"Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dan bagi agamaku, kehidupanku, akhir urusanku, duniaku, dan akhiratku, maka takdirkanlah hal tersebut untukku. Mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku."
— Doa, 9 Ramadhan 1446
EXPECTATIONS
Cosmic Funnies

tannertan36

★
almost home
KIROKAZE

titsay

bliss lane
tumblr dot com
No title available
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
𓃗
Sweet Seals For You, Always
Sade Olutola
ojovivo

No title available
occasionally subtle

No title available
Claire Keane

gracie abrams
seen from Germany
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Russia
seen from Palestinian Territories

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from Kazakhstan
seen from Venezuela
seen from Brazil
seen from Bangladesh
seen from Venezuela

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Singapore
seen from Brazil

seen from Jordan
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Spain
@muarakisah
"Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dan bagi agamaku, kehidupanku, akhir urusanku, duniaku, dan akhiratku, maka takdirkanlah hal tersebut untukku. Mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku."
— Doa, 9 Ramadhan 1446
The Power Of Acceptance
Bukankah menerima hal yang mudah dilakukan oleh setiap manusia ?
Menerima saat diberikan hadiah oleh orang lain.
Menerima saat Allah berikan nikmat kebahagiaan
Menerima saat Allah berikan kita rizki yang banyak
Menerima saat apa yang kita inginkan akhirnya bisa kita gapai juga
Menyenangkan bukan ?
Tapi bagaimana kalau kita balik kalimat-kalimat di atas ?
Hal-hal yang kita terima bukan berupa nikmat tapi berupa ujian.
Apakah kita bisa dengan mudah menerimanya ?
Menerima kekurangan diri contohnya pipi yang chubby, tinggi badan yang gak semampai, badan yang gendut, muka yang jerawatan dan hal sederhana lainnya atau menerima hal-hal yang sulit bagi kita seperti cita-cita yang gak tercapai, kehidupan yang saat ini dijalani tidak sesuai dengan harapan yang kita inginkan dan hal yang lebih berat lainnya seperti kehilangan orang yang dicintai.
Berat bukan ?
Dalam ceramah singkat ustadz Hannan Attaki yang saya temui videonya lewat media sosial beliau menjelaskan bahwa "Kita bisa menemukan arti kebahagiaan saat kita sudah bisa berdamai dengan masa lalu, segala hal yang telah kita lalui dan menjadi takdir kita".
as i grew older, i learned that the key to surviving the day is not positivity but it's acceptance.-Claudia
Semakin dewasa diri, pelajaran yang didapat untuk bertahan hidup bukan hanya pikiran yang positif saja akan tetapi penerimaan.
Menerima kalau tidak semua hari kita itu baik dan hidup bukan hanya tentang kebahagiaan.
Kesedihan dan kebahagiaan, hari baik dan hari buruk datang silih berganti.
Ada hari di mana kita melakukan kesalahan dan berjalan tidak sesuai apa yang kita inginkan itu ga papa.
Kita harus bisa menerimanya. Meskipun sulit tapi belajar ya pelan-pelan.
Semoga hidup kita bisa jadi lebih baik. Mulai sekarang yuk belajar menerima !
#acceptance #quotemotivasi #psikologi
Jangan-jangan Kita adalah Monster untuk Diri Kita Sendiri
Lumrah kalau kita merasa terluka atas apa-apa yang begitu mengecewakan kita. Masa kita mau dipaksa langsung tertawa kalau sedang sedih? Masa kita tidak boleh menangis kalau kita sedang merasa lara? Penolakan atas rasa sakit itu justru malah menambah panjang umur luka itu bersemayam dalam diri kita. Seolah sangat salah kalau kita membenarkan perasaan sedih. Seakan yang boleh hadir di kehidupan hanya rasa bahagia dan gembira. Padahal kenyataannya kita selalu hidup berdampingan dengan dua perasaan berlawanan itu; senang dan sedih.
Jangan menjadikan diri sebagai monster untuk diri sendiri. Memaksa diri tetap baik-baik saja padahal sedang tidak baik-baik saja. Jangan-jangan selama ini bukan kita yang tak bisa sembuh dan menerima, tapi kita telah menjadi monster dengan menolak telak perasaan sedih yang tengah membelenggu hati.
Kalau dipikir-pikir memang apa salahnya kalau kita sedang sedih? memang apa salahnya kalau kali ini kita sedang menghadapi masalah yang begitu rumit? Bukankah hidup seperti itu? Terus berputar agar kita terus belajar, melunak dan tidak arogan?
Dengan kita membiarkan kita menangis, mengiyakan kehadiran perasaan tidak enak itu, kita membiarkan diri kita menjadi diri yang apa adanya, membantu diri sendiri melepaskan bebannya. Setelah menangis pun kita perlahan akan berpikir dan mencari jalan keluar atas apa-apa yang sedang dihadapi.
Jadi, sebetulnya sama saja mau kita langsung menolak atau menerima kesedihan itu, kita tetap akan mencari solusi dan jalan keluar atas masalah yang sedang ada. Bedanya kalau kita diawali dengan menerima kesedihan itu, setidaknya kepala kita akan berpikir jernih, merasa diberi ruang untuk jadi apa adanya, dan melewati badai dengan perasaan lebih tenang.
Kita manusia, bukan? Atau selama ini kita tengah menjadikan diri kita sebagai monster jahat untuk diri sendiri?
@terusberanjak
-Mapan vs Tampan-
Apa yang dibutuhkan wanita sebenarnya dalam kehidupan berumah tangga ?
Kemapanan atau fisik mungkin jadi dua kata yang sering kita dengar dari orang-orang di sekitar kita.
Terlebih bagi wanita idealis dengan tipe tidak realistis.
Standar ideal yang hadir bisa jadi terinspirasi dari idol korea dengan lakon sempurna di drama favoritnya. Ganteng, kaya raya, dari keluarga baik-baik, romantis dan mampu memenuhi semua kebutuhan hidupnya.
Bila tidak idol korea bisa jadi influencer dengan personal branding alim, hafidz tiga puluh juz, lulusan pesantren ternama dan sebagainya yang tak nampak celahnya.
Julukannya calon imam idaman, ya kan ?
Dari ribuan kriteria yang hadir saya yakin sebenarnya wanita hanya membutuhkan laki-laki yang membuatnya aman dalam life after marriage.
Definisi aman di sini jelas punya makna yang luas tentunya.
Bisa aman dari segi finansial, masa depan maupun karir yang dirintis selama masa kesendiriannya.
Satu hal yang saya percayai dari segala kecemasan menghadapi life after marriage, wanita sebenarnya hanya butuh karakter pasangan yang tepat untuk menemaninya.
Karakter yang mau diajak bertumbuh sekaligus growth mindset, mau berjuang bersama, mampu support karir dan mimpi satu sama lain, hardworker, nyatanya jauh lebih menarik dibanding kemapanan dan fisik yang ditawarkan.
Apalagi sosok yang mampu membuat kita tenang tanpa perlu gelisah harus berkunjung ke profil wanita lainnya demi memastikan kecurigaannya.
Pastilah semua itu sudah sepaket dengan hal yang jauh lebih utama yaitu ia yang memiliki iman di hatinya, dan tanggung jawab.
Jadi, sebenarnya bukan mapan dalam arti memiliki rumah, mobil, status pekerjaan, punya aset atau income di atas dua digit yang diutamakan.
Melainkan karakter yang membuat rasa aman di masa depan seharusnya yang laki-laki utamakan.
Salah satu quote anonim yang pernah saya baca jodoh itu tak lebih dari sekedar keraguan dalam diri laki-laki dan fase menunggu seorang wanita.
Laki-laki insecure dengan standar yang dibuat dalam benak mereka sendiri dan wanita hanya bisa diam menunggu karena tertahan budaya patriarki yang mengatakan kalau laki-laki lah yang harus memulai duluan.
Jadi mau sampai kapan terpaku pada standar masyarakat yang punya banyak checklist itu ?
-Before 2024 End-
Menatap langit-langit biru dengan penuh syukur.
