Aku punya cara untuk bercerita tanpa menyebut siapa bahasan utamanya.
todays bird
DEAR READER
ojovivo
art blog(derogatory)

Kiana Khansmith
Not today Justin
he wasn't even looking at me and he found me
Keni

⁂
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
No title available

blake kathryn
Sade Olutola
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
we're not kids anymore.

izzy's playlists!

Janaina Medeiros

Origami Around
taylor price

tannertan36

seen from Germany

seen from Italy
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Canada
seen from Germany
seen from United States

seen from Portugal
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Canada
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Greece

seen from France

seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from Portugal
@avrindah
Aku punya cara untuk bercerita tanpa menyebut siapa bahasan utamanya.
dan dunia
seperti biasa,
tetap menawarkan dirinya
dengan sangat cantik:
angka rekening,
pujian manusia,
serta kesibukan yang membuat seseorang lupa
bahwa ruhnya sedang kehausan
maka puasa itu menyapa
bukan untuk melemahkan tubuh,
tetapi untuk membangunkan sesuatu
yang terlalu lama tertidur di dalam dada
sesuatu yang dulu sering menangis saat sujud,
lalu perlahan mengeras
karena terlalu sering bersentuhan dengan dunia
barangkali itulah mengapa
di padang arafah orang-orang memakai pakaian serupa kematian..
agar manusia ingat,
bahwa yang paling mahal dari hidup
bukanlah umur yang panjang,
melainkan hati yang berhasil pulang sebelum dipanggil pulang
Siang itu, aku mengatakan;
"Barangkali memang ini yang Allah mau, menjadikan kita sibuk sampai gak sempat maksiat,"
Pada atasanku yang menceritakan akan mengadakan kegiatan di akhir pekan namun jadwalnya tidak seperti biasanya. Akhir pekan selalu sibuk, katanya. Maklum, beliau berjiwa pendidik yang memiliki sekian jadwal yang memenuhi hari-harinya.
Kesibukan itu, barangkali yang Allah sukai.
Boleh jadi Allah menyibukkan kita dengan hal yang seharusnya bisa diselesaikan 2-3 orang. Mengurus ummat yang tidak pernah sederhana pada praktiknya. Menyita sekian waktu istirahat, bahkan hampir lupa kapan terakhir tidur nyenyak.
Di zaman yang mudah sekali membawa kita pada arus bermudah-mudah dalam hidup. Serius pada hal remeh, dan meremehkan hal yang serius. Membiarkan hati terus kosong, mengikis tawakal dengan cemas dan ketakutan.
Rasanya, kalau Allah yang tidak menyibukkan kita dengan kebaikan, arus itu akan menerjang diri kita. Melenakan raga, mengosongkan jiwa, menumpulkan akal.
Barangkali inilah yang menyelamatkan, kesibukan yang perlu disyukuri.
Mungkin ada baiknya kita mulai re-definisi dari makna "hidup yang bisa dinikmati"
Sering terpikirkan apakah saya hidup di zaman yang memintaku untuk berjuang? Bukan menikmati hasil perjuangan.
Terkadang aku juga berpikir apakah memang cara menikmati hidupku adalah dengan memperjuangkan?
Teringat ucapan salah satu ulama negeri ini yang sangat saya hormati, "Anak muda ini seperti air dalam gelas. Butuh dikumpulkan agar menjadi tsunami yang siap menghancurkan kedzaliman,"
Barangkali memang harus mengubur setiap mimpi yang menginginkan diri ini hidup slow living ala-ala rumah cottage dengan pasangan, anak-anak, hewan peliharaan Ditambah kebun buah dan sayur. Sekaligus ternak ayam, bebek, dan ikan. Jangan lupa dengan bunga warna-warni yang menghiasi sisi rumah.
Boleh jadi, hidup yang bisa dinikmati sekarang adalah fase memperjuangkan hak hidup layak. Mencerdaskan masyarakat yang semakin bodoh tidak bernalar dalam membaca situasi dan kondisi. Menghadapi masyarakat dengan pemikiran dangkal tetapi bersuara paling keras. Ini berat, lho. Makanya gak bisa sendiri. Harus menyatukan air-air dalam gelas hingga bisa menggilas kedzaliman.
