Apapun profesi dan jabatanmu, semua itu bersifat sementara. Tapi bagaimana caramu memperlakukan orang lain, itu yang akan selalu dinilai dan diingat orang.
Stranger Things
Game of Thrones Daily

roma★
Show & Tell

oozey mess
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
ojovivo

Andulka
tumblr dot com
No title available

No title available

Discoholic 🪩
Claire Keane
we're not kids anymore.
AnasAbdin

JVL
art blog(derogatory)
Misplaced Lens Cap
Monterey Bay Aquarium

pixel skylines

seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Argentina

seen from Türkiye
seen from Canada

seen from China
seen from Netherlands
seen from Germany

seen from South Korea
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Germany

seen from United Arab Emirates
seen from Singapore
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Armenia
@mrjoyevan
Apapun profesi dan jabatanmu, semua itu bersifat sementara. Tapi bagaimana caramu memperlakukan orang lain, itu yang akan selalu dinilai dan diingat orang.
Anak yang engkau anggap "tidak sukses" tersebut bersuara bukan sebagai seorang cowo yang telah didepak oleh kekasihnya.
Dia bersuara sebagai seorang manusia yang telah dikhianati dan dirugikan, baik secara moril maupun materil oleh teman dekatnya sendiri.
Dia bersuara sebagai pihak yang dirugikan, sekali lagi DIRUGIKAN.
Siang ini aku bermimpi membonceng mereka berdua. Kami berkeliling kota tanpa tujuan yang jelas. Aku melihat ke belakang muncul asap tebal dari kendaraanku, hingga aku tidak berani melanjutkan perjalanan.
Aku berusaha mencari pertolongan terdekat namun tak ada satupun yang bisa kulihat selain kesunyian. Aku berlari ke sana kemarin tanpa ku sadari, mereka berdua sudah tidak ada di belakangku. Entah ke mana mereka pergi, mungkin memilih untuk jalan kaki duluan.
Selayaknya sebuah mimpi, ini memang abstrak untuk dipahami. Namun, aku tahu apa makna dari mimpi tsb.
Alfatihah selalu untuk kalian berdua.
(4 Okt 2016 - 4 Okt 2025)
Dicegat polisi saat hendak masuk komplek (kebetulan sedang ada razia lalu lintas di sekolahan tepat samping komplek).
"Pak, jangan kabur, masuk sana dulu buat pemeriksaan." Ucap polisi tsb, sembari menunjuk ke halaman sekolah yang jadi tempat eksekusi.
"Saya mau pulang ke rumah, Pak. Saya tinggal di komplek ini." Jawab saya sembari menunjukan SIM.
"Semoga konsisten penindakan nya ya, Pak. Karena, kayaknya baru ini saya nemu ada razia di Jl. Tanray 2 ini. Kenapa di kampung saya razianya malah rutin ya? Setiap pagi polisinya juga stand by jaga lalu lintas di tiap persimpangan jalan." Tanya saya dengan nada basa-basi.
Namun, mereka sudah keburu pergi untuk menindak pengendara yang lain.
Pentingnya Penjelasan pada Singkatan & Akronim
Belum lama ini, saya menemukan foto unik ini yang sempat ramai diperbincangkan oleh warganet di banyak akun meme. Pada foto ini, terlihat sebuah plang oleh PT. KAI (Kereta Api Indonesia) yang bertuliskan "KAJJ Entrance" atau "Pintu Masuk KAJJ" dalam terjemahan ke Bahasa Indonesia. Namun tidak ada penjelasan tentang kepanjangan atau terjemahan dari singkatan KAJJ itu sendiri. Sontak warganet pun jadi bertanya-tanya, "lah emang bule ngerti apa itu KAJJ?, wong KAJJ aja aslinya itu singkatan Bahasa Indonesia dari "Kereta Api Jarak Jauh."