Dihiasi rintik sendu hujan bercampur bau petrikor yang menyergap hidungku.
2024 tentu tidak berakhir begitu saja.
Tahunnya berlalu memorinya tidak.
Tahunnya berganti tujuan hidupnya tidak.
Tahunnya bertambah masalah hidupnya tidak.
Semoga.
Meski banyak peluh dan tangis, 2024 tentu akan menetap.
Tahun pembelajaran dari banyaknya kesalahan.
Tahun pengingat bahwasanya fokus jadi tameng utamanya.
Tahun penerimaan bahwa si perfeksionis ini memang bisa melakukan kesalahan.
Sekali lagi harus diingat tak perlu validasi dari orang lain bagaimana hebatnya kita.
Meski begitu ada satu pelajaran hidup yang terpatri dipikiranku.
Yang tenang pasti akan menang.
Begitulah kodratnya seorang wanita.
Mampu menenangkan.
Di segala kondisi dan suasana.
Yang tenang tetaplah pemenangnya.
Banyak harap di tahun depan, sebanyak harapan orang tua kepada anaknya.
Semoga Allah kuatkan pundak, kaitkan tekad, wujudkan angan dan harap mereka.
-Terima kasih 2024-
Quarter Life Crisis
QLC (quarter life crisis) sering banget dengerin istilah ini dari jaman kuliah. Meski hanya sekadar tahu dan gak pernah terpikir sama sekali kalau akhirnya kita bisa mengalaminya atau gak.
Tapi, dua tahun belakangan ini kalau hidup kita terasa gak terarah, takut akan ketidakpastian masa depan dan mulai sering mempertanyakan tujuan hidup sebenarnya apa mungkin saja kita sedang berada di fase QLC ini.
As a moslem, kita tahu tujuan penciptaan manusia hidup di dunia ialah menghamba pada sang pencipta. Tapi sebagai manusia dengan ambisi yang dikuasai ego pastilah banyak keinginan untuk meraih mimpi dan cita-cita
Meskipun tak bisa kita pungkiri pengaruh media sosial sangat signifikan memengaruhi mindset atau cara berpikir kita dalam melihat suatu hal terutama pencapaian.
Kita paham setiap manusia punya timeline hidup masing-masing yang tentu saja berbeda-beda. Saat kita terlambat bukan berarti gagal tapi memang belum waktunya.
Di usia remaja, banyak orang sudah merancang rencana apa saja yang diinginkan sampai 5 atau 10 tahun yang akan mendatang. Meskipun realitanya di usia dewasa ini justru rencana yang sudah kita buat untuk hidup kita justru kabur perlahan hilang entah kemana.
Lagi-lagi kita harus punya prinsip yang kuat kalau "people just only have a plan but Alloh is the best of planners"
Netesin air mata waktu curhat ngejelasin sesuatu sama Allah is another level of sadness
Lega, meski mata sembab udahannya
He Knows, He Understans, He Provides, He Heals🤍
Perayaan Mati Rasa
Beberapa tahun belakangan ini, aku nggak pernah lagi suka sama seseorang. Suka yang dalam artian: nggak berhenti mikirin dia, suka salting sendiri, ngayal 24/7, atau suka hingga aku bertingkah bodoh.
Apakah ini tanda kalau aku sudah mati rasa, hingga tak lagi mudah untuk menyukai seseorang? Em, not really.
Salah satu penyebabnya mungkin karena beberapa tahun belakangan ini, kehidupanku benar-benar sibuk, banyak hal yang aku kerjakan, dan harus aku selesaikan, sehingga menyukai seseorang nggak aku masukkan dalam daftar prioritas. Rutinitasku setiap hari juga cuman dari kos ke tempat kerja, orang-orang yang ditemui ya itu-itu aja, jadi peluang untuk ketemu dengan seseorang yang bisa disukain itu minim sekali.
