Beberapa hari ini notif dan postingan instagram, twitter, dan youtube penuh dengan berita gelombang kedua wabah Covid. Prihati rasanya melihat kondisi pandemi ini, mutasi varian baru Covid membuat penyebaran virus meningkat sangat cepat. Yogyakarta menjadi salah satu kota yang jumlah penyebarannya cukup hebat hingga membuat rumah sakit harus mendirikan tenda darurat untuk menambah kapasitas bed pasien. Waswas melandaku, khawatir sakit diareku hari ini masuk katagori gejala virus Covid varian baru, persis penjabaran di media bahwa virus Covid varian baru ini memiliki gejala tambahan yaitu diare. Aku ingat dua hari yang lalu sempat makan di luar bersama teman. Aku merasa tidak tenang, tetapi setelah aku telusuri kembali makan makanan apa yang ku konsumsi beberapa hari yang lalu. Yaaaps rupanya aku hanya salah makan saja, dan tiga hari lalu secara berturutan aku makan makanan pedas, hemm memang level kepedasanku sudah menurun semenjak tinggal di kota ini hehehe.
Back to the story, tentang seorang akhwat berdarah jawa yang berdomisili di pulau sumatera yang Allah takdirkan berkuliah di UGM kala itu. Dia pribadi yang terlihat ekstrovert karena seringnya kulihat dia bersosialisasi dengan adik adik angkatan serta cakap dalam forum. Tapi ternyata dari obrolan kami malam ini, aku jadi tahu bahwa dia pernah menjadi korban bullying semasa SMA. Kepolosannya semasa itu membuatnya melewati dengan cara elegant, dengan prestasi tentunya. Lagi-lagi obrolan malam ini tanpa rencana, Qodarullah Allah mudahkan aku dan dia bersua melalui pangilan suara. Berawal dari postinganku tentang gambar kartun seorang anak laki-laki diatas kasurnya, disekitar matanya gelap dengan wajah lelah dan berkata “I just want to sleep, I’m tired of overthingking everything”. Dia berkomentar merespon postingan whatsapp storyku. Dia berkomentar bahwa dia dulu juga terjebak dalam lubang overthingking yang cukup lama. Dari obrolan di whatsapp tersebut, aku langsung menagih janjinya beberapa minggu lalu untuk ngobrol via telpon.
“Sepertinya overthingking ku ini karena ketidaksiapanku untuk kembali ke daerah deh, aku khawatir akan gejolak perubahan sosial lingkungan nantinya”. kataku dengan suara pesimis. Dia pun menambahkan, “Aku pun begitu mon bahkan saat sudah disini (read daerah) pun aku masing seperti itu, tapi dulu Ustad Sholihun pernah ditanya oleh jamaah dengan kasus yang sama terkait kekhawatirannya saat kembali ke daerah”. Ustad bilang “Kalau di hatimu, di dirimu ada banyak kebaikan nantinya kebaikan itu akan datang mendekatimu, Akan ada kemudahan untuk mengundang lingkungan teman sholih sholihah nantinya”.
Kondisi kedua orangtuanya yang diuji sakit jantung, mensupport biaya adik yang masih kuliah, membantu melunasi hutang keluarga, mampu melawan gangguan psikosomatis (penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh, di mana jika pikiran stres dan rasa cemas datang akan membuat rasa sakit nyeri tubuh dan pencernaan). Allah mampukan dia menjadi pribadi yang berhati besar dengan seabrek ujian. Benar saja kata ustad bahwa pribadi yang baik akan mengundang orang baik pula, diberikannya dia komunitas yang baik dalam merintis kebaikan dan teman-teman yang juga baik dan membaikkan.
Dia menjadi tangan pemerintah daerah sebagai pengajar Tahfiz Quran sekolah di daerahnya. Mengajar di daerah tentunya tak mudah, tantangan lingkungan yang keras, perjalanan menuju sekolah yang berbahaya, mengajari anak-anak yang jauh dari kata mampu mengikuti, bahkan kehadirannya anak-anak yang tak menentu menjadi pelengkap ujian kesabarannya. Pundak dan hatinya yang begitu kuat terus memberi manfaat untuk keluarga dan orang sekitar. MasyaAllah, sungguh dia menang banyak di akhirat kelak.
Apalah kita yang selalu memandang keberhasilan seseorang dari jumlah digit rupiah yang dihasilkan. Kita yang selalu memandang sebelah mata jika ada teman yang bekerja di desa. Memuaskan idealitas dunia ini, kita selalu menggunakan kacamata dunia sebagai ukurannya. Tidak akan habis berkesudahaan rasanya jika kita menilai dengan ukuran dunia, akan sangat lelah tubuh dan hati ini jika hanya untuk memuaskan isi pikiran manusia.
Coba sejenak saja ubah kacamatamu dengan kacamata akhirat. Sungguh Allah hanya akan melihat kebermanfaat dirimu untuk sekitar, bagaimana ketaqwaanmu di hadapanNya. Tak mudah rasanya untuk menghayati ini jika perspektif kita hanya tertuju pada dunia saja.
Semoga apapun profesi kita, menjadi jalan kebaikan untuk banyak memberi manfaat bagi sekitar, entah itu dari ilmu yang kau ajarkan, kebermanfaatan uang yang kau hasilkan, atau niat yang selalu kau perbaharui karena Allah.
#30haribercerita #bercerita #life #myself #hikmah #belajarmenulis #marimenulis