
No title available
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

No title available
hello vonnie

oozey mess
TVSTRANGERTHINGS

izzy's playlists!
Misplaced Lens Cap
NASA

seen from Malaysia

seen from Poland
seen from United States

seen from United States

seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from India

seen from United States
seen from Finland

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
@menyapaaaruna
Kini aku hanya mencintaimu, karena hanya padamu kulihat teduh..
Mbak, ibuk mencintaimu.
Tentang mbak Runa dan ibuk-bapak yg tak pernah siap. Sudah hampir dua bulan mbak Runa hadir di hidup ibuk dan bapak. Kemarin, bapak mendadak menulis sesuatu di sela kami berkirim pesan. Katanya, bagi bapak, keberadaan mbak Runa masih seperti mimpi. Ibuk jg, balas ibuk kepada bapak. Masih terekam jelas dalam memori ibuk hari pertama ibuk menggunakan alat uji kehamilan dan memberitahukan hasilnya kepada bapak. Bapak yg saat itu sedang berkutat dg pekerjaannya di depan laptop, hanya melirik sebentar, berkata "Ohh..", menyuruh ibuk mengulang tes esok hari, dan kembali melihat layar laptop. Tak ada excitement. Bahkan bapak tak tersenyum sama sekali. Lantas ibuk menyuruhnya segera membeli merk alat uji kehamilan yg lebih mahal, tapi bapak hanya menjawab, " Iya nanti." Ibuk menelan ludah, mengerti. Kejadian tiga bulan lalu membuatnya tak terlalu tertarik membahas tentang kehamilan. Sudah terlalu sering situasi seperti ini terjadi dan selalu berujung pada hal yg sama: kecewa. Kemudian delapan bulan berlalu sejak hari itu tanpa bisa bapak menemani ibuk menghadapi hari-hari mengandungmu yg sedemikian sulit. Sempat kami berfikir bahwa kesempatan yg ini akan berakhir sama seperti yg sudah-sudah. Tapi ternyata Allah izinkan semuanya menjadi mudah, dan mbak Runa yg demikian kuatnya meski melewati aneka peristiwa yg luar bisa. Dua bulan tagihan bengkak karena obat penguat, dua kali masuk IGD dan dirawat, serta dua minggu menjelang HPL yg menegangkan sebab harus diinduksi karena sudah lebih dari seminggu tensi ibuk mendadak tinggi tanpa tau sebabnya apa. Qadarullaah wa maa syaa-a fa'ala 🥰 Mbak Runa sayang, dua hari lg genap dua bulan usiamu. Mungkin segalanya masih serba kebetulan dan begitu cepat hingga ibuk dan bapak masih merasa gamang, nak. Tapi percayalah, ibuk dan bapak selalu mengusahakan yg terbaik buat mbak Runa meski kami sadar kami bukan orang tua yg sempurna. Semoga Allah senantiasa memberikan ibuk-bapak kesempatan untuk terus berbenah dan belajar, agar kami bisa menjadi rumah terbaik untukmu dari kini hingga kelak mbak Runa dewasa ❤ Ibuk dan bapak love you, nak! https://www.instagram.com/p/CLR5_hglVxe/?igshid=y44i2owftibi
Memperjuangkan kehadiranmu lantas membersamaimu selama 37 minggu ini adalah sebuah rangkaian panjang perjalanan ibuk dan bapak memaknai keikhlasan, nak. Hidup memang seringkali tak adil pada mulanya. Kehilangan dua embrio, puluhan juta uang, waktu, serta tenaga. Jg kehilangan akal saat diminta Tuhan pulang membersamai hal yang sudah bertahun-tahun ini berusaha ibuk hindari dg memilih hidup jauh bersama bapak. Kemudian kamu hadir di saat kami harus merekonstruksi ulang mimpi dan rencana-rencana kami. Dg tiga bulan pertama kehadiranmu yg luar biasa mengubah pola hidup ibuk. Ditutup dg akhir trimester satu yg lagi-lagi membuat kami menghela nafas panjang karena hampir saja kehilanganmu..
Hidup memang seringkali tak adil pada mulanya, nak. Kepanikan hebat saat posisimu melintang, kemungkinan diabetes gestasional karena berat badanmu yg sungguh berlebih, serta kekhawatiran-kekhawatiran kami tentang materi yg kami rasa tak sanggup kami berikan untukmu. Ketidakadilan hidup membuat kami menganggap membersamaimu amatlah sulit. Sementara ternyata Tuhan dan kamu telah berkompromi untuk membuatnya sedemikian mudah. Kehadiranmu bahkan dirancang-Nya tanpa kami minta. Berikut lemahnya kandungan ibuk, plasentamu, dikuatkan-Nya saat kami berpasrah. Posisimu yg melintang, berat badanmu yg berlebih.. Diselesaikan-Nya semua itu tanpa waktu lama. Termasuk materi.. Dicukupkan-Nya saat ibuk dan bapak berserah.
Minggu ini, mungkin bukan kali pertama ibuk dan bapak menganggap kenyataan amatlah susah untuk kami cerna. Tapi bukan ibuk dan bapak kalau tak pernah menangis berdua. Bukan ibuk dan bapak jg, jika butuh waktu lama untuk berdamai, menggerogoti segala pahit ini untuk diterima dan diambil segala sisi baiknya. Karena darimu kami belajar percaya.. Karena darimu kami belajar meneguhkan hati, bahwa menerima apa yg di luar rencana, adalah jalan bagi kami memperoleh kemudahan-kemudahan Tuhan di rentetan peristiwa berikutnya..
Bismillah yuk, kita berjuang sama-sama ❤
Kehilangan memang tak pernah seremeh itu. Bahkan semua yang datang, semua yang kita punyai, semua yang kita kejar...akan menghilang pada masanya ia harus lenyap dari hadapan. Entah karena sengaja pergi, tak sengaja kita hilangkan, atau mungkin memang ia sudah kehabisan waktu untuk ada dunia..
Melompat dari satu masa ke masa lainnya. Dari satu keberanian ke keberanian lainnya. Juga dari satu keputusan kecil ke keputusan yang lebih besar.
Yang menjadikan rasa yang kamu simpan itu istimewa adalah karena kamu tidak mengumbarnya, menyimpannya dengan rapi dan menyikapi dengan sewajarnya. Hanya antara kamu dan Tuhan saja yang tahu. Katakan saja pada manusia apa yang harus dikatakan, sementara yang tidak perlu diungkapkan cukup kamu simpan. Menenangkannya dengan doa dan keyakinan bahwa Dia pasti akan memberikan yang terbaik, untuk semua gemuruh hati.
@jndmmsyhd
Belajar Mendewasa
Kehidupan orang dewasa memang seringkali rumit, ya? Ada banyak hal yang kadangkala tak berjalan sesuai keinginan kita. Bahkan hanya karena ada satu faktor, kehidupan seseorang bisa langsung berbalik arah tanpa disangka-sangka.
Kupikir menjadi dewasa adalah dengan berpura-pura; bersikap seolah semuanya baik-baik saja, supaya tidak ada terluka; supaya tidak ada yang mengkhawatirkan kita. Ya, seakan-akan kebahagiaan orang lain lah yang lebih penting daripada kita sendiri.
Namun ternyata tidak, menjadi dewasa adalah tentang menerima. Menerima apapun yang tidak sesuai keinginan; menghadapi segala sesuatu dengan lapang dada; menjalani semuanya dengan ikhlas mengharap ridhaNya.
Kupikir ini bukanlah hal yang mudah, saat keadaan tak sedang baik-baik saja. Namun, bukankah Allah lebih tau yang terbaik, sedang kita tidak?
Kalau kita mau melihat dari sudut pandang yang berbeda, ada kuasa Allah disana. Ya, tiada perbuatan sekecil apapun di muka bumi ini, kecuali ada campur tangan Allah. Tentu saja ada Ia dibalik cerita-cerita kita.
Bagaimanapun keadaannya, bersyukurlah. Peluklah diri kita sendiri, peluk segala kekurangan yang kita punya. Teruslah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, meski tak luput dari salah dan dosa. Cukup Allah yang berhak menilai kita, hanya Ia yang tahu segala isi hati kita.
Menjadi dewasa terkadang melelahkan. Namun, nikmati saja alurnya. Dewasa adalah belajar untuk selalu siap menghadapi deretan duka, tangis dan bahagia; sebuah niscaya yang terus mengikuti langkah kaki kita.
Mungkin kita pernah jatuh terpuruk, sedih, lelah, hingga Ia hadirkan kebahagiaan yang semoga juga niscaya.
و إلى الله ترجع الأمور (البقرة: ٢١٠)
Dan kepada Allah-lah setiap urusan dikembalikan (Q.S Al-Baqarah: 210)
Bukankah orang beriman selalu percaya dan ridha pada setiap ketetapanNya? Mungkin kita butuh lebih lama lagi untuk melatihnya.
Ketika kita berusaha merawat cintaNya, ketika kita menyandarkan segala sesuatu atasNya, aktivitas sekecil apapun kita niatkan karenaNya, niscaya semua akan terasa tenang. Meski tak sekali dua kali diiringi sesak dan airmata.
Sabar, nanti juga akan terbiasa.
Semoga Allah masih mau memberi hidayah dalam dada kita, setelah dosa-dosa yang pernah kita buat sebelumnya.
Semoga Allah berkenan memberikan ketenangan dalam hati kita, setelah kita pernah menjauh dari jalanNya.
Semoga Allah senantiasa meridhai langkah kita, meski bagaimanapun keadaannya.
Semoga kita tak lupa, bahwa setiap takdir akan bermuara pada Ia, Sang Pemilik Cerita.
Sidoarjo, 15 Oktober 2020 | Pena Imaji
"Watawaashau Bil Haqqi Watawaashau bish-Shabr"
Saling mengingatkan dalam kebaikan itu memang kewajiban, tapi saat kita tidak didengar, jangan sampai marah-marah ataupun uring-uringan, apalagi sampai dongkol berhari hari ataupun sampai menghakimi dia yang tidak berkenan mendengar.
Introspeksi diri juga sesudahnya, apakah caranya sudah baik dalam menyampaikan? Ataukah kita sendiripun adalah manusia yang belum bisa memberikan teladan yang baik?
Karena menerima atau tidaknya, itu seratus persen urusan orang tersebut, itu PR qalbunya. Dan PR kita adalah memperbaiki diri dan introspeksi diri juga. Kewajiban kita hanya sebatas menyampaikan, hak Allah lah untuk memberi petunjuk bagi siapa yang DIA kehendaki.
Kalau kita masih “ngotot” mau merebut hak Allah, yah jangan kaget kalau hasilnya, hatinya yang menjadi “babak belur”. Ketika kita menyadari indah nya pembagian ini, maka tidak akan ada kebahagiaan yang terampas. Hati akan baik-baik saja.
Dan mari saling doakan, sama-sama belajar untuk saling menghormati dan melapangkan hati, karena menyadari bahwa masing-masing diri kitapun butuh dido'akan untuk mendapatkan petunjuk dari-Nya.
Hadaanallah waiyyakum ajma'in.
https://instagram.com/gsatria
"Watawaashau Bil Haqqi Watawaashau bish-Shabr"
Saling mengingatkan dalam kebaikan itu memang kewajiban, tapi saat kita tidak didengar, jangan sampai marah-marah ataupun uring-uringan, apalagi sampai dongkol berhari hari ataupun sampai menghakimi dia yang tidak berkenan mendengar.
Introspeksi diri juga sesudahnya, apakah caranya sudah baik dalam menyampaikan? Ataukah kita sendiripun adalah manusia yang belum bisa memberikan teladan yang baik?
Karena menerima atau tidaknya, itu seratus persen urusan orang tersebut, itu PR qalbunya. Dan PR kita adalah memperbaiki diri dan introspeksi diri juga. Kewajiban kita hanya sebatas menyampaikan, hak Allah lah untuk memberi petunjuk bagi siapa yang DIA kehendaki.
Kalau kita masih “ngotot” mau merebut hak Allah, yah jangan kaget kalau hasilnya, hatinya yang menjadi “babak belur”. Ketika kita menyadari indah nya pembagian ini, maka tidak akan ada kebahagiaan yang terampas. Hati akan baik-baik saja.
Dan mari saling doakan, sama-sama belajar untuk saling menghormati dan melapangkan hati, karena menyadari bahwa masing-masing diri kitapun butuh dido'akan untuk mendapatkan petunjuk dari-Nya.
Hadaanallah waiyyakum ajma'in.
https://instagram.com/gsatria
Duh hari ini ditampar-tampar
Beberapa belakangan sering ngedumel
