Allah terlalu baik.. dan hanya menghendaki kebaikan.. Kenapa kita tidak menjadi hamba yang baik yang bersyukur? 🐼
Setelah fajar, sebelum negeri menjadi malam. Ada sebuah makhluk cantik dan (sebenarnya) amat sangat baik hati bernama matahari. Suatu hari di negeri ini, matahari amat kesibukan, dia digodai oleh seorang bocah nekat yang mendaki puncak tertinggi hanya untuk berdiskusi dengannya.
“Matahari.. Kamu tau tidak, kenapa saya mau berlelah sampai ketempat ini?
Matahari diam, ia memilih berpura-pura tidak mendengar. Dibiarkannya bocah itu menyeka keringat didahi kanan, karena kelelahan mendaki sampai puncak. Matahari tersenyum, dan kini sibuk memancarkan sinar dititik tertinggi dengan kuatnya. Ah! Lihat, kan? Bukankah dia cantik? Dia selalu cantik seperti biasanya. Indah karena sinarnya.
“Saya, ingin menemui kamu.” Lanjut si bocah tanpa peduli apa ia akan di respon atau tidak. Oh. matahari sedang sibuk sekarang. Sedang terlalu sibuk. Bagaimana tidak, triliunan makhluk dari mulai yang tertaat sampai yang terdurhaka membutuhkan sinarnya.
Seakan mengerti pemikiran matahari, bocah itu lalu berkata,
“Tidak apa-apa.. kamu bertugas saja, matahari. Saya hanya ingin bertanya, belakangan ini kamu sering membuat saya sakit. Apa kamu tidak suka pada saya?”
Matahari lalu menoleh, dikagetkan dengan pertanyaan. Siapa yang membuatmu sakit? Saya sama sekali tidak punya kuasa untuk mengendalikan sakit dan sehat.
“Tidak apa-apa.. dari caramu memperlakukan saya sekarang, saya sudah tau jawabannya adalah ya. Matahari saya minta maaf jika pernah membuatmu kecewa. Saya tau kamu ciptaan Allah yang amat setia, miliaran tahun menerangi bumi dan seiisinya adalah bukan hal yang mudah. Mengeluarkan suhu yang sesuai untuk kelangsungan hidup di bumi dan mereka bilang kamu adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk. Jadi wajar saja jika kamu berhak kecewa karena saya -salah satu bagian dari yang kamu sinari malah terlalu sering lalai.”
Matahari terhenyak. Menyadari kearah mana pembicaraan bocah ini. Satu alasan yang membuatnya ada, bertahan, bahkan hancur. Satu alasan yang membuat dirinya begerak, melalukan rotasi pada sumbunya selama 27 hari hanya untuk satu kali putaran, dan terus saja melakukan hal itu tanpa pernah bosan. Satu alasan mengapa dirinya diberi jarak 150 juta kilometer dari bumi, yang dengan jarak itu ia memberikan sinar yang juga bermanfaat untuk tubuh manusia. Satu alasan. Hanya satu.
Bicaralah.. hari sudah tidak panjang lagi sekarang.. Matahari menunggu bocah itu untuk bicara. Sementara yang ditunggu masih saja terdiam cukup lama, tidak memandang langit, tidak tanah dan tidak juga dirinya. Matahari benar-benar khawatir ia sudah harus pergi sebelum bocah itu selesai bicara.
Diujung kekhawatiran matahari, akhirnya bocah itu menghela nafas dalam, mencoba menatapnya yang kini sudah tidak di titik tertinggi lagi.
“Setelah kembali kerumah. Kelak, saya akan belajar menyukaimu bahkan meski kamu telah kecewa. Seperti hujan, tanah, bulan, dan bintang-bintang. Akan saya samakan kamu seperti saya selalu belajar banyak dari mereka. Diingatkan banyak oleh mereka meski hanya dengan melihatnya.”
“Tidak, saya tidak khawatir jika kamu akan membuat saya sakit lagi.. Bumi Allah ini luas sekali, matahari.. jika suatu hari nanti kamu sakiti aku dengan sinar.. Aku akan obati dengan air dan buah-buahan. Bukankah sedekat itu kebaikan yang Allah berikan untuk saya? Lalu setelah sembuh, kelak saya akan mendatangimu lagi seperti ini lalu mengajukan ribuan pertanyaan sampai saya akhirnya mengerti dan makin menyukaimu karena ketaatanmu pada tugas yang diberikan Allah.”Lanjutnya.
Yaa syakuruu a’innaa ‘alaa syukrika.. wahai yang Maha Menerima syukur, berikanlah kami kemampuan untuk selalu bersyukur kepada-Mu.
Yaa Baaqii abqi ni’matakal latii an’amta ‘alainaa.. wahai yang Maha Kekal, kekalkanlah nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami.