The biggest motivation to come back here after been left out almost half year is.. the broken heart.
Such a not good memory to be remembered as a closing moment. Maka dari itu, sungguh ku tak ingin membiarkan self blues ini menutupi hal-hal indah yang terjadi selama tahun 2018. Mari kita runutkan satu per satu, telisik dari awal Januari, hingga kita bisa berucap syukur atas nikmat Allah SWT. Let’s call this as a umm.. part of self recovery, may be?
slash hobby banget ngerapel blog jadinya panjang gini nyeritain setaun ngapain aja
JANUARI
Diawali masih dengan status housewife (but not desperate anymore! wk) Lalu berhasil menerapkan target untuk sering-sering melihat dunia luar alias perbanyak outside activities (kalau bisa yang memberi manfaat, kalau gak juga gapapa sih yang penting jangan sampai stress merasa terkungkung di rumah tanpa arti) Dimulai dengan mencoba menjajaki bioskop kembali setelah setahun absen, tentunya dengan disertai si bayi 11 bulan because still with no nanny-no helper status! HAHA. Tenang, telinga bayi disumpel pake silicone earplug biar aman, ku tidak selfish kok buibuu.. jadi oke yaa *menghindari nyinyiran makmak netijen idealis* Nonton film apa ya waktu itu? Lupa, yang pasti bukan action yang banyak gedebak gedebuk bikin kaget telinga kok
Lanjut.. nyobain aktivitas playdate bocah-bocah bersama ciwiciwi para non-employee mommies (yang satu wirausaha, yang satu mahasiswa, yang satu galur murni IRT, yes I am) yang mempunyai jadwal super fleksibel buat hura-hura silaturahmi. Momen ini adalah momen pertama kalinya baby S main di playground. Oh, nothing happier to see her curious cute face!
Terakhir, dibikin happy lagi karena di komplek rumah dibikinin outdoor playground yang baguss banget oleh pemerintah daerah setempat. Suka salut dan appreciate kalau di Jakarta mulai memperhatikan lingkungan untuk ramah anak. Nah gini dong dari dulu.
Alhamdulillaah anak gadis sudah berumur setahun! Makan-makan di rumah bersama keluarga. Yang paling bikin happy, atuk, nenek, om, dan onty baby S (ups not baby anymore!) juga hadir jauh-jauh ke Jakarta.
Langsung doong kita cuss prepare staycation singkat untuk piknik bersamaa mumpung ngumpul lengkap yang mana udah jadi momen langka banget sekarang. Seperti biasa, ummi Shafiyya siap sedia jadi event organizer-nya. Booked Airbnb dan itinerary tak lupa kulinerannya. Momen yang seperti ini layak didokumentasikan dalam bentuk video blog, alhamdulillah gak males ngeditnya :p
Next, mengingat dulu membaca adalah kegiatan me-time favorit saya, rasanya rindu bisa ‘sebebas’ dulu kapan aja tinggal buka buku lalu larut dalamnya. Sekarang? Selesein 1 buku bisa dalam hitungan bulan. Kecuali Harry Potter and The Cursed Child yang menjadi rekor tercepat penyelesaian bacaan pasca punya anak, kurang dari 1 minggu selesai. Mari kita buat rekor lagi dengan mambaca novel terbarunya Dan Brown, Origin. Not bad, bisa selesai kurang dari sebulan! Bagi kamuh-kamuh sekalian mungkin ini sepele, tapi bagikuh saat ini adalah suatu achievement!! HAHA iya sesederhana itu ya standar keberhasilan kalau udah jadi emak-emak 😉
Masih dalam rangka menyemarakkan ‘meaningful outside activities’, begitu timnya uni Ria Miranda menghelat seminar parenting, gercep langsung daftar dan voila, bisa ketemu langsung sama wanita panutan! So happy, ilmunya dapet, serunya juga dapet! Bonus buku parenting yang dominan intinya tentang bagaimana menjadi orang tua yang sabaaaarr. Cucok kaan.
aaandd.. someone is about to mastering a self independent walking!
Reuni genggongs Pandewes, berhubung ketemunya mesti nunggu ada yang nyebar undangan kawinan dulu, marilah kita laksanakan silaturahmi ala kadarnya.
Do you know the best part of being stay at home mother is? You can ‘ngintilin’ your husband dinas keluar kota and considered as “sekalian liburaaan dong ah” (yess, fyi, being housewife means you need high dose of vacation, remember that!) but terms and condition applied ya moms.. misalnya, kalau suaminya dapat jatah kamar penginapan sendiri-sendiri dan di resort yang oke, cuss ikut, kalau gak dapat jatah makan buat berdua, ya harus mau bayar sendiri, plus transport juga tanggung sendiri ya. Nah, berhubung dinasnya kali ini cuma di sekitaran Sentul, yang mana gak perlu mikirin extra expense di transport, jadilah Shafiyya dan ummi nya liburan singkat di salah satu resort di sana.
Event tahunan berburu buku-buku murah hadir kembali! Berhubung tahun lalu failed ke acara BBW ini, tahun 2018 memang udah niat banget untuk bisa hunting, terutama buku buat Shafiyya (walaupun udah seabregg beli via jastip juga, sayang anak apa kalap siss? hiks) tapi akhirnya ga jadi beli karena waktunya mepet, udah malam, dan harus pulang *maklum buibuu bukan tinggal di rumah sendiri soalnyaah wkwk. Will update soon with the vlog about Shafiyya’s unboxing her first BBW jastip’s books ya 😉
Processed with VSCO with c1 preset
This is the moment when I really, really, really need to move out and live in my own space. Udah saatnya aja. After long discussion (yes, very loooong discussion since monthsss ago) with le husb, akhirnya pak suami sudah menyatakan bulat sepakat untuk pindah. ALHAMDULILLAAH! Rumah kontrakan? Apartment? Still not decided yet, yang pasti doanya udah kenceng banget untuk dikasi rejeki dapat tempat bernaung yang terbaik dari Allah – dan sesuai budget tentunya. Setelahnya, hari-hari terasa berjalan lamaa banget sangking udah pingin tinggal di teritori sendiri, biar ga bosen-bosen amat, iseng nyobain colouring therapy for adult yang dibeli dari BBW kemarin. Super fun! *you know how long this activity last, just few weeks, then my pencil crayons gone one by one, hey I’m mommy right?*
Setelah menimbang manfaat dan mudhorat nya, akhirnya saya fixed memutuskan untuk full puasa sebulan penuh di Ramadhan tahun ini, ya dengan masih dalam kondisi menyusui. Hari-hari awal puasa, sungguh amatlah berat, Ferguso! Absen 2 tahun puasa, jadi grogi-grogi lemes gitu but the rest is done very well. Alhamdulillaah.. surprisingly, gak ganggu proses menyusui Shafiyya sama sekali, karena memang frekuensi dan kuantitas ASI juga sudah tak sesering dan sebanyak dulu. Well, Shafiyya you should love cow’s milk as much as you love mommy’s milk ya!
Demi terwujudnya resolusi 2018 sebagai gerakan anti-wacana, I started to take more serious for Master study plans, diawali dengan persiapan IELTS! Sejujurnya, ini hal yang paling besar bebannya dan super effort. Karena apa? Karena kalau mau apply ke universitas yang dituju wajib punya ini dan apply beasiswa pun wajib ada ini. Ga cuma sekedar punya, tapi wajib mencapai skor yang ditetapkan! Part paling sedihnya adalah, I only have one shot to reach the target score karena udah mepet deadline seleksi berkas beasiswanya *well hello, deadliners!* For univ? chill, still have much time IF I failed, BUT I NEED TO SPEND ANOTHER MONEY TO RETAKE THE TEST. Dua koma sembilan juta rupiah itu bukanlah jumlah yang sedikit ya buibuu. Terus akhirnya gimana? I pushed my self beyond the limit. The struggle is real, I think this experience deserved one stand alone post blog, later ya!