Anyway, membiarkan masyarakat tidak belajar dan mencerdaskan diri juga kedzaliman. Membiarkan mereka tetap berkubang dalam kebodohan dan pemikiran dangkal juga kedzaliman.
Aih, berat ya. Rasanya kata "Semangat" pun tak cukup.
"Ya Rabb, hari ini doaku tidak terjawab seperti yang aku mau, tapi jangan biarkan hati ini kecewa kepada-Mu,"
Izin cerita ya.
Selain karena mendapati dollar yang sudah menyentuh Rp17.804, kabar paling baru siang ini yang aku dapatkan, hari ini aku mendapati kabar yang entah bagaimana aku akan meresponnya.
April-Mei tahun ini banyak hal yang terjadi. Dari diagnosa Mamaku, harus operasi, sampai siang ini dikabari bahwa Mama harus kemoterapi.
Entah bagaimana aku merespon kabar ini. Karena ini bukan jawaban dari doaku.
Tapi, ya Rabb ... jangan biarkan hatiku kecewa. Sebagaimana Nabiyullah Zakaria selalu menerima dengan lapang setiap ketetapan-Mu.
Manusia yang selalu memenuhi hari-hari dengan "to do list" dan daily planner tiba-tiba harus dihadapkan dengan hal yang tidak bisa aku rencanakan. Entah ke depannya bagaimana, Mama kemo dengan siapa (karena keluarga kami di rantau masing-masing).
Banyak yang harus diupayakan. Meski rasanya "Kok aku lagi yang harus diandalkan?" tapi harus dijalani.
Tawakal itu ....
"Rupiah melemah, kita mah tawakal aja,"
"Serahin aja semuanya sama Allah, yang penting masih bisa beribadah,"
"Harga apa-apa naik, yakin aja Allah akan tetap memberi rezeki untuk kita,"
Kalimat penenang yang sepertinya harus kita gaungkan. Di tengah keadaan yang serba tidak menentu, mengikis tawakal, bahkan mulai menaikkan survival mode. Hidup bukan lagi tentang makna, tapi tentang bertahan.
Tapi, tawakal itu ...
Tawakal itu melahirkan energi untuk ber-ikhtiar lebih banyak. Keyakinan kepada Allah akan melahirkan dorongan untuk berkarya lebih hebat. Bukan berarti sabar, tawakal, lantas berdiam diri. Salah besar. Justru yang terjadi saat tawakal ada di hati para sahabat mereka tetap melanjutkan perjuangan di tengah gempuran pasukan Ahzab dan tekanan mental yang luar biasa.
Tawakal yang menemani setiap jengkal langkah muslimin mendekati benteng Konstantinopel meski dengan ikhtiar paling tidak terpikirkan; mejadikan kapal-kapal berlayar di atas bukit, bukan di atas air.
Sebab tawakal itu ... yang mengiringi sepanjang ikhtiar.
Ada yang lebih dahsyat dari cinta, yaitu energi keimanan
Keimanan yang menguatkan langkah Abdurrahman bin Auf memenuhi panggilan jihad di Hamraul Asad padahal lukanya yang sebesar genggaman tangan masih basah, luka dari Uhud beberapa waktu sebelumnya.
Keimanan yang menggerakkan hati Ibunda Maryam tetap menaati perintah Allah untuk menggoyangkan pohon kurma padahal sebelumnya terlisan "Andai aku mati sebelum ini," dan tubuhnya letih lagi payah.
Keimanan yang mendasari Yusuf Alaihissalam memaafkan saudaranya meski ingatan di sumur masih terpatri dalam lorong memorinya.
Keimanan yang membuat Abu Bakar memberikan semua hartanya untuk kaum muslimin.
Keimanan yang meneguhkan hati Ibunda Musa untuk melakukan apa yang Allah tunjukkan; menghanyutkan bayinya di sungai tanpa kejelasan akan terjadi apa pada bayinya.
Keimanan yang menjadikan kalimat dahsyat keluar dari lisan Rasulullah Muhammad; "Asal Engkau tidak murka, aku tidak peduli," padahal malaikat siap menimpaka gunung pada kaum Thaif.
Kekuatan dari energi keimanan ini dahsyat. Ia menjadikan sakit tak terasa, marah tak tersisa, letihnya sirna, ketakutannya tak tersisa. Karena satu hal; yakin pada Allah.