"Ya Allah, kenapa sih orang teh udah di kasih tahu tapi gak berubah-rubah? Sampe kapan Ya Allah, sabar-sabar."
Eh terus tadi sore muncul video di home ytb tentang 'seorang ibu menangis ketika anaknya menjadi mualaf'. Dalam video tersebut ada satu pertanyaan yang diajukan anaknya kepada ibunya, begini:
"Kenapa sampai akhirnya Ibu menerima bahwa aku mualaf?"
"Karena sifat baikmu kepada ibu bertambah setelah kamu menjadi mualaf."
Terus malam ini baca tulisan ini, atas izin Allah
"Instrospeksi diri juga sesudahnya, apakah caranya sudah baik dalam menyampaikan? Ataukah kita sendiripun adalah manusia yang belum bisa memberikan teladan yang baik?"
Jleb, kaya Allah jawab 'Ini lho'. Astaghfirullah..
Mereka yang tahu dirimu, tahu aibmu akan menjadi yang paling susah menerima perubahan dalam dirimu. Maka perubahan itu harus selaras dengan perubahan bagaimana kamu bermuamalah dengan mereka. Itu poin yang aku temukan.
Jazakallahu khair, terima kasih banyak kepada penulisnya.
Allah selalu punya cara untuk menjawab setiap tanyaku 💦
Pagi ini mulailah untuk bercerita dengan diri sendiri, perihal bagaimana cara berkomunikasi antara hati ke hati. Kamu harus tahu bahwa menemani adalah cara terbaik agar hati saling berbicara. Karena ada hati yang tidak semudah lisan mengungkapkan, temanilah mereka yang mendapat tempat terbanyak di hatimu agar kamu ikut merasakan apa yang ia alami selama ini.
Pada ibu yang sering melayani, pada istri atau suami yang tengah sibuk, atau mungkin pada teman yang sedang pusing dengan kerjaannya. Semakin sering kamu menemaninya akan semakin mudah hati kalian untuk saling berbicara dan berbagi.
Jika tidak pandai menemani maka cobalah untuk mendekati dan menanyakan apa yang bisa kamu bantu, agar ada jalan lain untuk hati saling berbicara dan merasa.
Untuk semua yang mendapat tempat terbanyak di hati, semoga Allah jaga dan lindungi.
@jndmmsyhd
Tentang orang-orang yang tidak sadar, perannya sedang ditunggu. Dan orang-orang yang tidak sabar, menunggu orang lain sedang berperan.
Alangkah indahnya bila semua berperan dengan kesadaran dan porsinya masing-masing.
Tidak harus tergesa-gesa dalam menunggu.
Tidak mesti berleha-leha ketika ditunggu.
@azurazie_
Pada prakteknya, ini semua memang tak semudah kelihatannya. Tak cukup hanya dg uang. Dibutuhkan kesungguhan hati, kebesaran jiwa, dan masih banyak kosakata lain yg mungkin harus benar-benar dipelajari berdua. Lebih-lebih tentang rasa syukur. Mata ajar paling berharga yg tak pernah habis jam belajarnya.
Tentu masing-masing dari kita punya alur cerita yg tak sama. Bagi para pelakunya, ikhtiar demi ikhtiar bisa jadi tak akan pernah secepat dan semudah orang lain kira. Toh, waktu Bagian Tuhan untuk masing-masing hamba-Nya memang tak akan pernah sama dg zona waktu bagian manapun, bukan?
..𝘥𝘢𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘨 𝘬𝘦-𝘴𝘰𝘬𝘵𝘢𝘩𝘶-𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘶𝘳 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯. 𝘔𝘦𝘯𝘫𝘢𝘮𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘢𝘯𝘨, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘥𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘩. 𝘉𝘦𝘳𝘮𝘰𝘥𝘢𝘭 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘺𝘶𝘢𝘯. 𝘉𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯.
“A boy said to a man “I want happiness.” The man said “Remove ‘I’ - that is your ego. Remove ‘want’ - that is your desire. And what remains is your happiness.”
— Yasmin Mogahed