Postingan serupa juga saya temukan di akun lain. Di mana, pada foto tersebut terpampang sejumlah petunjuk arah di kawasan stasiun KAI. Terlihat, ada satu plang yang hanya menuliskan singkatan KRL (Kereta Rel Listrik), dan hanya diterjemahkan dalam singkatan KRL dalam bentuk font Italic (miring). Lantas, bagaimana plang ini dapat menginformasikan apa itu KRL kepada warga asing? Jangankan kepanjangannya, terjemahannya pun bahkan tidak terinformasikan sama sekali.
Melihat kelucuan ini, saya jadi teringat dengan suatu pembicaraan menarik yang pernah disampaikan oleh guru saya saat sekolah dulu. Kurang lebih bunyinya seperti ini:
"Masyarakat kita itu hobby menyingkat sesuatu, tapi jarang menjelaskan kepanjangannya, atau mungkin dia sendiri juga malah gak tahu apa arti dari singkatan itu."
Bagi sebagian orang, adanya akronim & singkatan mungkin dapat memudahkan dalam penyebutan akan sesuatu agar lebih ringkas. Namun, kebiasaan menyingkat sesuatu terus menerus tanpa memberi penjelasan apapun, bisa jadi justru malah menyulitkan bagi sebagian orang lainnya. Khususnya bagi mereka yang belum tahu, dan perlu informasi lebih jelas serta cepat. Harus cek dua kali, ataupun bertanya lagi. Tentu ini jadi kurang efisien, dan rentan menimbulkan miss informasi.
Perdebatan terkait singkatan ini kebetulan belum lama juga sempat saya alami ketika dimintai menjemput seseorang. Waktu itu, jalan komplek di tempat orang yang akan saya jemput sedang ditutup karena ada resepsi pernikahan. Jadi, Ia pun meminta saya mengambil jalan pintas lewat komplek lain. "Bang, nanti masuknya lewat komplek GM aja ya". Mendengar itu, saya hanya bingung. "Kak, Komplek GM itu yang mana, kak?" Tanya saya. Namun, Ia hanya diam. Setelah sekian lama mencari-cari, barulah akhirnya ketemu. Ternyata "GM" itu adalah singkatan dari "Griya Mayor." Dengan agak lelah, saya pun berkata "Kak, biarpun saya juga warga sini, tapi belum tentu saya hafal dengan semua nama kompleknya, apalagi kalau dijelaskannya cuma pakai singkatan kayak gitu."
Kisah serupa terkait kebiasaan menyingkat ini pun juga pernah saya alami ketika awal-awal kuliah dulu. "Jar, sampean ngekost di mana?" Tanya saya kepada teman mahasiswa yang sama-sama perantau. "Di Jalan Imbon, Joy." Jawabnya. "Sek sek, Imbon itu di mana?" Tanya saya lagi. "Itu loh, yang ada dealer Daihatsu." Mendengar itu, sayapun nyeletuk, "oalah, itu mah Imam Bonjol, Jar." Ia pun menjawab, "yaa mana aku tahu, dari awal aku dengernya dari orang bilang cuma Imbon tok."
Meski sudah kisah lama, namun itu bukan kali pertama saya pernah dibingungkan dengan berbagai singkatan & akronim yang lebih banyak bertebaran daripada istilah aslinya. Ketika masih awal-awal mengenal Pontianak misalkan. Kadang saya juga sempat kesulitan ketika dihadapkan dengan berbagai akronim untuk istilah kawasan seperti, Gama, Paris, Serdam, Tanray, Tanpur, Deskap, Adis, Selpa, KKR, dsb. Pasalnya, akronim ini lebih sering disebutkan daripada nama asli atau kepanjangan langsung dari kawasan tersebut.
Berangkat dari kisah itu, terkadang saya mencoba membiasakan diri untuk menuliskan dan menjelaskan setiap akronim dari nama tempat-tempat yang ada di sini dengan nama aslinya. Khususnya kepada orang baru, entah itu teman, keluarga, ataupun mereka yang belum lama atau baru berkunjung ke sini. Setidaknya, mencoba membantu memudahkan mereka untuk mengenali daerah ini.
