Fourth Wall
Jika selama ini kita mengalami segala hal dari sudut pandang orang pertama, bukankah artinya kita tidak benar-benar mengalaminya? Kita hanya mengalaminya dari sudut padang orang pertama, tubuh yang terbatas, melalui panca indera, sesuatu yang kita sebut sebagai "saya". Namun, pada akhirnya kita tidak benar-benar mengalaminya. Apa yang ada di balik sudut pandang tersebut? Siapa "Saya", Siapa "Kita" ini sebenarnya?
Segala jenis kenikmatan datang dari stimulus eksternal, atau stimulus internal yang diartikan melalui sinyal listrik di kepala manusia dan lalu mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh untuk memproduksi hormon tertentu. Agar kita dapat merasakannya. Kita, siapa kita? Kenapa kita harus merasakannya?
Kenapa kita harus merasakan kesedihan dan kesulitan ini berulang-ulang? Hanya untuk merasakan sebuah kelegaan yang positif setelah lusinan ketidakberuntungan? Sebuah hal baik yang kita syukuri, apakah kita menikmatinya? Atau menikmati kesulitan-kesulitannya?
Apakah mereka benar-benar kesedihan dan kenikmatan? Atau ini hanya sebuah sebutan yang mewakili suatu emosi, agar kita dapat memahaminya? Jika ia sebutan yang mewakil sebuah emosi tertentu, maka seharusnya tidak ada label buruk dan baik. Keduanya, baik kesedihan dan kenikmatan adalah hal yang sama. Bukankah begitu?
Dinding keempat. Begitu sebutan yang ditetapkan beberapa orang. Sebuah kondisi unik saat seseorang tidak lagi mengalami sesuatu dan mengambil makna melalui sudut pandang orang pertama, namun menjadi satu dengan sesuatu di balik Dinding Keempat, batas antara realitas dan idealisme, batas antara emosi fisik dan "Kita".
Beyond the fourth wall, there is... us