Masih di bulan Ramadhan, we lost one of loving person in the big family. My ‘apak’ – dad’s youngest brother. Never felt this sad since I lost my ‘ibu’ – mom’s lil sister and grandma few years ago. The most broken hearted part is to see my cousins who way much younger than me loosing their father. Kalau saya ada di posisi mereka seusia itu, tak kan pernah sanggup rasanya.
Siapa yang suka main ke @America? Beberapa minggu belakangan, saya, bapak suami, dan Shafiyya sering berkunjung ke sini. Apalagi kalau buat ngabuburit, perfect banget. Sambil nunggu buka puasa, sambil nambah-nambah ilmu. Semuanya gratis. Bebas for public, dengan tema-tema acara yang bervariasi tiap harinya. Kenapa kok tiba-tiba suka nongkrong di sini? Ya itu tadi, sebagai bagian ikhtiar merajut mimpi untuk sekolah lagi 😉
Bukan Ramadhan namanya kalau ga ada acara buka puasa bareng. Tahun ini yang masih rutin ngadain bukber datang dari lingkar pertemanan SMP dan Kuliah. Di salah satu momennya, ku terkejoetkan oleh pengumuman dari Ali dan Indah. They are getting married, can you believe it? I’m not!! HAHA. But, again, saya menjadi saksi bahwa memang tidak akan pernah ada yang namanya murni sahabatan antara pria dan wanita, kalau ga berakhir menjadi cinta atau ya jadinya cinta-bertepuk sebelah tangan. LOL. Vlog soon!
Ini tahun kedua saya menghabiskan hari pertama Idul Fitri di Jakarta lagi bersama keluarga suami. Kangen Pekanbaru? BANGET. Tapi semua ada porsinya masing-masing kan 🙂 Supaya ga galau, wajib bikin lontong sayur ala mama dan golopuong enak ala kampuang. You know the best feeling after succes making them? Err.. I feel so ‘domestic’ after all, yaampun udah di fase emak-emak rumahan banget guee! Happy! Achievement unlocked.
When I knew I ‘almost’ got intimidated every time opened my Instagram account, it’s time to take a break and end up by re-installing Twitter. HAHA. Yes, surprisingly it was more informative dan lebih banyak memberikan energi positif. Terutama bagi ibu rumahan macam saya, yang gampang kesulut ‘post power syndrom’ attack. I’m trying to be more ignorant from now on. It works. Kerecehan humor di Twitter absolutely save my days!
Nothing much happened this month, selain dengan rutinitas saya yang mulai kalang kabut nyicil belajar IELTS karena sebentar lagi mau tes dan momen World Cup yang cuma dinikmati pas bagian final *gosh, I even don’t remember who is the winner, err..
Proudly say that this is the most productive month of the year, yeay! Dimulai dari mengikuti 3 macam seminar dan workshop: seminar kefarmasian, parenting-nya dr. Tiwi, dan workshop-nya Google Indonesia.
Lalu, untuk pertama kalinya ngajakin Shafiyya naik KRL. Dimulai dari lokasi yang dekat, ke Depok (sekalian nemenin ummi seminar) hingga ke tujuan yang jauh, yaitu ke Bandung dalam rangka mengantar onty Sharah mulai kuliah di Unpad. Yep, semua dilakukan cuma berdua. Just ummi and Shafiyya. Happy baby with her chochoo train!
Hari yang mendebarkan pun tiba, saatnya tes IELTS. Surprisingly, it went very well! Again, kayanya gue banyak kebantu dengan doa guys, tapi usaha memang tidak pernah menghianati hasil sih! Alhamdulillah, berhasil dengan one shot untuk target skor yang sesuai rencana.
Bulan ini diakhiri dengan menonton perhelatan terbesar se-Asia, mumpung Indonesia yang jadi tuan rumah, kapan lagi ya kan? Hello, Asian Games!
