Tim Indonesiaculture.net beberapa waktu lalu mengunjungi kota Subang untuk melihat lebih dekat seni Bajidoran di bumi asalnya.
Perjalanan menuju subang tidak lah jauh dari Ibu Kota Jakarta, hanya dibutuhkan waktu kurang dari 3 jam untuk mencapainya. Berdasarkan informasi yang kami terima Jaipong Bajidoran tumbuh subur di kota nanas ini, untuk itu kami pun berkemas dan menyusurinya.
Perkiraan kami ternyata agak meleset, tidak mudah untuk menjumpai pementasan Bajidoran di kota asalnya, entah mengapa sebagian masyarakat perkotaan setempat lebih memilih menanggap organ tunggal, misalnya, untuk mengisi hiburan pada acara hajatan-hajatan mereka.
Disisi lain beberapa group yang kami hubungi ternyata memiliki jadwal pementasan diluar daerah Subang, dan ada pula yang tidak memiliki panggilan mentas.
Namun itu tidak menyurutkan kami untuk terus menyusuri dan melihat langsung tarian jaipong bajidoran di daerah asalnya. Atas bantuan dua rekan wartawan subang—yang peduli nasib kesenian daerah (Anas dan Jamal)—kami terus melacak sejumlah pementasan bajidoran.
Adalah Layung Group yang kala itu melakukan pementasan. Roy Royani selaku pemilik Group Bajidoran menyatakan groupnya telah berdiri sejak April 1996. Selama 13 tahun melewati pasang surut tari bajidoran.
Roy bersama sekitar 40 orang anggota groupnya terus berupaya agar group yang diasuhnya dapat terus bertahan. Hal ini tentu bukan upaya yang mudah.
“pada tahun 2000 ada sekitar 60 group jaipong di Subang, namun sekarang hanya menyisakan kurang lebih 15 group yang dapat bertahan”, ujarnya lirih.














