Halu
Aduh sial.
Untuk kesekian kalinya zikirku hilang fokus malam ini. Bukan hal yang jarang memang zikirku berantakan, tapi penyebabnya kali ini beda dari biasanya.
Langkah pertama adalah pengakuan. Sepertinya belakangan ini angan-anganku adalah menjadi si paling bucin. Latar belakangnya, karena aku rasa aku menemukan seorang kandidat untuk bisa menyalurkan angan-angan itu. Barangkali sudah jelas betul terlihat dari apa-apa saja yang aku lakukan belakangan. Menjadi lebih aktif di media sosial, sering deg-degan, terbangun di sepertiga malam, mendengarkan daftar lagu yang sangat spesifik diperuntukkan untuk mengamplifikasi perasaan yang tidak jelas ini, kamu paham lah. Perasaan macam ini menurutku bahaya sekali, serangannya all-out, direct, tidak sporadis. Ia tidak peduli apakah nanti peluang bisa dikonversi. Jangankan itu, ia bahkan tidak peduli apakah memang peluang itu bisa diciptakan, bagaimana cara menciptakannya, apa yang terjadi kalau gagal, apalagi kabar pertahanan sendiri. Aku kasih satu info, secara umum aku bukan pengambil risiko. Di atas kertas, profil risikoku moderat paling. Tapi sayangnya permainan tidak dimainkan di atas kertas, paman. Ide menjadi si paling bucin mungkin sudah tertanam di otak sejak pertama kali aku berani bertatap mata denganmu dan makin yakin seiring dengan interaksi yang kian sering. Torang yakin, torang gas.
Ini yang aku paham betul, aktivitas ini sudah pasti high return buatku, maka otomatis high risk pula. Biasanya di titik ini aku bakal sadar diri. Balik kanan, atret, melipir, dan seterusnya itu lah. Jangan kamu pikir aku tidak mempertimbangkan itu. Sudah aku panen banyak meme dari berbagai sumber yang punya energi perjuangan yang pupus, perasaan tidak berbalas, menjadi badut, dan tidak ketinggalan mempertanyakan self-worth. Aku datang dengan persiapan walaupun hanya sekadar siap tersakiti. Sampai sini mungkin bisa kita sepakati dulu bahwa aku: naif, tidak masuk akal, bodoh, dan tidak tahu diri. Tapi biarkan aku menjelaskan alasan mengapa aku seperti itu, atau ya kurang lebih sama saja dengan mendeskripsikanmu.
Yang jadi fokus utama di sini, pertama kali aku melihatmu yang tebersit di pikiran adalah Fira Assegaf (sashfir). Aku paham ini bias yang signifikan dan kecenderungan memirip-miripkan orang ini harus dikurangi. Tapi fakta itu aku syukuri karena itu adalah di mana semua ini bermula. Aku, tolong ini digarisbawahi, dalam kondisi sekarang ini tidak akan bosan melihat wajahmu walupun sebagian darinya tertutup masker duckbill hitam. Sebut contoh-contoh panyandra perangane awak dalam basa jawa semacam: alise nanggal sepisan, idepe tumengeng tawang, mripate ndamar kanginan, bathuke nyela cendani, dan seterusnya, dan seterusnya, dan aku akan terus mengangguk dengan mantap karena memang sungguh tepat muatan pujian itu. Belum lagi bagaimana caramu bercerita tentang luka, ketakutan, keresahan, impian, masa kecil, momen indah, dan hal detail lain tentangmu yang saat ini ingin aku ingat semuanya. Dengan suaramu yang entah bagaimana mendeskripsikannya tapi, aku suka sekali. Juga dengan energimu yang menurutku sudah berlimpah tapi katamu bahkan itu adalah mode malas. Makin aku jelaskan panjang lebar, makin insecure aku pasti. Makin sadar diri kalau memang kamu tak tergapai. Tapi yowis lah, wani perih kok.
Aku hanya tulis ini sebagai pengingat. Bahwa pada suatu waktu pernah ada yang hidup di pikiranku, tanpa sewa, cukup lama, yang sempat bikin setengah gila si induk semangnya. Bahwa perasaan yang saat ini ada, bagaimanapun juga adalah hal yang cukup penting, yang harus diabadikan walaupun cuma seadanya. Kaus kaki hitam di kantong baju, I’ve been looking so long at these pictures of you.
