Hati yang hampa boleh jadi karena kita membiarkannya kosong. Atau mengisi dengan sesuatu yang tidak kekal. Ketika isinya hilang, maka hampalah hati kita.
Katanya, dunia hanya boleh di tangan, tidak perlu dimasukkan ke dalam hati. Sebab dunia itu fana. Mudah rusak, hilang, bahkan tertinggal. Hati yang diisi dengan dunia akan mudah rapuh, sebagaimana sifat dunia yang hanya sementara.
Tiket Surga yang Kamu Pilih
Kalau gak bisa sabar, ya bersyukur.
Namanya hidup, banyak ujian. Kalau banyak motor namanya diler honda.
Teringat kisah manusia agung yang Allah kisahkan dalam QS. Maryam. Beliau adalah Nabiyullah Zakaria Alaihissalam. Sepanjang hidupnya merupakan aktivitas terbaik, mendidik ummat, mendidik wanita terbaik (Sayyidah Maryam) mengurus Baitul Maqdis, dan lainnya. Bahwa amal shalih yang banyak itu sebagai bentuk syukurnya. Sebagaimana Nabiyullah Muhammad pernah ditanya Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar, "Kenapa engkau melaksanakan shalat padahal tiada dosa dalam dirimu?" beliau menjawab dengan pertanyaan yang pantas kita renungkan, "Apakah tidak boleh seorang hamba bersyukur kepada Rabb-nya?"
Inilah tiket surga yang perlu kita pilih. Sabar atau syukur. Tapi manusia terbaik, para Nabi dan Rasul yang menjadi qudwah kita mencontohkan keduanya. Mereka paling sabar dan paling banyak syukurnya.
Namanya hidup, kita menjalaninya dengan sabar, memenuhinya dengan syukur. Sabar dalam masa-masa sulit, syukur dalam nikmat yang tidak sedikit. Meski berat (apalagi ditambah jadi WNI) semoga tidak mengurangi sabar dan tidak melunturkan syukur.
Ini Mau Diperjuangkan, kah?
Kunci tenangnya hidup adalah tidak membandingkan alur takdir kita dengan orang lain. Tapi, sesekali bolehlah mengintip apakah kita berprogres atau jalan di tempat. Tapi di atas semua itu, prosesnya sering terbentur dengan pertanyaan, "Ini mau diperjuangkan, kah?" pada sebuah hal yang membutuhkan keputusan besar.
Tentang memilih pasangan, menentukan tempat tinggal, melanjutkan karir dan lainnya. Tentu ini tidak mudah. Berkali-kali dipikirkan, banyak yang dipertimbangkan, sesekali menimbang risiko yang akan dihadapi.
Seringkali, bahkan hampir selalu, aku berhenti pada pertanyaan ini. Bertanya terus, apakah ini worth it untuk diperjuangkan sambil menjalani rutinitas yang ada. Tapi sepanjang bertanya, malah seperti jalan di tempat. Rasanya tidak siap dengan risiko meski seringkali ketakutan-ketakutan itu dibuat sendiri. Waktunya panjang, bisa bertahun-tahun. Akhirnya menyerah dan memilih melanjutkan hidup saja. Ini tentu tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Tapi, ya, begitu.
Generasi yang Harus Sembuh dan Menyembuhkan
Mudah sekali kita temui postingan tentang interaksi orangtua-anak yang mungkin 20 tahun yang lalu masih asing. Jalan-jalan naik sepeda bareng, membacakan buku, main bareng, masak bareng, atau dialog kecil yang mengeratkan hubungan antar orangtua dan anak.
Rantai fatherless bahkan parentless ini memang harus diputus. Tapi, inilah kerennya. Generasi milenial atau gen Z yang sudah menjadi orangtua dan melek akan pentingnya penguatan pondasi dari rumah banyak mengusahakan untuk mendidik anaknya dengan pendidikan yang ke depannya menjadi pondasi dan menguatkan potensi.
Padahal, ini susah lho. Akan terasa sakitnya, kita memberikan sesuatu yang tidak pernah kita dapatkan. Dulu mungkin para orangtua ini adalah seorang anak yang orangtuanya tidak harmonis, atau orangtuanya LDM, atau kehadirannya hanya sebatas fisik. Tapi ketika menjadi orangtua, seakan memiliki tangki cinta yang bisa ditumpahkan kepada anaknya. Kalian hebat lho!!