The battle is begin! Done submit seleksi berkas untuk apply beasiswa X dengan persyaratan yang sangat banyak dan agak ribet memang, dibutuhkan totalitas sih ini. Well, will write about it too, later! 😀
Masih dengan niatan untuk berusaha mengisi kekosongan akan aktivitas yang bisa bikin smart, saya pun mendaftarkan diri ikut sekolah online Bengkel Diri yang digawangi oleh aktivis @ummubalqis.blog . Di awal begitu ngeliat kurikulumnya, lumayan bikin ngiler dan karena peminatnya sangat banyak bahkan sampai ada yang waiting list, kayaknya ini keputusan yang tepat untuk ikut dengan investasi sebesar 250K untuk 20 kali pertemuan selama 2 bulan, masing-masing 2 jam. Ternyataaa, sekolah online ini menerapkan komitmen yang cukup berat untuk bersedia menyelesaikan tugas *hampir tiap sesi ada tugasnya* again, I’m just a mommy with no nanny and helper merasa ini sangatlah berattt! Atau memang sayanya juga yang masih belum ok time managementnya, hiks. Jadinya, keteteran dan ga bisa ikut naik ke level 2. HAHA!
Di bulan ini, saya juga disibukkan dengan bergabung ke dalam panitia Reuni 1 Dekade Farmasi UI angkatan 2008. Diketuai oleh suami sendiri sebagai ketua angkatan, saya memilih untuk bantu-bantu di bidang Humas dan Dokumentasi. Bikin-bikin video dan publikasi di Instagram. Seru! Nostalgia banget. Whatt?? Udah 10 tahun aja loh berlalu!
SUPER THANKS to teman sejawat! Alhamdulillaah, acara reuni berjalan lancar dan sukses. Vlog soon!
IT’S TIME TO MOVE! YEAAY! Welcome apartment life! Setelah sebelumnya menjalani masa-masa transisi yang lumayan melelahkan, akhirnya kami bertiga official menjadi citizen apartemen. Bahkan sekarang masih menyisakan 3 kantong plastik besar yang masih belum di-unpack, hehe.. too busy to enjoy this independent life with no intervention wkwk. Kalau kata pak suami, “selamat membentuk keluarga yang strategis!” #thisiswhatwillhappenifyoumarriedcampusactivist LOL!
Lulus seleksi berkas, lanjut ke tes tahap kedua, online assessment. So far so good!
Hello 28! Woaa, tua yaa. Eh, tapi suka agak annoying ga sih ada di fase umur-umur segini. Too young to be called old but too old to be called young. Err.. apasih. Hhh, such a quarter-life-crisis type. Hello young-adult out there, hands up if you’re with me!
Otherwise, I’m so grateful, hamdalaah.. I’m a wife of a loving husband, a mother of very beautiful healthy daughter, and I can do whatever I want in my own working space right now (baca: ibu rumah tangga) 😀
Bulan ini juga menandakan tepat 3 tahun sudah kami berdua berhasil untuk saling mau belajar memahami satu sama lain. That’s the art of marriage, right? Harapan kedepannya, semoga rumah tangga kami semakin berlandaskan iman dan takwa, lebih berorientasi ke akhirat. Berat dan klise ya kedengarannya? Tapi ya gitu.. apalagi sih yang mau dicari di dunia fana ini? Cause I wanna build a beautiful home in Jannah with you and our little family again.
Happy 3 years of ‘surviving me and my randomness’ dear
Tepat di tanggal 25, saya mendapatkan 2 kabar baik. Peratama, saya lulus tes beasiswa tahap kedua dan lanjut ke tahap akhir. Kedua, I got a job offer as a freelancer on my friend’s company. Undoubtedly, I take that chance. Ummi kangen punya duit sendiri lagi, biar ummi bisa menyalurkan aspirasi lagi setelah lama vakum ya nak *ngomong sama Shafiyya, the most interesting part is, I can do a remote working, I don’t need to come to office, so I still taking care of Shafiyya at home and.. I’m so excited since this is align with my passion. Any guess? No, that’s way more different with my old job 😉
Welcoming November with attending another seminar. Well, kalau mau flashback ke setahun yang lalu, kayaknya dulu tuh saya merasa sangat terisolir dan tertinggal dalam banyak hal, semua saya ceritakan di sini dan di sini. Sampai di titik ini, saya sangat bersyukur saya bisa melewati semuanya. Ups and downs segala situasi hingga perjuangan melawan post power syndrome. Seminar yang saya ikuti kali ini adalah seminar yang sudah lama saya cari-cari, yaitu mengenai Basic Life Support training, bahasa awamnya pelatihan pertolongan pertama, khususnya pada bayi/anak-anak. You know, my ‘mother-intuition’ pushed me to mastered this important life skills. Semua demi anak, ye kaan.. Should I make a summary regarding this workshop, moms?
