Menjadi Negarawan Muda (sebuah tulisan yang lebih dari sekedar penugasan)
Bermula dari rasa keingintahuan dan keinginan untuk berkontribusi, saya mengikuti program yang digagas oleh penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTINUSA) Dompet Dhuafa. Tema umumnya memang menarik, Sekolah Tjokro. Terinspirasi dari H.O.S. Tjokroaminoto, program ini ada untuk memberikan pelatihan (coaching) kepada peserta terpilih untuk menjadi seorang muslim dan negarawan muda yang memiliki cita – cita untuk berkontribusi pada negeri layaknya H.O.S. Tjokroaminoto. Saya tertarik, dan ingin bergabung. Disiapkanlah semua persyaratan, proses wawancara pun dilakukan, hingga akhirnya, singkat cerita, saya terpilih menjadi salah satu peserta Sekolah Tjokro.
Agenda pun mulai berjalan. Kegiatan pertama adalah Seminar Ke-Tjokro-an yang dilaksanakan di ruang BH-301 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM. Meskipun saat itu saya benar – benar baru saja pulang dari kegiatan di Bandung, saya tetap bersemangat untuk mengikuti kegiatan ini.
Seminar ke-Tjokro-an ini mengambil tema yaitu “Membangun Negara Muda Indonesia”. Pembicara hebat pun didatangkan. Diantaranya adalah Bapak Heri Zudianto, Walikota Yogyakarta periode 2001 – 2011. Juga terdapat Bapak Aji Dedi Mulawarman, penulis buku “Jang Oetama” yang juga memiliki concern yang besar terhadap H.O.S. Tjokroaminoto. Banyak hal menarik yang disampaikan oleh kedua pembicara ini.
Pembicara pertama yang diberi kesempatan melakukan pemaparan adalah bapak Aji Dedi Mulawarman. Beliau memaparkan tentang bagaimana Tjokroaminoto bergerak di masanya. Sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Beliau sangat menyanjung dan mengapresiasi bagaimana anak muda begitu bersemangat meneladani bagaimana perjuangan Tjokro di masanya. Setelah itu, beliau memaparkan bagaimana Tjokroaminoto muncul dan menguat pergerakannya. Tjokro hadir di tengah masa kritis di masyarakat Hindia Belanda (tahun 1901 – 1919). Masa kritis itu terjadi akibat adanya kebijakan – kebijakan Hindia Belanda yang tak selesai seperti Tanam Paksa dan munculnya Politik Etis. Selain itu, kebangkrutan Hindia Belanda akibat perlawanan dan perang yang harus dihadapi Hindia Belanda melawan pahlawan bangsa, liberalisasi dan kapitalisasi di internal VOC, serta kerusuhan sosial yang terjadi di masyarakat menyebabkan oleh Hindia Belanda menjadi semakin sulit. Keresahan – keresahan inilah yang menjadi pertimbangan Tjokroaminoto untuk bergerak.
Bila ditarik dari silsilah keluarganya, Tjokroaminoto termasuk orang yang mapan. Lahir dan dibesarkan di keluarga terpandang di desanya, juga memperistri seorang anak tokoh masyarakat. Beliau justru tidak nyaman melihat penindasan di depan matanya. Beliau selalu berusaha berjuang untuk memenangkan pribumi. Berjuang melawan penindasan Hindia Belanda. Serikat Dagang Islam adalah salah satu bukti nyata bagaimana kepeduliannya terhadap pribumi. Perbedaan pendapat dari keluarga dekat selalu menyelimutinya. Hingga pada akhirnya, beliau memilih untuk berhijrah dari satu kota ke kota lainnya untuk mencari dukungan. Hingga beliau menemukan dukungan yang cukup masif di Surabaya sehingga beliau mendirikan Serikat Dagang Islam untuk menaikkan posisi tawar pedagang dan petani pribumi di mata Hindia Belanda. Selain memiliki kontribusi terhadap masyarakat, beliau juga dikenal memberikan pengaruh yang besar kepada 3 tokoh besar di indonesia, Soekarno, Hamka, dan Kartosoewiryo. Dari ketiga tokoh inilah Indonesia dibangun. Sehingga Tjokroaminoto memiliki julukan lain sebagai Guru Bangsa.
Pemaparan selanjutnya dilakukan oleh Bapak Heri Zudianto. Beliau banyak membahas tentang bagaimana sebuah kepemimpinan berjalan. 10 tahun menangani kota multikultural dengan sistem demokrasi yang berbeda dengan kota lain di Indonesia membuat beliau memiliki pengalaman yang unik untuk diceritakan. Beliau memaparkan bahwa sesungguhnya pemimpin bukanlah tentang jabatan, melainkan tentang pengaruh dan inspirasi. Pemimpin bukanlah dia yang kuat di atas, tapi dia yang merangkul di bawah. Dia yang mampu memberikan pengaruh dan inspirasi di masyarakat akan dengan mudah meraih simpati masyarakatnya. Selain itu, beliau juga membuat tulisan menarik yang berjudul “Kekuasaan sebagai Wakaf Politik”. Bahwa sesungguhnya politik adalah alat yang efektif untuk mengubah keadaan. Tapi bila tidak ikhlas dijalani, yang terjadi hanyalah hitungan untung – rugi. “saya bisa menang bila berkoalisi dengan ini, jadi koalisi saja dengan yang ini” begitu beliau mencontohkan.
Pengabdian kepada masyarakat melalui jalur politik bukanlah hal yang mudah. Begitu banyak godaan yang menerpa. Hanya keikhlasan untuk mengabdi lah yang menjadi kunci kesuksesan. Oleh karena itu, beliau memberikan wejangan bahwa seorang pemimpin harus memiliki 4 hal, diantaranya
1. Pemimpin haruslah memiliki visi yang jelas di awal. Hal ini berlaku untuk pemimpin, bukan pejabat. Jabatan hanyalah visualisasi dari bagaimana visi akan diwujudkan. Visi di awal akan memberikan gambaran bagaimana pemimpin akan bergerak dan bertindak
2. Pemimpin adalah orang yang mau berdialog, dengan siapa saja. Pemimpin harus mampu merangkul berbagai pihak. Kemampuan dialog dan berkomunikasi untuk mencari persamaan adalah yang yang penting untuk dimiliki oleh seorang pemimpin.
3. Pemimpin tidaklah takut mengambil keputusan. Hal inilah yang menjadi dilema setiap pemimpin. Begitupun saya bila menjalani sebuah kepemimpinan. Pemimpin selalu dihadapkan pada pengambilan keputusan yang sulit di saat yang genting. Di situlah kebijaksanaannya dalam pengambilan keputusan dituntut untuk dimiliki. Mengambil keputusan terburuk lebih baik daripada tidak memutuskan. Namun, yang menjadi dilema lain adalah semua keputusan yang diambil memiliki dampak buruk. Maka seorang pemimpin harus mampu memutuskan kebijakan yang terbaik dari semua keputusan yang buruk. Dan itu tidaklah semudah yang dituliskan ataupun diucapkan.
4. Pemimpin harus konsisten. Konsistensi menjadi penting dalam banyak hal. Bila pemimpin tidak konsisten, bagaimana dengan yang dipimpinnya? Pemimpin harus mampu fokus dan menjadi fokusnya hingga akhir, karena dia adalah panutan dari orang orang di sekitarnya.
Begitu banyak sebenarnya hal yang disampaikan oleh kedua pembicara, namun tulisan ini begitu terbatas. Intisari utama yang bisa saya ambil adalah menjadi pemimpin sesungguhnya adalah berkorban, bukan menjadi tumbal. banyak hal yang harus dikorbankan untuk menjadi pemimpin. Menjadi pemimpin tidaklah mudah. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Tjokroaminoto pada masanya. Sehingga, pertanyaan baru pun muncul. Dengan begitu banyak rasa tidak nyaman dan hal – hal yang dikorbankan, apakah kamu mau menjadi pemimpin masa depan?
ps. Ini adalah pos pertama saya dalam rangka keikutsertaan saya di Sekolah Tjokro 2016. Untuk teks dengan kualitas lebih baik bisa diunduh di https://drive.google.com/open?id=0B8OAZAdDxGNcYVhLX3RaOXJ0bzg