Generasi Alpha, generasi Beta, atau Gama, atau apapun ke depannya, tidak boleh gagal. Bumi ini sudah terlalu lama "diurus" oleh orang yang tidak kompeten, gagal, dan memiliki daya rusak yang dahsyat. Maka generasi ke depannya --meski berat-- harus terbangun mental memperbaiki (berat yah).
Maka biar gampang, para orangtua harus banyak dan kuat doanya. Minta sama Allah, penjagaan terbaik untuk anak-anak kita.
Kapasitas
Hati yang tidak diluaskan dengan sabar, akan menyempit karena kekhawatiran. Setiap jengkal takdir yang menjadi bagian dari episode hidup kita sejatinya untuk memaksimalkan kapasitas. Maka jika kita mau mengaku, sejatinya sabar itu bukan opsi, tapi solusi. Menjalani hidup yang tidak pernah sesuai ekspetasi tentu tak mudah, itulah kenapa menjadi penting memiliki seni untuk menemukan titik sabarnya masing-masing.
Semoga tidak pernah lupa. Kita selalu punya doa, Allah yang punya cara. Doa yang diulang dengan sabar, dinanti dengan tenang. Menjalani hidup yang singkat ini perlu strategi untuk memaksimalkan amal sebanyak-banyaknya. Biar membesar kapasitas kita, meninggikan value sebagai hamba yang pantas masuk surga.
Tenang, Nanti Juga Berlalu
Dari awal tahun, aku terus dihantui ketakutan-ketakutan yang belum bisa aku atasi sendiri. Mencoba untuk menyingkirkan sekian kemungkinan buruk yang berkeliaran dalam pikiran. Nyatanya, ketakutan itu semakin membesar. Mungkin karena aku menahan sendirian, tidak berbagi cerita seperti yang biasa aku lakukan.
Akhir Ramadan, ketakutan itu berubah menjadi perasaan berat yang entah dengan kalimat apa aku mendefinisikan. Dari wafatnya kakek, sepekan kemudian aku dan adekku sakit (pas malam takbiran) berlanjut sepekan bedrest di rumah. Kemudan Mama dan adik jatuh dari motor, dan terakhir ini yang paling berat; vonis kesehatan Mama yang akhirnya hari ini aku dapati jadwal operasinya.
Aku memahami, bukan hanya aku yang cemas dan takut. Tapi entahlah, dengan ketakutan yang meliar sejak awal tahun, ditambah bertubi-tubi kejadian yang membuatku menguatkan hati dan kaki. Semua itu aku jalani hanya bermodal, "Tenang, nanti juga berlalu,"
Entah ini tenang, atau emosi yang tertahan. Baru kali ini aku membiarkan cerita ini terangkai. Di sini. Berharap menjadi ketenangan setelah menulis ini. Sekaligus meminta terus didoakan, semoga tetap dikuatkan menjalani hari-hari yang aku yakini pasti akan berlalu.
Meminta Keberanian
Doaku di waktu terbaik, penghujung Ramadan ini adalah; aku meminta keberanian.
Berani untuk memulai hidup baru. Berkenalan dengan orang asing. Sampai dengan mengikrarkan diri untuk menjalani hidup dengan orang lain.
Sebab aku tahu, aku yang tak kunjung menikah, malas berkenalan dengan orang baru, menyuburkan banyak prasangka, itu semua karena keberanianku digilas habis oleh ketakutan-ketakutan yang kuciptakan sendiri.
Untungnya, Rindu Hadir Tanpa Suara
Ia menjelma bisikan rahasia, antara aku dan Allah yang menjadi doa-doa.
Tiga hari yang lalu, aku dikabari bahwa Kakek sudah tidak ada respon. Sakitnya bertahun-tahun tapi baru kali ini Kakek tidak ada gerakan, bahkan tidak merespon ketika dipanggil. Aku dan Mama langsung ke rumah Kakek. Jarak 1 jam perjalanan terasa lebih panjang. Apalagi ketika dikabari Kakek wafat satu jam kemudian.
Otakku seperti langsung dalam mode badut. Sampai rumah duka pun tak ada tangis. Padahal siapapun yang mengenalku, pasti tahu aku ini gampang sekali menangis. Tapi hari itu, sepertinya otakku memblokade tangisan. Aku justru sibuk mengabari saudara yang di luar kota. Memastikan mereka untuk pulang dan mengabari prosesi pemakaman Kakek, real time.
Karena ...
Empat tahun yang lalu, ketika Nenek meninggal, mamaku tidak punya waktu untuk berduka. Sepeninggal Nenek, Mama begitu sibuk sampai lupa untuk menangis. Tujuh hari bergulat dengan kesibukan sampai tubuhnya menyerah, lantas tumbang, sakit sebulan.