Selain itu juga, setelah semakin sering ketemu dengan banyak orang, dan mengenal berbagai karakter laki-laki, aku akhirnya punya kriteria atau definisi sendiri laki-laki seperti apa yang ingin aku sukai. Jadi, nggak ada lagi suka-suka seseorang tanpa ada alasan yang jelas, karena semakin aku dewasa aku belajar kalau aku bukan mencari seseorang yang bisa aku sukai, tetapi aku mencari seseorang yang bisa aku pertahankan hingga ke jenjang pernikahan nanti.
Aku belajar bahwa suka sama seseorang tanpa alasan itu hanya bikin capek, karena nggak ada ujungnya. Kita nggak tahu rasa suka itu mau dibawa ke mana. Sehingga aku menyadari bahwa aku harus selalu punya alasan dalam menjalin sebuah hubungan, apa pun itu.
Sampai saat ini aku juga belum menemukan seseorang yang effort mereka tuh bisa ngalahin effort aku ke diri sendiri.
Alias kebanyakan nemu seseorang yang bilang suka aja, tetapi belum benar-benar nemu yang bisa buktiin bahwa mereka semau itu sama aku.
Jadi aku juga yang kayak, yaudah sih ..., sendiri aja dulu, daripada buang-buang tenaga sama perasaan aja suka sama seseorang yang nggak pasti mau merjuangin kita apa enggak.
Sebenarnya aku sempat sih suka sama beberapa orang, tetapi cuman sebatas 'suka aja' gitu. Terus yaudah. Gak gimana-mana. Perasaan suka itu hanya terbatas pada, tertarik sama sifat dia yang menyenangkan, lucu, ataupun wajah dia yang enak dipandang (jenis perasaan suka pas kita masih remaja gitu gasihhh) Maksudnya aku nggak pernah lagi suka sama seseorang yang buat aku berpikir aku mau sama dia selamanya. Gitu. CAILAH.
Di umur segini kalian ngerasa gasih, kalau kita tuh sekarang udah lebih susah buat jatuh cinta karena setelah melalui berbagai pengalaman dalam berhubungan dan juga ketemu dengan banyak orang, kita telah tahu orang seperti apa yang kita mau dan kita tuju. Sehingga mendekati orang dan didekati seseorang jadi terasa lebih kompleks karena teralu banyak yang dipikirin.
Tapi hal itu juga ada baiknya karena kita nggak lagi buang-buang perasaan buat seseorang yang benar-benar nggak bisa sama kita.
Dan aku juga sekarang lebih menikmati fase mati rasa wkwkw atau masa-masa sendiri ini dengan melakukan banyak hal yang membuatku semakin mengenal diriku sendiri.
Kadang sih muncul perasaan kangen ngebucinin orang alias kangen sama sensasi perasaan yang meledak-ledak saat sedang jatuh cinta wkwkwwkwkwk. Tapi nggak papa buat lebih sabar lagi untuk menunggu. Segala effort-nya disimpen dulu, dikeluarin nanti kalau udah ketemu seseorang yang tepat buat diperjuangin.
Alias jika orang lain mencintai seseorang dengan ugal-ugalan. Maka akan kucintai dirimu dengan versi full of service. WKWKWK.
yang semoga waktu itu nggak lama lagi.
Oktober yang masih berkabut.
Pict by @boohwanj
Berdoa itu, erat sekali hubungannya dengan kesadaran bahwa kita itu teramat lemah, fakir ilmu, dan tidak berdaya tanpa pertolongan Allah.
Semakin kita sadar, kita tidak punya apa-apa selain iman dan amal shalih kita...yang mungkin tak seberapa dan belum tentu pula diterima dengan sempurna. Maka semakin kita merasa kerdil dan redamlah ego dalam jiwa yang menjelma sebagai bentuk sujud dan berserah diri pada Allah untuk mengharap ampunan dan rahmat-Nya.
Berdoa itu, erat sekali hubungannya dengan harapan juga ketakutan yang bermuara sebagai keimanan pada takdir-Nya. Ketika kita memanjatkan doa, hati kita penuh harap agar pinta kita menjadi nyata, dilain sisi, ketakutan pun menyergap, menghadirkan banyak kemungkinan, akan berbuah sebagai apakah kiranya harapan kita nanti?