Penting atau tidaknya menjelaskan & memahami setiap singkatan atau akronim terkadang bisa menjadi perdebatan. Namun, kembali lagi pada kondisi dan situasi. Yang terpenting, pastikan sebelumnya kita tahu dan targetnya juga tahu, apa kepanjangan dari singkatan dan akronim yang akan dibicarakan. Jangan cuma ujug-ujug langsung menyingkat begitu saja, seakan semua orang tahu apa arti singkatan tersebut. Padahal mereka belum tentu tahu, dan perlu untuk tahu.
Kecuali kalau konteksnya pembicaraan receh kayak:
🤵🏻: "Kamu itu 1,3,4,5"
👰🏻: "Hah? Maksudnya?"
🤵🏻: "Gak ada duanya" :v
(JE. 29.5.25)
Baru-baru ini, media internasional diramaikan dengan foto kegiatan jamuan makan malam yang dihadiri oleh para pemimpin dari negara-negara Nordik.
Rapat informal ini diiniasi oleh Mette Frederiksen (PM Denmark) pada 27 Januari 2025, dan diselenggarakan di kediamannya sendiri, dengan mengundang Alexander Stubb (Presiden Finlandia), Ulf Kristersson (PM Swedia), dan Jonas Gahr Støre (PM Norwegia). Pertemuan ini dilakukan untuk membahas strategi geopolitik negara-negara Nordik dalam menghadapi upaya aneksasi wilayah Greenland oleh Amerika Serikat.
Tidak ada rapat besar, tidak ada pula fasilitas mewah yang dihadiri oleh banyak pejabat. Semuanya berlangsung dengan sangat sederhana, meskipun tema rapat yang dibahas begitu krusial. Padahal, Nordik sendiri dikenal sebagai kawasan dari negara-negara yang sangat maju akan banyak hal.
Berkaca dari budaya pejabat negara-negara tadi, mungkin bisa menjadi bahan refleksi bagi pejabat negara lainnya, khususnya Indonesia. Bukankah gaya hidup sederhana adalah wujud efisiensi yang sebenarnya kita butuhkan?.
(JEv., 29.05.2025)
Gw juga kalau punya privilage, mungkin tiap hari bisa bikin status bijak buat nasihati orang susah.
Dulu aku kira pendidikan tinggi dan religiusitas bagus itu berbanding lurus dengan cara memperlakukan orang lain. Ternyata tidak.
Konsep ajimumpung itu sebenarnya sama saja dengan memanfaatkan. Hanya prakteknya yg berbeda, pada akhirnya tetap ada pihak yang dirugikan oleh mereka yang ingin mencari keuntungan tertentu.
Mari kita tegaskan,
Kalau ada orang yang kena begal di jalan, yang salah itu begalnya. Jangan salahkan pengendaranya yang gak hati-hati. Mereka punya hak untuk hidup aman di suatu kawasan. Sama halnya, kalau ada orang yang jadi korban penipuan, yang salah itu ya penipunya. Jangan salahkan korbannya kenapa gampang ditipu daya. Dia punya hak untuk hidup tanpa harus dirugikan oleh orang dzolim.
Dalam sebuah tragedi kejahatan, kita terlalu sering menyalahkan korban yang lemah, ceroboh, dsb. Sampai kita lupa, siapa pelaku utamanya, dan di mana akar masalahnya. Itu lah yang mestinya diatasi & diberantas.
Sudahlah, maafkanlah kesalahannya...
Minta maaf aja engga ada, apa yg mau dimaafkan? ┐( ˘_˘)┌
Ada anak yang memilih untuk hidup susah, dan tidak mau meminta pertolongan orang tuanya. Padahal sebenarnya ortu nya punya kemampuan dan kemauan untuk menolong.
Ada juga anak yang hidupnya beneran susah, dan betul-betul butuh pertolongan, tapi ortunya justru sama sekali tidak punya kemampuan untuk menolong.
Kadang hidup setidakadil itu.
Kenapa orang yang gak enakan seringkali dipertemukan sama orang yang tidak tahu diri?, dan kenapa orang baik sering menjadi korban dari kesalahan orang lain?
"Mereka hanyalah orang-orang egois yang cuma mementingkan dirinya sendiri."