Life is full of mystery, we don’t know what will happen next, the only thing that we can do is just TRYING alias ikhtiar. Secara impulsif saya membuat rencana cadangan kalau-kalau aplikasi beasiswa X saya ditolak dan belum rejekinya. Yep, saya apply beasiswa Y dengan persiapan minim dan mepet, sambil berharap “siapa tau rejekinya di sini!” and let God do the rest..
Welcome again to #theperksofbeingstayathomemother part 2! Kali ini ngintilin pak Suami ke JOGJAKARTA!! Dengan alasan ‘mommy needs vacation to keep the sanity’ sekalian memang dari dulu udah pingin banget menjelajahi kota ini. Dulu banget pernah sekali ke sana pas studi ekskursi tingkat 3 kuliah, tapi cuma numpang lewat, ga berasa. Now the timing is perfect, yeay! Pluss mau ketemu dengan sahabat SMA yang bertahun-tahun ga ketemu. Of course, we made a travel vlog karena kayaknya baru kali ini kita benar-benar bertigaan liburan keluar kota bareng as a little family. Vlog still on editing process, wait ya 😉
Setelah cukup disibukkan dengan perihal scholarship hunting ini, sekarang saatnya secara paralel saya harus mempersiapkan berkas lamaran ke Universitas tujuan. Berharap semoga seiring berjalannya waktu, saya bisa menerima kabar baik sekaligus baik dari pihak beasiswanya maupun universitasnya. Butuh waktu hampir 2 bulan untuk menentukan jurusan dan universitas yang akan menjadi tempat studi nantinya. Sampai saat ini, semua proses berjalan lancar, hanya terkendala 1 referee dari pihak akademisi yang belum memberikan referensinya. More detail soon in next blog post! Mohon doanya.
Di bulan inilah pamungkas dari nasib perjalanan mendapatkan beasiswa X ditentukan. Beasiswa yang saya idam-idamkan dan berharap tinggi diterima. Seleksi tahap akhir saya lewati dengan baik, saya cukup pede akan mendapatkan hasil yang positif. Dua minggu setelahnya, pengumuman final pun keluar, saya ditolak. Rejection is hurt, ouch! Jadilah, akhir tahun saya diisi dengan perasaan gloomy. Such a not good one for end-year closing, uh? Yaiyalah, kalau enak namanya end-year sale! *trying to put joke guys biar hati ku move on* Krik..
Pelan-pelan, mulai kembali berbenah diri. Lesson learnt, jangan berharap tinggi-tinggi kalau bukan selain sama Allaah. Saya mungkin kurang berserah diri, mungkin terlalu arogan dengan prasangka bahwa rencana yang saya susun adalah yang terbaik, salah. Rencana Allah pasti selalu lebih baik, meskipun saya belum tau akan dibawa ke mana oleh-Nya, tinggal sayanya aja yang harus ganti ‘kacamata’. Mari terus tanamkan mindset bahwa kegagalan ini adalah bagian dari PROSES nya. Cuma salah satu anak tangga curam yang harus dilalui menuju keberhasilan. When plan A doesn’t work, there will be always plan B to try, right?
#nyemangatindirisendiri 😀
So finally, terima kasih 2018 atas 365 hari yang begitu …
How’s 2018? The biggest motivation to come back here after been left out almost half year is.. the broken heart.