Harus bagaimana lagi meramu kata agar dapat dimengerti dengan mudah? Tak bolehkah aku merasa lelah dan sendiri sementara kau asyik saja, berdua, bertiga, bahkan berlima? Andai saja kebebasan itu milikku.
Selalu ada yang tersisa dari setiap perpisahan. Dan yang terpedih, selalu saja kenangan.
Kamu selalu memaksaku bercerita. Melatih diri untuk dapat berkata-kata tentang segala hal yang dirasa. Agar tidak ada kebingungan yang tersimpan jadi tanya, tidak ada kesedihan yang tak bisa mengalir jadi air mata, dan tak ada kesal yang terpendam jadi amarah. Sementara kamu, menyimpan milikmu bertahun-tahun lamanya. Membawa memori akan rasa sakit itu di dada. Tak pernah mengeluarkannya menjadi kata, apalagi sebait cerita..
Mas, apa adek kurang peka?
Mengubah hidup
Sesungguhnya banyak hal yang terjadi pada hidup kita yang bersumber dari pikiran dan hati. Pikiran menerima informasi yang berasal dari luar diri. Sedangkan hati adalah penyaringnya mana yang baik dan manapula yang tidak baik. Pikiran adalah penyeimbang dari kemurnian hati. Begitupun sebaliknya, pikiran pula yang terkadang justru menyesatkan hati. Maka ketika pikirannya telah baik akan lahir darinya hati yang baik. Ketika hati sudah menjadi baik maka seluruh di organ ditubuh akan menjadi baik.
Banyak hal yang sudah kucoba untuk menyeimbangkan pikiran dan hati agar akal dan rasa sama-sama bekerja. Agar keduanya tetap menyala. Pikiran yang mati tidak akan bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hati yang mati tidak mungkin bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Perlu menyeimbangkan keduanya agar setiap keputusan yang kita ambil akan benar dan baik.
Ada 3 tips yang saya rasakan sangat ampuh dalam mengubah banyak hal dari hidup. Mengubah energi negatif menjadi pikiran positif. Pun seringkali beberapa hal yang hanya saya lakukan saat akan tidur. Tiga hal tersebut adalah : Banyak-banyak menyebut nama Allah, Doakan kebaikan untuk orang yang menyakiti kita, dan syukuri 3 hal dari setiap hari yang kita lalui.
Mengapa banyak mengingat Allah saya letakkan pada tingkatan pertama. Karna sesungguhnya hati ini butuh sandaran. Ketika kita menyandarkan pada dunia, maka ia akan terus condong kepada dunia yang tidak ada ujungnya. Namun ketika kita menyandarkan pada Allah, maka sadar derajat bahwa kita hanyalah seorang hamba dan tugas kita adalah beribadah semestinya. Dan dampaknya adalah kita percaya bahwa hal buruk dan baik yang datang adalah karunia darinya.
Lalu doakan kebaikan untuk mereka yang menyakiti kita. Tak ada tindakan yang benar-benar tulus selain mendoakan dalam diam. Apalagi mendoakan mereka yang dengan sengaja menyakiti kita. Karna terkadang memaafkan saja tidak akan cukup membuat hati menjadi kian luas kuatnya. Mendoakan mereka yang menyakiti kita adalah cara agar hati terus tumbuh baiknya dan terus lapang syukurnya.
Kita kadang lupa bahwa syukur itu bukan hanya perkara berkata "alhamdulillah". Namun lebih dari itu, syukur itu adalah kesadaran penuh untuk memanfaatkan hal baik yang datang untuk meluaskan kebaikan lainnya. Syukur adalah cara supaya rona sejuk dalam hati agar tetap utuh. Sadarilah bahwa hal baik yang datang sekecil apapun harus disyukuri, karna itulah cara terbaik merawat hati agar ia tidak mati. Syukur adalah menanam benih ketulusan pada setiap hal yang datang. Maka coba syukuri setidaknya tiga hal baik sebelum tidur agar istirahatmu juga sarana untuk mengistirahatkan hati dan pikiran dari riuhnya perihal duniawi. Agar nantinya setelah bangun tidur, kita merasa menjadi manusia paling beruntung sedunia. Karna terbangun dengan hati yang merdeka.