Ucap seorang nenek di dalam hati saat kerabatnya dibiarkan tewas diserang segerombolan zombie di kereta gerbong no. 4. Keegoisan penumpang di gerbong no. 3 yang terlalu cepat menutup pintu demi menyelamatkan diri mereka sendiri, akhirnya menyebabkan banyak orang yang tidak sempat lari kemudian tertinggal dan meninggal karena terjebak di gerbong no. 4. Termasuk di antaranya kerabat nenek itu. Nenek itu pun menangis di balik jendela gerbong kereta nomor no. 3 sembari menyaksikan kerabatnya yang telah menjadi mayat.
Selang beberapa saat, nenek itu pun secara sengaja langsung membuka pintu gerbong no. 3 kereta tersebut, dan membiarkannya zombie-zombie itu melahap mereka semua. Ia rela mati mengorbankan dirinya sendiri demi menghukum keegoisan orang-orang di sana.
Train to Busan (2016)
RT 01: "Pak Muklis ini aneh ya. Selama 5 tahun jadi satpam sukarela di komplek kita, dia gak pernah minta bayaran. Kok skrg dia malah minta tarif 20 rb per rumah sih?. Ga ada empatinya sama sekali dgn warga, padahal komplek dia sendiri. Kenapa gak jadi tanggung jawab dia aja sih!?"
RT 02: "Alhamdulillah, si Pak Asep, satpam komplek kita yang selama ini netapin tarif keamanan 50 rb per rumah, skrg dia nurunin tarifnya. Jadi kita cuma perlu bayar dia 30 rb aja per rumah. Pak Asep emg empati banget ya ama warga sini."
Akrobat logika itu sederhana, tapi se menyesatkan itu.
Jadilah Orang Yang Bisa Diandalkan
Dulu pernah nemu anekdot menarik dari akun Instagram @ruangpsikologi, yang bunyinya kurang lebih kayak gini
"Anda males minta tolong orang lain, dan memilih untuk mandiri, karena biasanya lingkunganmu jarang yang bisa diandalkan kan?."
Mungkin saja tulisan tersebut belum bisa dipastikan validitasnya. Toh, kita juga belum tahu, apakah adminnya benar-benar seorang psikolog atau bukan. Namun, kalau dipikir-pikir, tulisan tersebut ada benarnya juga.
Aku setuju, jika orang-orang yang males buat minta tolong ini bisa jadi disebabkan oleh trauma. Tidak menutup kemungkinan, selama Ia hidup, Ia jarang bisa bertemu orang-orang yang bisa diandalkan dari lingkungannya, entah itu keluarga, rekan, teman, atau siapapun itu. Kalaupun Ia meminta pertolongan, kemungkinan bantuan yang Ia dapat hanya separo hati, atau malah benar-benar tidak dapat sama sekali. Padahal, yang Ia butuhkan mungkin hanya hal sederhana yang tidak memerlukan effort besar, atau malah hal yang memang sudah semestinya menjadi haknya. Kondisi yang akhirnya membentuk mindset, "ngarepin hal sekecil ini saja susahnya minta ampun, apalagi mau ngarepin yg lebih besar."
Bahkan dalam kondisi yang terburuk, tak jarang permohonan bantuan ini malah mendapat output yang tidak mengenakkan dari "sang penolong", misalnya seperti respon yang buruk, dsb. Selain itu, minimnya empati dari lingkungan sekitar juga turut menjadi faktor pendukung. Misal ketika orang tersebut sedang mengalami kesulitan atau membutuhkan sesuatu, namun lingkungannya seakan tidak tahu, (atau mungkin memang tidak mau tahu).
Kondisi ini pun terjadi berulang-ulang secara terus menerus, entah dari lingkungan yang sama, ataupun yang baru. Sampai akhirnya, hal ini pun dapat menyebabkan trauma tersendiri. Trauma ini membentuk perasaan gak enakan, takut, capek, atau bahkan males untuk berharap kepada orang lain lagi. Karena seakan sudah tahu jawabannya, sudah tahu outputnya akan gimana. Ujung-ujungnya begitu lagi. Akhirnya yang bersangkutan pun lebih memilih untuk mandiri se-mandiri-mandiri mungkin, tanpa berharap lagi kepada orang lain.
Nyari temen yang baik itu gampang, yang sulit itu nyari temen yang gak menusuk dari belakang. 👀