"A Fake Reader" kuminta seorang kawan menyablonnya di punggung kaos abu-abu yang kupesan padanya. Untuk mengingati aku dan agar orang lain tidak berlebihan menilai diriku sebagai seorang pembaca amatiran. . Aku suka buku, tapi tidak tergila-gila sebegitunya juga. Beli buku kalau punya uang lebih saja, buku yang dibaca masih sangat terbatas jumlahnya, juga paling tidak suka pinjam dan pilih-pilih kalau meminjamkan, sejujurnya. Hehe.. . Buku pertama yang aku sadari bisa kuinterpretasikan dengan baik adalah sebuah komik bisu. Buku yang masih aku harapkan bisa kutemukan lagi hari ini. Tentang seorang penyihir yang berusaha keras menurunkan berat badan untuk bisa pergi ke sebuah pesta. . Kuingat-ingat, satu hari itu dibawah cahaya lampu neon yang tidak terlalu nyarak, aku perhatikan halaman demi halaman komik bisu tersebut, sementara ibuku sabar hati menyuapiku dengan tangannya. Kuingat saat itu, aku baru mula-mula belajar huruf, belum bisa membaca yang sesungguhnya. . Mengingat buku itu sama dengan membawaku kembali ke momen lembut bersama ibuku. Aku ingat juga kalau di rumah selalu ada bentuk bacaan lain, bukannya koran. Semenjak bisa membaca dengan lancar, tiap hari aku bacai kisah-kisah hikayat moral di buku bahasa Indonesia milik kakakku. . Ku ingat-ingat lagi, genre yang kusukai saat dewasa. Aku lebih memilih menghabiskan novel grafis dan komik lebih cepat, karena banyak gambar dengan cerita yang juga sarat makna. Baru belajar membaca novel fiksi saat menuju kepala tiga. . Tema yang aku suka biasanya beputar pada memoar, humaniora dan kuliner. Ah tidak ada yang bisa menolak imajinasi tentang makanan dalam gambar ataupun tulisan. Hmm.. . . #randomthought #menulis #kata #bahasa #lidahrahmah https://www.instagram.com/p/B-zUh-fl5A8/?igshid=usi97lcs22h7









