Mental juara itu bukan berarti pasti selalu menang. Mental juara itu artinya punya jiwa kompetitif dan terbiasa untuk berada dalam situasi persaingan. Itu definisiku.
Saya merasa menghabiskan waktu di Papua lebih dari 10 tahun punya andil besar membentuk mental juara. Papa dulu kerja di tengah hutan. Sebuah perusahaan pertambangan. Tidak semua karyawan bisa membawa keluarganya ke sana. Rumah dinas terbatas dan mungkin hanya untuk jenjang pekerja tertentu saja. Suatu saat, rezeki untuk membawa keluarga hadir di keluarga kami. Alhamdulillah.
Bisa saja mamaku memilih LDM. Menolak relokasi ke Papua dan menolak rumah dinas. Bertemu suami bisa setahun dua kali. Terlebih gaji papa akan terasa lebih besar kalau dibandingkan biaya hidup di Pulau Jawa. Alasannya pun bisa saja terkait kualitas pendidikan anak-anak. Masuk akal ya sampai sini?
Tidak. Mamaku ternyata tipikal ibu yang ingin anak-anaknya merasakan sosok ayah. Beliau ingin keluarganya "utuh". Hal yang sampai saat ini patut saya syukuri. Karena kelak saat saya SMA, papa meninggal. Saat saya kuliah, mama meninggal. Minimal, saya punya memori keluarga utuh saat kecil.
Berangkat lah kami ke Papua. Kami saat itu berada di lingkungan yang memang kekurangan akses dan mimpi. Jika dibandingkan dengan Pulau Jawa. Ada beberapa fasilitas dari perusahaan. Namun, tentu terbatas.
Jangan disamakan kami yang orang Papua dengan kalian yang di Pulau Jawa. Kita bicara konteks saat itu. Kalian sedari pagi sudah bertarung cari angkot ke sekolah. Kami punya keinginan untuk sekolah saja sudah bagus. Kalian lengah sedikit terkait pelajaran, selanjutnya bisa tidak dapat sekolah negeri bagus. Kami mau berusaha atau tidak, sekolah di lingkungan kami hanya ada satu. Toko buku dan perpustakaan kalian melimpah. Seingatku, di tempatku tidak ada toko yang khusus berjualan buku meski perpustakaan masih ada.
Orang itu bercita-cita juga sejauh pengetahuan yang dimilikinya. Mama tahu suatu saat anak-anaknya akan menghadapi kehidupan Pulau Jawa yang lebih ketat persaingannya. My mom was a tiger mom. Didikannya keras. Tidak semua didikannya saya benarkan, tetapi banyak didikannya yang tentu baik.
Disiplin kencang. Teman-temanku yang lain sibuk main, saya terpaksa sibuk belajar. Buku-buku dibelikan saat kami liburan ke Jawa. Sedari kecil saya sudah minum kopi biar kuat belajar. Kopi susu menemani belajar pagi. Tidak ada cerita saya ketiduran saat pelajaran di sekolah. Tidak berhenti di persaingan ranking di sekolah, perlombaan-perlombaan juga saya ikuti. Lomba menulis puisi, membaca puisi, Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), sampai olimpiade fisika. Jiwa bertarung dipelihara terus meski di tengah hutan.
Refleksiku mengatakan sebenarnya saya bukan yang paling cerdas secara IQ di sana lantas menang banyak lomba. Dulu pernah ada tes IQ di sekolah, ternyata saya bukan yang paling tinggi. Saya itu sudah menang pengetahuan sejak awal. Pengetahuan yang Allah titipkan ke mama kalau di luar hutan Papua ini ada dunia yang keras. Perlu jiwa survival. Perlu jiwa kompetitif. Maka mama berusaha membuat lingkungan yang kondusif.
Sehingga, jika minim akses buku, maka mama carikan. Harga makanan bergizi mahal, tetap dibeli. Ada kesempatan belajar jauh terkait olimpiade fisika, mama dukung untuk berangkat.
Saat SMA, saya pindah ke Jawa. Kaget. Ranking terjun bebas. Saat itu pertama kalinya ngekost sendiri. Pertama kalinya hidup menetap tanpa ada satu pun keluarga kandung. Namun, mental juaranya masih tersisa. Ada kerinduan untuk mencicipi juara lagi. Perlahan mulai mencari celah. Hingga akhirnya dengan ijin Allah, saat kuliah pernah beberapa kali lomba tingkat yang lebih luas dan kompetitif. Uniknya, di tingkat nasional, saya dikenal sebagai Anak Bandung. Bandung memang banyak mendidikku, tetapi Papua jauh lebih banyak mendidikku.
Sekali lagi, mental juara itu bukan berarti pasti selalu menang. Mental juara itu artinya punya jiwa kompetitif dan terbiasa untuk berada dalam situasi persaingan. Terima kasih, Ma.
Bandung, 17 Januari 2025. 8.24 PM
Berusaha mengumpukan sisa-sisa mental juara. Kepingan ini harus terus kujaga. Perlombaan dalam ikut memberi manfaat masih terbuka lebar. Semoga kali ini tidak cari piala terpajang di lemari.