Latah Politik Lupa Sejarah
LATAH POLITIK, LUPA SEJARAH
By : M.H.Chaniago
Al-Quran merupakan kitab suci yang sangat sempurna, kekomperehensifannya mencakup segala ilmu, mulai dari ilmu menanam sampai membabat, mulai dari ilmu bangun,tertidur bahkan terjatuh, mulai dari ilmu realita sampai cita-cita
_
Namun sadarkah kita ternyata ALLAH memberikan porsi yang begitu besar untuk Ilmu Sejarah dalam Al-Quran. Menurut penulis hampir 60 persen Al-Quran menceritakan tentang sejarah, dimulai dari kisah penciptaan, pengangkatan, keteladan dan lain-lain yang semuanya terjadi dalam dimensi waktu berbeda.
_
Ini menjadi sebuah Ibrah bagi kita, mengapa? Karena sadarkah kita bahwa ternyata umat ini, juga disebut ALLAH dengan Al-Insan yang bermakna Makhluk pelupa. Kita sering lupa bahwa ALLAH ghayatuna sehingga kita menjadikan makhluk sebagai cita-cita bahkan kita sering lupa bahwa ALLAH maha kuasa sehingga kita sangat suka menjilat penguasa.
_
Maka ilmu sejarah yang dituliskan AL-Quran seharusnya menjadi pelajaran dan ilmu yang benar-benar digeluti sekuat tenaga, karena seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun dalam muqaddimah "Ilmu sejarah menyebabkan kita dapat mengetahui perilaku dan akhlak umat terdahulu, jejak para nabi, pemimpin dengan kerajaan dan politik mereka, sehingga dapat dijadikan pelajaran oleh orang-orang yang mengambil pelajaran baik dalam urusan dunia namun agama".
_
Namun apa diyana, umat ini lebih suka belajar lupa dibanding belajar sejarah, sehingga naik turunnya siklus peradaban tak mampu dianggap sebagai pelajaran. tak mampu menentukan sikap ditengah tak bersikapnya kejahatan. Bahkan diperparah dengan lupa nya kita menulis sehingga orang-orang yang melupakan Islam-lah yang menuliskan sejarah.
_
Implikasi dari lupa sejarah adalah LATAH. Kita menjadi latah dalam mewarnai masa depan, sehingga merah mereka maka merah pula kita. Ini jelas sesuatu yang salah. Bukankah Islam punya warnanya sendiri yang selalu selaras dengan kebenaran dan realita?
_
Dimulai dengan latah pendidikan, sehingga kita mengkopi habis bagaimana dunia luar Islam mendidik manusianya, yang menyebabkan dihasilkannya justru manusia yang berilmu namun tak berdaya guna, memiliki segalanya kecuali cinta penciptanya. Kita sering lupa bahwa Islam punya pendidikan komperehensif yang menyejarah, ada Imam Syafi'i yang diumur 17 tahunnya sudah dapat berfatwa. Ada Ibnu Sina yang diumur 26 tahunnya sudah mampu menuliskan kitab perobatan yang menyejarah, saya yakin ketika saya menyebutkan yang lainnya maka tulisan ini hanya akan berisi tentang mereka.
_
Berbeda dengan sistem pendidikan hari ini, di umur 22 tahun tamat sarjana dirkursus hanya sebatas mencari kerja, takut berkarya dan minder dengan apa yang dipunya. Terakhirnya diinjak-injak oleh otak kapitalistik pengusaha yang tak mengenal pencipta.
_
Namun ini menjadi bola salju yang terus menggelinding besar, dimulai latah pendidikan menjadi latah budaya, saat dimana tampilan barat yang buka-an menjadi mainstream di dunia timur yang justru tutup-tutupan. Sampai pada puncaknya menjadi latah politik. Memilih bukan berdasarkan logika namun rasa-rasa, juga bukan karena agama, akhlak dan etika namun justru karena "dia bisa ngasih apa".
_
Problematika ini lah yang menimpa umat Islam bahkan sebagian masyarakat pribumi Indonesia, karena seiring dengan lupanya sejarah, latahnya politik kita tidak sadar ternyata ada banyak SENIMAN (SENANG MAKAN TEMAN) bahkan SENIMAN (Senang Makan Istri Teman)
Hehe
Mari belajar sejarah namun jangan lupa kimia!!
#M.H.Chaniago
#NegarawanMuda
#Kammi
#Jprmi








