Jatuh Hati (the term that I finally discover)
Malam ini, ia meracau lagi. Kali ini tentang Sarekat Islam, kemudian berlanjut terus hingga bagaimana akhirnya pemilihan umum tahun 1955 dibandingkan dengan pemilu 1998. Berlanjut terus, hingga fungsi DPR, DPRD dan DPD. Apa aku ingat dan paham semua yang dia ceritakan? Entahlah. Yang pasti, momen seperti ini – saat dia berbicara panjang lebar tentang politik Indonesia atau tentang sejarah-sejarah perjuangan yang pernah ia baca – merupakan momen favoritku. Aku sempat tanya apa dia selalu melakukan ini dengan pacar-pacarnya yang terdahulu? Senyum lebar terbentuk di wajahku saat ia bilang cuma aku yang mengerti racauannya yang model begini. Malam ini, jalan dari Rawamangun menuju Pengadegan dipenuhi dengan ia menjelaskan padaku sejarah sebelum kemerdekaan setelah sebelumnya diawali dengan senandung dia menyanyikan lagu butet yang katanya seperti lagu saat suasana perang jaman dulu.
Sudah sebulan lebih dan aku sudah mulai terbiasa duduk dibonceng dengan laki-laki yang aku pacari hasil berjudi dengan diriku sendiri ini. Aku sudah terbiasa mendengar dia menyanyikan lagu yang aku tak tahu judulnya apa, meracau tentang politik dan Bung Karno, atau kadang sekedar menggodaku sambil memainkan tanganku. Aku sudah terbiasa dengan kebiasaannya hingga aku mulai berpikir apa yang nanti aku rasakan kalau-kalau semua kebiasaan ini hilang dari malamku. Tapi aku tidak mau berpikir tentang masa depan dulu. Toh, masa sekarang jauh lebih menyenangkan dengan dia antar aku ke rumah. Tapi serius, deh. Aku juga bilang padanya kalau momen paling intens bukan saat dia cium aku, bukan waktu dia peluk aku. Momen paling intens untukku adalah saat dia berbagi pikirannya tentang membuat pergerakannya sendiri denganku, saat dia memberikan tanggapannya tentang buku yang baru dia baca padaku, saat dia membaca puisi-puisinya untukku. Intens. Mungkin lain kali akan aku ceritakan bagaimana pikiran seseorang bisa buat aku jatuh hati.
Dan karena itu, aku tidak akan pernah mau kehilangan sepersekian detikpun dari momen-momen intens itu. Tak sedikitpun.
�














