Hidup ini tak sesempit panggung gigs
Tahun 2019 ini gue seperti merefleksikan diri. Memikirkan banyak hal soal hidup, mulai dari yang perintilan sampai yang bersifat masif pengaruhnya. Diantara yang masif itu, adalah masa lalu. Mengutip dari sebuah buku, jika kita ditanya: keinginan apa yang ingin kita dapatkan? Pastilah jawabannya banyaaaaaaaak sekali dan cenderung fana. Namun pertanyaan itu kerap bernilai dangkal dan tidak ada artinya. Yang seharusnya dipertanyakan adalah: penderitaan sepadan apakah yang ingin kita dapatkan?
Sebentar...
Tulisan ini dibuat ketika gue baru aja balik open trip jadi solo tripper ke pulau seribu untuk pertama kalinya. Perjalanan ini bukan perjalanan biasa. Gue melakulan perjalanan ini untuk refleksi diri. Jujur, gue lagi muak sama kehidupan gue. Mulai dari demotivatednya band gue, ditinggal nikah pacar gue, masalah finansial pribadi yang belum sukses di umur gue yang ke-28.
Soal band, hampir 9 tahun gue mendirikan THE GRGTZ. Ekspektasi gue saat itu adalah pingin berkarya dan terkenal di jagad RI maupun luar negri. Lagu gue dinyanyikan sama banyak orang juga adalah mimpi gue. Tapi setelah dijalani ternyata sangat sulit. Apa lagi jika partner band kita tidak sepemahaman dan sevisioner kita. Terus gue nanya, kalo rasanya sesakit ini kenapa gua masih bertahan? Jujur, ini karna udah jadi habit. Awal mula kenapa gue bermusik terjadi saat gue kelas 2 SD. Saat itu gue nyanyi dan tante gue bilang suara gue bagus. Dengar pujian kaya gitu, gue bangga setengah mampus. Ditambah saat remaja gue kenal banyak band-band keren bermunculan, tambahlah gue terinfluence ingin ngeband. Seperti remaja pada umumnya, gue ambisius. Pingin bikin band bagus dan bikin lagu bagus, dinyanyiin banyak orang dan dicintai fans-fans gue. Tapi hidup gak sesimpel itu, brok! Iya gue menjalani banyak hal dan penderitaan karna memilih jalan ini tapi di tahun ini akhirnya gue baru mikir. Jangan-jangan sebenarnya gue gak sebagus itu, bukan rendah diri, lebih ke nerima dan kenal diri sendiri. Jangan-jangan gue tuh gak sejago itu, gak seistimewa itu, gue cuma kebawa suasana saat gue dulu dipuji tante gue, SELAMA INI. Nah loh! Mantep gak tuh?
Trip ini yang bikin gue sadar, kalo gue sebenarnya tidak seistimewa yang gue pikirkan selama ini. I'm just overestimate the compliment. Tapi lucunya, karena itulah gue termotivasi. Sangat. Dan motivasi inilah yang membawa gue sejauh ini. Menjadi anak broken home sejak kecil membuat gue selalu merasa kekurangan cinta, dan gue mencari itu lewat bermusik. Katanya jika alasan bermusik bukan karna musik itu sendiri, disitulah kita sudah kalah. Gak heran gue merasa gagal, but it's ok. Hidup tak sesempit panggung gigs-ku.
Well, terus sekarang mau gimana? Berenti bermusik? Noooo. 9 tahun lebih menjalani perband-band'an dengan segala deritanya membuat gua cinta sama banyak prosesnya. Walau masih males-malesan belajar teori, tapi asli gua cinta. Nah sekarang ya jalanin aja lah apa yang mungkin. Kita sederhanakan lagi supaya mimpi gak jadi obsesi. Mungkin bisa mulai dengan rekam lagu bagus, rilis lagunya, suting klipnya, go public jalur konvensional. Mau manggung di panggung besar atau kecil, jalani sajalah. Jaga apa yang kita punya. THE GRGTZ, Saptarasa, Radio Sunday, band baru yang bareng Bima. Jalani sajalah. Tetap bermusik dan kejar common life. Rejeki dan cinta gak cuma ada di atas panggung, mungkin ada di pantai, mungkin ada di kolong jembatan, di bawah kasur, di mesjid, di hati wanita yang duduk di sebelah sana. Kita gak pernah tau. Tapi harus selalu tau, apakah derita ini worth untuk diimpikan dan dikejar? Apakah sudah saatnya mengejar mimpi yang lain?
Well, jalani saja apa yang mungkin dan baik...
Tak perlu merasa istimewa...
Cinta dan kebahagiaan bisa datang dari mana saja...
Bahkan diri sendiri...