Maka kali ini, aku seakan mengambil alih kesibukan itu. Membiarkan Mama untuk berduka, menerima tamu, tidak disibukkan dengan hal-hal yang menunda dukanya.
Tapi malam ini, giliran aku yang tumbang. Tubuhku menyerah untuk melanjutkan mode badut. Kembali ke setelan awal, Indah yang gampang menangis. Baru menyadari kini tiap lebaran tak akan sama lagi. Rumah tak akan sama lagi. Barisan ketika berfoto tak akan sama lagi.
Sekarang aku membiarkan diriku untuk menangis kapanpun yang aku mau.
Apalagi menyadari satu hal, kepergian kakek-nenek membuatku sadar, kini Ayah dan Mamaku adalah generasi paling tua di keluargaku. Adik Mama, adik Ayah sekarang akan ke rumah kakak paling tua mereka ketika lebaran, atau hari penting lainnya.
Mohon doanya, semoga Allah mengampuni Kakekku, menerima amal-amalnya. Aamiin.
Hasil dari belajarmu, membaca bukumu, diskusi dengan temanmu, dan pertanyaan-pertanyaan yang kamu tunggu jawabannya
Jika ada anak SMP atau SMA yang meminta saran padamu, apa yang harus mereka lakukan agar masa depan menjadi lebih baik, maka pastikan saja bahwa jawabanmu adalah menyuruh mereka untuk membaca.
Membaca apapun. Sekalipun tidak bisa memahami isi bukunya langsung. Tetaplah membaca, lewat buku digital, buku fisik, sobekan koran, atau tulisan pendek yang mudah ditemukan.
Tetap membaca. Meski keinginan ini dibunuh dengan harga buku yang mahal, akses perpustakaan yang sulit, bahkan waktu yang tersisa sedikit.
Hari ini bisa jadi masih menanyakan apa hasil dari membaca. Tapi yakinlah, setahun saja jika menamatkan setidaknya 30 buku, isi kepalamu tidak lagi sama.
Pengikis Rasa Wanita
Di negara yang katanya maju, Jepang, Eropa, Amerika, para wanita menjerit kelelahan di luar rumah. Mereka mulai mendamba ketenangan di dalam rumah. Mengurus rumah dan anak-anak. Terlihat begitu masifnya konten tentang beberes, home decor, berkebun, menjahit, memasak. Seakan menjadi kemewahan saat wanita bisa mengurus rumah sesukanya.
Hari ini, hasil dari -yang katanya- memperjuangkan hak wanita ternyata berbuah kefatalan. Wanita keluar dari koridor fitrahnya. Dibuat tidak nyaman di rumahnya. Memaksakan mereka untuk bekerja yang mengikis kelembutannya. Kasih sayangnya sirna digilas aktivitas yang tidak sesuai dengan penciptannya.
Kelembutan dan kasih sayang yang seharusnya menjadi kehangatan untuk keluarga di rumah menjadi dingin karena dihanguskan oleh logika yang mematikan rasa. Lantas setelah kembali dari tempat kerjanya, merasakan kekosongan yang mencengkam. Kelembutannya hilang, kehangatannya tak bersisa.
Memuliakan wanita bukan berarti menjadikan wanita setara dengan laki-laki. Allah menciptakan wanita dan laki-laki dalam dunia yang berbeda. Maka tidak pantas bersaing dalam ranah yang sama. Ketika wanita diharuskan memasuki dunia laki-laki yang keras, tajam dengan logika dan menguras habis perasaannya, maka wanita bukan menjadi unggul, justru melemahkan, bahkan merusak dirinya.
Untungnya, aku melihat pergeseran itu. Wanita hari ini mulai memimpikan untuk betah di rumah. Berharap Allah memberikan rezeki berupa ketenangan di rumah sendiri. Mengurus rumah dan anak meski melelahkan raganya, tapi tidak pernah membalikkan fitrahnya.
Hari ini para wanita mulai memperjuangkan upah yang layak, bukan untuk dirinya tapi untuk suaminya. Biarkan para suami berjuang menyambut nafkah yang Allah siapkan, sesuai fitrah dan kelebihannya. Urusan rumah biar para istri yang mengatur. Hingga hati para istri siap menyambut dengan penuh kehangatan saat suaminya pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya.