Menanti vonis keadilan untuk sejarah gerakan kiri, sampai kapan?
((naskah masih mentah, sekadar outline))
Kita tak pernah adil memandang sejarah. Salah satu contoh, baru-baru ini ada yang sibuk memutihkan pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) 1958. Usaha memasukkan peristiwa itu hanya sebatas konflik mulai dilakukan.
Herannya usaha segamblang dan mendapat tempat di media nasional sebesar itu tak kita temukan dalam peristiwa sejarah yang melibatkan PKI.
Kita toh tok menelan mentah-mentah narasi PKI adalah gen pemberontak sejak 1926. Narasi yang boleh bikin kamu pingsan sebab siapa sih yang tak memberontak di zaman segitu di Hindia? Kemudian kita membiarkan Madiun Affair menjadi kabur, hingga, nah Oktober 1965, yang kita telan mentah-mentah sebagai kudeta PKI, lalu tutup mata atas dibantainya jutaan nyawa oleh Fasis Harto.
Kamu bisa pingsan jika tahu kondisi politik masa itu, mana mungkin ada partai berkuasa mengkudeta diri sendiri.
Kembali ke PRRI yang jelas-jelas menyebut diri pemerintahan revolusioner, punya mata uang sendiri, dikirimi senjata oleh CIA. Lalu muncul pertanyaan, kan mereka gak sepakat disebut pemberontakan. Semprul, siapa sih yang mau disebut pemberontak?
Lalu, semua kesaksian di sidang-sidang PRRI diterima sebagai sebuah rekaman sejarah, bagaimana dengan sidang PKI di 1965-1966, sudahlah dipaksakan, pemaksaan pengakuan pula.
Sebab membincangkan komunis dan tetek bengeknya susah di republik ini, saya berterima kasih pada: pendaur ulang buku lawas mengenai hal-hal ini, sejarawan yang gigih menyuarakan ini, penyintas yang tak lelah bersaksi, dan semua masyarakat yang mau terbuka hatinya menerima fakta-fakta mengejutkan, --dihilangkan oleh brainwash Harto selama tiga dekade.
Jadi, adillah meluruskan atawa mencerahkan sejarah itu.
Narasi kekinian soal PRRI bisa dilihat di video berikut:
https://youtu.be/MKrLrF0vg8k
Usaha Prof. Ariel Heryanto membuat terang narasi sejarah kiri Indonesia:
https://youtu.be/ejEjVA29lls