Hanya keteguhan iman dan baik sangka yang membuat kita tak berputus asa dari rahmat-Nya. Baik sangka bahwa setiap garis takdir-Nya pasti akan berbuah baik untuk kita, meski untuk dapat memetik buah baik itu, kita harus bersabar untuk waktu yang panjang dan belajar bersyukur dengan penuh tantangan. Semoga Allah menuntun hati kita, untuk selalu bertaut, berdoa, dan bertawakkal pada-Nya.
Kabut, 9 Oktober 2023 07.23 wita
Sudah lama ingin menghentikan nya,
Tak terlalu lama bermain di sosial media, yang tak lain hanya scroll, ataupun mencari motivasi tapi malah jadi ilusi bayangan hidup orang, terlalu candu untuk menonton konten detoks sosmed atau menanyai orang tentang itu, jatuhnya toxic produktivity, sekarang, tanpa ba-bi-bu, ingin detoks sosmed, dan hanya menggunakannya saat penting, semoga percobaan kali ini, berhasil, aamiin
Perempuan Bontot dalam Keluarga
Anak perempuan terakhir yang biasa disebut bontot di sebuah keluarga memiliki tanggung jawab tersendiri terlebih dalam keluarga jawa.
Budaya patriarki yang masih kental membuat gerak gerik anak bontot semakin sulit untuk berkembang.
Wujud jawaban dari doa kita adalah saat kita merasa diyakinkan dalam menentukan sebuah pilihan
Dan perlu diingat, pilihan kita tak akan pernah bisa memuaskan semua pihak yang berada di lingkaran hidup kita. Pasti akan ada orang lain yang merasa kecewa karena kita tak memilih pilihan hidup yang mereka sarankan. Tapi ya balik lagi, yang akan menjalani hidup ini kan kita sendiri, bersama keluarga. Ya bisa jadi mereka juga akan ada di persimpangan hidup kita, namun porsinya tak sebanyak keluarga yang memang harus menjadi alasan utama untuk segala sesuatu.
Allah maha mengetahui yang tidak kita ketahui. Mungkin apa yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk kita di masa depannya. Rasa yakin ini harus belajar untuk dikuatkan setiap harinya.
Segala bentuk pahit getir kehidupan menjadi perantara dalam mendewasakan insan yang bernyawa. Hadirnya menjadi pertanyaan yang mesti menghadirkan jawaban. Bangkit atau memilih pasrah saja akan keadaan. Menyerah tanpa kehendak.
Tiada kepastian di dalam hidup ini, selain kematian. Kamu boleh saja hari ini berkeluh kesah, menyalahkan keadaan, bahkan menyerah, akan tetapi betapapun terjalnya aral yang kamu lalui itu, bangkit adalah pilihan yang akan terus menyertaimu. Memilihnya atau mengabaikannya adalah pilihanmu.
Semoga hari ini, ditengah keinginan hati untuk membahagiakan orang-orang tercintamu itu; bapak, ibu, keluarga atau siapapun itu, jangan sampai hilang arah, mintalah Tuhanmu untuk menunjuki jalan. Dia selalu punya jalan terbaik.
Percayalah, Tuhanmu itu tidak pernah mengabaikan doa dan usahamu. Yang jadi masalah adalah justru keraguanmu akan terkabulnya doa-doa yang selama ini kamu rapalkan itu. Padahal, keterkabulannya menuntut keimanan yang utuh.
"Semoga kamu gak lelah jadi orang baik. Dengan segala luka dan kecewa yang sedang tertimbun dalam dirimu, semoga tak menjadikannya sebagai alasan kamu berubah dan menuntut orang-orang agar memahami situasimu."
@terusberanjak
Random Talk: Tak Ingin Capek Hati
Lagi berada di fase belum bisa banyak bicara saat ada pertanyaan bertubi terkait,”Sudah punya calon?” atau ,”Apa bisa masukin proposal ta’aruf?” dan pertanyaan senada lainnya yang bermakna sama. Ternyata nggak semudah itu berada di fase ini. Bukan main beratnya untuk sekadar jawab. Lebih tepatnya, tidak ingin membuka ruang ke sembarang orang. Dan mungkin memang Allah belum kasih jalan ke sana untuk saat ini.
Tapi semakin ke sini, entah kenapa rasanya semakin risih dengan kesendirian ini. Bukan risih karena kesepian. Melainkan merasa was-was dan tidak aman. Sebab dengan usia yang memang sudah bisa dikatakan cukup untuk menikah, yang datang untuk menggoda juga datang tanpa jeda. Adaaaa saja ujiannya.
Takut. Cemas. Dan segala perasaan tidak menentu seringkali hadir. Tapi memang hingga saat ini, belum ada yang klik. Dan nasihat yang masuk pun terus berujar, “Jangan terburu-buru. Karena yang dicari bukan teman untuk sehari sehidup. Tapi sekali seumur hidup.”
Maka ya Allah.. maafkan aku. Kalau sampai saat ini permintaan terkait ta’aruf dari beberapa orang belum berani untuk kuberi jalan. Bukan tidak mau. Bukan menolak. Tapi haya ingin lebih selektif. Dan tidak ingin bermain-main dengan urusan hati.
Dan merasa banyak belajar juga dari kisah orang lain. Ada satu nasihat yang saat ini kupegang teguh.
“Mempersilahkan siapa saja untuk maju tanpa filter yang jelas itu bikin capek hati.” - Mbak Chida
Jadi, untuk saat ini lebih baik memfilter dari awal. Istikharahnya bahkan dari sebelum proses dimulai. Sekiranya tidak masuk kategori, lebih baik tidak usah diberi ruang untuk membuka diri.
Meski begitu, selalu ingat nasihat dari mamak:
“Kalau ga sreg, jangan jutek. Kalau ga mau, bilangnya baik-baik. Jangan sakiti. Karena kita tidak pernah tahu takdir Allah kedepannya. Dan Allah maha membolak-balikkan hati.”
Kalau ditanya apakah sudah siap? Sebenarnya dalam hal apapun kita tidak ada yang benar-benar siap. Ada saja keraguan. Merasa belum pantas dan sederet tapi-tapi yang lain. Hanya saja memang sedang dalam proses memantaskan. Jika memang bisa disegerakan dan sudah bertemu yang pas, tentu akan lebih baik kesendirian ini sesegera mungkin dapat diakhiri.
Karena sekarang benar-benar baru terasa bahwa ujian seorang akhwat yang masih sendiri itu luar biasa. Nyuci wadah bekal makan di pantry kantor saja menimbulkan komentar, “Masya Allah ukhti.. yang seperti ini yang saya cari.”
Kan risih :( —akutu cuma nyuci wadah bekal aja lho. Apanya yang istimewa? biasa aja kaliiik.
Tapi ya itu. Perempuan kan memang sumber fitnah terbesar bagi laki-laki. Mau setertutup apapun. Mau semenjaga apapun. Tetap akan selalu ada celah untuk menimbukan godaan.
Tapi hikmahnya, doaku jadi makin panjang saat ini..
Ya Allah..
Hamba memang jauh dari kata baik. Tapi berharap bisa mendapatkan yang terbaik agar bisa terus membimbing takwa kepada-Mu dengan cara terbaik. Karena hamba tahu lemahnya diri ini. Tahu betul kurangnya diri ini. Semoga bisa dipertemukan dengan yang mampu melengkapi.
Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu. Yaa Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.
Ya, Allah. Jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tak berpaling dari hati-Mu.
Ya Allah. Jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindukan syahid di jalan-Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.
Ya, Allah. Jika kau halalkan aku merindukan kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga aku melupakan cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Diadopsi dari doa Syaikh Sayyid Quthb
Semoga lekas Allah beri jalan terbaik. Semoga segera Allah hadirkan orang yang pas di hati dan bisa bertemu dengan proses yang Allah ridhoi. Dengan proses yang dimudahkan dan Allah berkahi. Dan semoga tidak bikin capek hati. Semoga bisa menjaga sampai Allah izinkan bersama dalam ikatan yang sah. Semoga bisa bersabar dan tidak gegabah. Aamiin Allahumma aamiin.
Palembang, 22 Okt 2022 | 03.39 || (yang) Tidak Ingin Capek Hati
Ada banyak hal lucu yang akan aku ceritakan kelak kepadamu
Lika-liku batinku memilih
Perjuanganku menjadi versi terbaik diri
Rumit
Ya rumit
Rumitnya diriku menemukanmu
Janjiku kini
Untukmu akan kusiapkan seribu kisah yang akan kusampaikan sebelum fajar datang
Sabarkah kau tanpa menyelanya?
Siapkah kau mendengarnya?
Kamu.
Nasihat untuk orang² yang menangis karena satu persatu teman² nya mulai menikah dan dia merasa tertinggal..
Merasa Tertinggal
Tertinggal itu adalah diksi kausalitas (sebab-akibat) tercipta karena seseorang merasa sedang berkompetisi. Padahal dalam hidup seseorang menjalani garis takdirnya tersendiri. Bagaimana mungkin tertinggal, sedangkan kita berlari di kompetisi dan arena yang berbeda?
Jika hidup, tetap kita artikan sebuah kompetisi. Satu-satunya kompetitor kita adalah diri kita sendiri. Kita sedang melawan diri sendiri yang kadang menyerah dengan mudah, kemalasan, putus asa, merasa rendah diri, dan segala sisi buruk diri kita.
Jika kita merasa tertinggal, pesimis, takut, dsb artinya kita sedang kalah dengan diri kita sendiri. Meskipun tidak apa juga jika pada akhirnya kita sesekali merasakan hal itu. Anggap sebagai lecutan atau pengingat, bahwa saat ini kita sedang di posisi kalah, tapi yang perlu diingat kita masih punya kesempatan buat bangkit dan mengejar.
Jadi tidak perlu bersedih, merasa tertinggal. Selama kita punya keputusan yang sudah dipertimbangkan dengan matang dan sadar, maka kita bertanggungjawab untuk menepati dan mengambil segala risiko dan konsekuensi yang kita pilih.
Kamu yang lebih tahu keadaanmu. Kamu yang memiliki pilihan atas hidupmu. Semangat!
Padahal ini kehidupan, bukan arena balap wkwk
Kenapa ya, sebagai manusia kadang selalu merasa kalah dari yang lain. Hidup mereka beruntung banget? Aku kok gini-gini aja. Begitu terus.
Padahal di posisi kita sekarang, apa yang kita punya saat ini, mungkin adalah hal yang diinginkan orang lain.
Makanya, menyoal kehidupan duniawi menengoklah ke bawah. Di posisi tempatmu berdiri sekarang, yang katanya masih tertinggal dari yang lain, mungkin adalah posisi yang mati-matian dikejar orang lain.
Ya kalau mau bicara ambisi mungkin gak ada habisnya sih. Tapi, sampai kapan? Sampai kapan kita gak pernah puas dengan diri kita sekarang?
Teman menikah...menangis. Teman sukses...tertinggal. Mungkin solusinya seperti ucapan orang pada umumnya. Jangan hanya jadi penonton...tapi bergeraklah.
Kalau belum menikah sekarang dan merasa ketinggalan, coba untuk melaju di lintasan yang lain? Melejit di karir mungkin? Barangkali bisa jadi pengusaha sukses walaupun masih jomblo wkwk. Lagi-lagi, kita seperti sedang balapan ya.
Semoga untuk bekal akhirat nanti kita seperti sekarang. Selalu merasa tertinggal dari yang lain. Supaya semuanya berlomba-lomba menjadi penghuni di Surga tertinggi.
#ntms: Jangan menangis hanya karena temanmu menikah duluan. Menangislah karena di usiamu yang sekarang, masih belum bisa menjadi apa-apa untuk kedua orang tua. Menangislah karena masih sering futur. Masih jauh dari lintasan orang-orang shalih.
Selamat memilih kamu ingin berada di lintasan yang mana yaa. Oh iya, ingat juga kalau setiap pilihan punya konsekuensi.
Waktu sore, 28 Juni 2023